VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Bukti rekaman pembunuhan


__ADS_3

Richard duduk diam di sofa ruang tamu rumahnya, dia baru saja pulang dari pemakaman istrinya. Wajah Richard tampak sedih, dia masih menyesali kematian istrinya.


Richard memandangi seluruh ruangan dalam rumahnya, dia merasa sepi, suasana dalam rumah hening, tak ada lagi istrinya yang menghampirinya dan selalu menyambutnya pulang kerja dengan wajah yang tersenyum lembut.


Richard sangat merindukan kehadiran istrinya yang telah meninggal dunia. Tiba tiba wajahnya berubah menjadi marah.


Richard mengingat Gavlin, dia menuduh, Gavlinlah penyebab kematian istrinya, andai saja Gavlin tak meneror dirinya, tentu dia tak akan kalap menembak istrinya hingga mati.


"Gavliin!! Akan ku bunuh kamu!!" ujar Richard , geram dan marah.


Ponsel Richard berbunyi, dengan cepat, dia mengambil ponselnya dari dalam kantong celananya, dia melihat kelayar telepon dan membaca nama si penelpon yang muncul di layar ponselnya.


"Anak Setan" , Richard memberi nama dan menandai Gavlin dengan nama 'Anak Setan', dia melakukan itu agar saat ditelepon, dia segera tahu, kalau itu dari Gavlin.


Richard menerima panggilan telepon Gavlin, wajahnya tampak geram menahan amarahnya pada Gavlin.


"Apa maumu?!" bentak Richard, diteleponnya.


"Berhati hatilah Richard, rekaman cctv bukti pembunuhanmu akan ku kirimkan kepada anak buahmu yang bernama Andre, bersiaplah, untuk di jebloskan ke penjara!" ujar Gavlin, dari seberang telepon.


Richard tak menjawab, dia cepat mematikan teleponnya, Richard tak mau berlama lama bicara dengan Gavlin.


"Gawat! Kalo Gavlin benar benar mengirimkan rekaman cctv saat aku menembak, dan Andre melihat rekamannya, bisa jadi masalah besar buatku!" Gumam Richard berfikir.


"Aku harus temui Andre, dan mencegahnya melihat rekaman cctv itu!" ujarnya, dengan wajah tegang dan panik.


Lantas, tanpa mengganti bajunya yang dia pakai ke pemakaman istrinya, Richard bergegas keluar dari dalam rumahnya.


Richard pergi dan ingin menemui Andre dikantor kepolisian.


---


Di dalam gudang besar dan luas miliknya, Gavlin tampak tersenyum sinis sambil memasukkan ponselnya ke dalam kantong celananya.


"Kamu pikir, kamu bisa bebas Richard! Aku akan pastikan, kamu akan hancur!" ujar Gavlin geram.


Dia lantas memegang flash disk yang didalamnya ada rekaman gambar saat Richard menembak mati para polisi yang bertugas menjaga rumahnya, juga, dalam rekaman itu, ada juga saat Istri Richard tertembak oleh Richard yang kalap menembak.


Gavlin lantas memasukkan flash disk ke dalam kantong celananya, lalu, dia pun lantas bergegas keluar dari dalam gudang miliknya sambil meraih kunci mobil yang ada di atas meja.


---


Di ruang kerjanya, Andre tampak sedang serius membaca berkas berkas kasus pembunuhan yang sudah terjadi selama ini.


Dia membaca berkas kasus Jafar, dia tahu, Jafar sudah mati, namun, sampai saat ini, dia dan tim nya belum juga bisa menemukan mayat Jafar. Mayat Jafar benar benar menghilang dan sangat sulit ditemukan polisi.


Masto datang dan menghampiri Andre, dia baru saja dari ruang lab forensik.


"Bagaimana hasilnya?" tanya Andre pada Masto.


"Peluru yang ada pada tubuh empat rekan polisi kita yang tewas, di ketahui, bahwa peluru berasal dari pistol milik para polisi yang berjaga di rumah pak Richard." ujar Masto, dengan serius memberikan laporan pada Andre.


"Lantas, bagaimana sidik jari di pistol?" tanya Andre.


"Hanya ada sidik jari Kasno dan juga Junaidi sebagai pemilik pistol itu Pak. Selain mereka sebagai polisi yang tewas, ditemukan juga sidik jari pak Richard di kedua pistol." jelas Masto.

