VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Andre Mengancam Jack dan Herman


__ADS_3

Bagaimana caranya Gavlin membantai para petugas polisi yang berjaga di sekitar area rumah Herman ?


Untuk mengetahui bagaimana kejadiannya, sebaiknya kita akan mundur kebelakang sejenak.


Mengulas balik saat awal Gavlin datang kerumah Herman dan membantai para penjaga yang ada dirumah Herman.


Kilas balik, beberapa waktu, saat Gavlin membantai para penjaga rumah Herman.


Flash back.


Malam itu, tampak para petugas polisi yang ditugaskan Peter menjaga rumah Herman dan melindungi Herman serta keluarganya, berdiri tegak di tempat jaganya masing masing. Wajah wajah mereka tampak kaku dan garang. Matanya liar melihat sekitar area halaman rumah, mencari cari dan berjaga jaga, siapa tahu, ada orang yang menyelinap masuk ke rumah Herman.


Tiba tiba, mobil Gavlin melaju cepat dan berbelok masuk ke halaman rumah Herman, para penjaga kaget, melihat mobil Gavlin muncul dengan mengebut, lalu berhenti di tengah halaman rumah.


Belum juga mereka tersadar dari kagetnya, Gavlin langsung menembaki para penjaga itu dari dalam mobilnya.


Lalu, Gavlin bergegas keluar dari dalam mobilnya, dia terus menembaki para penjaga tersebut. Seketika, para penjaga jatuh tersungkur ke tanah dengan kondisi mati, di tembak Gavlin.


Karena sebelumnya, Gavlin sudah mengintai dan mengawasi rumah Herman, mudah baginya, untul mengetahui, di mana saja para polisi itu berjaga jaga di sekitar area rumah Herman, dengan mudahnya Gavlin pun lantas membantai mereka satu persatu dengan kedua pistol di tangannya.


Mereka tak siap dengan kehadiran Gavlin yang datang secara tiba tiba sambil menembaki mereka dari dalam mobilnya.


Gavlin lalu berdiri diantara mayat mayat para penjaga yang telah mati, meregang nyawa, dia menyeringai jahat, lalu, dia pun lantas bergegas berjalan menuju teras rumah Herman.


Gavlin kemudian cepat membuka pintu rumah, tapi pintu terkunci, dia tak bisa membukanya. Gavlin pun lantas segera mengambil peralatannya dari dalam tas pinggangnya, lalu, dengan menggunakan alat, dia mencongkel pintu rumah Herman.


Tak berapa lama, pintu berhasil di buka Gavlin, tanpa merusaknya sedikit pun. Lantas, Gavlin masuk ke dalam rumah Herman.


Saat di dalam rumah, dia mencari cari Herman di seluruh ruangan yang ada di dalam rumah Herman. Wajahnya terlihat geram dan sangat marah sekali.


"Hermaaaann...Keluaaar kaaaammmuu!!" teriak Gavlin.


Suaranya menggelegar di dalam ruangan rumah Herman, karena di dalam rumah dalam keadaan sepi, tak ada siapa siapa.


Dengan wajah geram dan menahan amarahnya, Gavlin lantas berjalan dan masuk ke dalam kamar, dia mencari Herman, namun, tak ada Herman di dalam kamarnya.


Gavlin lantas keluar dari dalam kamarnya, dia kesal, karena tidak juga menemukan Herman di dalam kamar.


"Dimana kamu sembunyi Herman?" ujar Gavlin, menahan geram dan marahnya, sambil memegang kedua pistol di tangannya.


Gavlin lantas bergegas, dia naik ke lantai atas rumah, di lantai atas, Gavlin mencari Herman ke seluruh kamar dan ruangan yang ada di lantai atas. Namun, Herman juga tak ada di lantai atas.


"Siaaal !! Kemana dia ?!" Ujar Gavlin geram.


Dia lantas bergegas turun kembali dari lantai atas, dia lalu bergegas keluar dari dalam rumah Herman.


Gavlin keluar dari dalam rumah Herman, di biarkannya pintu terbuka lebar, Gavlin berjalan menuiu mobilnya.


Gavlin lantas membuka bagasi mobilnya, lalu, dia menggotong mayat Richard dan menurunkannya ke tanah.


Tubuh Richard sudah kaku, dan seluruh tubuhnya di balut dengan timah yang sudah mengering dan keras. Hanya leher hingga kepalanya saja yang utuh, tak terkena timah. Karena Gavlin sengaja, agar orang bisa mengenali Richard , saat orang menemukan mayat Richard.

