
Ronald menghentikan mobilnya di pinggir jalan depan apartemen mewah, tempat dimana Yanto tinggal.
Matanya tajam memandangi gedung apartemen mewah yang berdiri tinggi dan megah itu.
Matanya juga tajam mengawasi sekitar apartemen tersebut, dia sedang membaca dan mengamati serta mempelajari situasi di sekitar apartemen tersebut.
Ronald tengah berencana mengintai dan melacak keberadaan Yanto.
Berbekal alamat rumah Yanto yang di dapatnya dari Bramantio, dia pun mendatangi apartemen Yanto.
Ronald ingin tahu, bagaimana sosok Yanto yang sebenarnya selama ini.
Sebab, dia sama sekali belum mengenal Yanto secara baik. Dia belum tahu, bagaimana sosok Yanto yang sebenarnya.
Dia hanya di tunjukkan photo Yanto oleh Bramantio dari sebuah tabloid yang memuat artikel tentang kesuksesan Yanto menggelar pameran patung lilinnya.
Ronald menyalakan mesin mobilnya, lalu dia menyetir mobilnya.
Mobil berjalan, melaju masuk ke halaman apartemen, Ronald langsung menuju ke ruang parkir bawah tanah apartemen.
Setibanya di ruangan parkir, Ronald lantas memarkirkan mobilnya di sudut parkiran yang kosong.
Ronald kemudian keluar dari dalam mobilnya, berjalan dengan sikap tenang dan santai menuju pada lift yang ada di ruangan parkir tersebut.
Ronald menekan tombol naik lift, sesaat kemudian pintu lift terbuka, dia pun cepat masuk ke dalam lift tersebut.
Dia memilih nomor lantai 150, lantai tertinggi dari apartemen tersebut, dimana Penthouse berada.
Ronald tahu, letak Penthouse berada di lantai teratas apartemen tersebut.
Dengan sikap dingin dan tenangnya, dia berdiri menunggu di dalam lift.
Lift berhenti, Ronald tiba di lantai Penthouse, sesaat kemudian, pintu lift terbuka.
Saat dia keluar dari dalam lift, tak sengaja dia berpapasan dengan Yanto.
Mereka sama sama tidak saling melihat dan tidak saling mengenal, karena saat itu, Yanto tengah bicara serius di teleponnya sambil masuk ke lift.
Sementara Ronald cuek dengan keberadaan Yanto, dia langsung keluar lift tanpa melihat Yanto.
Apalagi saat ini Yanto memakai topi hitam dan wajahnya sedikit menunduk saat menelpon dan masuk ke dalam lift, Ronald pun semakin tak mengenali wajahnya.
Pintu lift tertutup, di dalam lift Yanto masih bicara dengan seseorang di teleponnya.
"Info kamu ini benar benar akurat kan? Dia memang tinggal di hotel Hera ?!" Tanya Yanto dengan wajah serius di telepon.
"Oke, aku akan mencari taunya sendiri, thanks bro!" Ujar Yanto.
Dia lantas menutup teleponnya, lalu menyimpan ponsel ke dalam kantong celananya, wajahnya terlihat garang, memendam amarah di dalam dirinya.
Yanto baru mendapatkan informasi dari seseorang yang biasa memberikannya informasi.
Informasi seputar tindakan kepolisian dalam menyelidiki kasus pembunuhan yang terjadi dan di lakukan Yanto atau Gavlin.
Sementara itu, Ronald tiba di depan pintu masuk Penthouse milik Yanto, wajahnya tersenyum menyeringai licik.
Lalu Ronald menoleh pada kamera cctv yang terpasang di salah satu sudut ruang koridor Penthouse tersebut.
Dia perhatikan pintu masuk Penthouse tersebut yang memakai kode khusus untuk membuka pintu, selain itu Ronald tahu, kalau pintu dipasangi alarm.
Ronald mengambil pisau lipatnya dari kantong celananya, lalu dia bersiap siap.
Ronald menekan bel yang ada di samping pintu, dia berdiri menunggu, beberapa kali dia membunyikan bel, tapi pintu tetap tertutup.
Ronald pun akhirnya berbalik, dia tahu, saat ini Yanto tak ada di dalam Penthouse.
Ronald tersenyum sinis, dia pun memikirkan sesuatu, kemudian, dia berbalik pergi meninggalkan penthouse.
Rencananya, jika saja tadi pintu di buka Yanto, dia akan langsung menyerang Yanto, menikamnya dengan pisau lipatnya, lalu membunuh Yanto.
Karena Yanto tidak ada dalam Penthouse, Ronald pun kecewa, dia pergi dengan membawa amarahnya karena gagal membunuh Yanto.
Yanto masuk ke dalam mobil sport mewahnya, lalu mobilnya melaju cepat keluar dari ruangan parkir apartemen.
