
Yanto mengamati gambar denah rumah Wijaya, dia sengaja menggambar rumah Wijaya, menandai titik titik buta yang aman untuk dilaluinya.
Sesuai dengan hasil yang dia pelajari, saat mendatangi rumah Wijaya.
Yanto tahu, dari mana dia nantinya bisa menyelinap masuk kedalam rumah Wijaya tanpa diketahui para penjaga dirumah Wijaya.
Dan dia juga bisa menghindari cctv yang banyak terpasang di tiap sudut rumah Wijaya yang cukup besar dan luas.
Wajah Yanto terlihat serius menatap gambar denah rumah yang di buatnya.
Ponselnya berbunyi, ada nada panggilan yang masuk, Yanto mengambil ponsel dari dalam kantong celananya.
Dia melihat nama si penelepon. "Si Jelek", Begitu Yanto menamai nomor telepon milik Maya.
Dia sengaja menuliskan nama untuk menandai kalau itu nomor khusus Maya.
"Hallo ?" Ujar Yanto di ponselnya.
"Maaf, Aku bisa ketemuan sama kamu hari ini ?" Tanya Maya dari seberang telepon.
Yanto terdiam, dia berfikir sejenak, kenapa Maya tiba tiba telepon dan minta ketemuan?
"Ada apa ?" Tanya Yanto.
"Ada yang mau aku bahas denganmu, soal patung lilin, aku mau nulis kelanjutan artikelku tentang patung lilin kamu." Ujar Maya dari seberang telepon.
Maya berusaha meyakinkan Yanto dengan menjelaskan maksudnya mengajak ketemuan.
"Seharian ini aku sibuk menyelesaikan patung lilin pesanan orang." Ujar Yanto.
"Kalo malam, kamu bisa ?" Ujar Maya lagi dari teleponnya.
Yanto terdiam, dia berfikir, kenapa Maya seperti mendesaknya agar mau ketemuan.
"Kita ketemu jam 8 malam nanti. Tempatnya nanti aku kirim pesan ke kamu." Ujar Yanto.
Yanto lalu menutup teleponnya, diam berfikir sejenak, kemudian berbalik, melangkah keluar dari ruangan khusus itu.
Di ruang kerjanya, Maya terlihat senang karena bisa membuat janji temu dengan Yanto. Dia menyimpan ponsel ke dalam tasnya.
"Aku harus nanya ke Yanto soal patung lilin yang mirip dengan korban pembunuhan itu." Gumamnya berfikir.
Terlihat 3 unit mobil patroli kepolisian berhenti di depan gedung perkantoran Bramantio.
Tak lama datang sebuah mobil, di dalamnya Gatot yang menyetir, disampingnya ada Teguh.
Mobilnya berhenti di samping salah satu mobil patroli polisi, Gatot keluar dari dalam mobilnya di ikuti Teguh.
Enam petugas Polisi bergegas keluar dari dalam mobil masing masing.
Gatot memberi isyarat agar para petugas kepolisian segera mengikutinya dan bersiap siaga.
Mereka melangkah masuk kedalam gedung perkantoran.
2 Petugas Keamanan yang berdiri berjaga di depan pintu masuk gedung perkantoran menghalangi Gatot dan para petugas kepolisian serta Teguh.
"Maaf, ada keperluan apa?" Tanya Petugas Keamanan.
"Kami dari kepolisian, jangan halangi saya." Ujar Gatot sambil memberikan kartu identitas kepolisian miliknya.
Petugas Keamanan bergeser ke samping, memberikan jalan agar Gatot dan timnya bisa masuk ke dalam gedung.
Gatot segera masuk ke dalam gedung perkantoran di ikuti Teguh dan ke enam petugas kepolisian.
Surya, Asisten Manager masuk ke dalam ruang kantor pribadi Bramantio.
Wajahnya terlihat cemas, dia mendekati Bramantio yang heran menatapnya.
"Ada apa ?" Tanya Bramantio.
"Ada polisi datang ingin bertemu bapak." Ujar Surya, sang Asisten Manager.
"Polisi ?" Tanya Bramantio lagi, Asisten Manager mengangguk, Bramantio terdiam sejenak, dia berfikir.
