VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Masto Curiga pada Chandra


__ADS_3

Gavlin kaget melihat dua petugas polisi pingsan di lantai depan pintu masuk kamar rawat dengan kondisi kaki keduanya tertembak.


Sosok Pria berpakaian serba hitam keluar dari dalam kamar rawat, dia berdiri di samping Gavlin yang masih terdiam melihat dua petugas polisi yang pingsan.


"Ikuti aku, ayo, cepat!" ujar Sosok Pria.


Gavlin pun tersadar, dia lantas bergegas pergi mengikuti sosok pria. Mereka berdua masuk ke dalam lift yang ada di koridor rumah sakit tersebut.


Pintu lift terbuka, Sosok Pria bersama Gavlin segera keluar dari dalam lift, mereka sekarang berada di halaman parkir gedung rumah sakit.


"cepat, ikut aku!" ujar Sosok Pria.


Mereka berdua berlari kearah mobil yang terparkir di sudut parkiran, Sosok Pria cepat membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya, Gavlin juga ikut masuk ke mobil, dia duduk di jok depan, di samping sosok Pria yang duduk menyetir mobil.


Beberapa saat kemudian, mobil pun berjalan, melaju cepat pergi meninggalkan halaman parkir rumah sakit, Gavlin yang duduk di jok depan , samping sosok pria yang menyetir mobil meliriknya.


"Siapa kamu sebenarnya? Mengapa kamu membebaskanku?" ujar Gavlin, menatap wajah sosok pria yang tertutup masker.


"Aku menolongmu, agar kamu gak di penjara polisi !" ujar Sosok pria sambil menyetir mobilnya.


"Mengapa? Apa kamu mengenalku?" tanya Gavlin, menatap heran sosok pria.


Sosok Pria diam saja dan tak menjawab pertanyaan Gavlin, dia terus menyetir mobilnya, mobil meluncur dengan kecepatan tinggi, melaju di jalan raya, menyusuri kepekatannya malam.


Gavlin yang tak mendapatkan jawaban dari sosok pria pun lantas diam, dia menatap jauh ke depan, melihat pada jalanan gelap. Sesekali Gavlin melirik Sosok Pria yang terlihat serius menyetir mobilnya. Gavlin masih penasaran, dia bertanya tanya dalam hatinya, siapa sosok pria yang telah membebaskannya tersebut, apa motivasinya menolong diri Gavlin.


Setengah jam berlalu, Sosok Pria lantas menghentikan mobilnya di pinggir jalan, dia lalu menoleh pada Gavlin yang heran karena mereka berhenti di tempat yang sepi.


"Sebaiknya kita berpisah di sini." ujar Sosok Pria.


Gavlin diam, dia melihat kearah luar, disekelilingnya dia hanya melihat sawah sawah saja, dan suasana dijalanan itu sangat sepi sekali, tak ada satu pun kendaraan yang lewat di jalan sepi tersebut.


Sosok Pria lantas melepaskan masker penutup wajahnya, Gavlin melihat wajah sosok pria, dia terhenyak kaget.


"Chandra?!" ujar Gavlin, terhenyak kaget.


"Ya, ini aku." ujar Chandra.


"Mengapa kamu nekat membebaskanku? Bagaimana nanti jika Andre tau?" tanya Gavlin, menatap tajam wajah Chandra.


"Kamu gak usah khawatir akan hal itu. Biar aku sendiri yang mengurusnya nanti." ujar Chandra.


"Aku membebaskanmu, karena gak ingin kamu di tahan di kantor polisi. Bagaimana pun kamu harus bebas, kamu harus menuntut balas atas kematian Bapakmu!" ujar Chandra menegaskan.


"Hanya ini yang bisa aku lakukan padamu , Vlin. Aku berhutang nyawa padamu, karena kamu dua kali menyelamatkan nyawaku." jelas Chandra, menatap serius wajah Gavlin.


"Ya, tapi, aku akan mendapatkan masalah, jika Andre sampai tau, kalo kamu yang sudah membebaskanku!" tegas Gavlin, menatap serius wajah Chandra.


"Gak masalah, aku siap menanggung resikonya, yang terpenting, kamu bebas dan bisa melanjutkan misi balas dendammu!" ujar Chandra.


"Kamu yakin, gak akan apa apa?!" tanya Gavlin dengan wajah serius.


"Ya, aku yakin. Aku udah memikirkannya, dan memutuskan untuk membebaskanmu." ujar Chandra.


