
---Flash Back berakhir---
Malik menghela nafasnya dan menatap wajah Gavlin yang serius mendengar penjelasan Malik tersebut, sementara Indri yang ada di samping Gavlin hanya diam saja mendengarkan.
"Begitulah yang terjadi, Vlin. Aku terpaksa membunuh Jackson, agar Dia gak menggagalkan rencanaku dan juga rencanamu membunuh Binsar." Ujar Malik, menatap lekat wajah Gavlin.
"Ya, Vlin. Tindakan itu di lakukan Malik untuk mencegah Jackson ." Ujar Pablo menegaskan pada Gavlin.
"Ya, Aku paham." Ucap Gavlin.
"Tapi, bagaimana pun Aku harus menemui pak Aamauri." Ujar Gavlin, menatap serius wajah Malik.
"Untuk apa?" tanya Malik, menatap heran wajah Gavlin.
"Kamu bilang, sebelum Jackson kamu bunuh, Dia datang karena di suruh pak Aamauri memanggilku, kan?" Ujar Gavlin bertanya.
"Iya, benar Vlin." Ujar Malik.
"Aku yakin, pak Aamauri pasti saat ini sedang gelisah, dan aku gak mau buat Dia curiga." Jelas Gavlin
"Maksudmu?" tanya Malik, heran dan tak mengerti dengan perkataan Gavlin.
"Aku akan menemui pak Aamauri, dan bilang padanya, kalo saat dalam perjalanan Aku dan Jackson ke markas kita, kami di serang, lalu, Jackson mati terbunuh." Ujar Gavlin, menjelaskan.
"Apa bos percaya dengan omonganmu?" tanya Malik, menatap serius wajah Gavlin.
"Serahkan saja semuanya padaku." Ujar Gavlin.
"Ya, Lik. Biar Gavlin yang menyelesaikan masalah kematian Jackson." Ujar Pablo, menegaskan pada Malik.
"Baiklah." Ujar Malik, menurut pada Gavlin dan juga Pablo.
"Okay, sekarang, kamu istirahat saja di sini dulu, Aku mau ke markas nemui pak Aamauri, nanti Aku datang ke sini lagi setelah bertemu pak Aamauri." Ujar Gavlin, menjelaskan pada Malik.
"Ya, Vlin. Mudah mudahan aja Bos percaya dengan omonganmu." Ujar Malik, menatap lekat wajah Gavlin.
"Ya. Baiklah, Aku pergi dulu." Ujar Gavlin.
"Ya, Vlin. Terima kasih sudah datang menjengukku." Ujar Malik, tersenyum senang pada Gavlin.
"Ya, Lik. Sama sama." Ujar Gavlin, tersenyum juga.
"Pak Pablo, Saya pergi dulu, terima kasih atas semua pertolongan Bapak pada Malik." Ujar Gavlin, memberi hormat pada Pablo dan menyalaminya.
__ADS_1
"Ya, Sama sama." jawab Pablo, menyalami Gavlin.
Lalu, Gavlin dan Indri berjalan keluar dari dalam kamar, meninggalkan Malik yang duduk bersandar di ranjangnya.
Pablo ikut pergi keluar dari kamar, Dia mengantar Gavlin dan Indri keluar rumahnya.
Gavlin dan Indri keluar dari dalam rumah , diteras , Gavlin berdiri dan sekali lagi memberi hormat pada Pablo, Gavlin menghormati Pablo setelah Dia mengetahui, bahwa Pablo adalah sahabat baik pak Wicaksono.
Pablo mengangguk hormat dan tersenyum juga pada Gavlin, Dia memandangi kepergian Gavlin dan Indri yang masuk ke dalam mobilnya.
Beberapa saat kemudian, terdengar mesin mobil berbunyi, dan mobil lalu mulai berjalan pergi meninggalkan rumah Pablo, Gavlin yang menyetir mobil membunyikan klakson, tanda pamit pada Pablo, Pablo yang berdiri di teras rumahnya melambaikan tangannya dan tersenyum melepas kepergian Gavlin dan Indri.
Setelah kepergian Gavlin dan Indri, Pablo berbalik badan , dan lalu berjalan masuk kembali ke dalam rumahnya.
---
Di Markas gank Mafia 'Seira Costa' , terlihat Pak Aamauri kesal, Dia meletakkan ponselnya ke atas meja. Wajahnya kesal dan sekaligus heran.
"Kemana sebenarnya mereka? Hape Jackson gak aktif, begitu juga dengan hape nya Malik." Gumamnya kesal.
"Mengapa sampai sekarang Gavlin belum juga datang menemuiku? Apa Jackson gak ketemu Dia?" Ujarnya.
"Apa Gavlin udah jalani rencananya untuk melakukan bom bunuh diri, seperti yang di bilang Malik padaku?" Ujarnya cemas.
"Ah, mudah mudahan Gavlin gak senekat itu, Aku gak tau dimana Gavlin, mau hubunginya, tapi Dia gak ada hape." Ungkapnya dengan raut wajah resah.
Aamauri sengaja menugaskan Jackson memanggil Gavlin, agar Dia bisa memberi nasehat pada Gavlin dan mencegah tindakannya untuk melakukan bom bunuh diri bersama Binsar di dalam pesawat.
Namun, karena hingga saat ini Dia tak bertemu Gavlin, dan apalagi Jackson yang disuruhnya memanggil Gavlin tak kunjung datang serta tak bisa di hubungi, dan malah menghilang. Aamauri menjadi cemas dan khawatir.