__ADS_1


Gavlin menutup bagasi mobilnya, di masukkannya ke dua pistolnya ke pinggangnya, dia lantas menyeret tubuh Richard, dia tak mengangkat dan menggotong, karena tubuh Richard sangat berat, sebab, sudah dipenuhi timah seluruh tubuhnya.


Dengan susah payah karena sangat berat, dia menyeret mayat Richard, dengan susah payah, akhirnya Gavlin berhasil meletakkan mayat Richard di teras rumah Herman.


Gavlin lantas berdiri di hadapan mayat Richard yang tergeletak di lantai teras rumah Herman, dia tampak mengatur nafasnya, karena kelelahan menyeret tubuh Richard yang sangat berat sekali.


Gavlin lantas diam sesaat, dia tampak sedang memikirkan sesuatu hal, ada yang direncanakannya. Lalu, dia pun berusaha mengangkat tubuh Richard, lalu, dengan susah payah, disandarkannya mayat Richard di tiang pilar tembok teras rumah Herman. Dia lantas tersenyum sinis.


"Aku letakkan di sini saja mayat Richard, terus, aku telpon Andre, agar dia menuduh, Herman sebagai pembunuhnya." gumam Gavlin, tersenyum sinis.


"Oh ya, sebaiknya , pintunya aku tutup dan kunci, agar gak ada yang mengira, kalo rumah ini di bongkar paksa." gumamnya lagi.


Lantas, Gavlin bergegas ke pintu, lalu, dia mencabut kunci pintu yang menempel di lubang pintu bagian dalam, kemudian, dia menutup pintu rumah, dengan kunci ditangannya, dia pun mengunci pintu rumah.


Gavlin lantas bergegas lari menuju mobilnya yang parkir di tengah halaman rumah Herman. Sebelum masuk ke dalam mobilnya, dia melemparkan kunci rumah Herman sejauh jauhnya.


Lalu, setelah itu, Gavlin bergegas masuk ke dalam mobilnya, sesaat kemudian, mobil Gavlin pun berjalan, dan dia pergi meninggalkan mayat Richard di teras rumah Herman.


Di jalanan, sambil menyetir mobilnya, Gavlin menghubungi Andre, seperti pada bab sebelumnya, dia pun memberi tahu Andre, bahwa malam ini, Richard ada di rumah Herman, Gavlin sengaja menghubungi Andre, dengan tujuan, Andre datang kerumah Herman dan melihat mayat Richard, lalu, Andre pasti akan menangkap Herman, karena mengira, Herman pelakunya.


Setelah dia menelpon Andre, Gavlin menutup teleponnya, di letakkannya ponsel di dalam dashboard mobilnya, Gavlin tersenyum sinis dan menyeringai licik. Dia mengendarai mobilnya dengan tenang.


Mobil melintas dan melaju dijalan raya , melewati kendaraan kendaraan lainnya yang juga melintas dijalan raya.


Selanjutnya, sama seperti bab sebelumnya yang sudah disampaikan, bahwa Andre datang kerumah Herman, dan menemukan mayat Richard.


Dan sesuai dugaan Gavlin, Andre memang membawa Herman, namun, dia di bawa sebagai saksi saja, belum menjadi tersangka.


Andre ingin tahu, dimana Herman beberapa hari ini dan beberapa jam sebelum kematian Richard.


Flash back berakhir.


Kita kembali ke masa sekarang.


Dimana Herman sudah berada di dalam ruang interogasi kepolisian.


Herman duduk di kursi dengan kedua tangan di borgol, di hadapannya, duduk Andre di kursinya, sementara Masto berdiri disamping meja interogasi. Dia berdiri dan menjaga Herman, kalau kalau Herman melawan dan menyerang Andre.


"Apa saja yang kamu lakukan dan kemana kamu selama dua hari ini?" tanya Andre, menatap tajam wajah Herman.


"Aku kerja, seharian di kantorku, lalu malamnya, sepulang kerja, aku ke bar, bersama teman temanku, tanya saja Peter dan Jack, mereka akan membenarkan alibiku!" tegas Herman, dengan geram dan menahan amarahnya menatap Andre yang tampak sinis padanya.


"Lantas, dimana kamu beberapa jam sebelum kembali kerumahmu?" tanya Andre lagi, menginterogasi Herman.


"Aku kumpul dengan Peter dan Jack di restoran ! Kami makan malam disana ! Aku bisa buktikan!" bentak Herman mulai marah.


"Hei, santai saja Herman, di sini, aku polisinya, tugasmu hanya menjawab apa yang aku tanyakan saja, ngerti ?!" ucap Andre menatap tajam dan geram pada Herman.


