
Sore hari itu, terlihat Sumantri baru selesai mencuci sebuah mobil taksi yang ada dipangkalan taksi bernama taksi OctO.
Dia merapikan semua peralatan yang digunakannya untuk mencuci taksi.
Sumantri meletakkannya kembali ketempatnya masing masing seperti semula saat dia mengambilnya.
Setelah itu, Sumantri berjalan ke sebuah bangku yang berada di pojokan samping gudang di pangkalan taksi.
Dia duduk di bangku panjang, mengipas ipas tubuhnya dengan kain handuk kecil ditangannya.
Sumantri melepas lelah, dia melap peluh yang ada di wajahnya dengan kain lap ditangannya.
Kemudian Sumantri mengambil kotak makanan yang dibawanya dari rumah.
Bekal makanan yang biasa dibuatkan istrinya, agar dia tidak mengeluarkan uang buat makan di warung nasi.
Sumantri membuka penutup kotak berisi makanan, lalu mengambil sendok yang ada di dalam kotak, terbungkus dalam plastik.
Saat Sumantri hendak makan, tiba tiba dia kaget, karena sosok pria sudah berdiri tepat didepannya.
Dia tak menyadari kedatangan sosok pria itu, Sumantri melihat sosok pria yang berdiri dihadapannya.
Sosok pria dengan penampilan yang misterius, rambut panjang, memakai topi dan masker yang menutupi wajahnya, pakaiannya serba hitam.
Yang terlihat hanya matanya saja menatap dirinya dengan tatapan tajam.
Sumantri meletakkan kotak makanannya di atas bangku panjang, disamping dia duduk.
Kemudian, Sumantri berdiri di depan sosok pria itu, Sumantri menyadari siapa yang datang dan berdiri didepannya saat ini.
"Aku datang sesuai janjimu." Ujar sosok pria misterius itu dengan suara beratnya.
Dia pun menatap tajam wajah Sumantri yang duduk dibangku, Sumantri menghela nafasnya.
Mata Sumantri melihat seluruh area pangkalan taksi, tidak ada orang orang terlihat.
Hanya ada 3 mobil taksi yang parkir di parkiran pangkalan taksi itu, dia lantas menatap sosok pria yang masih berdiri di depannya.
"Baiklah, sudah saatnya kamu harus tahu apa yang terjadi dengan kedua orang tuamu, terutama ibumu." Ujar Sumantri dengan suara lemah.
Ada rasa bersalah didalam dirinya, suaranya terdengar bergetar saat mengatakan semua itu, sosok pria menatap tajam wajah Sumantri.
"Ibuku ? Apa maksudmu ?" Tanya sosok pria, dia heran Sumantri menyebut ibunya.
"Ibumu, korban pembunuhan adiknya Bramantio, bekas majikanku dulu." Ujar Sumantri.
Sumantri memberanikan diri menatap sosok pria yang kaget mendengarnya.
Mata sosok Pria melotot, tatapannya semakin tajam, mulutnya terlihat menyeringai geram.
"Dulu, Ibumu bekerja sebagai sekretaris diperusahaan adiknya Bramantio." Sumantri cerita.
"Satu hal yang seharusnya tidak dia saksikan saat itu, membuat dirinya harus meregang nyawa." Ujar Sumantri.
Sumantri pun mulai menceritakan semua kisah tentang ibu dari sosok pria itu.
"Saat itu, Adik Bramantio, yang bernama Jafar sedang ribut besar dengan wanita selingkuhannya di dalam ruang kerjanya." Ujar Sumantri.
Sumantri akhirnya mulai membuka tabir rahasia 18 tahun lalu, dengan berat hati dia menceritakannya.
Kembali ke Masa silam, saat kejadian yang menimpa istri Sanusi yang bernama Irmida, 18 tahun lalu.
18 tahun yang lalu, saat itu, terlihat Jafar yang berusia 37 tahun, sedang ribut omongan dengan Savitri, wanita cantik yang berusia 28 tahun.