"Ini ulahnya Wijaya, pasti dia melapor ke Polisi dan menuduhku sebagai dalang kerusuhan di proyeknya." Ujar Bramantio geram.
Belum sempat Bramantio meneruskan perkataannya, Gatot bersama timnya sudah masuk ke dalam ruang kantor Bramantio.
"Selamat siang pak Bram, Bapak kami tangkap karena menjadi tersangka perusakan properti bangunan di proyek Linsy." Ujar Gatot.
"Dan juga bapak saya minta untuk bersaksi atas kasus pembunuhan 18 tahun yang lalu." Ujar Gatot.
Gatot menatap lekat wajah Bramantio yang terhenyak kaget saat Gatot menyebut kasus pembuhan 18 tahun.
"Kurang ajar ! Kalian tidak tahu siapa saya ?!" Bentak Bramantio marah. Gatot tersenyum dan bersikap tenang.
"Maaf Pak, Mari ikut kami." Ujar Gatot bersikap baik dan tenang pada Bramantio yang meliriknya tajam dengan penuh amarah.
"Kalian tidak bisa menangkap beliau begitu saja, apa kalian membawa surat perintah penangkapan?" Tanya Asisten Manager berusaha menghalangi.
Teguh menunjukkan surat perintah yang dipegangnya pada Asisten Manager dan Bramantio.
"Saya tidak apa apa. Kamu kabari pengacara saya." Ujar Bramantio.
Bramantio tersenyum sinis melirik Gatot.
Teguh memborgol tangan Bramantio lalu mereka membawanya keluar dari ruang kantor.
Setelah kepergian Bramantio yang di bawa polisi, dengan cepat Surya mengambil ponselnya untuk menghubungi pengacara dan orang orang penting lainnya.
Orang yang bisa melepaskan Bramantio seperti biasanya jika Bramantio bermasalah dengan hukum.
Di ruang kerjanya, Maya serius mengamati 2 photo yang ada di tangan kanan dan kirinya.
Maya menatap photo korban pembunuhan di hotel Hera milik Bramantio.
Korban yang bernama Guntur, dia menatap lekat wajah Guntur yang telah menjadi mayat saat Maya mengambil photonya.
__ADS_1
Pandangan mata Maya kemudian tertuju pada selembar photo lainnya yang ada di tangan kirinya.
Dia memandangi patung lilin yang diambilnya saat pameran berlangsung di taman kota.
Maya serius memandangi wajah patung lilin, lalu pandangannya berbalik melihat photo Guntur ditangan kanannya.
Kemudian pandangan matanya balik lagi melihat photo patung lilin ditangan kirinya.
"Benar benar sama persis keduanya." Ujarnya.
"Gak salah lagi, aku memang melihat wajah yang sama dengan korban pembunuhan di pameran patung lilin itu." Gumamnya sambil berfikir.
Maya memasukkan photo photo itu kembali ke dalam sebuah map, menyimpannya di dalam laci kerjanya.
Maya melirik jam ditangannya, kemudian dia segera berdiri dari kursinya.
Dia meraih tas yang tergeletak dipinggir meja kerja, kemudian melangkah keluar dari ruang kerjanya.
Seorang Pejabat Kepolisian yang berpangkat tertinggi di kepolisian membuka pintu ruang kerja Gatot.
Wajahnya terlihat marah, dia segera mendekati Gatot yang terlihat bersikap tenang melihat kedatangan pimpinan tertingginya.
Teguh yang melihat kedatangan pejabat tertinggi di kepolisian cepat berdiri dan memberi hormat.
"Apa maksudmu menangkap pak Bramantio ?!" Bentak Pejabat tertinggi kepolisian yang ternyata adalah kepala kepolisian bernama Sutoyo.
Sutoyo ini teman baik Bramantio, selama ini, Sutoyo inilah yang membantu dan meloloskan Bramantio dari jeratan hukum kepolisian.
Saat ini, Sutoyo terlihat wajahnya begitu marahnya pada Gatot, diw menatap tajam wajah Gatot yang cuek dengan kehadirannya.
