VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Pertemuan Gavlin dan Pak Sarono


__ADS_3

Gavlin masih berdiam diri dan memikirkan Malik didalam mobil yang terus melaju menyusuri jalan raya.


"Vlin. Kita mampir ke hotel ya. Aku mau ambil barang barangku, hari ini aku Check out." ujar Indri, melihat pada Gavlin yang diam duduk di jok depan mobil.


"Ya." Jawab Gavlin datar.


"Habis dari Hotel, kita ke rumahku ya. Biar kamu ketemu dengan Bapakku. Bapak juga udah lama berharap ketemu kamu lagi." ujar Indri.


Indri sengaja mengatakan hal itu untuk mengalihkan perhatian dan pikiran Gavlin yang masih saja memikirkan tentang Malik yang belum bisa ditemukan juga hingga saat ini.


"Bagaimana keadaan Bapak?" tanya Gavlin, tanpa melihat Indri yang duduk di jok belakang mobil.


"Bapak sehat, Vlin. Bapak punya pekerjaan sekarang, jadi Dokter pribadinya Bapak Rifai." ujar Indri, memberi tahu Gavlin.


"Ya. Syukurlah." ucap Gavlin datar.


Indri diam, dia menghela nafasnya, Dia tahu, pikiran Gavlin masih tertuju pada Malik, sehingga dia sulit untuk di ajak bicara hal yang lain.


Rifai terus menyetir mobilnya, Mobil melaju dengan kecepatan sedang, menyusuri sekitar jalan raya.


---


Di rumah Chandra, Wicaksono sedang menerima telepon dari rekannya di Prancis, Wicaksono ingin memastikan lagi, apakah mayat Gavlin sudah di temukan atau belum.


"Bagaimana? Apa kamu sudah dapat kabar soal Gavlin?" tanya Wicaksono, bicara di teleponnya.


"Belum, Pak. Kami masih menunggu hasil dari pihak kepolisian, kabarnya, besok, pihak kepolisian akan mengabarkan identitas mayat yang ditemukan itu." jelas rekan mafia Wicaksono dari seberang telepon.


Pembicaraan antara mereka berdua dilakukan secara international, karena rekannya berada di negara Prancis.


"Baiklah. Kalo sudah ada kabar, segera hubungi Saya lagi." ujar Wicaksono, ditelepon.


"Siap." Jawab rekannya dari seberang telepon.


Wicaksono lantas menutup teleponnya dan menyimpannya ke dalam kantong kemejanya. Chandra menoleh dan menatap Wicaksono.


"Bapak bisa bahasa Prancis juga ternyata, lancar sekali tadi bicara di telepon." ujar Chandra, dengan penuh kekaguman pada Wicaksono.


"Karena saya menguasai lima bahasa, dulu saya kan sering keliling dunia sebagai mafia, melebarkan sayap istilahnya." ujar Wicaksono, menjelaskan pada Chandra.


"Sekalian uji nyali di negara orang ya, Pak." ujar Chandra, tertawa.


"Ya, begitulah. Karena hal itu juga, Saya jadi di segani di beberapa negara, dan sempat menguasai gank mafia di salah satu negara, seperti di Belanda." ujar Wicaksono, memberi penjelasan.


"Oh, begitu." ujar Chandra, mengangguk mengerti dan paham.


"Rekan Bapak bilang di telepon. Kalo Polisi Prancis baru besok akan memberikan pernyataan, kabarnya pihak polisi akan mengungkap jati diri mayat yang tak di kenal itu." ujar Wicaksono, memberi tahu Chandra.


"Berarti, mayatnya udah berhasil di identifikasi, Pak?" ujar Chandra, menatap serius wajah Wicaksono yang berdiri dihadapannya.


"Ya, sepertinya begitu. Makanya pihak polisi akan memberi pernyataan secara langsung di depan media." ujar Wicaksono, menjelaskan pada Chandra.


"Syukurlah. Jadi kita gak harus bertanya tanya lagi, siapa sosok mayat tak dikenal itu." ujar Chandra, dengan wajah seriusnya berkata pada Wicaksono.


"Iya." Angguk Wicaksono.

__ADS_1


---


Sementara itu, setelah mengambil barang barangnya di hotel tempatnya menginap selama menggelar acara pameran rancangan pakaiannya, Indri membawa Gavlin ke rumahnya.


Indri ingin menemui Gavlin dengan Bapaknya, sebab, selama ini mereka sangat dekat satu sama lainnya, dan Bapaknya juga sudah menunggu lama kedatangan Gavlin kembali.


