VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Menghadapi Musuh yang Sama


__ADS_3

Petugas Polisi memasang garis pembatas di sekitar lokasi tergeletaknya mayat Masayu.


Para penghuni hotel dan petugas keamanan hotel tampak ramai melihat mayat Masayu yang terjatuh dari lantai 20 kamar hotel.


Diantara para petugas kepolisian yang berjaga di sekitar lokasi kejadian, ada juga petugas medis dan petugas Forensik di lokasi, tengah memeriksa kondisi mayat Masayu.


Teguh dan Gatot beserta Gunadi dan Rasid datang kelokasi kejadian, karena mendapat laporan, tentang kematian Masayu yang terjatuh dari lantai atas hotel tersebut.


Saat melihat mayat Masayu terbujur kaku di tanah dengan kondisi parah, Gatot terhenyak kaget, Teguh heran melihat sikap Gatot yang tampak kaget saat melihat Mayat Masayu.


"Ada apa, Pak?" tanya Teguh, heran.


"Dia Masayu, istrinya Bramantio!" tegas Gatot pada Teguh.


Teguh pun kaget, setelah mendengarkan perkataan Gatot tersebut, dia tak menyangka, jika mayat tersebut adalah istri Bramantio.


Gatot menarik tangan Teguh untuk menjauh dari orang orang, Mata Gunadi menatap tajam, tampak dia mencurigai gerak gerik Gatot dan Teguh.


Di tempat yang agak sepi, Gatot pun melepaskan tangannya dari tangan Teguh, karena dia menarik tangan Teguh tadi.


"Kenapa Gavlin bertindak diluar batas?" Tanya Gatot, dengan suara pelan, agar tak di dengar orang lain.


"Saya gak tau, Pak. Apa maksudnya membunuh Masayu, istri Bram." tegas Teguh, menjelaskan.


"Kasih peringatan sama anak itu, jangan bertindak di luar batas, dan membunuh orang yang bukan musuhnya! Kalo dia terus bertindak begitu, Aku gak bisa lagi membiarkannya!" tegas Gatot , pelan.


"Baik, Pak. Akan saya beritahu dia." ujar Teguh.


Gatot pun lantas pergi meninggalkan Teguh, dia kembali ke lokasi, dimana mayat Masayu ditemukan, Gunadi dan Rasid berpura pura sibuk mencari barang bukti.


Teguh mengambil ponsel dari dalam kantong celananya, lalu, dia menghubungi Gavlin.


"Hallo! Kamu kenapa membunuh Masayu, istri Bram?!" Tanya Teguh berbisik, ditelepon.


Saat telepon di terima Gavlin dari seberang, Teguh langsung menegur Gavlin, yang telah bertindak di luar batas.


"Karena dia mengenaliku! Lagi pula, dia istri Bram ! Bagiku, siapapun orang yang dekat dan mendukung Bram, tetap musuhku, dan mereka juga harus mati!" tegas Gavlin, dari seberang telepon.


"Ya, tapi pak Gatot marah ! Dia mau, kamu focus sama musuhmu saja, bukan membunuh orang lain yang gak ada hubungannya dengan balas dendammu!" tegas Teguh, ditelepon.


Saat itu, mobil Jafar masuk ke pekarangan halaman hotel tersebut, dia melihat kerumunan orang orang.


Mobil Jafar berhenti, dia pun bergegas keluar dari dalam mobilnya, wajahnya panik dan cemas, matanya terbelalak lebar, saat melihat, Masayu di atas tandu sudah menjadi mayat.


"Masayuuuu...tidaaakkk!!" teriak Jafar spontan.


Teriakan Jafar tentu saja mengundang reaksi orang orang yang ada di sekitar lokasi, begitu juga dengan Gatot, Gunadi, Rasid, dan Teguh.


Teguh yang masih menelpon Gavlin, kaget melihat Jafar ada di lokasi tersebut.


"Jafaaarr!!" teriak Teguh, spontan.


Mendengar teriakan Teguh, Jafar menoleh ke arah Teguh, Jafar pun sadar, bahwa di lokasi tersebut saat ini, banyak polisi.


Dengan wajah panik, akhirnya Jafar mengurungkan niatnya untuk mendekati mayat Masayu, Jafar pun langsung lari.


"Heeei!! Jafaaar !! Jangan lari kamu!!" teriak Teguh.


Teguh mematikan ponselnya dan menyimpannya di kantong celananya.


Jafar tak perduli, dia berlari ke arah mobilnya, Teguh langsung mengejarnya. Gatot melihat Teguh yang mengejar Jafar.


Gunadi dan Rasid saling pandang, Gunadi memberi kode pada Rasid, agar mengejar Teguh, yang saat ini tengah mengejar Jafar.