__ADS_1


"Selain itu, apa ada tanda tanda sidik jarinya Gavlin?" tanya Andre, dengan wajah seriusnya.


"Gak ada sidik jarinya Gavlin di kedua pistol, Pak." ujar Masto, menjelaskan.


Andre lantas terdiam, dia berfikir sesaat. Lalu dia pun menatap wajah Masto yang berdiri di sampingnya.


"Sepertinya benar kata pak Richard, Gavlin memakai sarung tangan, hingga sidik jarinya gak menempel di gagang pistol." ujar Andre.


"Setelah membunuh, Gavlin lantas membuang pistol pistol itu begitu saja di lantai, lalu melarikan diri." jelas Andre, mencoba mengambil kesimpulan.


"Kalo Gavlin yang membunuh ke empat polisi kita dan juga istri pak Richard, mengapa Gavlin gak membunuh pak Richard juga? Mengapa hanya pak Richard yang selamat? Padahal pak Richard ada di lokasi kejadian." ujar Masto.


"Setidaknya, pasti pak Richard berhadapan dengan Gavlin dan saling tembak menembak." lanjut Masto, menjelaskan pemikirannya.


Andre terdiam, dia sesaat berfikir, lalu, dia menghela nafasnya.


"Mungkin Gavlin gak sempat membunuh Pak Richard, karena keburu polisi polisi datang, dia mendengar bunyi sirene polisi, lalu langsung kabur dan gak menembak pak Richard, bisa saja kan itu terjadi?" ujar Andre, mencoba memberi jawaban sendiri.


"Bisa saja Pak. Tapi, melihat sosok Gavlin sebagai pembunuh sadis dan mengarah sebagai psikopat, saya kok meragukannya." ujar Masto.


"Ragu kenapa?" tanya Andre, heran menatap wajah Masto yang serius itu.


"Ya saya ragu aja. Gak mungkin sepertinya, Gavlin membiarkan pak Richard, sementara, target Gavlin kan pak Richard, dia datang kerumah itu karena mau membunuh pak Richard pastinya. Karena ada polisi yang menjaga rumahnya, Gavlin membunuh mereka akhirnya." jelas Masto, mengungkapkan pikirannya pada Andre.


"Entahlah, kita harus menyelidiki lebih dalam lagi dari kasus yang terjadi dirumah pak Richard, saat ini, kita gak bisa memberikan pernyataan apa apa." ujar Andre.


"Iya, Pak." jawab Masto.


"Ya, sudah, kamu ajak Edo, dan tim lainnya untuk mencari Gavlin. Susuri semua lokasi yang ada di kota ini, cari sampai ketemu Gavlin!" tegas Andre memberi perintah pada Masto.


Lantas, Masto pun pergi meninggalkan Andre, Andre lantas berfikir, dia tengah memikirkan perkataan Masto tadi.


Andre menyadari dan mengakui, bahwa semua penjelasan dan kesimpulan Masto ada benarnya, Andre pun lantas terlihat heran.


"Kenapa Gavlin gak menembak pak Richard? Apa yang terjadi?!" Gumam Andre, berfikir keras.


Dia lantas menghela nafasnya, lalu, dia merapikan berkas berkas kasusnya yang berserakan di atas meja kerjanya, dia menyimpan berkas berkas kedalam laci meja kerjanya.


Lalu, Andre pun bergegas pergi keluar dari dalam ruangannya, dia hendak pergi untuk melacak keberadaan Gavlin.


---


Andre berjalan keluar dari dalam gedung kantor kepolisian pusat yang sudah selesai di renovasi dari hancur akibat diledakkan Gavlin waktu itu.


Andre berjalan tergesa gesa menuju mobilnya yang terparkir di halaman parkir kantornya. Dari dalam gedung kantor kepolisian, seorang petugas polisi berlari lari cepat ke arah Andre.


"Pak Andreee !!" Teriak Petugas Polisi sambil berlari menghampiri Andre.


Andre menghentikan langkahnya, dia berdiri di samping mobilnya, karena mendengar namanya di panggil. Andre melihat petugas polisi yang berlari lari mendekatinya.


"Ada apa?" tanya Andre pada petugas polisi yang baru saja tiba dan berdiri dihadapan Andre.


