VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Gatot Menghilang


__ADS_3

Sekelompok Petugas Polisi dan Polisi Militer dengan berbaris berjajar tampak berjalan menyusuri koridor rumah sakit, di belakang, terlihat Peter dan Dody Mulyadi berjalan.


Orang orang yang berpapasan dengan mereka langsung minggir dan menyingkir, memberikan jalan pada Sekelompok Polisi dan Polisi Militer beserta Peter dan Dody Mulyadi.


Mereka lantas berhenti di depan pintu kamar ruang ICU tempat Gatot di rawat.


Peter dan Dody datang mau menangkap Gatot. Untuk di paksa dan dimintai keterangannya, tentang keberadaan Gavlin, sebagai buronan utama kepolisian.


Seorang Petugas Polisi membuka pintu kamar ruang ICU, lalu, pasukan Polisi dan Polisi Militer masuk ke dalam kamar ruang ICU, kemudian, Peter dan Dody juga masuk ke dalam kamar tersebut.


Di dalam kamar, mereka semua tak melihat Gatot, kamar ruang ICU kosong, tidak ada siapa siapa didalamnya.


"Siaaal!! Dia udah gak ada!!" Bentak Peter, dengan wajah kesalnya.


"Apa dia udah dinyatakan sembuh, jadi dia pulang ke rumah?" ujar Dody.


"Mungkin saja!" ujar Peter, masih kesal.


"Kalo gitu, kita datangi rumahnya!!" tegas Dody.


"Ayo!" ujar Peter.


Peter dan Dody keluar dari dalam kamar ruang ICU yang kosong, Pasukan Polisi dan Polisi Militer juga pergi keluar dari dalam kamar ruang ICU.


Dengan wajah kesal, Peter dan Dody berjalan menyusuri koridor rumah sakit dengan dikawal pasukan polisi dan pasukan polisi militer.


Gatot tak ada di dalam kamar ruang ICU, sebab, Richard sudah mengamankannya, Richard mencium gelagat, bahwa Herman dan komplotannya akan menculik Gatot.


Agar Herman tak bisa melakukan penculikan terhadap Gatot, Richard pun cepat bergerak, dia langsung membawa pergi Gatot.


---


Rumah Gatot tampak hening dan sepi, Beberapa unit kepolisian tiba di rumah Gatot. Lalu, dengan gerak cepat, para petugas polisi keluar dari dalam mobil dan langsung menerobos rumah Gatot.


Mobil Peter dan Dody berhenti di belakang mobil salah satu petugas polisi, Peter dan Dody segera keluar dari dalam mobil, lalu, mereka berjalan cepat menuju rumah Gatot.


Para petugas polisi dan polisi militer masuk ke dalam rumah dan menggeledah seluruh ruangan di dalam rumah hingga ke belakang, ke kebun Gatot.


Namun, mereka tak juga menemukan Gatot di dalam rumahnya, Peter dan Dody masuk ke dalam rumah. Salah seorang Polisi Militer mendekati mereka berdua.


"Bagaimana?" tanya Dody.


"Kosong!! Gak ada siapa siapa." ujar Polisi Militer.


"Binaaaaataaang jalaaang!!" bentak Dody marah.


"Jangan jangan Gatot tau, kalo dia bakal di tangkap! Makanya dia udah melarikan diri duluan!" ujar Peter geram.


"Gak mungkin dia tau! Pasti ada yang membocorkan rencana kita, dan menyampaikannya ke Gatot!" tegas Dody marah.


"Atau, ada yang sengaja mengamankan Gatot? membawanya pergi, untuk menghindari kita?!" ujar Peter, mencoba mengambil kesimpulan.


"Siapa orangnya yang berani membocorkan rencana kita? Gak mungkin Prawira atau Jack. Mereka juga ingin Gatot mati!" tegas Dody.


"Sebaiknya kita pulang, kita lapor ke Herman, terus, sama sama kita selidiki, siapa yang membocorkan rencana penangkapan Gatot!" tegas Peter.


"Ya." Jawab Dody, geram dan marah.


Lalu, mereka semua segera keluar dari dalam rumah Gatot. Lantas, mereka pun pergi meninggalkan rumah Gatot.


---


Di sebuah Villa, tampak Gatot duduk di sofa bersama Maya, lalu, datang Richard menghampiri mereka berdua.


"Aku udah menyuruh anak buahku mencari Gavlin, kalo dia ketemu, Gavlin akan di bawa ke sini juga." ujar Richard.


"Iya. Terima kasih." ujar Gatot.


"Memang kenapa sih, Yah. Kok kita harus ngungsi ke Villa ini? Sebenarnya, ada apa?" tanya Maya, dengan wajah heran dan ingin tahu.

__ADS_1


"Para pejabat tertinggi kepolisian mau menangkap Ayahmu! Karena dituduh bersekongkol dengan Gavlin, buronan utama kepolisian!" jelas Richard.


