
2 Bulan lebih setelah kejadian tewasnya Binsar dalam ledakan pesawat yang terbang membawanya pulang ke negaranya dan menghilangnya Malik , dan belum di ketahui keberadaannya hingga saat ini.
Gavlin, yang selama bertahun tahun menjalani kehidupannya yang sangat keras dan penuh dendam akhirnya perlahan mencoba membuka lembaran hidupnya yang baru dan memulai mencari ketenangan diri.
Hubungannya dengan Indri pun semakin terlihat mesra dan sudah sangat serius sekali, Gavlin dan Indri sama sama tidak ingin terpisah satu sama lainnya, mereka selalu bersama sama , kemana pun mereka pergi dan berada.
Gavlin memutuskan untuk pindah ke rumah Pak Sarono, agar Dia bisa lebih dekat lagi dengan pak Sarono dan Indri. Dia tak merasa canggung, karena memang selama ini, Dia juga sudah tinggal bersama pak Sarono dulu, dan mereka juga sudah menjadi keluarga.
Malam harinya, Gavlin mengajak Indri berjalan jalan, Dia membawanya ke tempat yang menurutnya sangat romantis di kota Paris, Indri tak menolak, dengan senang hati dia pergi bersama Gavlin setelah mendapat izin dari pak Sarono.
Gavlin dan Indri berada di dalam sebuah Kapal Layar yang di sewa Gavlin secara pribadi, walau Dia harus membayar mahal kapal layar itu, Gavlin tak mempermasalahkannya, sebab, bagi orang seperti dirinya yang kaya raya, uang tak menjadi suatu masalah baginya.
Gavlin dan Indri berlayar menggunakan kapal layar menyusuri 'sungai Seine'. mereka berdua sama sama merasakan suasana romantis ketika kapal berlayar menyusuri sungai Seine.
Gavlin dan indri menikmati makan malam di restoran yang ada di dalam kapal layar tersebut. Tampak raut wajah Indri menyiratkan kebahagiaan yang begitu besar, Dia bahagia, bisa bersama Gavlin kembali, setelah sekian lama mereka terpisah.
Gavlin membersihkan mulutnya sehabis menikmati makan malamnya, sementara Indri meminum air di dalam gelas yang ada di atas meja makan. Indri juga sudah selesai menyantap makanannya.
"Makanannya enak , Vlin. Berasa di lidah, sangat lezat." Ungkap Indri, tersenyum senang menatap wajah Gavlin yang duduk di hadapannya.
"Iya, In. Memang makanan di kapal ini enak dan lezat. Aku sengaja membawamu ke sini, untuk mencoba makanan di sini." Ujar Gavlin tersenyum pada Indri.
__ADS_1
"Selain itu, ada yang ingin aku sampaikan padamu, In." Ucap Gavlin, menatap serius wajah Indri.
"Kamu mau ngomong apa? Bicara saja, Vlin." Ujar Indri, tersenyum lembut menatap wajah Gavlin.
Gavlin tersenyum memandangi wajah cantik dan ayu Indri yang duduk di hadapannya, Indri juga tersenyum menatap lembut penuh cinta wajah Gavlin yang terus saja memandangi wajahnya.
Perlahan lahan, Gavlin mengambil kotak kecil dari kantong celananya, Dia sudah mempersiapkan kotak kecil berisi cincin untuk melamar Indri malam ini di Kapal layar tersebut.
Sebelumnya, Gavlin membeli cincin tersebut di toko perhiasan , selain itu, Gavlin juga membeli sebuah mobil mahal untuk dirinya, agar Dia bisa pergi kemana saja dengan mengendarai mobilnya.
"In. Kebanyakan orang berkata, bahwa obat jatuh cinta adalah menikah. Dan sekarang aku sedang jatuh cinta padamu. Maukah kamu menjadi obat jatuh cinta ku ini?" ujar Gavlin tersenyum lembut menatap wajah Indri.
Indri hanya diam saja tak langsung menjawab pertanyaan Gavlin yang sedang melamarnya itu, Dia hanya tersenyum saja menatap wajah Gavlin. Dadanya berdegup kencang dan berdebar debar mendengar perkataan Gavlin yang melamarnya itu. Namun, Indri berusaha untuk tetap bersikap tenang menyikapinya.
Gavlin lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil dan lantas membukanya, di dalam kotak, terlihat sebuah cincin berlian yang berkilauan dengan indahnya, Gavlin menunjukkan cincin itu pada Indri.
"Kamu serius, Vlin?!" tanya Indri, dengan mata terbelalak seakan tak percaya dengan keseriusan Gavlin melamar dirinya saat ini.
"Ya, Aku serius, In. Dan tahukah kamu, In? Satu satunya orang yang memenuhi syarat untuk menjadi istriku adalah kamu. karena, syarat pernikahan yang langgeng adalah jatuh cinta berkali kali pada orang yang sama. maukah kamu menikah denganku?" tembak Gavlin dengan terus terang mengajak Indri menikah dengannya.
