VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Kasus Kadaluwarsa


__ADS_3

Gavlin, Richard dan Gatot menonton rekaman cctv waktu kejadian Bapaknya Gavlin di beri racun oleh Wijaya dalam sel tahanan.


Dalam rekaman cctv itu sangat jelas, bagaimana cara Wijaya yang di bantu Sipir penjara dan juga Sutoyo mencekoki Sanusi, bapaknya Gavlin dengan racun.


Dalam rekaman cctv juga sangat jelas terlihat bagaimana proses kematian Sanusi , mulutnya mengeluarkan busa banyak dan darah juga keluar dari mulutnya.


Dalam rekaman cctv terlihat, Sanusi memegangi lehernya yang sudah di minumin racun, tenggorokannya merasa panas seperti terbakar, lantas, Sanusi pun kejang kejang dan mati.


Setelah Sanusi mati, Sutoyo memerintahkan sipir penjara untuk menghapus busa dan darah yang ada di mulut Sanusi, mereka bertiga menghilangkan barang bukti.


Lalu, Wijaya dengan di bantu sipir penjara, menggantung mayat Sanusi di dalam sel tahanannya, dan di buatlah seolah olah, Sanusi mati bunuh diri di dalam sel tahanan.


Lalu, dengan cepat, Sutoyo dan Wijaya bergegas pergi meninggalkan sel tahanan, Sipir mengunci pintu sel tahanan Sanusi, dia pun lantas segera keluar, tinggallah Sanusi yang sudah mati, tergantung dalam sel tahanannya.


Melihat hasil rekaman tersebut, membuat darah Gavlin berdesir cepat, amarahnya meluap, dia tak bisa melihat kematian Bapaknya yang sangat tragis di dalam sel tahanan.


"Biadaaadaab mereka!! Bagusnya Sutoyo, Wijaya dan Sipir penjara itu udah mampus ku bunuh !!" ujar Gavlin geram dan marah.


"Mereka bertiga hanya bertugas meracuni dan membunuh Bapakmu saja. Sementara, Herman dan yang lainnya, yang bertugas menghilangkan jejak dan bukti." ujar Richard.


"Herman mematahkan semua argumen jaksa penuntut, akhirnya, kematian Bapakmu di nyatakan hakim karena bunuh diri, dan Hakimnya Herman sendiri saat itu, dia sudah di bayar Bramantio dan Wijaya, untuk membalikkan hukum!" tegas Richard.


"Sebagai Hakim waktu itu, Herman membuat vonis hukuman seumur hidup pada Bapakmu." tegas Richard.


"Keparaaaat !!" ujar Gavlin, penuh amarah.


Gatot lantas mematikan rekaman cctv tersebut, flash disk pun di cabutnya dari laptop yang ada di atas meja. Gatot kemudian memberikan flash disk pada Richard.


"Saya akan bawa flash disk ini bersama barang bukti lainnya, Saya mau menunjukkannya ke Mentri Sekretaris Negara!" tegas Richard.


"Apa gak beresiko? Mengingat Herman kenal baik dengan Mensesneg?" tanya Gatot cemas.


"Tenang aja, Mensesneg ada di pihak kita, beliau sudah menyiapkan jaksa penuntut yang pro kita." jelas Richard.


"Beliau juga akan meminta Herman untuk mengganti Hakim yang ditunjuk Herman memimpin sidang nantinya, agar gak ada kecurangan lagi." tegas Richard.


"Baiklah." jawab Gatot, setuju dengan perkataan Richard.


Lantas, Gatot dan Richard pun keluar dari dalam kamar, sementara Gavlin terlihat duduk di kursi, wajahnya penuh amarah yang membara pada Herman.


Dia masih mengingat kejadian kematian Bapaknya di sel penjara, yang dia lihat dari rekaman cctv, dia sangat sedih, melihat Bapaknya di paksa untuk minum racun hingga mati.


"Benar benar Biaaadaaab kalian semua!! Tunggu saja !! Akan ku habisi kalian semua!!" bentak Gavlin, meluapkan emosi amarahnya di dalam kamar.


Richard dan Gatot duduk di ruangan tengah rumah bawah tanah Gavlin, di atas meja, sudah terbungkus rapi semua barang bukti.


"Saya mau bertemu dengan pak Mensesneg, bagaimana caranya saya pergi dari rubanah ini?" tanya Richard.


"Entahlah, Aku juga gak tau." jawab Gatot.


"Sebaiknya tunggu Gavlin, biar dia yang mengantarkanmu keluar dari rubanah ini." ujar Gatot.


"Ya." Angguk Richard, setuju.


