
Siang itu, terlihat Mike masuk ke kantor yang dipimpin Linda, Sekretaris yang melihat Mike masuk begitu saja segera mengejarnya.
"Maaf Pak, bu Linda tidak ada di ruangannya." Ujar Sekretaris memberitahu pada Mike seperti yang diperintahkan Linda.
Linda menyuruh agar sekretarisnya mengatakan dirinya tidak ada di kantor jika yang datang Mike.
Mike yang terlihat kesal cuek pada sekretaris, dia tak perduli dengan apa yang dikatakan sekretaris.
"Jangan coba coba bohongin saya, saya tau Linda ada diruangannya !" Ujar Mike tegas sambil terus berjalan tanpa melihat sekretaris.
Sekretaris berlari mengejar, dia melewati Mike, berdiri di depan Mike, menghalangi Mike agar tidak membuka pintu ruang kerja Linda.
"Tapi bapak harus buat janji dulu jika mau bertemu, tidak bisa seenaknya saja." Ujar sekretaris pada Mike yang menatapnya tajam.
"Apa kamu bilang ? Berani kamu melarang dan menghalangi saya ?!" Bentak Mike.
"Saya sudah sering datang ke sini, jadi, saya bisa datang kapanpun saya mau, paham !" Ujar Mike dengan suara keras membentak.
"Tetap tidak bisa begitu pak, kalau bapak terus bersikap begini, saya akan lapor keamanan agar menyeret bapak keluar ." Ujar Sekretaris.
Mike menatapnya tajam , matanya melotot marah. Dia begitu emosinya.
"Saya tidak perduli ! Minggir kamu!" Ujar Mike geram.
Mike mendorong tubuh sekretaris agar tidak menghalangi jalannya, Sekretaris hampir saja terjatuh karena di dorong Mike.
Mike cepat membuka pintu, lalu dia melangkah cepat masuk kedalam ruang kerja dimana Linda berada.
Sekretaris Linda berusaha mengejar Mike yang tak perduli dengan wajah kesalnya masuk ke dalam ruang kerja.
Linda yang melihat Mike masuk membuka pintu dengan kasar melihatnya.
Sekretaris berdiri disamping Mike, wajahnya terlihat merasa bersalah karena sudah membiarkan Mike masuk tanpa membuat izin lebih dulu.
"Maaf bu, beliau memaksa." Ujar Sekretaris tertunduk, Linda mengangguk.
"Tidak apa, kamu bisa tinggalkan kami." Ujar Linda pada sekretaris.
Sekretaris akhirnya keluar dari dalam ruang kerja Linda, Mike lantas cepat melangkah mendekati Linda.
"Lin...kenapa kamu terus menghindar dariku ?" Tanya Mike pada Linda yang terlihat cuek.
"Aku gak mau bicara apapun lagi denganmu." Ujar Linda.
"Tapi kita harus bicara Lin, kamu udah salah paham denganku." Ujar Mike mendekati Linda yang duduk di kursi kerjanya.
"Jangan berdalih mencari alasan dan pembenaranmu Mike." Ujar Linda sinis.
"Tapi Lin...aku benar benar gak tau kalo papahku benar benar akan menjodohkan kita." Ujar Mike mencoba memberikan penjelasan pada Linda.
"Iya, awalnya kamu gak tau, tapi setelah tau, kamu jadi senang dan mendukung lalu setuju dengan semua rencana papahmu!" Ujar Linda sinis.
Mike melangkah mendekati Linda, dia hendak memegang tangan Linda, Linda menepisnya.
"Cukup Mike ! Kamu yang membuat persahabatan kita hancur. Aku udah gak mau lagi bertemu dan melihatmu, aku kecewa dengan sikap juga caramu ." Ujar Linda.
"Kamu ingin kita gak jadi sahabat lagi ? Kita kan masih bisa terus jalin persahabatan Lin, bukankah kamu udah menolak rencana pernikahan kita ?" Ujar Mike.