Wanita yang menjadi selingkuhannya. Savitri terlihat marah pada Jafar.
"Aku gak mau tau ! Kamu harus bertanggung jawab ! Aku hamil karenamu !!" Teriak Savitri.
Jafar menutup mulut Savitri, berusaha agar Savitri tidak teriak , dia tak ingin seluruh karyawan mendengar pembicaraan mereka.
"Aku kan sudah bilang kamu, gugurkan bayi itu !! Berapapun uang yang kamu minta, akan ku kasih, setelah itu, jangan lagi temui aku !" Ujar Jafar.
Jafar teriak marah, dia membentak Savitri yang terlihat tersenyum sinis.
"Gampang banget mulutmu ngucapin semua itu ya, kamu kira dengan uang semuanya selesai ?!" Ujar Savitri.
Savitri menatap tajam wajah Jafar yang berdiri di depannya bertolak pinggang.
"Terus, mau kamu apa ?" Tanya Jafar pada Savitri.
"Aku mau kamu nikahi aku !" Bentak Savitri, Jafar terkesiap kaget, dia menatap wajah Savitri.
"Aku tidak bisa menikahimu !! Aku belum mau menikah, aku masih mau mengejar karirku menjadi pria sukses dan hebat !" Bentak Jafar.
"Ingat, hubungan kita selama ini hanyalah sebatas hubungan ****, bukan sebagai pasangan umumnya!" Ujar Jafar marah.
"Apa kamu bilang ?!" Tanya Savitri sinis.
"Iya, hubungan kita hanya hubungan *****, bukan cinta !"
"Kamu hanyalah mesin pemuas nafsuku, kamu melayani aku, aku memberikanmu uang dan memenuhi semua kebutuhanmu."
"Semua biayamu, biaya berobat ibumu, uang sekolah adikmu ku berikan, dengan imbalan, aku bisa menyetubuhi kamu, kapanpun aku minta !" Ujar Jafar.
Jafar menatap sinis pada Savitri yang terlihat menahan amarahnya, dia tersinggung karena harga dirinya di rendahkan, dia terhina dengan semua perkataan Jafar.
"Kamu kira, aku pelacur yang seenaknya kamu tiduri lalu kamu bayar ?!" Ujar Savitri menatap tajam penuh amarah pada Jafar.
"Aku mau denganmu, karena dulu kamu yang pertama kali mengemis ngemis datang, meminta agar kamu dikasih kesempatan! Teriak Savitri.
"Kamu memohon agar aku menerima kamu sebagai pacar !" Bentak Savitri marah.
__ADS_1
"Aku mau dan menerimamu, karena kegigihanmu yang gak menyerah mendekati dan mendapatkan cintaku." Ujar Savitri.
"Itu yang membuat hatiku luluh, jatuh dalam pelukanmu, kita menjalin asmara." Ujar Savitri marah.
Savitri menahan air matanya yang seakan mau jatuh dari kelopak matanya.
"Dan setelah kamu puas dengan tubuhku, aku hamil, kamu begitu saja mau membuangku?" Ujar Savitri.
"Kamu anggap aku ini sampah, yang sudah saatnya dibuang karena menebarkan bau busuk aib dari perbuatanmu ?!" Ujar Savitri marah.
Savitri teriak sekeras kerasnya didalam ruang kerja Jafar, Jafar berusaha menutup mulutnya.
Savitri meronta, menghindar, Jafar tidak berhasil membekap dan menutup mulut Savitri.
"Aku gak akan menuruti maumu ! Aku akan memberitahukan pada keluargamu, bahkan ke semua orang orang yang ada di kantor ini!" Ujar Savitri dengan keras.
"Biar mereka semua tahu, bahwa aku hamil ! Janin yang ada di dalam perutku ini anakmu !" Ujar Savitri penuh amarahnya. Jafar kaget mendengar ancaman itu.
"Jangan gila kamu Vit, kamu mau menghancurkan aku ? Kamu mau menjatuhkan reputasiku sebagai pengusaha sukses ?!" Ujar Jafar.