Aamauri tidak tahu, bahwa Gavlin tidak melakukan bom bunuh diri, Dia juga tidak mengetahui kabar tentang meledaknya pesawat dan ditemukannya mayat Binsar di sekitar puing pesawat yang meledak.
Jika Aamauri sampai mendengar kabar berita dari media, dimana dinyatakan, bahwa ditemukan mayat korban ledakan pesawat dengan identitas bernama Gavlin, bisa di pastikan, Aamauri akan langsung syock dan bersedih hati, sebab, selama ini, Dia sangat menyayangi Gavlin bagaikan anak kandungnya sendiri, dan Dia tak ingin terjadi hal yang buruk pada Gavlin.
---
Gavlin dan Indri tiba di rumah pak Sarono, Gavlin keluar dari dalam mobil bersama Indri, Dia mengantarkan Indri sampai ke teras depan rumah.
"Maaf, In. Aku gak mampir, Mau ke markas dulu menemui pak Aamauri." Ujar Gavlin, menatap lembut wajah Indri yang berdiri dihadapannya.
"Mau menyelesaikan masalah hilangnya Jackson?" Tanya Indri.
"Iya. Biar gak jadi masalah besar nantinya." ujar Gavlin.
__ADS_1
"Ya, pergilah, selesaikan semuanya. Lalu, kembalilah padaku." Ujar Indri tersenyum lembut menatap wajah Gavlin.
"Ya, In. Pasti, Aku pasti kembali menemuimu di sini." Ujar Gavlin tersenyum lembut menatap wajah Indri dengan tatapan mata penuh cinta dan kasih sayangnya.
"Aku pergi, ya." Ujar Gavlin pamit.
"Ya, hati hati di jalan." Ujar Indri, tersenyum.
Gavlin mengangguk, mengiyakan perkataan Indri, lalu, Dia bergegas balik badan dan pergi meninggalkan Indri yang berdiri di teras depan rumahnya.
Indri tersenyum memandang Gavlin yang masuk ke dalam mobilnya. Lalu, beberapa saat kemudian, mobil pun mulai dijalankan Gavlin, Mobil itu melaju pergi meninggalkan rumah tersebut.
Saat hendak berbalik badan dan mau masuk ke dalam rumahnya, Dia berpapasan dengan Bapaknya yang baru saja keluar dari dalam rumahnya.
"Kamu udah pulang, In?" Ujar Pak Sarono, bertanya pada Indri.
"Iya, Pak. Baru aja sampai." Ucap Indri tersenyum.
'Gavlin kemana? Kamu gak di antar Gavlin kah?" tanya Pak Sarono , menatap lekat wajah Indri.
"Di antar kok Pak. Terus, Gavlin pergi lagi." Ujar Indri, tersenyum pada Bapaknya.
"Loh, kenapa gak mampir dulu, ngobrol sama Bapak?" Ujar pak Sarono, dengan raut wajah kecewa karena Gavlin tak mampir menemuinya.
"Gavlin buru buru, Pak. Ada urusan yang harus dia bereskan." Ujar Indri, menjelaskan pada Bapaknya.
"Bapak gak usah khawatir, kalo semuanya udah beres, Gavlin pasti datang ke sini lagi." Ujar Indri, tersenyum menjelaskan pada Bapaknya.
"Oh, gitu. Ya udah, Kamu masuk lah." Ujar Pak Sarono, menatap lekat wajah Indri yang berdiri di sampingnya itu.
"Iya, Pak." Jawab Indri mengangguk pada Bapaknya.
Indri lantas bergegas jalan dan masuk ke dalam rumahnya, Pak Sarono menghela nafasnya , lalu, Dia berbalik badan, dan berjalan masuk ke dalam rumahnya juga, mengikuti Indri.
Di jalan raya, terlihat Gavlin menyetir mobilnya, wajahnya terlihat serius dan sedang memikirkan sesuatu hal.
"Apa Aku harus membohongi pak Aamauri? Kalo Aku bilang, Aku dan Jackson di keroyok sekelompok orang, lalu Jackson mati terbunuh, Pak Aamauri pasti marah dan akan mencari sekelompok orang itu." Gumam gavlin, sambil menyetir mobilnya.
"Lalu, Dia pasti akan mencari dan bertanya, dimana mayat Jackson, ini yang akan jadi masalah, karena, mayat Jackson sekarang ada di kepolisian, gak mungkin Aku ambil." Ujar Gavlin, bicara sendiri.
Gavlin menghela nafasnya, Dia tampak tengah berfikir keras, mencari cara untuk menjelaskan semuanya pada pak Aamauri.
"Apa Aku harus bilang jujur aja, kalo Jackson mati di bunuh Malik? Tapi, Aku harus bagaimana menjelaskannya, harus mulai dari mana?!" Ungkapnya lagi, dengan resah.
__ADS_1
"Ah, kenapa Aku jadi berfikir, kalo masalah ini rumit, ya? Santai Gavlin...Santai...!!" Ujarnya, menenangkan dirinya sendiri yang tampak resah dan memikirkan cara menyampaikan kebenaran tentang Jackson kepada Pak Aamauri.
Gavlin kembali menghela nafasnya, Dia tetap menyetir mobilnya, wajahnya tampak sangat tegang dan serius berfikir sambil mengendarai mobilnya. Mobil melaju dengan kecepatan sedang di jalan raya yang sedikit lengang itu.