Dia di kabari Surya yang mengabarkan bahwa Bramantio di tangkap dan di tahan di kantor polisi pusat.
Sutoyo dengan cepat beraksi dan mendatangi kantor pusat kepolisian dan menemui Gatot.
"Apa kamu punya cukup bukti untuk menahan pak Bramantio ?!" Bentak Sutoyo lagi pada Gatot yang berdiri dengan sikap tenangnya menatap wajah pimpinannya itu.
"Saat ini saya menahannya untuk meminta keterangan darinya pada kasus penyerangan proyek Linsy." Ujar Gatot dengan sikap tenang dan cuek.
"Untuk kasus pembunuhan 18 tahun lalu, Bramantio saat ini di curigai sebagai salah satu tersangka." Ujar Gatot lagi.
Mendengar Gatot mengungkit kasus 18 tahun yang lalu membuat darah Sutoyo mendidih, dia semakin marah pada Gatot.
"Apa kamu lupa kasus itu sudah lama, dan kasusnya sudah di tutup karena pelaku sebenarnya sudah di tangkap !!" Bentak Sutoyo penuh amarah.
Gatot tersenyum sinis melirik Sutoyo yang matanya memerah karena amarahnya.
"Saya akan membuka dan mengusut kembali kasus 18 tahun lalu." Ujar Gatot.
"Saya mendapatkan bukti baru atas kasus tersebut, yang menyebut nama Bramantio sebagai salah satu kaki tangan pembunuh aslinya." Ujar Gatot.
Gatot menatap wajah Sutoyo yang terdiam, dia berfikir, dimana Gatot bisa menemukan bukti yang tertanam 18 tahun, siapa yang membocorkannya?
Gatot melirik wajah Sutoyo, dia tahu saat ini Sutoyo sedang berfikir keras bagaimana cara dia mendapatkan informasi dan bukti tentang kasus 18 tahun lalu.
"Saat ini memang saya belum punya cukup bukti untuk menjebloskan Bramantio ke penjara." Ujar Gatot.
"Dan setelah saya mendapatkan bukti bukti kuat, bukan hanya Bramantio yang akan saya penjarakan!" Ujar Gatot.
"Tapi semua, semua orang orang yang menjadi kaki tangannya dan melindungi dia dari tindak kejahatan yang dilakukannya !" Ujar Gatot dengan sinis.
"Orang orang itu akan bersama Bramantio di dalam penjara !" Ujar Gatot.
Gatot menatap tajam Sutoyo yang terdiam, dia tercekat, menahan ludahnya.
Ada kekhawatiran dalam diri Sutoyo, jika Gatot sampai tahu, dia yang menutupi kasus pembunuhan 18 tahun lalu dan melindungi Bramantio beserta adiknya.
"Saya minta kamu lepaskan pak Bamantio sekarang juga !!" Bentak Sutoyo pada Gatot.
"Kamu bisa memanggil atau menangkapnya lagi jika kamu sudah punya bukti bukti kuat yang bisa menjadikannya tersangka !!" Ujar Sutoyo marah.
Dia bersikap emosi untuk menutupi keresahan dalam dirinya.
Gatot mengangguk angguk cuek.
Gatot menatap pada Teguh yang dari tadi hanya terdiam berdiri ditempatnya, tak berani berkata sepatah katapun di hadapan kepala kepolisian Sutoyo.
"Bebasin Bramantio !" Suruh Gatot pada Teguh yang mengangguk cepat.
Teguh lalu segera pergi keluar dari ruang kerja Gatot, dia lega karena tidak berlama lama di dalam ruang kerja Gatot.
"Ingat ! Sekali lagi kamu bertindak sembarangan, Saya bukan hanya memberimu hukuman, tapi saya akan memecatmu dari kepolisian ini, paham !!" Bentak Sutoyo.
Matanya melotot tajam menatap Gatot yang mengangguk cuek dihadapannya.
Melihat sikap Gatot yang berani pada dirinya dengan sikap cueknya membuat Sutoyo semakin muak dan geram.
Sutoyo lantas berbalik dan pergi keluar dari ruang kerja Gatot, meninggalkan Gatot sendirian.
Gatot tersenyum sinis memandangi kepergian Sutoyo.