Bersamaan dengan itu, tak lama kemudian, Ronald pun keluar dari dalam lift, lalu dia berjalan menuju mobilnya yang terparkir di sudut ruangan parkir.
__ADS_1
"Dia gak ada di Penthouse, aku yakin, dia sedang pergi berburu, berburu Bram ! Kalian tunggu aku, aku akan beri tugas sama kalian nanti !" Tegas Ronald bicara di teleponnya.
Dia lantas menutup telepon lalu mengantongi ponselnya ke dalam celana.
Ronald masuk ke dalam mobilnya, lalu, sesaat kemudian, mobil Ronald pun berjalan keluar dari ruangan parkiran apartemen.
---
Yanto yang sedang menyetir mobilnya melihat Maya berjalan di trotoar jalanan dengan santainya.
Yanto tersenyum senang melihat Maya, lalu, Yanto pun menghentikan mobilnya di depan Maya.
Maya terus berjalan, dia tak mengenal mobil sport mewah tersebut.
Yanto membuka kaca jendela depan pintu mobil, lalu dia mengeluarkan kepalanya di jendela pintu mobil.
"May !" Panggil Yanto dari dalam jendela pintu mobilnya. Maya pun menghentikan langkahnya.
Maya membalikkan badannya, lalu melihat ke arah Yanto yang memanggilnya.
Maya melihat Yanto yang tersenyum menatapnya, Yanto memakai topi, berkumis dan berjenggot tebal dan lebat.
Maya tersenyum senang menyadari kalau yang memanggil dia adalah Yanto.
Maya tahunya Yanto hanya sebagai seniman pembuat patung lilin saja, dia tak pernah tahu, jika Yanto sebenarnya adalah Gavlin.
Ya, Gavlin, Pemuda yang sangat dia cintai dan sayangi selama ini.
Maya pun melangkah mendekati Yanto yang ada didalam mobilnya.
"Yanto?!" Ujar Maya tersenyum.
Dia berdiri di depan pintu depan mobil Yanto, dan membungkukkan sedikit badannya agar bisa melihat Yanto yang duduk di jok depan belakang stir mobil.
"Yuk, ikut aku, aku antar kamu ketempat kerja." Ujar Yanto tersenyum ramah dari dalam mobil.
"Makasih, kantorku udah dekat kok." Ujar Maya tersenyum.
Dia menolak halus ajakan Yanto yang mau mengantarkan dia ke kantornya.
"Gak apa, ayolah, sekalian jalan, aku juga ke arah kantormu." Tegas Yanto lagi.
"Tenang aja, cowokmu gak liat, kalo pun dia liat, aku yakin, dia gak bakalan salah paham."Ucap Yanto.
"Aku kan cuma nganterin kamu, gak ada maksud lain." Ujar Yanto tersenyum dari dalam mobilnya.
Ya, Maya ragu, dia khawatir, kalau dia semakin dekat dengan Yanto, apalagi Gavlin sampai melihatnya bersama Yanto didalam mobil berduaan, Gavlin bisa cemburu.
Maya pun menarik nafasnya dalam dalam, dia mencoba untuk menerima perkataan Yanto tentang Gavlin.
Lantas, Maya pun membuka pintu depan mobil, lalu masuk ke dalam mobil dan duduk di jok depan, di samping Yanto yang menyetir.
Yanto tersenyum senang melihat Maya mau diantarnya ke kantornya. Yanto pun menjalankan mobilnya kembali.
Beberapa menit kemudian, Maya pun tiba di depan gedung kantornya, karena memang sudah dekat, dengan memakai mobil, jadinya lebih cepat sampai.
"Trima kasih ya, udah nganterin aku." Ujar Maya tersenyum ramah.
"Oke." Jawab Yanto tersenyum.
"Ohya, kapan kapan, kita ketemu bisa? Aku mau kenalin kamu sama cowokku, Gavlin namanya." Ujar Maya.
"Aku udah cerita ke cowokku, kalo aku berteman baik dengan kamu, aku bilang, kamu seniman pembuat patung." Lanjut Maya tersenyum.
"Dan aku berniat mengenalkan kamu padanya. Mau ya?" Ujar Maya tersenyum ramah.
"Kabari aja waktunya kapan, ya." Jawab Yanto tersenyum santai.
"Baiklah." Ujar Maya tersenyum senang.
Maya pun lantas membuka pintu mobil, dia lalu keluar dari dalam mobil Yanto, dan bergegas jalan masuk ke dalam gedung kantornya tanpa menunggu Yanto pergi.
Yanto tersenyum senang melihat kepergian Maya yang jalan dan masuk kedalam kantornya.
"Maya...Maya...kamu tetap mau kenalin aku sama diriku sendiri, kalo kamu tau, Gavlin itu aku, gimana reaksimu ya?" Ujar Yanto tertawa kecil.
__ADS_1
Lalu, Yanto pun menjalankan mobilnya lagi, pergi dari kantor tabloid tempat kerja Maya.
