VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Di Tolong Gavlin


__ADS_3

Gavlin lantas menyimpan pistolnya di pinggangnya, lalu, dia mengambil pisau belati yang terselip di pinggangnya, Gavlin lantas mendekati Peter, dia berjongkok di belakang Peter.


Lalu, dengan gerak cepat, Gavlin mendekap tubuh Peter dari belakang, lalu, dia membanting tubuh Peter hingga rebah di lantai.


Gavlin cepat berdiri, dia lalu menginjak tubuh Peter yang tak berdaya itu, dengan cepat, Gavlin menarik tangan kanan Peter.


Lalu, Dengan sikap dinginnya, Gavlin lantas memotong tangan Peter, tepat di bagian ketiaknya. Peter menjerit berteriak kesakitan.


"Aaaarggghhhh!!!" teriak Peter histeris kesakitan.


Gavlin tak perduli, dengan keji dan sadis Gavlin memotong tangan Peter, Tangan Peter pun putus, Peter meronta ronta kesakitan di lantai, tubuhnya masih di injak Gavlin.


Chandra ternyata tidak pergi dari gudang tua itu, dia sengaja berdiri dan mengintip dari depan pintu masuk gudang tua tak terawat itu.


Chandra bergidik ngeri dan takut, dia syock saat melihat, Gavlin dengan santai dan dinginnya memotong kedua tangan Peter.


"Gilaa !! Gavlin psikopat!!" Gumam Chandra, terhenyak kaget.


Dia tak menyangka, Gavlin memutilasi tubuh Peter dengan santai dan tenangnya, Chandra menyadari, bahwa Peter adalah psikopat, sebab itu, dia tak bisa di larang dan dicegah, jika nafsu dan keinginan untuk membunuh sudah muncul dalam dirinya.


Chandra tetap bersembunyi dibalik pintu masuk, dia mengintip ke dalam gudang tua, mengamati Gavlin yang masih memutilasi Peter.


Kini, Gavlin memotong Kaki Peter, dengan pisau belati tajamnya, Gavlin memaksakan agar kaki Peter terpotong.


"Biaaadaaabbbb kamu Gaaaavvvllliiinnn!!" teriak Peter meronta kesakitan.


Kedua tangan Peter sudah terpotong, dan sebelah kakinya juga sudah terpotong, Peter meringis berteriak teriak histeris kesakitan, dia meronta ronta, Gavlin turun dari badan Peter, dia tidak menginjak tubuh Peter lagi.


Tubuh Peter menggelepar gelepar di lantai, darah segar terus mengalir di lantai, keluar dari kedua tangan dan kakinya yang terpotong potong.


Gavlin berjongkok di samping Peter, dia tersenyum sinis menatap wajah Peter yang mengeluarkan keringat dingin dan pucat pasi menahan rasa sakit yang sangat dahsyat akibat kedua tangan dan kakinya di potong Gavlin.


Gavlin dengan sikap dinginnya, lalu meraih rambut Peter, dia mencengkram rambut Peter dengan sangat kuat dan menariknya, Peter kembali berteriak kesakitan.


"Aaaarrrggghhh!!" teriak Peter kesakitan.


Peter sama sekali tak berdaya, tubuhnya hanya tinggal menyisakan badan dan kepala saja, karena kedua tangan dan kedua kakinya sudah di potong Gavlin.


"Bye bye Peter. Tinggallah selamanya di neraka." bisik Gavlin ditelinga Peter.


Lalu, dengan sikap dingin dan tenangnya, Gavlin pun lantas menggorok leher Peter, darah segar muncrat keluar dari lehernya dan mengenai wajah serta baju Gavlin.


Gavlin tak perduli, dengan sikap dinginnya Gavlin terus menggorok leher Peter.


Di tempat persembunyiannya, Chandra mengintip dan bergidik ngeri melihat Gavlin memotong kepala Peter.

__ADS_1


Chandra membuang mukanya dan menutup kedua matanya, dia tak berani melihat ke arah Gavlin yang sedang memotong leher dan kepala Peter di dalam gudang tua tak terawat.