Mereka berdua pun lantas diam duduk di sofa, menunggu Gavlin. Beberapa menit kemudian, Gavlin pun berjalan dan menghampiri mereka berdua.


Gavlin lantas berdiri di hadapan Richard dan Gatot.

__ADS_1


"Vlin, Pak Richard mau pergi, tapi gak tau cara keluar dari rubanah ini." ujar Gatot.


"Oh, mari ikut aku." ujar Gavlin.


Richard pun lantas beranjak dari tempat duduknya, dan lalu dia segera berjalan mengikuti Gavlin, Gatot pun juga mengikuti mereka. Gatot juga ingin tahu, cara keluar dan masuk ke dalam rubanah Gavlin.


Gavlin, Richard dan Gatot tiba di sebuah ruang kecil seperti kamar, yang terletak di samping garasi mobilnya.


"Berdiri disampingku." Ajak Gavlin.


Richard langsung berdiri di samping Gavlin, Gatot juga mengikutinya.


Lalu, Gavlin menggerakkan tangan kanannya ke dinding, di tekannya telapak tangannya.


Tiba tiba, lantai tempat mereka berdiri bergerak naik, mereka merasakan seperti sedang berada di dalam lift saja.


Mereka bertiga bergerak naik ke atas, Richard dan Gatot menengadahkan kepalanya ke atas, mereka berdua melihat, tanah yang di penuhi rerumputan halus dan mahal terbelah dua, dan membentuk seperti pintu.


Cahaya matahari pun masuk dan menyinari wajah Richard, Gatot serta Gavlin. Kemudian, lantai yang mereka injak berhenti.


Richard dan Gatot terbengong bengong, karena mereka sudah berada di dalam taman belakang rumah Gavlin yang hancur.


"Keluarnya di sini?" ujar Gatot pada Gavlin.


"Ya, Om." Jawab Gavlin.


"Lantas, Saya harus kemana untuk mencegat taksi di pinggir jalan?" tanya Richard.


"Mari Aku antarkan." Ujar Gavlin.


Gavlin lantas berjalan, Richard dan Gatot mengikutinya, lantai rubanah bergerak turun, lalu, tanah yang di penuhi rerumputan halus dan mahal bergerak menutup dan menyatu kembali seperti semula.


Gavlin bersama Richard dan Gatot berjalan ke belakang rumahnnya, belakang rumah itu tembus ke jalanan lain yang ada di belakang rumah Gavlin posisinya.


"Pak Richard bisa nunggu taksi di sini." ujar Gavlin.


"Oh, baiklah, terima kasih." ujar Richard.


"Oh, ya. Kalo Saya nanti ke sini, bagaimana caranya, agar kedatangan saya kalian ketahui?" tanya Richard.


"Tekan saja tombol di atas pagar itu, Pak. Nanti alarm berbunyi dari rubanah, dan aku bisa liat dari cctv, siapa yang datang nantinya." jelas Gavlin.


Gavlin menunjukkan sebuah tombol yang ada di atas pagar besi. Richard dan Gatot mendekati pagar tersebut, mereka berdua sama sama memperhatikan tombol di atas pagar tersebut.


"Benar benar di konsep matang tempat ini sebagai persembunyian." ujar Richard kagum pada Gavlin.


Gavlin diam tak menjawab, dia hanya tersenyum kecil. Gatot juga tampak bangga pada Gavlin yang sangat cerdas, untuk mempersiapkan tempat perlindungan baginya.


"Baiklah, saya pergi dulu, setelah ada hasilnya, akan Saya kabari segera." ujar Richard.


"Ya." Jawab Gatot dan Gavlin, hampir bersamaan.


Lantas, Richard pun segera keluar dari pintu pagar, Gatot dan Gavlin memandangi kepergian Richard yang membawa bungkusan kain berisi barang bukti ditangannya.


"Mudah mudahan semua berjalan lancar, Vlin. Dan seperti yang di bilang pak Richard, Pak Mensesneg mudah mudahan juga menepati janjinya membantu kita." tegas Gatot, dengan serius dan bersungguh sungguh.


"Iya, Om." Jawab Gavlin.

__ADS_1


"Ya, udah, kita ke dalam lagi, istirahat, sambil menunggu kabar dari pak Richard." ujar Gatot.


"Ya." Angguk Gavlin.


Lantas mereka berdua pun kembali ke ruang bawah tanah rumah Gavlin.


---


Richard menemui Mensesneg di rumahnya, rumah Mentri Sekretaris Negara itu sangat luas dan bagus sekali.