Jafar dengan cepat masuk ke dalam mobilnya, lalu dia menyalakan mesin mobilnya, kemudian menjalankan mobilnya.


Melihat Jafar pergi dengan mobilnya, dengan cepat Teguh berlari ke arah mobilnya. lantas, dengan cepat, Teguh pun masuk ke dalam mobil.


Teguh mengejar Jafar yang melarikan diri, Rasid masuk ke dalam mobilnya, dan dia juga pergi, mengikuti mobil Teguh yang mengejar Jafar.


Gatot terus memandang kepergian Teguh, dia lantas melirik Gunadi, Lirikan mata Gatot penuh curiga pada Gunadi.


"Rasid bantu Teguh, ngejar si Jafar, buronan kepolisian." ujar Gunadi.


Gatot diam, dia tak menanggapi perkataan Gunadi, Gatot pergi menghampiri petugas Forensik yang bersiap siap hendak pergi, karena tugas mereka sudah selesai.


Gunadi tersenyum sinis, melihat Gatot yang tengah bicara serius dengan tim Forensik.


Di jalan raya, aksi kejar kejaran pun terjadi, dengan ngebut, Jafar menyetir mobilnya, wajahnya terlihat panik dan sedih.


Dia membayangkan wajah Masayu yang tergeletak di atas tandu dan di bawa masuk ke ambulance, Jafar tampak sedih, melihat kematian Masayu.


Di belakang, mobil Teguh terus mengejar mobil Jafar, di ikuti mobil Rasid, yang mengejar mobil Teguh di belakangnya.


Jafar tahu, dia di kejar Teguh, Jafar pun berusaha menghindar dan melarikan diri, pada saat di pertigaan jalanan, dengan cepat, Jafar berbelok ke kiri.


Jafar terus memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, Teguh terus mengejarnya, mobilnya juga ngebut, dan tetap berada di belakang mobil Jafar.

__ADS_1


Sementara, mobil Rasid berusaha untuk mendekati mobil Teguh yang terus mengejar Jafar. Rasid bukan mau membantu Teguh, tapi, dia mau menyelamatkan Jafar dari kejaran Teguh.


Di lokasi kematian Masayu, Gatot tampak berjalan mendekati mobilnya, Gunadi mengejarnya.


"Mau kemana, Pak Gatot?" tanya Gunadi.


"Menemui, Bram!! Mau mengabarkan kematian istrinya!" tegas Gatot.


"Saya ikut." ujar Gunadi.


"Gak perlu, kamu bisa balik ke kantor, saya bisa sendiri menemui Bram!" tegas Gatot.


"Tapi, Pak? Saya kan bagian dari tim Bapak." ujar Gunadi.


"Itu kan kata Sutoyo, bukan kata Saya!" tandas Gatot, penuh kebencian.


Gatot lantas masuk ke dalam mobilnya, dia pun kemudian segera pergi meninggalkan Gunadi sendirian. Gunadi tampak kesal melihat sikap dingin Gatot kepadanya.


"Keparat Gatot!!" ujarnya Geram.


Gunadi lantas berjalan dan masuk ke dalam mobilnya, dia pun lantas segera pergi dari hotel tersebut.


Aksi kejar kejaran masih terjadi diantara Jafar, Teguh dan Rasid, Mobil Jafar terus melaju kencang, menghindari kejaran Teguh, mobil Teguh semakin dekat dengan mobil Jafar, sementara, mobil Rasid, tertinggal jauh di belakang.


Saat mobil Teguh semakin mendekat ke mobil Jafar, tiba tiba saja, mobil Jafar melesat cepat, menerobos lampu merah di perempatan jalan raya yang cukup luas itu.


Teguh menginjak rem, dia segera menghentikan mobilnya, tepat di belakang garis pejalan kaki, wajahnya tampak kesal.


Dia melihat, mobil Jafar melesat jauh, menghindari mobil dari arah lainnya, Teguh kesal, karena Jafar menerobos lampu merah, dan berhasil melarikan diri.


Mobil Rasid berhenti di belakang mobil Teguh, Rasid tersenyum senang di dalam mobil, melihat, Jafar berhasil melarikan diri.


Teguh tampak geram dan marah di dalam mobilnya, karena lampu merah, dan dia tak mau menerobosnya, karena tak ada waktu dan kesempatan menerobos, Jafar lolos dari kejarannya.


"Siaal!! Jafar lolos!!" Ujarnya kesal.


Lampu lalu lintas berubah menjadi hijau, kendaraan kendaraan lainnya segera melanjutkan perjalanan mereka.


Teguh pun lantas menjalankan mobilnya, dia melaju lurus, sementara, mobil Rasid berbelok ke kanan, berbeda arah dengan Teguh.


Karena sudah tak mengejar Jafar lagi, Rasid pun memutuskan pergi meninggalkan Teguh.