Dia sudah menduga, pasti Sutoyo langsung datang menemuinya jika dia menahan Bramantio.
Dan sesuai dengan apa yang sudah di fikir dan direncanakannya, Sutoyo terancing dan menemui Gatot.
Kedatangan Sutoyo memperkuat firasat Gatot yang mencurigai Sutoyo.
Kepala kepolisian itu terlibat dalam kasus pembunuhan 18 tahun lalu, dia hanya ingin tahu bagaimana reaksi langsung Sutoyo jika dia mengungkit kasus 18 tahun lalu.
Dan sesuai dengan apa yang diharapkannya, dia tahu, Sutoyo terlihat gelisah dan berusaha menutupi kasus lama itu.
Gatot melihat sikap sedikit gugup Sutoyo tadi saat menemuinya.
Gatot lantas melangkah santai dan tenang keluar dari ruang kerjanya.
Di koridor kantor kepolisian, Bramantio bersalaman dengan Sutoyo yang menemuinya.
Bramantio ditemani Surya, Asisten Manager dan Pengacara pribadinya.
__ADS_1
Keluar dari dalam ruang interogasi, Gatot melihat keakraban yang terjalin antara Sutoyo dan Bramantio.
Melihat keakraban mereka berdua, semakin memperkuat dugaan Gatot bahwa Kepala kepolisian itu terlibat langsung atas kasus pembunuhan dan pemerkosaan 18 tahun lalu.
Gatot yang memandangi kepergian Bramantio diantar Sutoyo tersenyum sinis, dia melihat Sutoyo dan Bramantio berjalan sambil tertawa lepas.
"Sekarang kita harus bagaimana Komandan?" Tanya Teguh yang mendekati Gatot.
Teguh bertanya pada Gatot karena melihat Bramantio dibebaskan begitu saja tanpa menjalani pemeriksaan terlebih dulu.
Karena campur tangan Kepala kepolisian yang melepaskan Bramantio, mereka tidak bisa berbuat apa apa.
Gatot melirik pada Teguh yang berdiri di sampingnya, dengan sikap santai dia menatap wajah Teguh.
"Tetap seperti rencana, kamu bantu saya menyelidiki dan mencari bukti bukti baru yang berhubungan dengan kasus pembunuhan 18 tahun lalu." Ujar Gatot pada Teguh.
"Satu lagi, lakukan semuanya dengan rapi, tanpa ada orang yang tau kalo kita sedang mengusut kasus 18 tahun itu." Ujar Gatot menatap lekat wajah Teguh.
"Siap Komandan !" Ujar Teguh.
Gatot lantas berjalan meninggalkan Teguh yang berbalik kembali keruangannya, Gatot melangkah keluar dari gedung kantor kepolisian.
Di depan pintu keluar halaman gedung kantor kepolisian, Gatot melihat Sutoyo yang berdiri di samping mobil Bramantio yang sudah berada di dalam mobilnya.
Sutoyo melambaikan tangannya saat mobil pergi membawa Bramantio bersama Asisten Manager dan Pengacaranya.
Sutoyo lalu berbalik dan berjalan masuk kembali ke dalam gedung kantor kepolisian.
Gatot bersembunyi agar tidak diketahui Sutoyo jika dia mengintipnya.
Sutoyo masuk dan melewati Gatot yang bersembunyi di balik pot bunga yang besar di sudut pintu masuk gedung.
Setelah Sutoyo menjauh, dengan cepat Gatot berjalan keluar gedung kantor kepolisian.
"Kamu dimana ? Sudah menerima pesan saya untuk tugas kamu berikutnya ?" Ujar Bramantio bicara di teleponnya.
"Bakar dan bumi hanguskan semuanya !" Ujar Bramantio dengan geram.
Dia lalu menutup teleponnya, mengantongi ponselnya dalam kantong jasnya. Wajahnya terlihat marah.
"Berani kamu Wijaya melaporkan aku ke polisi ! Kamu harus menanggung akibat dari perbuatanmu !" Ujarnya geram.
Mobil yang membawa Bramantio pergi melaju dengan kecepatan sedang menyusuri jalan raya.
