VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Kalap, Gelap Mata, Gelap Hati


__ADS_3

Siang hari, Polrestabes tempat Gatot bertugas menggelar upacara prosesi pemakaman Almarhum AKBP Purnawirawan Teguh, SKM, SH, M.Kn,


Gatot bertindak selaku inspektur upacara. Turut hadir dalam upacara pemakaman jenazah jajaran kepolisian tempat Teguh bertugas, dan juga Maya, anaknya Gatot.


Tak ada Sutoyo, sebagai Pemimpin tertinggi kepolisian, tidak ada juga Gunadi beserta Rasid di lokasi pemakaman tersebut.


Upacara pemakaman yang berlangsung hikmat tersebut dilakukan sesuai dengan tata cara Dinas Kepolisian.


Teguh, selama hidupnya, almarhum di kenal sebagai sosok yang baik dan dalam melaksanakan tugas, sangat loyal serta efektif.


Dari atas pohon tinggi, besar dan rindang, tampak Gavlin berdiri diantara batang ranting pohon besar. Air matanya terus mengalir deras, melihat jenazah Teguh, dimasukkan ke dalam tanah.


"Selamat jalan bang Bro. Aku akan membalaskan dendammu! Aku gak akan membiarkan Gunadi dan Rasid hidup !" ujar Gavlin geram, menahan amarah dalam tangis sedihnya.


"Mereka berdua gak akan bisa hidup tenang, karena aku akan memburu mereka sampai kemanapun mereka lari." tegas Gavlin penuh dendam membara dalam jiwanya.


Gavlin menangis sedih, karena, satu satunya keluarga yang di milikinya mati, dengan cara di bunuh para bedebah. Gavlin tak dapat menerima perbuatan Gunadi dan Rasid.


Gavlin akan menuntut balas, atas perbuatan Gunadi dan Rasid, tatapan mata Gavlin tampak tajam dan menyala nyala karena amarah sudah membara dalam jiwanya.


Setelah melakukan proses penguburan, para jajaran instansi kepolisian membubarkan diri masing masing.


Satu persatu mereka pergi meninggalkan makam Teguh, hanya tersisa Gatot dan Maya yang berdiri di samping makam Teguh.


"Selamat jalan, Guh! Jasamu gak akan pernah ku lupakan! Aku janji, aku akan meringkus Gunadi dan Rasid!" tegas Gatot, geram menahan marahnya.


Lalu, Gatot menarik nafasnya dalam dalam, dia berusaha menenangkan dirinya, di hapusnya air matanya yang mengalir di pipinya.


Maya mendekati Gatot, dia lalu merangkul tangan Gatot, Maya memberi ketenangan pada diri Gatot, agar Gatot tidak terus larut dalam tangis kesedihannya saat ini.


"Aku pulang, Guh ! Aku akan sering datang menemuimu di sini nanti." ungkap Gatot, lirih dan getir.


Gatot lantas menghela nafasnya dengan berat, lalu, dia pun berbalik badan, kemudian, dia berjalan gontai, pergi bersama Maya, mereka berdua meninggalkan makam Teguh.


Dari atas pohon tinggi besar dan rindang, mata Gavlin menatap tajam kepergian Gatot dan Maya. Untuk sesaat, Gavlin berdiri diam diatas pohon, dia menunggu, lokasi pemakaman benar benar sepi.


Beberapa menit kemudian, lokasi pemakaman tampak sudah sepi dan hening, Gavlin pun lantas segera turun dari atas pohon, kemudian, dengan langkah gontai, dia berjalan, menghampiri makam Teguh.


Gavlin berdiri diam di samping makam Teguh, dia menangis sedih, menatap batu nisan yang bertuliskan nama Teguh.


"Bang, Bro, mengapa kamu meninggalkanku begini cepat. Semua kebersamaan yang pernah kita lewati kini telah menjadi sebuah kenangan." ungkap Gavlin, menangis sedih.


"Aku akan selalu mengingat dan mengenangmu. Selamat jalan saudaraku". ujar Gavlin, lirih dan getir.


"Aku akan selalu di sini jika kamu membutuhkanku." ungkap Gavlin, menangis sedih.


"Kebaikan dan ketulusan hatimu akan selalu aku ingat selamanya dalam hati. Semoga kamu tenang di sana. Aku turut bersedih dan berduka cita sedalam dalamnya." Ungkap Gavlin, penuh perasaan sedih.