"Demi keselamatan nyawa Ayahmu dan juga kamu, Saya membawa kalian ke tempat aman, di sini. Agar, Pejabat pejabat itu gak bisa menangkap Ayahmu!" lanjut Richard menegaskan.


"Kenapa sih mereka jahat sama Ayah?" ujar Maya, dengan wajah yang benci.


"Karena mereka gak mau, Ayah membongkar kejahatan masa lalu mereka, May." jelas Gatot.


"Kejahatan apa?" tanya Maya, heran.


"Mereka bersekongkol dengan Bramantio dan Sutoyo, untuk menjebak Bapaknya Gavlin dulu, lalu, membuat Bapak Gavlin masuk penjarah dan di bunuh. Mereka juga yang merubah bukti pembunuhan ibunya Gavlin." jelas Gatot.


"Oh, pantesan aja! Jahat jahat mereka ternyata!!" ujar Maya, kesal dan benci.


"Ya, begitulah, demi uang dan dijanjikan kekuasaan, mereka nurut sama Bramantio, yang pengaruhnya sangat besar dipemerintahan, karena Bramantio sempat menjadi penasehat presiden juga dulunya." tegas Richard.


"Bahaya juga ternyata musuh musuh Gavlin ya, Yah." ujar Maya.


"Begitulah, mereka semua licin dan licik. Mereka bisa memutar balik fakta, dan merubah hukum sesuka hati mereka sendiri! Demi kepentingan mereka dan komplotannya!" tegas Gatot.


"Orang orang itu tempatnya di neraka jahanam!" ujar Maya geram dan marah.


"Sebaiknya, kalian istirahat, jangan kemana mana dulu, sampai situasi benar benar aman." jelas Richard.


"Iya." Jawab Gatot dan Maya, hampir bersamaan.


"Dan ingat, jangan menggunakan ponsel pribadi untuk sementara, saya khawatir, mereka bisa melacak tempat ini melalui telepon." tegas Richard.


"Kalo Gavlin telpon gimana?" tanya Maya.


"Abaikan saja, matikan ponselmu, Gavlin sedang di cari anak buah saya. Nanti, kalo ketemu, Gavlin di bawa kesini." jelas Richard.


"Oh, gitu." ujar Maya, mengerti dan paham.


"Ya udah, Maya matiin deh hapenya." ujar Maya.


Maya mengambil ponselnya dari kantong celananya, lalu, dia mematikan ponselnya.


---


Terlihat Kamera Pengintai, atau yang dikenal dengan nama Drone sedang terbang tinggi di udara, Gavlin yang mengoperasikan kamera drone tersebut dari dalam mobilnya.


Jarak antara mobilnya dan rumah Bramantio yang sudah hancur karena di ledakkan Gavlin sekitar lebih kurang 10 km.


Gavlin sengaja menggunakan kamera drone untuk mengintai situasi di sekitar rumah Bramantio. Sebab, dia tahu, bagaimana kelicikan Bramantio selama ini.


Kamera drone terus bergerak mengintai, kamera drone itu menyusuri tiap area dari bangunan rumah Bramantio, dari dalam mobil, Gavlin bisa memantau dan melihat jelas seluruh area.


Dari kamera drone, Gavlin melihat, ada beberapa petugas polisi yang bersembunyi di tiap tiap sudut rumah runtuh Bramantio. Dan dia tak melihat Bramantio.


"Bedeeebaaah Braaam!! Dia mau menjebakku ternyata!!" ujar Gavlin, geram dan marah.


"Kamu kira, aku bakal masuk perangkapmu, Bram!!" Ujar Gavlin tersenyum sinis.


"Ok. Malam ini kamu selamat, tapi, besok besok, aku gak akan membiarkan kamu hidup Bram!!" ujar Gavlin marah.


Dia lantas menggerakkan remote controlnya, dia menarik pulang kamera drone nya yang mengintai rumah hancur Bramantio.


Kamera drone pun terbang melayang di udara menuju ke tempat persembunyian Gavlin. Gavlin segera keluar dari dalam mobilnya.


Dia berdiri disamping mobil sambil mengoperasikan remote controlnya, kamera drone tiba di dekatnya, Gavlin menurunkannya ke tanah.


Lalu, Gavlin mematikan kamera drone, dan menyimpannya di dalam bagasi mobil bersama remote controlnya.


Dari bagasi mobilnya, Gavlin mengambil dua buah granat, dia lantas menutup bagasi mobil, lalu, berjalan ke depan, dan masuk ke dalam mobilnya.


Sesaat kemudian, mobil melesat, pergi dari tempat persembunyiannya, meluncur menuju ke arah rumah Bramantio yang sudah hancur.


Gavlin membuka kaca depan pintu mobilnya, lalu, dia mengeluarkan tangannya, kemudian, Gavlin pun melemparkan dua buah granat ke arah rumah Bramantio, sambil mobil terus berjalan menjauh.

__ADS_1


Ledakan pun terjadi, petugas polisi yang bersembunyi dan berjaga di sudut sudut halaman rumah terpental jauh, karena terkena ledakan granat.