Surya, Asisten Manager yang duduk di jok depan samping supir hanya diam.
Pengacara yang berada di samping Bramantio juga terdiam, mereka tidak berani berkata kata.
Karena saat ini Bramantio terlihat begitu marahnya karena penangkapan dirinya.
Malam itu, Yanto sudah rapi, seperti biasa, penampilannya yang sangat seniman membuatnya keren.
Dengan rambut panjangnya, dia memakai topi dan kaca mata minusnya, dengan kumis tipis dan jenggotnya.
Yanto, atau juga di kenal dengan Gavlin, melangkah keluar dari gedung Apartemen.
Dia sengaja malam ini memilih untuk berjalan kaki dan tidak naik mobilnya.
Karena tempat pertemuan yang sudah ditentukannya dekat dengan apartemen tempat tinggalnya.
Saat Yanto sedang melangkah keluar dari halaman gedung apartemen, Maya yang juga berjalan melewati gedung apartemen.
Maya juga hendak ke tempat janjian, Maya tanpa sengaja melihat Yanto yang berjalan keluar dari gedung apartemen.
"Kayak Yanto ?" Ujarnya.
Maya melirik gedung apartemen, berfikir sejenak, kemudian Maya segera berlari agar bisa menyusul Yanto yang melangkah cepat menyusuri trotoar jalanan.
"Yantoo...!" Panggil Maya sambil berlari lari kecil mendekatinya.
Langkah Yanto terhenti karena mendengar namanya dipanggil, dia menoleh ke belakang, melihat ke arah Maya yang berlari mendekatinya.
Maya mengatur nafasnya yang terengah engah, lalu berdiri tepat dihadapan Yanto.
"Ternyata benar kamu." Ujar Maya senang. Dia diam sejenak, mengatur nafasnya agar dia kembali tenang. Yanto diam berdiri didepannya.
"Kamu tinggal di Apartemen itu ?" Tanya Maya sambil menunjuk gedung Apartemen yang menjulang tinggi dan sangat mewah itu.
Yanto mengangguk.
"Waah, baru tau kalo kamu tinggalnya di apartemen, keren !" Ujar Maya sambil mengacungkan jempol tersenyum pada Yanto.
"Kamu kok bisa ada di sekitar sini? Kan rumah atau kantormu bukan arah jalan ini?" Ujar Yanto heran, kenapa Maya bisa ada di sekitar apartemennya.
Yanto menatap lekat wajah Maya, dia curiga jika Maya sebelumnya sudah menguntitnya secara diam diam dan berpura pura baru tahu kalau dia tinggal di apartemen.
"Kamu tau aku tinggal di apartemen?" Tanya Yanto menatap lekat wajah Maya yang cepat menggelengkan kepalanya.
"Nggak, beneran, aku baru tau sekarang pas liat kamu keluar dari dalam gedung apartemen itu." Ujar Maya.
"Aku jalan lewat sini, karena aku habis wawancarai pemilik Cafe yang lagi viral itu loh." Ujar Maya.
"Cafe "Melek" namanya, gak jauh kok dari sini. Buat artikel majalah bisnisku." Ujar Maya menatap lekat wajah Yanto.
"Aku tau cafe itu, tiap hari rame, jadi malas kesana karena rame, gak nyaman." Ujar Yanto.
Yanto melangkah, melanjutkan berjalan, Maya mengikuti Yanto yang berjalan meninggalkannya.
Maya berlari lari kecil, lalu berjalan di samping Yanto. Mereka berdua berjalan menyusuri trotoar menuju ke tempat pertemuan mereka.
"Kamu kenapa minta kita ketemuan di restoran korea itu ?" Tanya Maya sambil terus berjalan di sisi Yanto.
"Ya, disamping gak jauh sama apartemenku, aku juga mau nyobain masakannya." Ujar Yanto santai.
"Restoran itu baru 3 bulan di buka, penasaran aja sama rasa makanannya yang cukup terkenal karena drama dramanya." Ujar Yanto tersenyum melirik Maya.
Yanto terus melangkahkan kakinya, berjalan bersama Maya yang mengangguk tersenyum.
__ADS_1