"Nggak ada yang bisa mengerti beratnya perpisahan, terutama perpisahan seperti ini. Aku sangat kehilangan dirimu, bang Bro !" ujar Gavlin, menangis terisak isak.


"Air mataku menetes di hari kepergianmu. Sungguh aku sangat kehilanganmu, terima kasih sudah mau menjadi saudara terbaikku. Selamat jalan saudaraku." ucap Gavlin, tersenyum getir.


"Aku tau bang Bro. Bahwa, tetesan air mata dari hatiku gak akan pernah mampu mengembalikan kamu yang telah pergi selama-lamanya." lanjut Gavlin, menangis sedih.


"Kehilangan kamu untuk selamanya bukanlah suatu hal yang mudah buatku, Bang. Rasanya sungguh berat. Tapi, tak ada jalan yang lebih baik selain merelakanmu..." ujar Gavlin, menangis terisak isak.


Gavlin lantas menarik nafasnya dalam dalam, lalu, di hapusnya air matanya, dia terus menatap batu nisan Teguh.


Wajahnya tampak geram, menahan amarah yang membara di dalam jiwanya, dia pun lantas berbalik badan, pergi meninggalkan makam Teguh.


Gavlin berjalan gontai, keluar dari dalam pemakaman, menuju ke motornya, yang dia sembunyikan, tidak jauh dari lokasi pemakaman.


Wajahnya terus menahan amarah, Gavlin lantas memakai helmnya, lalu, dia naik ke atas motornya, dengan kunci motor, di nyalakannya mesin motornya. Lalu, Gavlin pun menjalankan motornya.


Gavlin mengendarai motornya, dengan kecepatan tinggi, motornya melesat cepat menyusuri jalanan raya yang ramai.


---

__ADS_1


Di rumahnya, dalam ruang keluarga tepatnya, tampak Maya gelisah menghubungi Gavlin, Gatot menghampirinya.


"Telponnya gak aktif, Yah. Dari tadi gak bisa dihubungi, aku cemas sama Gavlin!" ujar Maya dengan wajah cemasnya.


"Tadi kamu gak liat Gavlin di lokasi pemakaman?" tanya Gatot.


"Nggak, Yah. Mataku terus mencari cari sekitar lokasi pemakaman, aku kira, Gavlin datang dan sembunyi, tapi, aku sama sekali gak liat dia datang ke pemakaman mas Teguh." tegas Maya, dengan wajah penuh rasa khawatir pada Gavlin.


"Kemana dia?" ujar Gatot berfikir.


"Aku khawatir sama Gavlin, Yah. Dia pasti terguncang jiwanya, Mas Teguh itu abang satu satunya, dia sangat sayang sama Mas Teguh!" tegas Maya, dengan khawatir.


"Aku takut, Gavlin berbuat nekat, Yah. Aku harus bagaimana?!" Ujar Maya gelisah dan cemas.


"Sudah, kamu tenang aja. Ayah rasa, Gavlin sedang menenangkan dirinya di suatu tempat, nanti juga, dia muncul kembali, menemuimu." ujar Gatot.


Gatot berusaha menenangkan diri Maya, yang terlihat sangat cemas dan khawatir pada Gavlin. Dia semakin cemas, karena sejak dari pagi tadi, Gavlin tak dapat di hubunginya.


Maya tak tahu, dimana Gavlin berada saat ini, yang jelas, dia sangat khawatir dengan kondisi kejiwaan Gavlin, yang baru saja kehilangan saudaranya.


---


Di kamar khusus tempat menyimpan senjata senjatanya, Gavlin, dengan wajah tegang penuh amarah sedang berkemas kemas.


Dia memasukkan beberapa senjata laras panjang, pistol pistol beserta peluru pelurunya ke dalam tas besar dan panjang.


Tak lupa juga Gavlin mengambil beberapa granat lempar, dan juga, dia membawa senapan mesin, serta senjata bom roket.


Gavlin benar benar sangat marah, karena Teguh telah di bunuh, dia pun semakin nekat, dia sudah tak perduli dengan dirinya dan juga sekitarnya.


Gavlin mempersiapkan diri, membawa senjata senjata yang dia miliki, bersiap untuk membalas dendam, memburu Gunadi, Rasid dan juga Sutoyo.


Gavlin tahu, otak di balik perbuatan jahat yang dilakukan Gunadi dan Rasid membunuh Teguh, pasti atas perintah Sutoyo, sebagai pemimpin tertinggi mereka.