Seketika, Petugas petugas polisi pun mati, terkapar di tanah. Petugas polisi yang bersembunyi dan berjaga dan tidak terkena granat kaget, mereka lantas keluar dari persembunyiannya, dan segera menghampiri rekan rekannya yang sudah menjadi mayat dan tubuhnya bergelimpangan di tanah dengan luka luka yang sangat parah.


Mobil Gavlin meluncur dijalanan, menjauh dari rumah Bramantio yang hancur itu, Gavlin sambil terus menyetir mobilnya tersenyum sinis.


"Itu peringatan buatmu, Bram! Karena mau menjebakku!" ujar Gavlin, geram dan marah.


Mobil terus melaju dijalanan, semakin menjauh, meninggalkan rumah Bramantio.


---


Mobil Gavlin masuk ke halaman rumah Gatot, mobil berhenti dihalaman rumah, Gavlin segera keluar dari dalam mobilnya, dan berjalan menuju teras rumah Gatot.


Saat dia tiba diteras, Gavlin kaget, karena melihat pintu rusak, seperti habis di dobrak paksa. Gavlin pun kaget. Dia cepat masuk ke dalam rumah.


Saat dia didalam rumah, dia semakin kaget, karena ruangan rumah berantakan, dan seperti habis di geledah dan dirusak.


"Mayaaa?!!" ujar Gavlin.


Gavlin tampak cemas pada Maya, wajahnya tegang, melihat rumah berantakan, dia khawatir, Maya di culik.


Dengan cepat, Gavlin pun berlari keluar dari dalam rumah, dengan cepat, dia berlari ke mobilnya, dengan tergesa gesa, dia lantas membuka pintu mobilnya.


Saat Gavlin hendak masuk ke dalam mobilnya, tiba tiba, seseorang menepuk bahunya. Dengan gerak refleks, Gavlin berbalik badan dan menyerang orang yang menepuk bahunya.


Gavlin berhasil memelintir tangan orang tersebut, lalu, dia membalikkan badan orang tersebut, Gavlin mencengkram lehernya, sambil satu tangannya mencekal tangan orang tersebut.


"Siapa kamu!!" bentak Gavlin marah.


"Aku Minto ! Tolong, lepaskan tanganku!!" ujar Minto.


"Siapa yang menyuruhmu ke sini!!" bentak Gavlin marah.


"Tenang dulu, sabar, aku bukan musuhmu! Lepaskan dulu, biar ku jelaskan!!" ujar Minto.


Minto meringis kesakitan, karena tangannya dicekal dan di pelintir Gavlin.


"Jangan banyak bacot!! Cepat bilang!! Siapa yang menyuruhmu?!! Bram yang nyuruhmu ? Jawaaab!!" Bentak Gavlin, penuh amarah.


"Bukan, Aku suruhannya Pak Richard dan Gatot!!" tegas Minto, sambil meringis menahan sakit tangannya.


Mendengar nama Richard dan Gatot, Gavlin pun diam, dia lantas melepaskan cekalan tangannya di tangan Minto, lalu, dia juga melepaskan tangannya yang mencengkram leher Minto.


"Apa buktinya, kamu suruhannya Richard dan Gatot!" hardik Gavlin, geram.


"Aku Polisi, ditugaskan Pak Richard mencarimu, lalu membawamu ke tempat persembunyian pak Gatot, kalo kamu gak percaya, ambil lencana polisi di kantong celanaku." tegas Minto, memberi penjelasan.


Dengan cepat, Gavlin menggeledah kantong celana Minto, dia menemukan lencana kepolisian, di keluarkannya lencana dari kantong. Gavlin lalu melihat lencana itu.


Gavlin lantas memberikan lencana tersebut pada Minto, Minto pun mengambilnya.


"Aku mengikutimu sejak dari rumah Bramantio tadi sampai ke sini." jelas Minto, sambil mengantongi lencana polisinya.


"Dimana Pak Gatot sekarang?" tanya Gavlin.


"Bersama pak Richard, ikutlah denganku, kamu akan bertemu pak Gatot, dan juga anaknya disana." tegas Minto.


"Maya ada disana?" tanya Gavlin.


"Iya. Dia bersama Pak Gatot." ujar Minto.


Mengetahui Maya bersama Gatot, Gavlin pun lega, dia tak khawatir lagi dengan keselamatan nyawa Maya.


"Bawa aku ke sana sekarang!" ujar Gavlin.


"Baiklah ! Ikuti aku!" tegas Minto.


Minto lantas bergegas keluar dari halaman rumah Gatot, sebab, dia memarkir mobilnya di luar, di pinggir jalan dekat rumah Gatot.

__ADS_1


Gavlin masuk ke dalam mobilnya, lalu, mobil Gavlin pun berjalan keluar dari halaman rumah Gatot.


Mobil Minto melaju di jalanan, Mobil Gavlin pun mengikutinya di belakang. Mobil mereka lantas pergi meninggalkan rumah Gatot, menuju ke Villa, tempat persembunyian Gatot dan Maya.


__ADS_2