Telepon Teguh berbunyi, dengan cepat, Teguh menepikan mobil ke pinggir jalan, lalu, diambilnya ponsel dari dalam kantong celananya.


Teguh menerima panggilan telepon dari Gatot. Wajahnya masih terlihat kesal dan marah, karena gagal mengejar Jafar.


"Sekarang, kamu balik ke kantor, kita akan bahas soal kematian Masayu, dan sama sama mencari tau, dimana Bram bersembunyi saat ini." ujar Gatot, dari seberang telepon.


"Baik, Pak. Saya segera kesana." Ujar Teguh, di telepon.


Dia lantas menutup ponsel, dan menyimpannya kembali di dalam kantong celananya. Lalu, Teguh pun menginjak gas mobil, menambah kecepatan mobilnya.


Mobil Teguh melaju dengan kecepatan tinggi di jalanan, Teguh berbelok arah kiri, menuju kantornya.


Di sebuah jalanan yang sepi, mobil Jafar berhenti di pinggir jalan. Wajah Jafar tampak lega, karena dia berhasil meloloskan diri, dari kejaran Teguh.


"Hampir saja aku tertangkap." Gumamnya, lega.


Tiba tiba saja dia terdiam, lalu, Jafar pun menangis sedih, dia teringat dengan Masayu, dia sangat terluka, melihat Masayu, wanita yang sangat di cintainya, meninggal dunia.


"Masayuuu...Aku akan membalaskan perbuatan Yanto padamu!! Aku akan membunuh Yanto!!" Teriaknya, di dalam mobil.


Jafar tampak melampiaskan amarahnya pada Yanto, yang telah membunuh Masayu.


"Maafkan aku, Yu. Aku gak bisa melihatmu tadi, karena, banyak polisi di lokasi, dan aku sedang jadi target polisi." Ujarnya lirih dan getir.


"Yanto ! Aku gak akan memaafkanmu!! Aku akan membunuhmu!!" teriak Jafar penuh emosi amarah dalam jiwanya.


Lalu, dia pun menghapus air matanya, dia menangisi kematian Masayu, lalu, Jafar pun lantas melanjutkan perjalanannya, dia segera pergi dari tempat itu, mencari tempat persembunyian baru untuknya.


---


Gunadi dan Rasid tengah memberi laporan pada Sutoyo, di dalam ruang kantor Sutoyo.


"Jafar ada di lokasi kematian Masayu, istri Bram, dia di kejar Teguh, saya mengejar Teguh dan Jafar, Jafar berhasil meloloskan diri dari kejaran Teguh." jelas Rasid, pada Sutoyo.


"Kenapa jafar tiba tiba muncul di lokasi itu?" tanya Sutoyo.


"Karena memang, Jafar tinggal di hotel itu, Pak. Dan Masayu, ternyata selingkuhan Jafar, selama ini, mereka menjalin hubungan asmara di belakang Bram!" Jelas Rasid, serius.


"Waaaahhh, rakus juga Jafar, barang milik abang sendiri di sikat juga!" ujar Sutoyo tertawa.


Gunadi dan Rasid nyengir mendengar perkataan Sutoyo tersebut.


"Sebaiknya, kalian berdua bungkam Teguh, Saya gak mau tau, bagaimana caranya kalian membungkam Teguh! Yang jelas, saya gak mau, Teguh terus membantu si Yanto, anaknya Sanusi!!" Hardik Sutoyo marah.


"Baik, Pak. Kami akan mencari cara untuk menutup mulut Teguh." ujar Gunadi, tersenyum licik.

__ADS_1


"Kami pergi dulu, Pak." ujar Rasid.


Sutoyo mengangguk, dia mempersilahkan Gunadi dan Rasid pergi.


Lantas, Gunadi dan Rasid pun segera pergi keluar dari dalam kantor Sutoyo.


Telepon berdering di atas meja, Sutoyo langsung cepat mengambil ponselnya, dia melihat, nama Jafar sebagai penelpon.


"Hallo!" ujar Sutoyo, di telepon.


"Situasi semakin gawat, Polisi polisi bisa menemukan persembunyianku, aku harus bagaimana sekarang ?" tanya Jafar, dari seberang telepon.


"Kamu dimana sekarang?" tanya Sutoyo.


"Di bangunan mangkrak, jalan perkutut, bangunan perumahan yang bertahun tahun gagal di bangun!" tegas Jafar, dari seberang telepon.


"Ngapain kamu disana?" tanya Sutoyo, heran, di telepon.


"Karena, aku gak tau, aku harus sembunyi dimana!" ujar Jafar, dari seberang telepon.


"Baik, kamu tunggu di sana, aku akan datang menemuimu!" tegas Sutoyo, di telepon.