Untuk itu, Gavlin sudah tak bisa berdiam diri lagi, dia harus segera menyelesaikan misinya, dia harus mendatangi Sutoyo, Gunadi, dan Rasid, dia bertekat untuk menghabisi mereka.


Setelah selesai membawa semua peralatan senjata senjata yang dia butuhkan, Gavlin pun segera menutup pintu lemari besar yang biasa menyimpan senjata senjatanya.


Gavlin, saat ini, menyamar sebagai sosok Yanto, seniman berambut gondrong, berkumis dan berjenggot tebal serta berkaca mata.


Gavlin, atau Yanto terus berjalan, di pinggangnya terselip beberapa granat, dan di bahunya, terselempang senapan mesin.


Dia menginjak tombol yang ada dalam rumput, lalu, sebuah pintu rahasia terbuka, Dia segera masuk ke dalam ruang bawah tanahnya.


Di dalam ruang bawah tanah, dia segera membuka bagasi mobil sport miliknya, lalu, di letakkannya tas besar di dalam garasi.


Gavlin, atau Yanto lalu masuk ke dalam mobil, dia meletakkan senapan mesinnya di atas jok depan, disampingnya.


Lalu, mobilnya melesat keluar dari garasi bawah tanah, meluncur tembus kejalanan. lalu, segera melesat menembus jalan raya yang ramai.


---


Gatot tampak tengah duduk di kursi meja kerjanya, dia masih merasa kehilangan Teguh, biasanya, Teguh selalu menemaninya diruangan dia. Dan sekarang, dia harus sendiri, karena Teguh sudah meninggal dunia.


Wajah Gatot tampak sedih, ada rasa marah juga yang tersimpan di jiwanya. Dia benar benar tak bisa menerima kematian Teguh.


Tiba tiba saja, terdengar suara ledakan yang sangat keras, suara ledakan seperti bom itu terdengar berkali kali.


Para karyawan petugas kepolisian yang ada di dalam kantor kepolisian berhamburan lari menyelamatkan diri masing masing.


Gatot kaget, mendengar suara ledakan yang cukup dahsyat itu, dia heran, apa yang sedang terjadi, Gatot pun lantas bergegas keluar dari dalam ruang kerjanya, dia ingin melihat, apa yang sedang terjadi.


Di koridor kantornya, dia melihat, banyak para Polisi berlari menyelamatkan diri, Bom roket terus melesat masuk ke dalam ruang kantor dan meledak. Menghancurkan seluruh ruangan kantor.


Gatot semakin kaget dan heran, diantara ledakan dan percikan api yang membakar perabotan di ruangan ruangan kantor, Gatot terus berjalan.


Gatot menghentikan langkahnya, saat bom meledak kembali, dia pun mengurungkan niatnya untuk keluar, karena, tak mungkin dia keluar, sebab, bom roket terus melesat masuk dan menghantam serta meledakan ruangan kantor kepolisian.

__ADS_1


Dari atas pohon besar yang ada di pinggir jalan, sebrang depan kantor kepolisian, tampak Gavlin memegang senjata bom roket.


Gavlin lah yang menembakkan bom roket ke kantor kepolisian.


Tanpa perduli dan sudah gelap mata, Gavlin nekat menghancurkan kantor kepolisian, karena dia berniat membunuh Sutoyo , Gunadi dan juga Rasid.


Setelah di lihatnya, kantor kepolisian hancur dan terbakar, Gavlin, yang menyamar sebagai Yanto segera turun dari atas pohon sambil membawa senapan bom roketnya.


Para petugas kepolisian berhamburan lari keluar menyelamatkan diri dengan wajah ketakutan, mereka tak tahu, siapa yang meledakkan kantor mereka.


Tampak dari kejauhan, Gavlin, dengan sosok Yanto berjalan dengan gagah, sambil membawa tas besar berisi senjata, di tangannya ada senapan mesin.


Yanto terus berjalan ke arah gedung kantor kepolisian, dia menembaki orang orang yang ada di sekitar pekarangan halaman gedung kantor kepolisian.


Korban korban pun berjatuhan, mati di tembak Gavlin, Gavlin lantas masuk ke dalam gedung kantor kepolisian.


Dengan gagah berani, tak ada rasa takut, dia terus berjalan dengan gagahnya. Para petugas kepolisian yang melihat dia membawa senjata segera bersiap siap.