"Bapak di panggil pak Richard keruangannya." ujar Petugas Polisi, memberi tahu Andre.


"Pak Richard masuk kerja? Bukannya dia cuti karena baru saja ditinggal mati istrinya dan menjalani pemakaman istrinya?" tanya Andre.

__ADS_1


"Saya gak tau, Pak. Tadi saya juga di panggil pak Richard , lalu beliau menyuruh saya memanggil bapak untuk datang ke ruangannya sekarang juga." jelas petugas polisi.


"Baiklah, saya kesana." ujar Andre.


Andre tak jadi pergi, dia lantas kembali berjalan dan masuk ke dalam gedung kantor kepolisian pusat tempatnya berkerja, petugas polisi mengikutinya, dia berjalan di samping Andre.


---


Pintu ruang kantor Richard di ketuk dari luar ruangan, Richard menoleh ke arah pintu.


"Masuk saja!" ujar Richard , yang duduk di kursi kerjanya.


Tak berapa lama kemudian, pintu terbuka, lantas, Andre masuk ke dalam ruang kantor Richard. Andre lalu berjalan mendekati Richard yang duduk di kursi kerjanya. Andre lantas berdiri di depan meja kerja dan menatap Richard yang duduk.


"Saya kira Bapak cuti kerja." ujar Andre.


"Niatnya tadi begitu, hanya saja, saya ada kepikiran sesuatu." ujar Richard.


"Begini Ndre, apa kamu udah menerima paket dari seseorang?" tanya Richard, dengan wajah serius dan ingin tahunya.


"Paket? Paket apa ya Pak? Saya gak pernah menerima paket sebelumnya." ujar Andre, heran.


"Oh, saya kira kamu sudah terima." ujar Richard lega.


"Belum Pak." jawab Andre, masih dengan heran dan bingungnya memikirkan paket apa yang dimaksud Richard.


"Sebenarnya paket itu ditujukan buat saya, cuma katanya, pengirimnya lupa memberikan nama pada paket, jadi, dia mengabarkan ke saya, kalo nanti paketnya gak saya terima, artinya paket itu di titipkan ke salah satu petugas polisi yang dia kenal, yaitu kamu." jelas Richard, berbohong.


Richard membohongi Andre, agar Andre percaya dengan omongannya. Andre diam berfikir dengan wajah yang masih bingung dan heran.


"Saya cuma mau bilang, kalo paket itu nanti diberikan ke kamu, tolong, antarkan paket itu keruangan saya ya." ujar Richard, dengan wajah serius.


"Baik, Pak." jawab Andre.


"Dan satu lagi, kamu jangan sampai membuka paket itu, apalagi sampai melihat isinya, karena itu rahasia saya dan orang yang mengirimkan paket itu." jelas Richard, mengingatkan Andre.


"Ya, Pak." jawab Andre, mengangguk.


"Maaf, Pak. Kata Bapak, si pengirim paket tau nama saya tadi, apa saya juga kenal dengan si pengirim paket itu?" tanya Andre, penasaran dan ingin tahu.


"Gak usah bahas, itu gak penting." ujar Richard.


"Oh, baik, Pak." ujar Andre, mengangguk mengerti dan paham.


"Ya, sudah, begitu saja.Silahkan dilanjut pekerjaanmu." ujar Richard.


"Baik, Pak. Saya permisi." ujar Andre, mengangguk hormat pada Richard yang masih duduk santai di kursi kerjanya.


Lalu, Andre pun berjalan keluàr dari dalam ruang kantor Richard. Wajah Richard tampak cerah, dia tersenyum lega.


"Bagus ! Gavlin belum mengirimkan rekaman cctv pada Andre, dan aku udah menipu Andre, agar nanti, Andre menyerahkan paket berisi rekaman cctv pembunuhan yang aku lakukan." ujarnya senang.


"Setelah itu, akan ku musnahkan rekaman cctv itu, agar gak ada bukti, bahwa aku yang menembak empat polisi dan juga istriku." lanjut Richard, bicara pada dirinya sendiri.


"Gavlin, kamu kira , kamu bisa menjebak dan menghancurkanku? Kamu gak akan bisa Gavlin." ujar Richard dengan tersenyum sombong. Dia tampak senang, karena merasa aman saat ini.

__ADS_1


__ADS_2