"Aku tau, besok pagi, polisi akan memindahkanmu ke kantor polisi dan akan ditahan di sana, karena itu, malam ini juga aku bergerak cepat membebaskanmu, agar kamu gak di tahan di kantor kepolisian." ujar Chandra.


"Lantas, setelah ini, kamu mau kemana?" tanya Gavlin.

__ADS_1


"Aku akan kembali ke rumah perlindungan saksi kepolisian." ujar Chandra.


"Kamu yakin, mau balik ke sana?!" tanya Gavlin lagi.


"Yakin. Jika aku tiba tiba menghilang dari sana, justru itu yang akan membuat Andre dan Masto tau, bahwa aku yang telah membebaskanmu." ujar Chandra serius.


"Jika malam ini aku kembali diam diam ke rumah perlindungan, mereka tau nya aku tetap di sana." lanjut Chandra.


"Bagaimana kamu bisa melewati penjagaan ketat dirumah perlindungan saksi itu?" ujar Gavlin.


"Aku kabur melompat dari atap rumah lalu pergi dari belakang rumah, disana gak ada yang menjaga. Dan nanti, aku juga kembali melalui jalan yang sama." ujar Chandra, menjelaskan.


"Oh, begitu. Sebaiknya kamu hati hati." ujar Gavlin.


"Ya." Angguk Chandra.


Chandra lantas mengambil kunci motor dari dalam kantong celananya, dan dia memberikan kunci motor itu pada Gavlin.


"Ini kunci motormu, ambillah. Motormu aku sembunyikan di balik semak sawah, kamu jalan lurus saja dari sini." ujar Chandra.


Gavlin mengambil kunci motor dari tangan Chandra, dia menatap lekat wajah Chandra.


"Terima kasih, Chan." ujar Gavlin.


"Aku yang harusnya berterima kasih padamu, karena aku, kamu terluka parah dan hampir saja mati terbunuh. Dan aku gak bisa membalas kebaikanmu itu." ujar Chandra.


"Ya, kamu tenang saja, aku pasti akan membantai organisasi Inside, dan aku juga pasti akan membalaskan dendammu ! Aku akan membunuh Samsudin dan juga Binsar, yang telah membunuh orang tua kita!" ujar Gavlin, menatap serius wajah Chandra.


"Ya, aku percaya padamu, dan aku serahkan semuanya padamu, Vlin!" tegas Chandra.


"Ok, aku pergi dulu, jaga dirimu baik baik. Kita berpisah di sini untuk sementara waktu." ujar Gavlin.


"Ya." Angguk Chandra.


Dari dalam mobil Chandra melihat Gavlin berlari ke arah semak semak pematang sawah, menuju motornya yang disembunyikan Chandra di tempat itu.


Gavlin tiba di motor sportnya, lalu, dia segera meletakkan kunci motor dan menyalakan motornya, mesin motor menyala, lalu, Gavlin memakai helm yang ada diatas motor, dia naik ke atas motor , dan menjalankan motornya.


Motor Gavlin melaju melewati mobil Chandra yang parkir di pinggir jalan, Gavlin membunyikan klakson motornya, memberi tanda pamit pergi pada Chandra. Dari dalam mobilnya Chandra juga menekan klakson mobilnya, menyambut kepergian Gavlin.


Chandra melihat motor Gavlin melesat menjauh dijalanan, lalu, dia pun menyalakan mesin mobilnya, Chandra lalu menyetir mobilnya, pergi dari tempat itu.


---


Keesokan paginya, Andre yang baru saja datang ingin menjemput Gavlin dirumah sakit kaget, karena melihat, dua anak buahnya terbaring di lantai, depan pintu masuk kamar rawat. Andre cepat mendekati mereka berdua.


"Kenapa kalian?!" tanya Andre, sambil melepaskan borgol di tangan kedua petugas polisi.


"Maaf, Pak. Semalam, tiba tiba saja kami di serang sama orang yang gak di kenal, dia memakai masker penutup wajah." jelas seorang petugas kepolisian sambil meringis memegang kakinya yang terluka akibat kena tembakan.


Mendengar perkataan anak buahnya, Andre cepat masuk ke dalam kamar rawat untuk melihat Gavlin.


Saat dia masuk kedalam kamar rawat, Andre kaget, karena kamar itu kosong, dan Gavlin tak ada di dalamnya.


"Siaal !! Gavlin kabur!!" ujar Andre, geram menahan marahnya.