Para petugas kepolisian memberi perlawanan, mereka menembaki Gavlin. Gavlin pun mengamuk, dengan kalap, Gavlin, atau Yanto, menembaki para petugas kepolisian yang menyerangnya.


Yanto lalu bersembunyi di bawah meja, lantas, dia menembakkan senjata mesinnya, dia memberondong peluru ke arah para petugas kepolisian yang memberi perlawanan dan menembak dia.


Para petugas kepolisian banyak yang mati terkena peluru dari senapan mesin Yanto, Yanto benar benar kalap, dengan gelap mata dan gelap hati, dia membantai semua petugas kepolisian.


Dia marah pada polisi, karena membiarkan orang seperti Sutoyo, Gunadi dan Rasid, hidup dengan tenang dan nyaman.


Setelah para petugas kepolisian mati dan banyak yang melarikan diri, Yanto berdiri di tengah tengah koridor kantor kepolisian.


"Gunaaaadiiiii !!! Raaaasssiiiidddd!! Keluar kaliaaaan !!" teriak Yanto, penuh amarah yang membara.


Mendengar suara Gavlin yang berteriak keras, Gatot yang tengah bersembunyi di bawah kolong meja segera keluar menemui Yanto, atau Gavlin.


"Yan, tenang, ini Aku, Gatot!" ujar Gatot.


Gatot keluar dari tempat persembunyiannya, sambil mengangkat kedua tangannya, Gatot mendekati Gavlin, atau Yanto.


"Jangan campuri urusanku, Om!!" Bentak Yanto, atau Gavlin penuh amarah.


Gatot tak perduli, dia terus berjalan mendekati Gavlin yang menodongkan senapan mesinnya ke arah dirinya.


"Yanto, kenapa kamu melakukan ini?" ujar Gatot prihatin.


"Aku datang untuk menghabisi Gunadi dan Rasid ! Aku gak percaya sama polisi!! Mereka pasti akan bebas selamanya!! Hanya aku yang bisa menghukum mereka !! Aku yang akan mengadili merekaaa!!" teriak Yanto penuh amarah membara di hatinya.


Gatot diam, dia berdiri tepat dihadapan Gavlin, atau Yanto, wajahnya terlihat sedih.


"Yanto. Kalo kamu membunuh polisi, otomatis, kamu menjadi musuhku, aku gak bisa diam saja, aku akan menangkapmu, karena kamu telah membunuhi para polisi dan meledakkan gedung kepolisian." ujar Gatot lirih dan getir.


"Jangan halangj aku, Om. Beri aku waktu, biarkan aku menyelesaikan dendamku, setelah itu, aku akan menyerahkan diriku padamu, kamu boleh menangkapku nanti." ujar Gavlin, atau Yanto dengan geram.


Tiba tiba, datang beberapa tim kepolisian, melihat banyak tim kepolisian datang ingin menyergapnya, dengan cepat, Yanto pun mendekap Gatot.


Dengan kuat, Yanto mencekal leher Gatot, dia menjadikan Gatot sanderanya, agar para tim kepolisian tidak menembaknya.


"Jangan tembak, jangan melakukan tindakan apapun juga!!" tegas Gatot berteriak.


Gatot memberi peringatan pada tim kepolisian yang bersiap menyerang dan menembak Gavlin, atau Yanto.


Melihat Gatot, komandan kepolisian menjadi sandera, tim kepolisian pun mengurungkan niat menembak Gavlin, atau Yanto.


Mereka membiarkan Yanto pergi keluar membawa Gatot sebagai sanderanya, tim kepolisian tetap bersiap siaga dan waspada.


Yanto bersama Gatot sebagai sandera berjalan keluar di halaman gedung kepolisian. Para tim kepolisian yang menyergap Yanto, terus mengikuti, mereka juga keluar sambil tetap memegang pistol ditangannya masing masing.


Yanto mendekati mobilnya, sambil tetap mencengkram Gatot, dia pun lantas menembakkan senjata mesinnya ke arah tim polisi yang berdiri di halaman kantor kepolisian.


Para tim kepolisian jatuh terkapar di tanah karena dihantam peluru dari senapan mesin Yanto. Dengan cepat, Yanto melepaskan Gatot.

__ADS_1


"Maaf, Om. Aku terpaksa melakukan ini!!" ujar Gavlin, atau Yanto.


Dia lantas segera masuk ke dalam mobilnya, lalu, segera melesat pergi dengan cepat, meninggalkan gedung kantor kepolisian.


__ADS_2