
Wijaya tersadar dari lamunan sesaatnya, dia tersenyum menatap wajah Gatot yang berdiri dihadapannya.
"Maaf saya tidak ingat dengan anda, sudah cukup lama juga, dan saya lupa kalau kita dulu pernah bertemu." Ujar Wijaya berusaha bersikap tenang.
"Tidak apa pak. Saya sengaja mengatakan hal itu agar bapak bisa mengingat kapan kita ketemu dulu, Syukur bapak sekarang ingat saya." Ujar Gatot.
"Oh, tentu, saya ingat, anda dulu petugas polisi muda yang begitu bersemangat untuk bisa memecahkan kasus, iya kan?" Ujara Wijaya.
"Iya Pak." Gatot tersenyum.
"Wajar kalo sekarang pak Gatot mendapatkan pangkat yang lebih tinggi ." Ujar Wijaya memberi pujian.
Gatot tersenyum, dia berpura pura merendah, dia tahu Wijaya hanya berusaha mencairkan suasana.
Dia tahu, Wijaya berusaha menutupi rasa kagetnya karena dia telah membuka kejadian 18 tahun lalu.
Teguh yang selesai mengecek lokasi kejadian dan mencari bukti bukti dari kejadian berlari menghampiri Gatot. Melihat kedatangan Teguh, Gatot menatap Wijaya.
"Sudah beres semua ?" Tanya Gatot.
"Sudah pak." Jawab Teguh.
"Kalau begitu, kami permisi pak." Ujar Gatot menyalami Wijaya.
"Oh, silahkan." Ujar Wijaya menyambut tangan Gatot, mereka bersalaman.
Gatot berbalik, dia berjalan meninggalkan Wijaya, Linda, Pimpinan Proyek beserta Gavlin.
Teguh mengikuti Gatot, sekilas Gatot melirik Gavlin yang berdiri tertunduk, lirikan mata Gatot tajam pada Gavlin.
Gavlin melihat Gatot dan Teguh yang berjalan menjauh meninggalkan mereka yang masih tetap berada di lokasi proyek.
Malam itu, Gatot terlihat serius membuka dan membaca laporan visum yang didapatnya dari bagian Forensik. Dia membaca berkas laporan.
"Berarti dugaanku benar, rumah rumah di kampung Rawas itu sengaja di bakar, cairan yang ku temui benar benar bensin murni." Ujarnya bicara sendiri.
Gatot terlihat sedang berfikir, mengamati kembali photo photo kebakaran hebat kampung Rawas, meneliti photo photo korban.
Gatot membaca satu persatu laporan berkas tentang korban korban pembunuhan.
Berdasarkan hasil visum dari Dokter Forensik, ditemui ada kesamaan luka sayatan dileher pada tiap korban.
Mereka semua mati dibunuh dengan cara sadis sebelum ditemukan di berbagai tempat kejadian.
"Siapa pelaku pembunuhan warga warga kampung Rawas ?!" Gumamnya sambil menuliskan kalimat siapa pelaku pembunuhan.
Gatot tercenung sesaat, lalu dia tersentak dan tersadar, dia mengingat sesuatu, sesuatu hal yang dikatakan Sumantri saat bertemu dengannya.
Kita kembali kepada Waktu saat pertemuan antara Sumantri dan Gatot di sebuah rumah makan.
Di meja rumah makan sederhana yang sepi, Sumantri duduk di hadapan Gatot, terlihat wajahnya tegang, dia menatap lekat wajah Gatot.
"Ada yang ingin ku sampaikan padamu." Ujar Sumantri.
"Tentang apa ?" Tanya Gatot.
"Peristiwa 18 tahun yang lalu." Ujar Sumantri menatap wajah Gatot yang mengernyitkan kening, dia heran apa maksud Sumantri mengatakan hal itu.
"Apa kamu tau peristiwa itu?" Tanya Gatot.
"Iya, karena aku ada di tempat kejadian saat itu, aku tau semuanya." Sumantri mengaku.
"Aku tau siapa pelaku sebenarnya, dan siapa yang memfitnah Sanusi menjadi pembunuh dan pemerkosa gadis pemandu lagu." Ujar Sumantri.
Ada rasa bersalah dari air mukanya, mendengar itu Gatot menatapnya tajam, dia kaget.
Gatot tak menyangka jika selama ini ternyata Sumantri saksi kunci dari pembunuhan gadis pemandu lagu 18 tahun lalu.
"Kenapa kamu baru muncul membongkar semua yang menjadi rahasiamu selama ini?" Tanya Gatot menatap tajam wajah Sumantri.