Richard meletakkan barang bukti di atas meja, Mensesneg pun lantas melihat dan mengamati semua barang bukti yang ada di atas meja.


"Ini semuanya barang bukti yang dulu menghilang?" tanya Mensesneg.


"Iya, Pak."Jawab Richard, dengan wajah yang serius.


Mensesneg pun mengangguk angguk mengerti dan paham. Lantas, dia menatap lekat wajah Richard yang tampak serius itu.


"Begini Pak Richard, setelah diskusi singkat kita waktu di tempat pesta anak saya, besoknya, saya langsung mencari tau." jelas Mensesneg.


"Saya mencari data data tentang kasus lama belasan tahun lalu itu, kasus kematian Gadis pemandu lagu, kematian sekretaris Jafar dan pacarnya, juga kematian Sanusi, yang di tuduh sebagai tersangka pembunuhan dan pemerkosan." jelas Mensesneg, dengan wajahnya yang serius.


"Kalau saya telusuri data data yang ada tentang kasus lama itu, dan saya hitung , dari awal kejadian, sampai di vonis bersalah dan dihukum seumur hidupnya Sanusi, hingga saat ini, kasus ini sudah mengendap selama 18 tahun lamanya." tegas Mensesneg menjelaskan dengan serius.


"Ya, Pak. Sudah sekitar 18 tahun kasus tersebut." jelas Richard, menegaskan.


"Pak Richard, kalau saya hitung waktunya, Kasus lama itu gak akan bisa lagi di bawa kepersidangan, karena sudah kadaluwarsa." tegas Mensesneg.


"Kenapa kadaluwarsa, Pak? Saya rasa, masih ada waktu, semua bukti sudah ada, tinggal memanggil Herman dan komplotannya, lalu, membawa mereka ke persidangan." ujar Richard, dengan wajah serius.


"Waktu terakhirnya tepat dua minggu yang lalu, Pak Richard, dan menurut peraturan hukum dan undang undang pidana, Kasus pidana pembunuhan yang di jatuhi hukum mati, kasusnya akan kadaluwarsa setelah 18 tahun!" tegas Mensesneg.


Mendengar penjelasan Mensesneg, Richard pun terhenyak kaget, dia jadi lemas seketika, saat mengetahui, bahwa kasus 18 tahun yang lalu sudah kadaluwarsa, dan tak bisa di bawa lagi ke pengadilan.


"Jadi, Herman dan komplotannya bebas begitu saja, Pak,? Sementara, Saya sudah menemukan bukti bukti kuat atas semua perbuatan kejahatan mereka dulu?" ujar Richard.


"Ya, begitulah menurut hukum dan undang undang pidana yang berlaku, Pak Richard, Herman dan komplotannya, bebas, gak bisa di tuntut lagi." tegas Mensesneg.


"Percuma bukti bukti ini ditemukan, kalo ternyata, kami gak bisa menangkap Herman dan komplotannya." ujar Richard, dengan wajah kecewa.


"Pak Richard bisa menjerat Herman dan komplotannya dengan kasus lainnya, di luar dari kasus pembunuhan 18 tahun yang lalu." ujar Mensesneg.


"Mungkin Pak Richard bisa mengusut dari awal, keterlibatan Herman dan komplotannya, yang mau membunuh Gatot, komandan kepolisian, seperti yang Pak Richard bilang ke saya." tegas Mensesneg.


"Baiklah, Pak. Nanti saya bahas dengan pak Gatot." ujar Richard, lemas dan kecewa.


"Terima kasih atas penjelasan dan informasinya, Pak. Saya pamit." ujar Richard.


"Ya, Pak Richard, silahkan." ujar Mensesneg, tersenyum ramah.


Lantas, Richard pun segera berdiri dari duduknya di sofa, di ikatnya kembali kain yang berisi barang bukti kasus pembunuhan bapak Gavlin, lalu, Richard pun pergi.


Richard keluar dari dalam rumah Mensesneg yang mengantarkannya hanya sampai ke depan pintu rumahnya saja.


Setelah mobil Richard pergi dari halaman rumahnya, Mensesneg pun menutup pintu rumahnya, terdengar suara tepuk tangan dari balik ruangan yang ada di samping ruang tamu, tempat pertemuan Richard dan Mensesneg tadi.


"Baguuusss...Baguuuss Mulyono!!" ujar Herman, bertepuk tangan.

__ADS_1


Ternyata, Herman yang bertepuk tangan, dia keluar dari tempat persembunyiannya, di balik dinding ruangan yang ada di sebelah ruang tamu.


Herman mendengar semua pembicaraan Mensesneg bersama Richard tadi.


__ADS_2