----
Di sebuah ruangan yang terlihat mewah, duduk Ronald di sofa besar, ada 4 orang yang berdiri di depannya.
Dan seseorang yang duduk di sofa, disampingnya, orang tersebut bernama Moses.
"Mereka berempat ini anak buahku yang terkuat Nald, mereka ini selama ini ku percaya memegang bar bar dan pub pub yang menjadi kekuasaanku." Ujar Moses.
"Mereka ini bernama Sugeng, Malik, Anwar, dan Bagong." Ujar Moses memperkenalkan anak buahnya.
Ronald mengangguk angguk mengerti, dia menatap tajam wajah wajah ke empat anak buah Moses yang berdiri dihadapannya.
"Aku minta, kalian berempat mulai hari ini juga mendampingi Bramantio, beri penjagaan ketat dan lindungi Bram !" Tegas Ronald pada ke empat orang tersebut.
"Dan jika kalian menemukan kejanggalan, atau melihat orang yang mengincar Bram, cepat kabari aku !" Tegas Ronald.
"Siaap !!" Jawab ke empat orang tersebut.
"Dan kamu Moses, aku minta kamu sediakan bahan bahan peledak secepatnya, dan tugasmu, membantu aku !!" Ujar Ronald pada Moses.
Moses, nama orang yang duduk disofa, disamping Ronald.
Moses adalah pemimpin gank "King Cobra".
Kelompoknya paling terkuat, memegang kekuasaan wilayah lokasi perjudian dan bar bar serta pub pub terbesar yang ada diseluruh wilayah kekuasaannya.
Dan Ronald mengenal baik Moses sejak mereka masih kecil, mereka berteman baik sejak kecil hingga sekarang.
Moses sangat segan dan hormat pada Ronald, selain itu, dia juga takut sama Ronald.
Karena Ronald terkenal sadis, seorang pembunuh yang suka memutilasi korbannya, dan terkadang memakan daging korban korbannya.
"Baik Nald, secepatnya aku akan mendapatkan bahan bahan itu semua, apa kamu juga butuh senjata?" Ujar Moses bertanya.
"Iya, aku butuh dua pistol saja." Ujar Ronald dengan wajah dingin dan sikap tenangnya.
"Oke, aku akan menyiapkan semuanya buatmu." Ujar Moses.
"Kalian tunggu apa lagi, segera bergerak dan kerjakan tugas kalian!" Tegas Moses pada anak buahnya.
"Siaap bos !" Jawab Bagong.
Bagong lalu mengajak ke tiga temannya untuk pergi.
Mereka berempatpun dengan cepat keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Ronald dan Moses.
"Apa kamu sudah menemukan orang yang membunuh Samsul?" Tanya Moses.
"Belum, aku belum bertemu, tapi aku udah tau tempat tinggalnya." Ujar Ronald dengan sikap dingin.
"Aku akan memberikan orang itu sebuah kejutan dahsyat !" Tegas Ronald geram.
"Itu sebabnya kamu menyuruhku untuk menyediakan bahan bahan peledak?" Tanya Moses dengan wajah serius.
"Ya, aku akan menghancurkan orang itu, aku ingin tubuhnya berantakan, hancur berkeping keping!" Tegas Ronald geram dan marah.
Matanya tampak memerah tajam menahan geramnya pada orang yang telah membunuh Samsul.
"Selain itu, apa yang bisa aku bantu lagi Nald?" Tanya Moses.
"Kamu bisa bantu aku melacak keberadaan Yanto itu ! Aku yakin, kalo si Yanto yang membunuh Samsul dan anaknya Bramantio !" Tegas Ronald.
"Yanto namanya? Siapa orang itu?!" Tanya Moses heran.
Moses sama sekali tak pernah tahu dan kenal Yanto, dia juga belum pernah mendengar nama Yanto.
"Dia itu seniman pembuat patung lilin, belum lama ini, dia di minta Bram membuat patung dewi Hera untuk hotelnya." Ujar Ronald menjelaskan.
"Aku yakin, Yanto itu yang menyembunyikan kamera kamera mini cctv, dengan tujuan mengawasi Bramantio !" Ujar Ronald dengan tegas dan geram.
"Seniman pembuat patung? Aku sama sekali gak tau." Ujar Moses.
"Ya karena kamu sibuk dalam kubangan alkohol dan lendir serta daging daging mentah dan hidupmu!! Kamu gak tau perkembangan diluar sana !" Tegas Ronald tertawa.
__ADS_1
"Bisa aja kamu Nald ! Dari semua itu, aku menghasilkan uang yang banyak ! Kamu juga sekarang lagi menikmati uang dari bisnis lendirku!" Ujar Moses tertawa kencang.
Ronald pun ikut tertawa mendengar perkataan Moses, keakraban antara mereka berdua tampak terlihat jelas.