"Karena rasa bersalahku, hidupku selalu dihantui bayang bayang masa lalu itu." Ujar Sumantri.
"Aku gak bisa melupakan sedikitpun pembunuhan yang aku liat dengan mata kepalaku sendiri." Ujar Sumantri menangis penuh dengan penyesalan.
"Siapa pelaku sebenarnya, dan kenapa kamu memberi kesaksian palsu bahwa Sanusi pelakunya ?" Ujar Gatot bernada keras.
Gatot marah pada sahabatnya itu, karena merasa dirinya sudah di bohongi bertahun tahun oleh Sumantri.
"Kenapa dulu, saat aku bertanya ke kamu pas kamu memberi keterangan sebagai saksi, kamu menyebut Sanusi pelakunya? Bentak Gatot.
"Kamu meyakinkanku saat itu, bahwa kamu melihat Sanusi memperkosa dan membunuh gadis pemandu lagu !" Ujar Gatot.
Gatot membentak Sumantri lagi, Sumantri tertunduk diam dihadapan Gatot yang marah.
"Maafkan aku Bastian, aku terpaksa melakukan itu." Ujar Sumantri.
"Nyawaku dan orang tuaku terancam, jika aku gak memberi kesaksian yang sama seperti mereka suruh, aku dan orang tuaku dibunuh mereka." Ujar Sumantri.
"Mereka siapa ?!" Bentak Gatot dengan mata terbelalak lebar menatap marah Sumantri.
Karyawan rumah makan kaget mendengar suara keras Gatot, namun pura pura tidak melihat, menyibukkan dirinya dengan membersihkan piring piring.
Sementara di rumah makan hanya ada Gatot dan Sumantri. Tidak ada pengunjung lainnya.
"Pelaku sebenarnya Jafar, adik Bramantio, yang punya ide agar memfitnah Sanusi adalah Wijaya." Ujar Sumantri mengungkap pelaku sebenarnya.
Gatot terhenyak kaget.
"Artinya dulu kecurigaanku benar, karena aku gak punya bukti, ditambah kesaksian kamu, aku gagal meringkus Jafar dan Bramantio dulu." Ujar Gatot geram.
"Sebenarnya, jika saja Wijaya tidak memberi Jafar ide gila, Sanusi tidak akan di fitnah sebagai pembunuh dan pemerkosa."
"Andai saja dulu Sanusi tidak ada dilokasi dan meninggalkan mayat korban, tentu dia baik baik saja, tidak menjadi tersangka." Ujar Sumantri.
Sumantri menangis dengan penuh penyesalan, karena mengingat kejadian masa lalu itu.
"Karena kebiadaban kalian Sanusi menanggung semua perbuatan busuk kalian !" Bentak Gatot.
"Apa kamu tau Tri ? Sanusi bunuh diri di dalam penjara karena gak sanggup menerima kenyataan hidupnya ?!Apa kamu tau ?!" Bentak Gatot lagi.
Gatot menatap tajam wajah Sumantri yang tertunduk menangis menyesali perbuatannya.
"Angkat kepalamu Tri, lihat aku !" Bentak Gatot, Sumantri sesugukan karena menangis mengangkat kepalanya dan menatap Gatot.
"Apa kamu tau penderitaan anak Sanusi ?!" Bentak Gatot.
__ADS_1
"Dia tersiksa hidupnya karena kalian, anak Sanusi bukan saja kehilangan orang tuanya, tapi dia juga kehilangan rumah dan kebahagiaannya !!" Ujar Gatot.
Gatot teriak penuh amarah dengan suara keras di depan wajah Sumantri.
"Anak Sanusi yang jadi alasanku memberanikan diri menemui kamu dan mengakui semua perbuatanku." Ujar Sumantri.
"Tujuanku, agar kamu tau pelaku sebenarnya." Ujar Sumantri pada Gatot.
"Anak Sanusi ?" Tanya Gatot.
"Ya, Anak Sanusi, Yanto sudah kembali ke kota ini Bas." Ujar Sumantri.
"Dia menemuiku, mengancamku, memaksaku agar aku memberitahukan padanya tentang orang yang memfitnah bapaknya." Ujar Sumantri.
Gatot terhenyak kaget, dia lanyas menatap lekat wajah Sumantri yang tertunduk.
"Yanto , Anak Sanusi ? Apa kamu tau siapa dan dimana dia ?" Tanya Gatot lagi pada Sumantri.
"Aku gak tau dia dimana, dan aku juga gak bisa melihat wajahnya, dia memakai masker yang menutupi seluruh wajah dan kepalanya." Ujar Sumantri.