"Aku mohon Lin, tolong, maafkan jika aku salah, biarkan aku tetap jadi sahabatmu." Ujar Mike menatap wajah Linda memohon.
"Gak Mike , cukup sampai disini, aku udah muak denganmu!" Bentak Linda.
"Kamu licik ! Mengambil kesempatan dan memanfaatkan orang tuamu untuk bisa menikahiku ." Ujar Linda.
"Kamu lupa ya ? Kamu gak merasa malu Mike ? Beratus ratus kali aku menolakmu dan bilang kalo aku gak mau pacaran denganmu, apalagi menikah !"
"Aku cuma anggap kamu teman, sahabat ! Jangan mengira aku bakal mau jadi istrimu !" Ujar Linda.
Linda marah membentak Mike yang terhenyak kaget menatap wajah Linda yang marah.
"Pulanglah ke pelukan papahmu itu Mike , bilang papahmu, bukan hanya dia aja yang tersinggung, aku pun lebih tersinggung, harga diriku di injak injak !" Ujar Linda sinis.
"Papahmu kira, aku mainan yang dengan mudahnya dia dapatkan, dia kira aku robot yang bisa sesuka hatinya menuruti semua kemauannya!" Linda marah.
"Di kira papahmu aku ini binatang lalu mulutnya lancar mengatakan aku anak kurang ajar !" Bentak Linda.
Papahku saja tidak pernah mengatai buruk padaku !" Ujar Linda.
"Yang kurang ajar siapa berani berani datang memaksa agar aku menyetujui lamarannya !" Ujar Linda panjang lebar bicara dengan suara keras dan lantang.
Suaranya menggelegar didalam ruang kerjanya, melampiaskan amarahnya pada Mike yang diam.
"Belajarlah jadi lebih dewasa Mike, jangan terus menjadi bayi yang ******* pada orang tuamu, kamu harus punya pendirian." Ujar Linda pada Mike yang masih terdiam.
"Kamu ini laki laki, bukan waria ! Kamu harus bisa menentukan pilihan hidupmu sendiri!" Ujar Linda menyindir Mike.
"Kamu bisa mencari sendiri wanita yang pantas kamu nikahi, bukan meminta bantuan orang tuamu, jangan jadi anak manja terus Mike!" Ujar Linda.
Mike terhenyak, dia tak menyangka Linda berani berkata kasar padanya, Mike tersinggung dengan ucapan Linda.
"Aku gak kan memaafkanmu Lin, kamu menghinaku ! Aku gak akan membiarkan kamu senang." Ujar Mike dengan tatapan penuh amarah.
Mike geram , tangannya gemetar, dia ingin menampar Linda yang dinilainya lancang menghina dirinya seorang bayi, anak manja.
Namun dia urungkan niatnya, dia tahan amarahnya, dia mengepalkan jemari tangannya, menahan segala amarahnya.
"Pak Satpaaaammm !!" Teriak Linda keras memanggil Keamanan kantornya.
__ADS_1
Petugas Keamanan segera datang masuk keruang kerja Linda dengan berlari.
Petugas Keamanan yang memang sudah berdiri menunggu di depan ruangan Linda karena mendapat laporan dari sekretaris segera lari masuk kedalam ruangan kantor.
"Iya bu." Ujar Satpam pada Linda.
"Bawa orang ini keluar dari sini ! Jangan biarkan lagi dia datang dan masuk seenaknya kapanpun ." Ujar Linda marah.
Linda menatap muak pada Mike yang berdiri menahan marah, tubuhnya bergetar menahan emosi marah yang bergejolak didalam jiwanya.
Petugas Keamanan lalu mendekati Mike yang berdiri diam menahan amarahnya.
"Silahkan ikut saya keluar Pak." Ujar Satpam, saat Satpam hendak memegang tangannya, Mike menepisnya.
"Saya bisa pergi sendiri !" Ujar Mike menatap geram pada Petugas Keamanan.