Jafar menatap lekat wajah Savitri, dia berdiri didepan Savitri, menghalangi agar Savitri tidak bisa pergi.
"Kamu udah menghancurkan hidupku dengan semua hinaanmu itu ! Aku hancur, kamu pun harus hancur !" Ujar Savitri menatap tajam wajah Jafar yang mulai kalut.
"Minggir kamu, aku akan teriak ke semua orang, memberitahukan kehamilanku ini !" Ujar Savitri marah.
Dia mendorong tubuh Jafar yang berdiri di depannya, agar tidak menghalangi jalannya.
Jafar terhuyung, wajahnya panik, dia kalut, melihat Savitri yang marah dan dia tidak bisa mencegah niat Savitri yang mau membongkar kehamilannya.
Dengan penuh kalut dan bingung, Jafar cepat meraih asbak besar yang terbuat dari kaca tebal.
Jafar memegang asbak yang diambil dari meja yang ada didalam ruang kerjanya.
Dia lalu cepat berjalan mengejar Savitri yang melangkah mendekat ke pintu keluar ruang kerjanya, tangan Savitri memegang engsel pintu.
Pintu terbuka sedikit, tiba tiba dengan cepat tangan Jafar bergerak menghantamkan asbak besar dan tebal itu ke bagian belakang kepala savitri.
Savitri terhenyak kaget terkena hantaman asbak, dia terdiam, tangannya terlepas dari engsel pintu.
Savitri berdiri sesaat, lalu berbalik badan menatap pada Jafar, dari belakang kepalanya mengalir darah, keluar dari bekas hantaman asbak besar dan tebal.
Darah mengalir ke lehernya, membasahi rambut dan pakaiannya.
Savitri melotot menatap wajah Jafar yang terlihat kaget melihat kondisi Savitri.
Lalu, Savitri terhuyung, kemudian ambruk ke lantai. Jafar cepat menghantamkan kembali asbak besar dan tebal itu ke kepala Savitri yang sudah tergeletak di lantai.
Dia membabi buta memukuli kepala Savitri dengan asbak ditangannya.
Bertepatan dengan itu, Irmida, Sekretaris Jafar masuk kedalam ruang kerja dengan membawa sebuah map ditangannya.
Dia datang untuk meminta tanda tangan Jafar di berkas kontrak perjanjian kerjasama dengan klien kantor mereka.
Irmida melihat Jafar memukuli kepala Savitri yang sudah tak berdaya tergeletak dilantai.
Dengan wajah takut dan syock karena kaget melihat darah yang mengalir di lantai, map ditangannya terlepas dan jatuh dilantai.
Map mengenai darah yang mengalir di lantai, tubuh Irmida gemetar.
Dia diam tak bergerak ditempatnya dengan wajah pucat penuh ketakutan.
Dia melihat pada Savitri, darah mengalir dari kepala Savitri yang hancur karena berkali kali kena hantaman pukulan asbak besar yang tebal dan terbuat dari kaca.
Jafar menatap wajah Irmida yang berdiri di tempatnya dengan wajah pucat, takut dan gemetar.
Jafar menghapus bekas darah yang mengenai wajahnya dengan lengannya.
Jafar menatap Irmida, melangkah mendekati Irmida, Jafar dengan sikap dingin menutup pintu ruang kerjanya dengan rapat, dia menguncinya.
Irmida semakin takut karena sikap Jafar yang mengunci pintu ruangan dengan tatapan tajam dan dingin padanya.
Irmida melirik tangan Jafar yang memegang asbak besar yang berlumuran darahnya Savitri,
dia memejamkan matanya penuh ketakutan.
"Maafin saya pak, saya janji, saya gak akan memberitahu siapapun tentang ini, saya akan diam dan berpura pura tidak tahu." Ujar Irmida.
Tubuhnya gemetar ketakutan, Jafar tersenyum sinis menatapnya, dia mendekati wajah Irmida yang pucat itu.