Gatot lantas menarik nafasnya, dia terlihat sedang berfikir keras, ada rasa penasaran di hatinya kepada orang yang menemui Sumantri.
"Bagaimana sosok Yanto saat kamu lihat ?" Tanya Gatot ingin tahu.
"Perawakannya tinggi, lebih tinggi sedikit darimu, sekitar 180 cm, tubuhnya kekar berotot, suaranya berat ngebass terdengar." Ujar Sumantri.
Gatot mencoba mengingat ingat apa yang baru saja dikatakan Sumantri kepadanya.
"Ada rahasia lainnya yang kamu harus tau kebenarannya Bastian." Ujar Sumantri lirih.
Gatot terdiam menatap lekat wajah Sumantri.
"Tentang apa ?" Ujar Gatot bertanya.
"Kematian sekretaris Jafar, yang ternyata jauh setelah kejadian diketahui, dia istrinya Sanusi korban fitnah Wijaya." Ujar Sumantri.
Apa yang telah di ungkapkan Sumantri itu membuat Gatot semakin kaget.
"Gilaaaa !! Bagaimana mungkin semua ini kamu bisa menyembunyikannya selama 18 tahun dariku teman baikmu Mantriii!!" Bentak Gatot.
Gatot lantas menatap tajam Sumantri dengan menahan geramnya.
Dia hendak memukul Sumantri yang duduk diam, siap menerima pukulan Gatot.
Namun Gatot akhirnya menurunkan tangannya, dan mengurungkan niatnya untuk memukul Sumantri.
"Ceritakan padaku semua kejadiannya." Ujar Gatot menatap tajam pada Sumantri yang menghela nafas.
"Saat kejadian itu, Jafar ribut dengan selingkuhannya." Sumantri mulai cerita.
"Saat Jafar membunuh gadis selingkuhannya, Irmida, sekretaris Jafar, istri Sanusi masuk ke dalam ruangan, dia melihat perbuatan Jafar." Ujar Sumantri.
"Jafar memanggilku agar aku melenyapkan mayat Savitri, gadis selingkuhannya." Ujar Sumantri.
"Jafar juga menyuruhku membunuh Irmida, karena dia sudah melihat Jafar membunuh Savitri." Ujar Sumantri.
Gatot mendengar itu menatap tajam wajah Sumantri. Dia semakin marah.
"Kamu membunuhnya ?!" Bentak Gatot melotot pada Sumantri.
"Jafar yang membunuh Irmida di depanku, aku saksikan dengan mata kepalaku langsung." Ujar Sumantri.
"Jafar dengan tenang dan berwajah dingin menyembelih leher Irmida." Ujar Sumantri.
Sumantri menutup matanya, tidak tahan mengingat kejadian kematian Irmida dulu.
Sumantri menghela nafasnya, melanjutkan ceritanya.
"Setelah kematian Irmida, aku dipaksa Jafar pegang pisau yang dia pake membunuh Irmida, agar sidil jariku yang ada di pisau." Ujar Sumantri.
"Lalu Jafar menyuruhku melenyapkan mayat kedua wanita yang dibunuhnya." Ujar Sumantri menangis, dia merasa bersalah.
"Saat aku mau membuang mayat mayat itu, Bramantio datang dan mengetahui semua perbuatan adiknya." Ujar Sumantri lagi.
"Karena ingin menyelamatkan adiknya, Bramantio menutupi semua kejadian itu."
"Bramantio lalu membungkam pejabat pejabat penting, petinggi kejaksaan serta petinggi kepolisian." Sumantri bongkar rahasia kejahatan Bramantio.
"Bramantio menyuap mereka, agar menetapkan Sanusi sebagai tersangka tunggal pelaku pembunuhan." Ujar Sumantri.
Gatot sangat geram mendengar cerita Sumantri, dia tak menyangka betapa berhati iblisnya Bramantio dan adiknya juga Wijaya.
"Bramantio juga yang membayar warga kampung Rawas agar beramai ramai mengusir Sanusi dan anak anaknya." Ujar Sumantri.
"Dia yang menyuruh membakar rumah Sanusi." Ujar Sumantri menatap wajah Gatot yang terhenyak mendengarnya.
"Jadi semuanya, karena keluarga Bramantio ?!" Ujar Gatot sinis.
Gatot tak menyadari dan baru mengerti semuanya, dia baru menemukan titik terang dari kasus yang terbengkalai 18 tahun lamanya.
Karena dulu dia tidak bisa mengungkap pelaku sebenarnya, sebab dirinya dihalangi saat investigasi.