Sutoyo lantas menutup teleponnya, baru saja dia menutup telepon, ponselnya sudah berbunyi lagi, kali ini, Bramantio yang menghubunginya.


"Kamu dimana?!" tanya Bramantio, dari seberang telepon.


"Di kantorku, ada apa?!" Tanya Sutoyo, di telepon.


"Aku baru dapat kabar dari Gunadi, anak buahmu, katanya, Istriku mati terjatuh dari lantai atas hotel tempat dia nginap bersama Jafar!" ujar Bramantio geram, dari seberang telepon.


"Iya, Dan polisi mengejar Jafar, karena Jafar muncul di lokasi, saat Gatot dan Teguh ada di lokasi, menyelidiki kematian istrimu!" tegas Sutoyo di telepon.


"Aku mau nemui Jafar sekarang, kami janjian." lanjut Sutoyo, di telepon.


"Ketemu dimana? Aku ikut, aku mau bertemu Jafar, ada yang mau aku tanyakan soal kematian istriku!" Tegas Bramantio dari seberang telepon.


"Temui kami di bangunan perumahan yang mangkrak bertahun tahun, di jalan perkutut!" Jelas Sutoyo, di telepon.


"Ok, aku kesana sekarang juga!" ujar Bramantio dari seberang telepon.


Lantas, Sutoyo pun mematikan ponselnya, lalu, dia menyimpan ponsel ke dalam kantong celananya, Sutoyo pun kemudian segera keluar dari dalam kantornya.


---


Di sebuah bangunan gedung perumahan yang rusak parah karena mangkrak bertahun tahun, tampak Jafar duduk di sebuah bongkahan batu besar.


Wajahnya tampak tegang dan cemas, ada kemarahan juga di dalam jiwanya, dia marah pada Yanto, yang telah membunuh Masayu.


Jafar tampak resah menunggu kedatangan Sutoyo menemuinya di tempat tersebut.


Setengah jam dia menunggu, akhirnya, Sutoyo datang juga.


Sutoyo berjalan masuk ke dalam bangunan yang rusak parah itu, dia mendekati Jafar, Jafar senang melihat kedatangan Sutoyo.


Jafar pun lantas berdiri dan menghampiri Sutoyo. Mereka pun bersalaman, berdiri saling berhadapan.


"Apa kabar, Far.Akhirnya, kita bisa ketemu langsung lagi, setelah sekian tahun gak ketemu langsung seperti ini." ujar Sutoyo, tersenyum senang.


"Ya, karena aku baru datang lagi ke negara ini, setelah jenuh sembunyi di luar negeri." ujar Jafar.


"Jafaaarr!!" Bentak Bramantio.


Jafar kaget, begitu juga Sutoyo, sebab, tiba tiba saja, Bramantio datang berteriak menghardiknya.


Bramantio berjalan cepat mendekati Jafar yang berdiri di depan Sutoyo.


"Keparat kamu Jafar!!" Ujar Bramantio geram dan marah.


Bramantio langsung memukul wajah Jafar, Jafar diam di tempat, tetap berdiri, tak bergeming. Sutoyo kaget melihat Bramantio memukul Jafar.


"Kenapa kamu gak melindungi Masayu?! Kenapa kamu biarkan dia matii??!!" bentak Bramantio marah.


"Aku gak tau, aku lagi di bogor!!" teriak Jafar, membela diri.


"Yanto datang ke hotel mencariku, dia ketemu Masayu, dan, Yanto membunuh Masayu, dia yang melempar Masayu dari lantai atas kamar hotelku!!" tegas Jafar menjelaskan.


"Yanto menelponku, bilang Masayu mati, aku buru buru balik ke hotel, niatku mau nyelamatkan Masayu, tapi aku telat, karena dia udah mati!" Lanjut Jafar menjelaskan.


"Pas nyampe di hotel, aku gak bisa nemui mayat Masayu, karena polisi mengenaliku, aku lari, polisi mengejarku, dan aku berhasil lolos!!" Tegas Jafar, menjelaskan.


Bramantio diam mendengar penjelasan Jafar tersebut, Sutoyo memegang bahu Jafar dan Bramantio, dia berusaha menenangkan keduanya yang bertikai karena Masayu.


"Kalian gak usah ribut ! Sebaiknya, kita sama sama berfikir, mencari cara menyelesaikan semua masalah ini !" tegas Sutoyo.


"Ingat ! Kita menghadapi musuh yang sama, Yanto !! Dan kita harus bersatu, bekerja sama ! Jangan mau di adu domba lagi!!" ungkap Sutoyo, dengan wajah serius.


"Kalo kita bersatu, aku yakin! Kita akan bisa mengalahkan Yanto!!" tegas Sutoyo serius.

__ADS_1


Bramantio dan Jafar mengangguk diam, mereka pun menuruti semua perkataan Sutoyo.


__ADS_2