Herman memalingkan mukanya, dia jijik melihat Andre, yang terkesan meremehkan dirinya dan merendahkan dirinya yang pejabat negara.


"Aku harus membuktikan kebenaran dari apa yang kamu katakan, untuk sementara waktu, kamu masih akan kami tahan." jelas Andre.

__ADS_1


"Keparaaat kamu Andree !!" teriak Herman marah.


Herman berdiri dan hendak menyerang Andre yang duduk di kursinya dengan tenang, Masto cepat memegangi tubuh Herman, agar dia tak bisa bergerak dan menyerang lalu memukul Andre.


"Kalo kamu bersikap begini lagi, saya jebloskan kamu kepenjara!!" bentak Masto, sambil memegang erat tubuh Herman.


Herman geram menatap wajah Andre yang tersenyum sinis memandangnya , Herman tampak sangat marah sekali pada Andre.


Tiba tiba , pintu ruangan interogasi itu terbuka lebar, lalu, masuk seorang Pengacara bersama Jack, Jaksa Agung.


"Lepaskan Herman !" bentak Pengacara pribadi Herman.


Pengacara dan Jack mendekati Herman, Masto lantas melepaskan pegangan tangannya dari tubuh Herman, Andre berdiri dari kursinya, dia tersenyum sinis melihat kedatangan sang pengacara pribadi Herman dan juga Jaksa agung.


Andre sinis pada Jack, karena dia tahu, kelicikan dan kejahatan Jack, yang selama ini dia lakukan bersama Herman dan yang lainnya.


"Mulai sekarang, klien saya gak bisa di tanyai, tanpa izin dari saya!" tegas Pengacara.


"Ingat Andre ! Kamu gak bisa menuduh Herman begitu saja ! Sebelum menangkap dan menuduhnya sebagai tersangka, kamu harus tunjukkan bukti buktinya!" tegas Jack, marah menegur Andre.


"Siapa yang jadikan dia tersangka? Saya membawanya ke sini, menginterogasinya sebagai saksi! Bukan sebagai tersangka, paham?!" hardik Andre.


Andre menatap tajam wajah Jack dan sang Pengacara, lalu dia melirik Herman yang menahan geram dan marahnya, Andre melawan dan menantang mereka.


"Jika gak senang dan gak terima, silahkan tuntut saya!" bentak Andre.


"Tapi Ingat ! Herman, Jack! Kejahatan kalian ada ditanganku!! Semua bukti kejahatan kalian sudah aku pegang, tinggal menjebloskan kalian ke penjara saja!!" bentak Andre menatap tajam dan menantang Jack dan Herman.


Jack dan Herman terkesiap kaget, mereka saling pandang, raut wajah mereka menunjukkan tanda tanya besar, mengapa Andre mengatakan, bahwa dia punya bukti atas semua kejahatan mereka.


"Apa maksudmu Andre? Kamu jangan mengancamku, Aku ini Jaksa Agung ! Dan juga Herman ini mentri kehakiman !!" bentak Jack marah.


Jack berusaha membalikkan keadaan dan menghardik Andre, agar Andre gentar.


Namun, Andre tak bergeming sedikitpun, dia tersenyum sinis.


"Bodo amat kalian punya jabatan apa, sekalipun kalian presiden! Aku tetap menjebloskan kalian kepenjara atas kejahatan yang selama ini kalian tutup tutupi!!" bentak Andre mulai marah.


"Kurang ajar!! Akan ku kasih pelajaran kamu Andre!" Ancam Jack.


Lalu, Jack menarik tangan Herman, dia mengajak Herman pergi.


Lantas, Jack dan Herman beserta Pengacaranya pun bergegas keluar dari dalam ruang interogasi, meninggalkan Andre dan Masto.


Andre memukul meja, dia tampak marah sekali pada Herman dan Jack.


"Siaaal !! Jack benar benar melindungi Herman !! Aku gak akan membiarkan kalian bebas!!" ujar Andre, geram dan marah.


"Memang Bapak punya bukti kejahatan pak Jack dan juga Pak Herman?" tanya Masto.


"Ya, aku punya, ada yang memberikannya pada aku , dan orang itu memintaku, agar meneruskan dan melanjutkan penyelidikan yang dia lakukan terhadap Herman dan komplotannya, aku pun setuju!" ujar Andre, memberi penjelasan pada Masto.

__ADS_1


"Oh begitu." Angguk Masto mengerti dan paham.


Lantas, Masto tampak berfikir, dia bertanya tanya, siapa orang yang sudah memberikan bukti bukti lengkap berisi kejahatan Herman dan komplotannya.


__ADS_2