Dia selalu mendapatkan pertentangan dari pimpinannya yang bernama Sutoyo, sekarang menjabat sebagai kepala kepolisian tertinggi.
Sumantri menarik nafasnya, dia tersenyum menatap wajah Gatot yang terlihat sedang berfikir.
"Aku lega sekarang, karena sudah mengungkap semua rahasia yang kusimpan selama 18 tahun ini." Ujar Sumantri dengan wajah pasrah.
"Aku sekarang sangat tenang menunggu pembalasan Yanto, anaknya Sanusi yang akan datang membunuhku." Ujar Sumantri, Gatot menatap tajam Sumantri.
"Kesaksianmu harus dilakukan secara resmi, agar aku bisa memprosesnya." Ujar Gatot pada Sumantri.
"Aku siap diproses kapanpun." Ujar Sumantri tersenyum.
"Kamu ikut aku ke kantor untuk membuat pernyataan atas kesaksianmu semuanya tadi." Ujar Gatot menatap wajah Sumantri.
"Aku siap." Ujar Sumantri tersenyum.
Sumantri semakin lebih tenang dan lega, karena sudah melepaskan beban yang ada dalam dirinya.
Beban rasa bersalah dan berdosa yang selama ini terus dibawanya selama 18 tahun.
"Kamu harus bisa menangkap dan membuktikan bahwa pelaku sebenarnya Bramantio, Jafar dan Wijaya." Ujar Sumantri menatap Gatot.
"Ya, aku akan mengadakan penyelidikan ulang atas kasus 18 tahun lalu!" Ujar Gatot.
__ADS_1
"Aku juga harus mencari tau keberadaan Yanto saat ini, agar aku bisa mencegahnya berbuat nekat pada Bramantio." Ujar Gatot lagi.
"Aku yakin, Yanto pasti muncul dan memburu Bramantio cs untuk membalas dendam pada mereka." Ujar Gatot, Sumantri mengangguk.
Kita kembali ke pada saat sekarang, dimana Gatot sedang memeriksa berkas laporan kasus pembantaian massal kampung Rawas.
Gatot menarik nafasnya, pandangan matanya menyapu seisi ruangan dalam rumahnya, tercenung sesaat dan berfikir keras.
"Yanto...Kamu dimana sekarang?" Gumamnya berfikir.
Terlintas dalam benaknya, saat dia melirik wajah Gavlin yang berdiri diam di lokasi proyek, dia melihat Gavlin kaget dan menyeringai menahan geram.
Gatot juga melihat, saat Gavlin melihat reaksi dan sikap Wijaya yang juga kaget ketika dia menceritakan kejadian 18 tahun lalu.
"Siapa sebenarnya kamu Gavlin ?!" Ujar Gatot bicara sendiri, dia berfikir.
"Aku mantan supir pribadi yang dipecat." Ujar Maya yang tiba tiba muncul di depan Gatot yang kaget tak menyadari kedatangan anaknya itu.
"Kamu ini, bikin kaget Ayah aja, datang datang langsung ngomong gitu." Ujar Gatot mengelus dadanya karena kaget dengan kemunculan Maya yang tiba tiba.
"Lagian Ayah ngapain ngomong sendiri aku perhatiin, mana nyebut nama Gavlin lagi, ayah kangen sama Gavlin ya ?" Ujar Maya nyengir.
Gatot melirik Maya yang tersenyum nyengir padanya.
Maya lalu duduk di samping ayahnya.
Maya melihat berkas berkas laporan kasus yang berserakan diatas meja.
"Masih juga ngurus kasus yang sama Yah ?" Tanya Maya. Gatot mengangguk.
"Belum ketemu juga pelakunya ?" Tanya Maya.
"Belum, tapi dikit dikit udah ada titik terang sih dari bukti yang di dapat." Ujar Gatot pada Maya.
"Waah, harus Maya yang turun tangan nih biar cepat beres kasusnya, pelakunya ditangkap !" Ujar Maya.
Maya lantas membusungkan dadanya menyombongkan diri, Gatot mencibir.
"Kepedean, emang bisa kamu ? Udah berani ngadepin pembunuh?" Tanya Gatot meledek.
"Eh, nggak ding, nggak Yah, kan cuma omong doang." Ujar Maya nyengir, dia tidak siap menghadapi jika bertemu langsung dengan pembunuhnya.
"Oh ya May, memangnya Gavlin udah punya pacar ya ?" Tanya Gatot, Maya kaget menatap wajah ayahnya.
"Emang kenapa Ayah nanyain ?" Tanya Maya.
"Ya, mau tau aja, benar punya pacar apa nggak ?" Ujar Gatot .