"Kenapa kamu harus datang ke sini? Aku tidak bisa membiarkanmu, karena sudah menyaksikan perbuatanku pada binatang itu." Ujar Jafar.
Jafar menyebut Savitri yang sudah menjadi mayat dengan sebutan binatang.
Jafar terlihat menyeringai pada Irmida yang berdiri gemetar ditempatnya.
Dia tak bisa menggerakkan tubuhnya karena rasa takut yang begitu besar dalam dirinya.
Dia tak berani melihat tubuh Savitri yang sudah mati di lantai, dia melirik wajah Jafar, terlihat tatapan matanya begitu menyeramkan, membuat Irmida semakin takut.
"Ampuni saya Pak, saya janji, tidak akan melaporkan pada siapapun, tolong, biarkan saya pergi." Ujar Irmida.
Wajah Irmida memelas, dia memohon pada Jafar yang sudah menggila.
Jafar tak bisa lagi menahan ***** setan yang sudah menyelimuti dirinya, hingga gelap mata dengan kalap membunuh Savitri yang sedang hamil.
"Kamu pindah dari tempatmu, pergi dan berdiri di samping meja kerjaku ." Ujar Jafar.
Jafar menatap tajam wajah Irmida yang masih diam dengan wajah takut dan bingung.
"Ayo cepat ! Atau kamu mau mati sekarang juga !" Bentak Jafar.
__ADS_1
Dia melemparkan asbak besar dan tebal ke lantai, hingga asbak yang terbuat dari kaca itu hancur berantakan.
Hal itu membuat Irmida terperanjat kaget dan semakin gemetaran takut.
"B...bba...baik Pak." Ujarnya dengan suara bergetar takut.
Dia cepat berjalan, menghindari darah dilantai dan tubuh Savitri agar tidak menginjaknya.
Irmida lalu berdiri di samping meja kerja Jafar, dia diam ditempatnya, menahan rasa takutnya.
Raut wajahnya menunjukkan bahwa dia bertanya tanya apa yang akan terjadi pada dirinya.
Apa maksudnya menyuruh dia berdiri disamping meja kerja? apa yang mau dilakukan pimpinannya itu padanya?
Pikiran pikiran itu menghantui benaknya, dia semakin takut, mencoba bersikap tenang, melawan kepanikan yang muncul pada dirinya.
Jafar mengambil ponselnya dari kantong celananya, dia menghubungi seseorang.
"Cepat keruangan saya sekarang juga !" Ujar Jafar pada orang yang dia telepon.
Lalu Jafar menutup teleponnya, Jafar menyimpan kembali ponsel kedalam kantong celananya.
Jafar melangkah santai dan duduk di sebuah sofa, dia bersiul siul, sikapnya tenang dan cuek, seolah tidak ada yang terjadi di dalam ruang kerjanya itu.
Dia membersihkan jari jari tangannya yang masih ada sisa bekas darah Savitri.
Jafar melirik tajam pada Irmida yang berdiri disamping meja kerja dengan wajah pucat ketakutan.
Irmida takut dan tak berani menatap wajah Jafar yang duduk di sofa dengan bersiul dan sikap cueknya.
Jafar melirik Irmida yang ketakutan, lalu dia mengangkat kedua kakinya dan meletakkannya di atas meja.
Terdengar suara ketukan pintu, Jafar menoleh ke arah pintu, dia segera berdiri, karena ingat dia mengunci pintu ruang kerjanya.
Dengan sikap tenang dia berjalan santai membuka kunci pintu ruangan.
Di depan pintu masuk, berdiri Sumantri, supir pribadi Perusahaan yang biasa mengantarkan Bramantio dan Jafar.
Bramantio memimpin perusahaan real estate, sementara Jafar memimpin perusahaan Asuransi, dua perusahaan yang berada dalam satu gedung yang sama.
Perusahaan itu di rintis dari nol secara bersama sama oleh Bramantio dan Jafar.