Kepala Peter terlepas dari tubuhnya, Peter mati, dengan cara di mutilasi hidup hidup oleh Gavlin, sebuah perbuatan yang sangat keji, Gavlin membantai dan membunuh serta memotong motong tubuh Peter dalam keadaan dirinya masih hidup. Gavlin terlihat sangat puas sekali.


Gavlin mengumpulkan potongan potongan tubuh Peter yang di mutilasinya itu, dia lalu berdiri diam memandangi potongan potongan tubuh Peter yang tergeletak di lantai.


Lalu, dengan wajah dingin dan santainya, Gavlin berbalik badan dan berjalan keluar dari dalam gedung tua tak terawat itu, Chandra yang melihat Gavlin berjalan ke arah luar segera berpindah tempat, dia bersembunyi disamping gudang tua.


Gavlin berjalan keluar dari dalam gudang tua dengan sikap tenangnya, dia berjalan menuju ke mobilnya yang diparkirnya di pinggir jalan, di samping gudang tua tak terawat.


Chandra diam di tempat persembunyiannya, dia melihat Gavlin yang pergi ke jalanan.


"Mau apa Gavlin? Apa dia membiarkan saja mayat Peter di dalam gudang itu?" gumam Chandra berfikir.


Chandra tampak memikirkan sesuatu hal, dia lantas menghela nafasnya.


"Apa sebaiknya aku masuk ke dalam dan mengambil potongan tubuh Peter ?" gumamnya berfikir.


"Tapi, nanti malah aku yang dituduh memutilasi Peter." lanjutnya berfikir.


"Ah, sebaiknya aku pergi saja dari sini, daripada aku di tuduh dan menjadi tersangka." ujarnya.


Chandra hendak berjalan pergi, namun langkahnya terhenti, saat dia melihat Gavlin kembali dengan membawa kantong plastik yang sangat besar ditangannya.


"Sepertinya Gavlin mau bawa potongan tubuh Peter menggunakan plastik besar itu." gumam Chandra, bicara pada dirinya sendiri.


Di dalam gudang tua, Gavlin lantas memasukkan potongan potongan tubuh Peter ke dalam kantong plastik yang sangat besar, tak ada yang tersisa, semua potongan tubuh Peter hingga badan dan kepalanya di masukkannya ke dalam kantong plastik besar.


Lalu, setelah selesai, Gavlin lantas mengangkat kantong plastik besar, dia membawanya keluar dari dalam gudang tua. Chandra segera berlari dan bersembunyi ke samping gudang tua, saat melihat Gavlin berjalan kearahnya.


Chandra bersembunyi di samping gudang tua, dia mengamati Gavlin yang berjalan tenang sambil menggotong kantong plastik besar yang didalammya berisi potongan tubuh Peter.


Lalu, dengan langkah perlahan lahan, Chandra pun berjalan dan mengikuti Gavlin yang terus berjalan keluar dari halaman gudang tua tak terawat itu.


Chandra terkesiap kaget saat dia melewati mobil Peter yang parkir dihalaman gudang tua, dia melihat ke dalam mobil.


"Astagaaa !! Supir Peter juga di bunuh Gavlin." ujar Chandra, terkesiap kaget.


Chandra semakin bergidik ngeri pada Gavlin, lalu, dia segera pergi meninggalkan mayat supir yang ada di dalam mobil.


Di luar, Gavlin memasukkan kantong plastik besar berisi potongan tubuh Peter kedalam bagasi mobilnya.


Chandra mengintip dan bersembunyi di balik pagar pintu masuk halaman gudang tua tak terawat, dia mengamati Gavlin.


Gavlin menutup pintu bagasi mobilnya, lalu, dia berjalan tenang ke depan mobilnya. Gavlin hendak membuka pintu mobilnya, namun, dia tak jadi membukanya, dia berdiri disamping mobilnya, Gavlin tersenyum kecil.

__ADS_1


"Keluarlah Chandra, aku tau, kamu sembunyi di balik pagar itu." ujar Gavlin dengan sikap dinginnya.