Andre lantas bergegas keluar dari dalam kamar rawat. Dia mendekati kedua petugas polisi yang sudah berdiri sambil menahan sakit di kakinya.

__ADS_1


"Kalian bodoh!! Mengapa Gavlin bisa melarikan diri?!" bentak Andre, marah.


"Maafkan kami, Pak." ujar kedua polisi bersamaan.


Andre tampak sangat kesal sekali, lalu, dengan cepat dia mengambil ponsel dari dalam kantong celananya, dan dia lantas menelpon.


"Hallo, di mana kamu? Gavlin kabur dari rumah sakit! Dua polisi yang berjaga tertembak kakinya dan di borgol !" ujar Andre, marah di teleponnya.


Di rumah perlindungan, Masto yang menerima telepon dari Andre kaget mengetahui Gavlin kabur dari rumah sakit.


"Saya di rumah perlindungan bersama Chandra, Pak." ujar Masto, dari seberang telepon.


"Ah, sial ! Siapa yang membebaskan Gavlin!" ujar Andre, marah di teleponnya.


"Kamu segera temui saya, kita cari Gavlin !!" ujar Andre, ditelepon.


"Baik, Pak." ujar Masto, dari seberang telepon.


Andre yang kesal lantas menutup teleponnya, lalu menyimpan ponselnya ke dalam kantong celananya. Andre pergi begitu saja meninggalkan kedua anak buahnya yang masih berdiri diam meringis menahan sakit di kakinya.


Sementara itu, di rumah perlindungan, Masto yang baru saja menerima telepon dari Andre tampak berdiri diam, dia tengah memikirkan sesuatu.


Lalu, Masto bergegas jalan menuju kamar Chandra, dia curiga dengan Chandra, dan ingin mengetahui, apakah Chandra saat ini tidak ada di kamar atau ada.


Masto membuka pintu kamar, lalu, dia masuk ke dalam kamar, di atas kasur, terlihat Chandra yang berbaring di atas kasur, Masto mendekatinya.


Chandra pura pura kaget melihat kedatangan Masto yang mendekatinya dan berdiri disamping ranjang.


"Ada apa?" tanya Chandra, menatap heran wajah Masto yang terlihat tegang itu.


"Kemana kamu semalam?" tanya Masto, menatap wajah Chandra yang berbaring di kasur dengan penuh curiga.


Chandra bangun, lalu, dia duduk bersandar diatas ranjang, dia menatap lekat wajah Masto yang melihatnya dengan penuh rasa curiga itu.


"Aku dirumah, tidur di kamar ini semalaman, kalo aku pergi, pastinya para penjaga melihatku." ujar Chandra, menjawab santai.


"Yakin, kamu gak berbohong?" tanya Masto, curiga.


"Buat apa aku bohong ? Tanya aja penjaga penjaga itu, mana mungkin aku bisa pergi begitu saja tanpa mereka lihat?" ujar Chandra.


"Ada apa ini sebenarnya? Kenapa kamu tiba tiba bertanya seperti ini padaku?!" ujar Chandra, berpura pura tak mengerti dengan apa yang terjadi.


"Gavlin melarikan diri dari rumah sakit, ada yang membantunya kabur!" ujar Masto, dengan wajah tegang dan serius menatap Chandra.


"Gavlin kabur?! Bagaimana bisa? Bukannya di jaga polisi?!" ujar Chandra, berpura pura kaget.


"Dua Polisi yang berjaga kata pak Andre terluka karena di tembak kakinya lalu di borgol." ujar Masto.


"Benar, bukan kamu yang membebaskan Gavlin?" ujar Masto.


Masto masih curiga pada Chandra, dia menatap tajam wajah Chandra yang berpura pura kaget itu.


"Aku gak kemana mana, seharian ini aku di dalam kamar." jelas Chandra.


Masto lantas diam, dia lalu pergi meninggalkan Chandra, setelah kepergian Masto, Chandra tersenyum kecil, dia senang, karena telah berhasil membohongi Masto yang curiga padanya.


Masto mendatangi semua penjaga yang ada dirumah perlindungan, dia bertanya tentang Chandra, semua penjaga bersuara sama, mereka mengatakan, bahwa tidak pernah melihat Chandra keluar dari dalam rumah perlindungan.

__ADS_1


Masto pun diam, dia berfikir, siapa orang yang telah membantu Gavlin melarikan diri dari rumah sakit.


__ADS_2