Karena itu, Sumantri sebagai supir perusahaan ditugaskan mengantar jemput Bramantio dan Jafar bergantian, sesuai keperluan mereka masing masing.
Saat itu, Sumantri yang berdiri di depan pintu ruang kerja melihat Jafar berdiri di hadapannya.
Dia melihat baju Jafar ada bercak bercak darah, dia heran melihat itu, Jafar meliriknya.
"Cepat masuk kamu ." Perintah Jafar pada Sumantri yang berdiri didepan pintu masuk.
Dengan cepat Sumantri melangkah masuk ke dalam ruang kerja, Jafar segera menutup pintu ruang kerjanya.
Melihat ada Savitri tergeletak di lantai bersimbah darah dan sudah kaku tak bernyawa, Sumantri terkesiap kaget.
Dia mundur karena kaget dan hampir menginjak darah yang mengalir di lantai.
Dia berdiri terdiam menatap tubuh kaku Savitri yang tergeletak di lantai.
Jafar berjalan dengan santai, melangkah menuju sofa, lalu dengan sikap cueknya, dia duduk di sofa.
"Kamu urus mayat itu, buang dan lenyapkan ! Jangan sampai ada yang tau tentang ini!" Perintah Jafar pada Sumantri.
Dia bicara tanpa menoleh pada Sumantri yang masih terdiam berdiri di tempatnya.
Karena tidak terdengar satu patah katapun dari Sumantri, Jafar berbalik dan menoleh melihat Sumantri yang diam berdiri di tempatnya.
"Kenapa diam ?!" Cepat kerjakan ! Apa kamu tidak mau menuruti perintahku ?" Bentak Jafar.
"Kamu mau aku pecat dan orang tuamu akan aku habisi karena kamu sudah melihat pembunuhan ini !" Jafar marah.
Sumantri tersadar karena mendengar bentakan dan suara keras Jafar.
Jafar mengancam sumantri agar menuruti perintahnya, karena dia di ancam dan tak ingin orang tuanya terluka.
Sumantri akhirnya menurut. Saat itu Sumantri belum menikah, dia masih lajang.
"Baik Pak. Harus saya bawa dan buang kemana mayatnya ?" Tanya Sumantri bingung.
"Terserah kamu ! Pokoknya ketempat yang tidak ada satu orang pun yang mengetahui dan bisa menemukannya !" Ujar Jafar.
"Aku mau dia lenyap dari muka bumi ini selamanya, aku tidak mau dia ada, sekalipun bangkainya !" Ujar Jafar dengan amarahnya.
"Baik Pak, akan saya lakukan." Ujar Sumantri.
Dia lalu bergerak dan berjongkok dihadapan tubuh kaku Savitri yang telah menjadi mayat, hendak memindahkannya.
Jafar bangun dari duduknya, berjalan mendekati Sumantri, dia berjongkok dan berbisik di telinga Sumantri.
"Ada tugas lain juga buatmu selain membuang mayat ini." Ujar Jafar berbisik di telinga Sumantri yang menoleh padanya.
"Tugas apa Pak?" Ujar Sumantri dengan suara pelan pada Jafar yang tersenyum sinis dan menyeringai.
"Lenyapkan Sekretarisku itu, aku gak mau ada saksi yang tau pembunuhan ini, habisi dia !" Ujar Jafar memberi perintah.
Sumantri kaget, dia terdiam, Sumantri melirik wajah Irmida yang pucat pasi karena ketakutan berdiri di samping meja kerja Jafar.
Irmida melihat Sumantri yang sedang meliriknya, terlihat tatapan mata Irmida menunjukkan ketakutan.
Dari sorot matanya dia seakan memohon agar Sumantri menolongnya keluar dari ruang kerja Jafar.
Sumantri masih terdiam, dia menghela nafasnya, terlihat kebingungan didalam dirinya, antara menolak atau mematuhi perintah pimpinannya itu.
__ADS_1
Sumantri benar benar dalam posisi yang tidak bisa menguntungkan dirinya.