"Aku mau, Vlin, Aku mau." Jawab Indri bersemangat dan senang, wajahnya terlihat berseri seri penuh kebahagiaan.
Gavlin lega karena Indri mau menerima lamarannya, Dia lantas mengambil cincin dari kotak kecil ditangannya. Lalu, dia meletakkan kotak kecil di atas meja, satu tangannya meraih tangan Indri, lalu, dengan tangannya yang memegang cincin berlian, Gavlin menyematkan cincin ke jari manis Indri.
__ADS_1
Indri tersenyum senang penuh bahagia memandangi cincin berlian yang saat ini telah melingkar indah di jari manisnya itu.
"Yang kulakukan semua ini hanya tentangmu. Kamu yang menjadi sumber semangatku. Dan untukmu lah aku bermimpi sukses di sepanjang hari dan bersemangat dalam menuntaskan balas dendamku. Jadilah pembawa cahaya kebaikan di rumah kita nanti." Ucap Gavlin, dengan serius dan bersungguh sungguh pada Indri.
"Ya, Vlin. Aku sangat mencintaimu, Aku mencintaimu diam diam saat pertama kali kita bertemu hingga saat ini , dan Aku akan tetap mencintaimu sampai kematian datang padaku nantinya." Ungkap Indri, tersenyum haru penuh kebahagiaan pada Gavlin.
"Berjuta rasa rasa yang tak mampu diungkapkan kata kata, Vlin. Dengan beribu cara cara kamu selalu membuat ku bahagia. Kamu adalah alasan dan jawaban atas semua pertanyaan, yang benar benar kuinginkan hanyalah kamu untuk selalu di sini ada untukku. Karena itu, walau kita berpisah lama, Aku tetap menunggumu, dan yakin, kita akan bersatu." ungkap Indri, tersenyum bahagia menatap wajah Gavlin.
"Aku bersyukur kepada Tuhan karena sudah diberikan satu hati untuk mencintaimu, satu otak untuk selalu memikirkanmu dan satu mulut yang tak pernah berhenti untuk selalu mendoakan keselamatan dirimu untuk jadi suamiku. Sekarang semoga doa ku terkabul." ungkap Indri, serius dan bersungguh sungguh, serta penuh rasa cintanya pada Gavlin.
"Mungkin, memang jaraklah yang selama ini memisahkan kita, namun tidak dengan hati kita yang sebentar lagi dipersatukan dalam ikatan pernikahan. Aku akan menjadi istrimu, pelipur lara, tempat ķamu pulang dan berkeluh kesah." lanjut Indri, menatap lembut penuh cinta wajah Gavlin yang duduk dihadapannya.
"Beberapa waktu telah kita lewati. Banyak yang sudah dilalui bersama. Tidak mudah memang. Tapi, aku selalu heran. Segala kesulitan bagiku seperti tak apa asal itu tentang kamu." Tegas Gavlin.
" Boleh saja, bila mendapatkan kesulitan yang besar jika itu bersamamu. Tapi, bukankah segala hal di dunia ini selalu diterima dengan konsekuensi? Tidak ada kesulitan yang berdiri sendiri. Kesulitan selalu seiring dengan kebahagiaan." ungkap Gavlin, tersenyum senang menatap lembut wajah cantik Indri.
"Vlin, kamu adalah alasanku tersenyum. Kamu adalah semangatku mencapai kesuksesan karirku. Segala yang kulakukan adalah tentang kamu." tegas Indri, menggenggam jemari tangan Gavlin yang ada diatas meja makan.
"Aku sudah menunggu saat ini untuk waktu yang lama. Untuk mengatakan ini, aku butuh banyak waktu. Mempertimbangkan segala hal yang mungkin terjadi. Berkali kali ku tanya pada hatiku sendiri. Sudah tepatkah pilihanku? Dan berkali kali pula jawabanku tetap sama, itu kamu." tegas Gavlin, dengan raut wajahnya yang serius, dan bersungguh sungguh menatap wajah Indri.
"In, Kamu telah mengganti mimpi burukku karena dendamku dengan mimpi indah, kekhawatiranku dengan kebahagiaan, dan ketakutanku dengan cinta. Terimakasih untuk segalanya selama ini." Tegas Gavlin.
"Vlin. Cinta itu bukan berarti mencintai seseorang yang sempurna, tapi bagaimana mencintai seseorang yang tidak sempurna dengan cara sempurna. Dan kamu, adalah orang yang membuktikannya padaku. Aku sangat mencintaimu." ungkap Indri, tersenyum senang pada Gavlin.
__ADS_1
"Bagiku, gak perlu aku sibuk mencari seseorang yang menurutku sempurna, jika di dekatku sudah ada orang yang bisa membuatku bahagia. Begitulah bagaimana aku memandangmu dan berharap kamu bisa menemaniku sampai akhir waktu." Ucap Indri. Tersenyum lembut penuh rasa cinta pada Gavlin.
Lalu, Keduanya saling bertatapan mata dengan penuh kemesraan, kebahagiaan terpancar jelas dalam rona wajah Gavlin dan Indri.