Mike melirik Linda, lalu segera berbalik dan berjalan keluar ruangan kerja Linda di ikuti Petugas Keamanan.
Setelah Mike pergi, Linda menghempaskan pantatnya di kursi kerjanya, dia menghela nafasnya.
Linda terlihat lega, dia memegang dahinya, mengurutnya sedikit, merasakan pusing sedikit.
Di rumahnya, Gatot, seorang komandan polisì yang berusia sekitar 50 tahun sedang duduk diruangan keluarga rumahnya.
Wajahnya terlihat serius melihat pada berkas berkas yang menumpuk dan tergeletak diatas meja.
Maya membuka pintu rumahnya, lalu melangkah masuk berjalan kedalam ruang keluarga dimana Gatot berada.
"Aku pulaaannng..." Ujar Maya teriak.
Maya tahu bahwa Gatot sudah ada dirumah karena dia melihat sepatu Gatot ada didepan pintu masuk rumahnya, dirak sepatu.
Gatot melirik pada Maya yang baru saja pulang dan berdiri di sampingnya.
"Kok dirumah masih kerja sih Yah?" Ujar Maya pada Gatot.
"Gak apa, Ayah harus cepat menyelesaikan kasus ini." Ujar Gatot yang ternyata ayahnya Maya.
Maya melihat photo photo berserakan di atas meja dekat dengan berkas berkas laporan kasus pembunuhan yang sengaja dibawa Gatot untuk di teliti lagi.
Maya lalu duduk disamping ayahnya, dia melihat pada photo photo korban pembunuhan.
Maya mengambil sebuah photo wanita separuh baya, Maya bergidik ngeri melihat photo wanita itu.
Lehernya hampir terputus, photo itu ternyata photo korban yang bernama Ningsih.
"Ayah sedang menyelidiki kasus pembunuhan ?" Tanya Maya. Gatot mengangguk.
"Dimana kejadiannya ?" Tanya Maya ingin tahu.
Matanya terus melihat pada berkas laporan kasus, membaca serius, Maya kaget mendengar nama kampung Rawas, dia diam berfikir.
"Kampung Rawas ? Maya kayak pernah dengar dan tau namanya, dimana dan kapan ya?" Ujarnya bertikir mencoba mengingat ingat.
"Itu kampung tempat masa kecilmu dulu." Ujar Gatot santai.
"Ayah nemui kamu disana dulu pas ada kebakaran besar dirumah almarhum pak Sanusi, tersangka pembunuhan dan pemerkosaan." Ujar Gatot.
Maya diam berfikir, lalu dia ingat dengan apa yang dikatakan ayahnya itu.
"Maya ingat sekarang . Iya, itu kan kampungku, Ayah nemui aku saat terluka dan pingsan di pinggir jalan dekat rumah yang terbakar."
"Ayah yang bawa dan obati aku, lalu merawatku sampe sekarang, menjadikan aku anak ayah." Ujar Maya.
Dia ingat dengan semua kejadian yang pernah dia alami saat masa kecil.
Ternyata Maya adalah anak gadis kecil dulu yang hilang saat terjadinya kebakaran dirumah Yanto dan Wita.
Setelah kejadian itu Maya berpisah dengan Yanto dan Wita, dia sudah tidak tahu dimana Yanto berada, apakah masih hidup atau sudah meninggal.
"Kamu ingat dengan temanmu di kampung Rawas dulu ?" Tanya Gatot menatap wajah Maya yang terdiam masih mengingat ingat kejadian masa kecilnya dulu.
"Yanto maksud Ayah ?" Ujar Maya menatap Gatot yang mengangguk.
"Kamu masih ingat ternyata sama anak itu." Ujar Gatot.
"Ayah kan pernah cerita ke aku, bahwa ayah yang nolong Yanto, membawa adiknya kerumah sakit, tapi adiknya gak tertolong terus meninggal."
"Setelah itu ayah juga yang cerita, kalo ayah menitipkan Yanto ke panti asuhan." Ujar Maya.