"Kalo punya kenapa, kalo nggak kenapa, hayo !" Ujar Maya meledek ayahnya yang nyengir.
"Kamu ini, Ayah nanya malah balik ditanya.
Beneran Ayah nanya, apa kamu tau Gavlin ada pacarnya?" Ujar Gatot menatap wajah anaknya.
"Punya, pacarnya namanya Linda, sahabat baikku saat sekolah dulu, sampe sekarang sih kami sahabatan dan sering ketemuan." Ujar Maya, Gatot berfikir.
"Linda ? Maksudmu, Linda anaknya pak Wijaya, pengusaha itu ?" Tanya Gatot.
"Yaiya, siapa lagi, masa Ayah gak ingat Linda sih ? Kan Ayah sering ketemu Linda dulu kalo dia main kerumah kita." Ujar Maya.
"Masa sih ? Kok Ayah lupa ya? Pantesan Linda senyum senyum pas liat Ayah." Ujar Gatot.
Maya kaget mendengar perkataan ayahnya.
"Laah, Ayah ketemu dimana sama Linda ?" Tanya Maya.
"Di lokasi proyek Bapaknya Linda, Ayah dapat tugas, nyelidiki kasus." Ujar Gatot.
"Terus?" Tanya Maya.
"Ada sekelompok preman yang menyerang, melukai pekerja dan menghancurkan bangunan bangunan proyek." Ujar Gatot.
"Oh, pantesan." Ujar Maya paham.
"Di situ Ayah ketemu Gavlin, Linda ngenalin Gavlin ke Ayah dan bilang kalo Gavlin pacar dia." Ujar Gatot.
"Nah, itu Ayah udah tau langsung dari Linda, kenapa nanyain Maya lagi?" Ujar Maya nyengir.
"Ya kenapa Gavlin gak pacarannya sama kamu aja." Goda Ayahnya melirik Maya yang wajahnya berubah tersipu malu karena di goda ayahnya.
"Apaan sih Ayah iih, nggaklah, Gavlin sama Linda itu pasangan serasi, pas, cocok pokoknya !" Ujar Maya acungkan jempolnya.
"Menurut Ayah serasi dan cocoknya sama kamu May." Ujar Gatot meledek Maya.
"Apaan sih Ayah, udah ah, Maya capek mau tidur." Ujar Maya menyimpan rasa malunya karena di goda ayahnya yang tertawa melihat sikapnya yang grogi itu.
Saat Maya melangkah berjalan dengan terburu buru karena menghindar dari godaan ayahnya, Maya tak sengaja menabrak meja kerja Gatot.
Photo photo diatas meja berserakan dan jatuh kelantai karena di tepis tangan Maya yang mencari pegangan agar tidak terjatuh.
Melihat Maya terhuyung hendak jatuh, Gatot segera menolongnya, memegang tubuhnya agar tidak jatuh.
"Kamu kenapa May ?" Tanya Gatot, dia cemas melihat Maya yang terhuyung sempoyongan itu.
"Gak apa Yah, cuma karena buru buru gak liat liat, jadi nabrak meja deh." Ujar Maya.
Maya segera mengambil photo photo yang berserakan di lantai, dibantu Gatot yang juga mengambil dan merapikan photo photo serta berkas yang berserakan.
Saat Maya mengambil satu lembar photo, dia menatap photo tersebut, memandangi wajah dalam photo dengan tatapan mata serius.
"Kayak kenal dan pernah liat dimana wajahnya ya ?" Ujarnya berfikir sambil memegang photo yang dilihatnya.
"Kenapa May ?" Tanya Gatot mendekati Maya.
"Ah, nggak Yah, aku cuma kayak kenal dan pernah liat wajah seperti di photo ini, tapi gak tau kapan dan dimananya." Ujar Maya.
Maya lalu memberikan photo yang dipegangnya pada Gatot, Gatot melihat photo ditangannya.
"Ini photo Guntur, korban pembunuhan yang mayatnya ditemukan di gedung hotel Hera milik pak Bramantio." Ujar Gatot.
"Kan kamu yang menulis artikel dan menayangkan di chanelmu secara online penemuan mayat Guntur ini? Kamu lupa ?" Ujar Gatot mengingatkan Maya.
"Nggak, bukan di hotel, aku kayak pernah liat dimana gitu Yah, tapi bukan di hotel." Ujar Maya berfikir keras.
Maya berusaha mengingat ingat dimana dia pernah melihat wajah yang sama persis dengan wajah di photo tersebut.
__ADS_1
Gatot diam, dia lalu kembali memandangi photo Guntur yang dipegangnya.