"Vlin, kamu tunggu disini ya. Aku mau buat kejutan sama Bapakku." ujar Indri, tersenyum senang menatap wajah Gavlin.


"Ya, In." Angguk Gavlin, lemah tak bersemangat, karena pikirannya masih memikirkan Malik juga.


Indri lantas masuk kedalam rumahnya bersama Rifai, sementara, Gavlin berdiri diam di luar rumah, di halaman rumah Indri.


Dia mengamati rumah tersebut, rumah yang di tempati Indri dan Bapaknya sangat bagus dan terkesan artistik. Rumah itu juga terkesan mewah, berbeda dengan rumah Indri sebelumnya.


Indri menemui Bapaknya yang sedang membaca buku di ruang santai rumahnya. Wajah Indri tampak senang.


"Bapaaakk!!" Sapa Indri, menghampiri Pak Sarono dan memeluknya.


"Indri, Kamu pulang kok gak bilang bilang Bapak?" ujar Pak Sarono, tersenyum senang, memeluk tubuh Indri juga.


Sesaat, mereka berdua melepaskan rasa rindunya, karena berpisah dalam waktu satu minggu, sebab Indri sedang ada kegiatan menggelar pameran desain pakaiannya.


"Indri sengaja gak bilang Bapak kalo mau pulang. Indri ada hadiah kejutan buat Bapak." ujar Indri, tersenyum senang sambil melepaskan pelukannya dari tubuh pak Sarono.


"Hadiah kejutan apa maksud kamu?" Tanya Pak Sarono, menatap heran wajah Indri yang berdiri dihadapannya dengan tersenyum senyum menatapnya.


"Ada deh. Sekarang, Bapak ikut Indri kehalaman rumah." ujar Indri, tersenyum menatap wajah Bapaknya yang masih terheran heran tak mengerti.


"Tapi, Kedua mata Bapak harus di tutup, Indri akan menutup kedua mata Bapak ya." ujar Indri.


"Iyalah Pak. Kalo mata Bapak gak di tutup, gak surprise dong, namanya bukan hadiah kejutan lagi, karena Bapak bisa langsung liat." ujar Indri, tersenyum senang menatap wajah Bapaknya.


"Ya deh, Terserah kamu aja, Bapak nurut." ujar Pak Sarono tersenyum.


"Nah, gitu dong." ujar Indri.


Lalu, Indri pun mengikat dan menutup kedua mata Bapaknya dengan menggunakan kain selendang yang melingkar di lehernya. Karena kedua matanya ditutup kain, Pak Sarono tak bisa melihat Indri.


"Sekarang, kita ke halaman rumah." ujar Indri.


"Ya." Jawab Pak Sarono.


Indri lantas memegang satu tangan Bapaknya, Dia menuntun Bapaknya dan membawanya berjalan menuju ke halaman rumahnya. Pak Sarono karena tak bisa melihat, pasrah mengikuti apa maunya Indri. Dia mengikuti Indri berjalan keluar dari dalam rumahnya menuju ke halaman rumah.


Di halaman rumah Indri, Gavlin masih berdiri diam menunggu ditempatnya semula. Beberapa saat kemudian, Gavlin melihat Indri datang bersama Bapaknya.


Gavlin melihatnya senang, Indri cepat meletakkan jarinya di bibirnya, memberi isyarat pada Gavlin, agar Gavlin tak bersuara atau menyapa Bapaknya sebelum Dia suruh nanti.


Gavlin melihat Indri yang memberi isyarat padanya, Dia pun mengerti dan paham dengan isyarat Indri itu.


Gavlin diam menunggu, namun, dia heran, mengapa Bapaknya Indri di tutup kain ke dua matanya. Gavlin tak mengerti apa yang sedang dilakukan Indri pada Bapaknya.


Indri dan Bapaknya tiba di hadapan Gavlin yang menatap lekat wajah Bapaknya Indri. Ada kerinduan tiba tiba berkecamuk dalam diri Gavlin pada Pak Sarono, Jika saja Indri tak melarangnya, Dia pastinya sudah menyapa dan memeluk erat pak Sarono, melepaskan kerinduannya yang sudah lama tak bertemu.


Pak Sarono telah menyelamatkan nyawanya dulu, dan Dia juga sangat baik pada Gavlin, dan Gavlin sudah menganggap Pak Sarono seperti Bapak kandungnya sendiri. Karena itu, muncul rasa rindu dihatinya saat dia berdiri dihadapan pak Sarono.

__ADS_1


"Sekarang, Bapak tebak ya, Siapa orang yang berdiri dihadapan Bapak. Bapak boleh meraba wajahnya, buat memastikan siapa dirinya." ujar Indri, menjelaskan pada Bapaknya.