Chandra terkesiap kaget, karena ternyata Gavlin tahu, kalau dia bersembunyi dan sedang mengawasi dirinya.


Mau tak mau, Chandra pun akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya, dia lantas berjalan pelan mendekati Gavlin yang berdiri di samping mobilnya.


"Apa yang akan kamu lakukan dengan potongan tubuh Peter?" tanya Chandra, memberanikan dirinya menatap wajah dingin Gavlin.


"Akan ku serahkan ke markas Inside!" tegas Gavlin.


"Markas Inside?! Kamu tau lokasinya?!" tanya Chandra.


"Akan ku cari dan ku lacak, aku yakin, bisa menemukan lokasinya!" jelas Gavlin.


Chandra diam sesaat, dia tampak berfikir, lalu, dia menatap lekat wajah dingin Gavlin yang berdiri dihadapannya.


"Aku tau lokasi markas Inside, biar aku kasih tau kamu. Izinkan aku membantumu. Aku juga mau membalaskan dendam kematian Papahku." ujar Chandra, menatap serius wajah Gavlin.


"Sebaiknya jangan ikut aku, Chan. Akan membahayakan nyawamu, dan aku gak akan bisa selalu menolongmu, kamu bisa terbunuh nanti!" ujar Gavlin serius.


"Organisasj Inside sangat berbahaya, mereka gak akan segan segan membunuh musuh musuhnya, kamu gak akan bisa menghadapi mereka." lanjut Gavlin menjelaskan.


"Sebaiknya, kamu tetap menjalani semua rencana yang sudah kamu lakukan selama ini, biarkan aku yang bekerja di lapangan, mengeksekusi para anggota Inside dan ketuanya, Binsar!" tegas Gavlin, serius.


"Baiklah, aku turuti perkataanmu, tapi, jika ada yang mau kamu tanyakan dan ketahui tentang Inside, kamu bisa bertanya padaku." ujar Chandra.


"Ya. Kamu masih berhutang berkas yang kamu bilang itu padaku." ujar Gavlin.


"Ya, nanti akan ku kasih padamu, bagaimana caranya kita berkomunikasi dan bertemu?" tanya Chandra, menatap wajah Gavlin yang berdiri di sampingnya itu.


"Nanti aku yang akan menemuimu, tunggu saja." ujar Gavlin menatap wajah Chandra.


"Baiklah." ujar Chandra, mengangguk, mengiyakan perkataan Gavlin.


"Kamu mau di sini, atau ikut denganku pergi dari sini?" tanya Gavlin menatap wajah Chandra.


"Aku ikut kamu, aku gak tau, dimana ini, lagi pula, aku gak punya kendaraan, dan jalan umum jauh dari sini, gak ada kendaraan yang lewat dari tadi di sekitar sini." ujar Chandra menjelaskan.


"Baiklah, ayo ikut." ujar Gavlin , tersenyum senang.


Gavlin lantas segera masuk ke dalam mobilnya, Chandra pun bergegas masuk ke dalam mobil Gavlin, dia duduk di jok depan, disamping Gavlin yang menyetir mobilnya.


Tidak lupa Gavlin dan Chandra memakai sabuk pengamannya, lalu, Gavlin menyalakan mesin mobilnya, dan sesaat kemudian, mobil Gavlin pun mulai berjalan, mereka berdua pergi meninggalkan gudang tua tak terawat dengan membawa potongan tubuh Peter di dalam bagasi mobilnya.


---

__ADS_1


Di gedung Residence, tepatnya di lantai paling atas, terlihat Masto berdiri sendiri di tempat itu, dia menunggu kedatangan Samsudin, yang membuat janji temu dengan dirinya di tempat tersebut.


Terlihat wajah Masto tegang, ada sedikit rasa khawatir muncul dalam dirinya, namun, dia berusaha menenangkan dirinya agar tak terlihat cemas, dia tetap berdiri diam menunggu kedatangan Samsudin yang sudah berjanji kepadanya untuk bertemu ditempat itu.


__ADS_2