VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Terungkapnya sebuah Konspirasi Besar


__ADS_3

Mobil Gavlin berbelok ke sebuah jalanan, lalu meluncur lurus, dari dalam mobil Gatot dan Richard saling pandang, mereka tahu jalanan yang tengah di lalui mobil Gavlin.


"Ini kan arah ke rumah barumu itu, Vlin?" ujar Gatot.


"Iya, Om."Jawab Gavlin, sambil tetap menyetir mobilnya.


"Kok kerumahmu? Kan rumahmu udah kamu hancurkan?" ujar Maya heran.


"Ada tempat lain." jawab Gavlin, masih menyetir mobilnya.


Maya pun diam, dia tampak berfikir dan heran, mengapa Gavlin membawa mereka kerumahnya yang sudah hancur karena sengaja di ledakkan Gavlin waktu itu.


Richard dan Gatot juga saling pandang dan bertanya tanya, mereka lantas memilih diam, dan membiarkan Gavlin membawa mereka ke rumahnya.


Mobil lantas berbelok ke sebuah jalanan yang berada di samping rumahnya, yang di batasi dengan pagar tembok.


Saat mobil meluncur di jalanan, Gavlin menekan sebuah tombol yang ada di bawah stir mobilnya, tiba tiba saja jalanan di depan bergerak turun ke bawah.


Maya terbelalak kaget, melihat aspal jalanan bergerak turun dengan sendirinya.


"Loh, Jalannya gerak sendiri?" ujar Maya panik.


Gavlin hanya tersenyum kecil, dia tetap menyetir mobilnya, mobil pun meluncur ke jalanan yang sudah menurun, mobil lantas masuk ke dalam bawah tanah, dan aspal jalanan kembali bergerak naik ke atas, dan posisinya sudah kembali seperti semula lagi, rata dengan jalanan lainnya.


Maya tampak keheranan di dalam mobilnya, dia mengamati area ruang bawah tanah, wajahnya masih terheran heran.


Mobil Gavlin lantas berhenti di garasi rumah bawah tanah Gavlin, lantas, dia mematikan mesin mobil dan mencabut kuncinya.


"Kita udah sampe, ayo turun." ujar Gavlin.


"Di sini? Tempat apa ini?" tanya Maya keheranan.


"Keluarlah dulu dari mobil, nanti kamu bisa liat dengan jelas, dimana kita sekarang." ujar Gavlin, tersenyum lembut pada Maya.


Maya pun mengangguk, mengiyakan, walau wajahnya masih keheranan.


Richard dan Gatot lantas keluar dari dalam mobilnya, Di ikuti Gavlin dan Maya, yang juga keluar dari dalam mobil.


Mereka berdiri di samping mobil Gavlin, mata Gatot dan Richard mengamati seluruh ruang garasi bawah tanah.


"Ini ruang bawah tanah, Vlin?" tanya Gatot.


"Ya, Om." ujar Gavlin.


"Jadi, saat kamu di serang, kamu sembunyi di sini?" tanya Gatot lagi.


"Ya, begitulah, Om. Dari kamera cctv aku bisa liat jelas, makanya aku bisa melarikan diri dan gak tertangkap waktu itu." jelas Gavlin.


"Oh, begitu." ujar Richard, mengerti dan paham.


"Ayo ikut aku." Ajak Gavlin.


Mereka bertiga lantas mengikuti Gavlin yang berjalan di depan , mereka pun lantas memasuki sebuah ruangan yang sangat luas.


Maya kembali tercengang melihat ruangan yang begitu luas, dan di penuhi dengan perabotan perabotan lengkap dan mewahnya.


Ruangan tersebut sama persis dengan ruangan yang ada di dalam rumah, Richard dan Gatot pun mengerti, bahwa mereka berada di rumah bawah tanah Gavlin.


"Ini rumah keduaku, aku sengaja membangun ruang bawah tanah untuk berlindung di sini. Ruangannya aku buat sama persis dengan ruangan dalam rumahku yang sudah hancur." jelas Gavlin.


"Oh, begitu, aku baru tau." ujar Maya.

__ADS_1


"Ya, karena kamu memang belum pernah aku bawa ke sini, May." ujar Gavlin tersenyum.


"Di rubanah ini maksudmu tempat yang aman bersembunyi dari kejaran Herman dan komplotannya?" tanya Richard.