Maya menjelaskan semua yang pernah dia dengar dari Gatot.
Sama seperti yang pernah diceritakan ayahnya saat menjelaskan tentang dirinya adalah anak angkat Gatot.
Maya tak perduli dia hanya seorang anak angkat, baginya, Gatot bapak kandungnya, karena sudah berbuat baik, sangat menyayangi dan merawat dirinya dengan baik.
Maya sangat menyayangi Gatot sebagai ayahnya, begitu juga Gatot, dia menyayangi Maya seperti anak kandungnya sendiri.
Gatot selama ini tidak menikah, sejak gagal menjalin hubungan dulu dengan seorang wanita yang mengkhianatinya dengan memilih menikahi seorang Pejabat Daerah.
Sejak itu Gatot memilih hidup sendiri, merawat dan mengasuh Maya hingga sekarang dewasa.
Gatot lebih nyaman dengan kesendiriannya dan bekerja sebagai polisi.
"Kenapa ayah tiba tiba nanya tentang Yanto ?" Tanya Maya memecah suasana hening sesaat.
"Nggak, Ayah cuma teringat sama dia aja." Ujar Gatot.
__ADS_1
"Pas baca berkas berkas laporan kasus pembunuhan, dan tahu bahwa kejadiannya dikampung Rawas, Ayah jadi ingat kejadian dulu." Ujar Gatot.
"Terus, apa hubungannya denganku dan Yanto ?" Tanya Maya, dia gak paham dengan yang dikatakan ayahnya itu.
"Kok ya setelah 17 tahun, terjadi lagi pembunuhan warga warga d kampung Rawas itu." Ujar Gatot.
"Ayah merasa ada sesuatu yang aneh dari kejadian ini, tapi belum bisa menyimpulkan, apa, bagaimana, dan siapa pelakunya." Ujar Gatot.
Maya terdiam, dia menatap wajah ayahnya yang tampak sedang berfikir.
"Ayah pasti bisa nemui motif pembunuhannya, aku yakin, semangat Yah !" Ujar Maya tersenyum.
Maya memberi semangat pada ayahnya yang juga tersenyum padanya.
"Kemaren ayah sempat datang ke panti asuhan tempat Yanto ayah titipkan dulu." Ujar Gatot.
"Terus ?" Tanya Maya penasaran menatap serius wajah ayahnya.
"Kata Petugas Panti Asuhan, tujuh bulan setelah Yanto tinggal dipanti, dia diadopsi." Ujar Gatot.
"Katanya dia dibawa ke luar negri, dimana pastinya Petugas Panti gak tau." Ujar Gatot, dia menatap lekat wajah Maya.
"Ayah yakin, Yanto pasti sudah tumbuh besar menjadi pria gagah sekarang, umur kalian gak jauh beda pastinya." Ujar Gatot tersenyum.
Maya lantas tersenyum, Maya menatap wajah ayahnya yang juga tersenyum padanya.
"Kalo ayah ketemu Yanto, apa ayah ingat wajahnya ? Kalo aku pasti lupa, kan masih kecil dulu." Ujar Maya.
"Gak tau, yang jelas ayah tau dan ingat, di lengan kanannya ada tompel tanda lahir, ayah sempat liat dulu pas nolong dia." Ujar Gatot mengingat ingat yang dulu.
"Saat ayah gendong Yanto untuk dibawa ke rumah sakit, ayah liat tompelnya dari baju dia yang sobek." Ujar Gatot menjelaskan, Maya mengangguk angguk paham.
"Maya istirahat dulu ya Yah." Ujar Maya berdiri dari tempat duduknya, Gatot mengangguk.
Maya lalu berjalan meninggalkan Gatot yang lantas melanjutkan pekerjaannya meneliti berkas kasus pembunuhan kampung Rawas.
Malam itu, terlihat Maya yang sedang tidur dalam keadaan gelisah, matanya terpejam, namun wajahnya seperti ketakutan.