"Iya, Bapak nurut apa mau kamu." ujar Pak Sarono tersenyum.


"Sekarang, Bapak boleh menggerakkan tangan Bapak dan meraba wajahnya." ujar Indri.


Pak Sarono mengangguk, mengiyakan. Lalu, dia mulai menggerakkan tangannya, dan mengangkatnya ke atas, Pak Sarono meraba raba, mencari cari, Gavlin mendekati wajahnya ke tangan Pak Sarono.


Telapak tangan Pak Sarono menyentuh wajah Gavlin yang berdiri diam tepat di hadapannya. Lalu, Pak Sarono pun mulai meraba perlahan wajah Gavlin.


seperti orang yang benar benar tak bisa melihat dan cuma mengandalkan rabaan tangannya merasakan lekuk wajah, Pak Sarono terus meraba tiap lekuk di wajah Gavlin.


Indri memperhatikan Bapaknya yang meraba wajah Gavlin, sementara Gavlin berdiri diam mematung, Dia membiarkan wajahnya di raba dan dielus Pak Sarono.


Tiba tiba, pak Sarono menghentikan rabaan tangannya, Dengan cepat dia menurunkan tangannya, raut wajahnya tampak senang.


"Nak Gavliiinnn...!!" Ujar Pak Sarono.


Indri dan Gavlin sama sama terperanjat kaget, karena ternyata Pak Sarono berhasil menebak sosok Gavlin hanya dengan cara meraba wajahnya saja.


"Bapak benarkan, Kamu nak Gavliin?!" Ujar Pak Sarono, dengan mata yang masih di tutup kain.


"Ya, Pak. Saya Gavlin." Jawab Gavlin, tersenyum senang.


Mendengar suara Gavlin , langsung Pak Sarono melepaskan ikatan kain yang menutupi kedua matanya, Dia tampak sangat senang sekali, karena tebakannya benar.


Saat kain yang menutupi matanya sudah terlepas, Pak Sarono menatap senang wajah Gavlin, yang tersenyum berdiri didepannya.


"Apa kabar, Pak?" Ujar Gavlin, tersenyum.


"Naķ Gavliiin..!!" Ujar Pak Sarono. Langsung memeluk erat tubuh Gavlin.


Pak Sarono tak bisa menahan kerinduannya pada Gavlin, dia langsung memeluk erat tubuh Gavlin. Dan Gavlin pun membalas memeluk tubuh Pak Sarono.


Indri tersenyum senang dan menangis haru melihat Bapaknya berpelukan dengan Gavlin, melepaskan kerinduan mereka berdua.


"Sudah lama sekali Bapak menunggumu nak Gavlin." ujar Pak Sarono.


"Ya, Pak. Maaf, Saya lama baru bisa menemui Bapak dan Indri lagi." ujar Gavlin.


Pak Sarono lantas melepaskan pelukannya dari tubuh Gavlin. Dia memandangi wajah Gavlin yang tersenyum berdiri di hadapannya.


"Bagaimana Bapak bisa mengenali Gavlin tanpa melihatnya, Pak?" tanya Indri, menatap wajah Bapaknya yang berdiri disampingnya.


Indri ingin tahu, bagaimana cara Bapaknya bisa mengenali sosok Gavlin dengan sangat mudah walaupun dia tak melihat wajahnya.


"Bapak gak akan pernah lupa dengan raut wajah nak Gavlin. Kamu ingat, In. Dulu, waktu pertama kali kita menemukan Gavlin yang terluka parah, dan Bapak mengobatinya, Bapak sering mengusap wajahnya, sekedar ingin memastikan apakah tulang tulang wajahnya ada yang terluka. Dari situ Bapak ingat tiap lekuk bagian di wajah nak Gavlin." ujar Pak Sarono, tersenyum menjelaskan pada Indri yang bertanya.


"Oh, begitu. Pantasan aja, Bapak langsung kenal wajah Gavlin." ujar Indri, tersenyum senang.


"Ya, begitulah." ujar Pak Sarono, tersenyum senang menatap wajah Gavlin yang berdiri dihadapannya.


"Kita masuk ke dalam rumah yuk. Kamu pasti lelah, Vlin." ujar Pak Sarono.


Gavlin tersenyum mengangguk, Pak Sarono lalu merangkul Gavlin, dan membawanya berjalan masuk kedalam rumahnya. Gavlin menurut, dia mengikuti Pak Sarono yang berjalan masuk ke dalam rumahnya, Indri mengikuti mereka berjalan di belakangnya.

__ADS_1


__ADS_2