"Ya, kita bisa mengawasi dari monitor, aku memasang cctv di sekitar area lokasi ini, jadi, jika ada pergerakan yang mencurigakan, kita bisa tau dan melihatnya dari monitor." jelas Gavlin.


"Monitor cctv ada di kamar sana." ujar Gavlin, sambil menunjuk kamar tempat monitor cctv berada.


Richard, Gatot dan Maya pun mengangguk angguk mengerti dan paham.


"Baiklah, kalo begitu, kita istirahat di sini, sambil menyusun langkah selanjutnya, untuk menghadapi Herman dan komplotannya!" jelas Richard, dengan wajah serius.


"Ya." Jawab Gatot.


"Bersantailah di sofa, kalo mau makan dan minum, ambil aja di kulkas, May. Aku selalu menyiapkan makanan buat persediaanku." jelas Gavlin.


"Ya, Vlin." ujar Maya.


"Aku tinggal sebentar, ya." ujar Gavlin.


Richard, Gatot dan Maya pun mengangguk, mengiyakan, Gavlin lantas pergi meninggalkan mereka bertiga.


Richard, Gatot dan Maya lantas duduk di sofa, melepaskan rasa lelah mereka, Maya yang masih membawa pistolnya lalu meletakkan pistol di atas meja, kemudian, dia bersandar di sofa.


---


Anak buah Peter yang di tugasi mencari Dody di sekitar area Villa berlari lari menghampiri Peter, wajahnya terlihat tegang dan panik.


"Lapor, Pak! Mayat pak Dody di temukan di ujung sana!" ujar Petugas Polisi memberi laporan.


"Apaaa?!! Dody mati?!!" ujar Herman, teriak dan marah.


Petugas Polisi mengangguk, lantas, Herman, Peter, Jack dan Prawira pun berjalan mengikuti Petugas Polisi, mereka ingin melihat mayat Dody.


Mereka masuk dari pagar besi yang sudah di bongkar petugas polisi, lalu, mereka segera mengikuti Petugas Polisi.


Herman dan komplotannya tiba di tempat mayat Dody ditemukan, Petugas Polisi menunjuk mayat Dody.


"Ini mayatnya, Pak." ujar Petugas Polisi, menunjuk mayat Dody ditanah.


Herman, Prawira dan Jack, memalingkan wajahnya, mereka tak sanggup melihat Dody, yang mukanya hancur dan penuh luka bakar di seluruh tubuhnya.


"Biaaadaaab !!" bentak Peter penuh amarah.


"Kita gak bisa diam saja!! Kita harus membalas perbuatan Gatot dan Richard !! Aku mau mereka juga mati !!" bentak Peter, meluapkan amarahnya.


"Tenangkan dirimu, Peter !! Kita harus berfikir dengan tenang ! Jangan sampai kita lengah karena emosi !!" tegas Herman, mengingatkan Peter.


"Tapi mereka sudah membunuh Dody !!" bentak Peter marah.


"Aku tau!! Tapi kita harus tetap tenang, jangan gegabah!! Kalo kita lengah, kita juga akan mengalami nasib yang sama seperti Dody!!" tegas Herman, sedikit marah pada Peter.


"Benar kata Herman, sebaiknya, tenangkan dirimu, jangan langsung emosi, agar kamu bisa berfikir tenang." Jelas Prawira.


Prawira mencoba menenangkan diri Peter yang terlihat sangat emosi marah, dia marah, karena tak bisa menerima kematian Dody, sahabat dekatnya itu.


Peter pun marah dan menjadi sangat dendam pada Gatot serta Richard, dia menuduh , Gatot dan Richard pembunuh Dody.


Mereka sama sekali tak ada yang tahu, bahwa kematian Dody karena di bunuh Gavlin, bukan karena Richard mau pun Gatot.


Tiba tiba, sebuah mobil Ambulance dan mobil tim Forensik tiba di lokasi, lalu, para petugas medis dan tim forensik segera keluar dari mobil mereka masing masing.

__ADS_1


Kemudian, melalui pagar yang sudah di robohkan, mereka lantas masuk dan menghampiri lokasi kejadian.


Herman dan komplotannya melihat kedatangan tim forensik dan petugas medis ke lokasi pembunuhan Dody.


"Kita pergi, biarkan mereka menyelidiki kematian Dody." ujar Herman.


Peter, Prawira dan Jack pun mengangguk, mereka bertiga lantas pergi, meninggalkan petugas petugas medis dan para tim forensik yang mendekati mayat Dody.