Tubuhnya mengeluarkan keringat, dia bermimpi, dalam mimpinya dia mengingat kembali kejadian 17 tahun yang lalu saat dia kecil.
Dalam mimpinya itu, Maya ingat, dimana dia yang masih kecil terperangkap dalam kurungan api yang banyak dan menjalar melalap seluruh ruangan rumah Yanto.
Sekilas, samar samar, Maya melihat Yanto yang menggendong adiknya Wita, wajah Maya terlihat panik.
"Yantoooo...Yantooo...tolong akuuu..." Teriak Maya diantara kobaran api.
"Mayaaa...kamu dimanaa... Mayaaa...!!" Teriak Yanto kecil memanggil dan mencari cari Maya kecil.
Wita yang pingsan tetap berada dalam gendongan Yanto. Tiba tiba Maya kecil melompat melewati kobaran api, keluar dari belakang rumah Yanto.
Sayup sayup diluar saat dia terguling guling ditanah, dia mendengar teriakan Yanto yang melarang dirinya berbuat nekat.
Dalam tidurnya terlihat Maya gelisah, kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri, teriak teriak.
"Panaaasss...sakiiittt...tolloooonnnggg...!! Teriak Maya kecil terguling ditanah.
Lengan dan pundak kirinya terbakar, dia berusaha mematikan api yang membakar baju dan kulitnya.
Di kasurnya, Maya terlihat berguling guling seperti orang yang sedang mematikan api di tanah.
Gatot yang masih berada di ruangannya kaget mendengar teriakan Maya dari dalam kamar.
Dengan cepat Gatot melemparkan berkas laporan yang sedang dia baca diatas meja lalu bergegas lari masuk ke dalam kamar.
Gatot segera mendekati Maya yang tidur dikasur dengan gelisah dan ketakutan, Gatot menepuk nepuk pipi Maya pelan, membangunkannya.
"Maay...sadar May...banguunn..." Ujar Gatot.
Saat itu, dalam mimpinya, sayup sayup dia mendengar suara seseorang memanggil namanya.
Dalam mimpinya itu, Maya kecil yang sudah lemah tak berdaya masih sempat melihat Gatot muda datang mendekati lalu mengangkatnya.
Bertepatan saat tubuh Maya kecil diangkat Gatot , Maya pun tersadar dari mimpinya.
Maya melihat ayahnya ada dihadapannya dengan wajah khawatir, Maya segera memeluk ayahnya.
"Maya mimpi kebakaran dulu Yah." Ujar Maya menangis memeluk ayahnya.
"Sudah, sudah, gak apa apa. Kamu mimpi karena ingat obrolan kita tadi." Ujar Gatot menenangkan Maya, dia mendekap dan memeluk erat Maya.
"Maafin Ayah, karena cerita soal kejadian dulu kamu kebawa mimpi begini." Ujar Gatot pada Maya.
"Maya liat Yanto dan Wita di mimpi Yah. Maya liat Yanto panik nyariin Maya." Ujar Maya dengan wajah sedih.
"Maya merasa bersalah , Maya ingat saat dulu itu Maya ninggalin Yanto dan adiknya." Ujar Maya menangis.
"Sudah, sudah, semua bukan salah kamu, toh Yanto dan adiknya saat itu selamat dari kebakaran." Ujar Gatot, dia lantas melepaskan pelukannya dari Maya.
"Sekarang, tenangkan dirimu, cuci mukamu, lalu tidur lagi, Ayah temani kamu ." Ujar Gatot pada Maya yang mengangguk lemah.
Lalu Maya beranjak turun dari kasurnya, berjalan keluar kamar menuju kamar mandi.
Gatot menghela nafas melihat kepergian Maya, dia sangat khawatir dengan kondisi Maya.
Maya bermimpi tentang kejadian yang mengerikan dulu menimpa dirinya.
Kejadian itu meninggalkan bekas cacat luka di lengan dan bahu Maya sampai saat ini.
__ADS_1