Dengan gerak cepat, para tim forensik lalu mengamati mayat Dody, mereka meneliti mayat Dody yang terkapar di tanah dengan luka luka bakar, akibat terkena bom granat.


Sementara, Herman, Peter, Jack dan Prawira sudah pergi dari lokasi tersebut, mereka membiarkan petugas medis dan tim forensik menangani mayat Dody, untuk di bawa ke lab, agar di autopsi.


---


Gavlin meletakkan semua barang bukti yang dia temukan di dalam rumah Sutoyo ke atas meja.


Duduk di sofa Richard dan Gatot, sementara Maya sedang istirahat di dalam kamar yang ada di rumah bawah tanah Gavlin.


Richard segera melihat barang bukti yang tergeletak di atas meja, lalu dia menatap wajah Gavlin yang duduk di samping Gatot.


"Ini udah semuanya?" tanya Richard.


"Ya." Angguk Gavlin.


Richard pun mengambil satu tape recorder, kemudian dia menyalakan tape tersebut. Lantas, terdengarlah suara Herman, Sutoyo, Bramantio, Jafar, Guntur, Peter, Dody, Prawira, Jack, serta Wijaya dari tape recorder tersebut.


Dari rekaman tape recorder itu, terdengarlah dengan jelas, bagaimana mereka sedang berdiskusi dan merencanakan untuk membantu Jafar, serta bagaimana cara menghilangkan barang bukti, juga mempengaruhi pengadilan.


Dari tape recorder itu juga terdengar jelas, pengakuan Jafar yang membunuh pacar gelapnya, dan juga sekretarisnya, yakni Ibu kandung Gavlin. Saat Herman bertanya, Jafar juga mengakui kalau telah membunuh gadis pemandu lagu di sebuah bar.


Lalu, Terdengar suara Herman memimpin diskusi, dan menyusun rencana rencana yang akan mereka lakukan guna mengubah hukum, dan mementahkan segala tuduhan terhadap Jafar dan juga Bramantio.


Dari rekaman tape recorder juga terdengar suara Guntur, orang yang pertama kali mati di bunuh Gavlin dalam hotel Bramantio.


Dalam rekaman, Guntur bersama Wijaya merencanakan pembakaran rumah orang tua Gavlin, dan di dukung Bramantio yang mengatakan akan membayar para warga warga setempat kampung Rawas untuk membakar rumah orang tua Gavlin.


Gavlin yang mendengar pembicaraan Herman dan komplotannya dalam rekaman tape recorder tampak sangat marah, darahnya bergejolak dalam dirinya, dia tampak sangat menahan amarahnya yang sudah meluap luap.


Gavlin mengepalkan tangannya, dia tampak sangat geram, ingin sekali dia menghabisi nyawa Herman dan komplotannya.


"Biadaaab!! Mereka benar benar merencanakan semuanya!" ujar Gavlin geram dan marah.


"Begitulah, Vlin. Aku dan Pak Richard dulu sudah pernah mendengar pembicaraan mereka dari rekaman tape recorder ini." jelas Gatot.


"Tapi tape ini langsung menghilang dari tempat barang bukti, sehingga aku gak bisa memakainya jadi barang bukti dipersidangan Jafar dan Bramantio dulu!" jelas Gatot, merasa menyesal.


"Saya pastikan, Ini asli, sama seperti dulu!" ujar Richard memastikan rekaman tape recorder tersebut.


"Mari kita liat rekaman cctv ini." ujar Richard.


"Mari ke kamar, kita putar di laptop flash disknya." tegas Gavlin.


Richard dan Gatot pun mengangguk, mengiyakan, Gavlin merapikan kembali barang bukti, dan membungkusnya lagi dengan kain.


Lalu, dia pun pergi dengan membawa bungkusan kain berisi barang bukti, Richard dan Gatot segera berjalan mengikuti Gavlin.


Mereka bertiga lantas masuk ke dalam kamar, lalu, Gavlin meletakkan bungkusan kain berisi barang bukti di atas meja.


Laptop pun lantas di nyalakan Gavlin, lalu, dia mengambil flash disk dari tangan Richard, dan di pasangnya flash disk pada laptopnya.


Mereka bertiga lantas melihat layar monitor laptop, melihat pada rekaman cctv yang mengungkap pembunuhan Bapaknya Gavlin saat di dalam sel tahanan.

__ADS_1


__ADS_2