
Gavlin menatap heran wajah sang Pria yang berdiri di hadapannya, Indri masih berdiri diam bersembunyi di belakang Gavlin sambil memegang kuat tangan Gavlin karena sangat ketakutan melihat Pria yang memegang pistol di hadapan Gavlin dan dirinya.
Pria yang sudah melepaskan topinya perlahan membuka masker penutup wajahnya, Gavlin menatap tajam sosok Pria itu yang sudah melepas masker dari wajahnya.
"Siapa kamu?! Apa kamu mengenalku?!!" Tanya Gavlin dengan tegas dan tatapan yang tajam.
Gavlin tetap waspada , dia melindungi Indri, menggenggam kuat tangan Indri, kekasih hatinya tersebut. Melihat Pria yang tak di kenalnya itu, Gavlin bersiap siap dengan segala hal yang terburuk, jika Pria itu akan menyerangnya secara tiba tiba.
"Kamu tenang, Vlin. Aku datang ke sini bukan untuk membunuhmu." ucap Pria itu tersenyum pada Gavlin.
"Lantas, apa maumu?" tanya Gavlin tegas.
"Kamu gak kenal Aku. Tapi Aku mengenal kamu dari seseorang yang menugaskan Aku untuk mengawasi dan melindungi selama kamu mengejar musuh besarmu Binsar di negara Prancis ini." ujar Pria tersebut, memberi penjelasan.
"Apa maksudmu? Siapa yang menugaskanmu? Gak mungkin pak Aamauri, karena gak ada anggota gank pak Aamauri sepertimu, Aku belum pernah melihatmu sebelumnya!" tegas Gavlin, masih tak percaya dan curiga.
"Ya. Aku bukan dari ganknya pak Aamauri. Perkenalkan. Aku Pablo, anggota gank mafia Cameero." ucap Pria yang ternyata bernama Pablo itu, sambil mengulurkan tangannya pada Gavlin.
Gavlin ragu menyambut uluran tangan Pablo, Dia diam berdiri menatap tajam wajah Pablo yang tersenyum menatapnya. Gavlin ragu dan masih penuh curiga. Pablo lantas menurunkan tangannya, karena paham, jika Gavlin enggan menjabat tangannya. Dan Dia tak persoalkan hal itu.
"Aku suruhannya pak Wicaksono. Kamu pasti tau nama itu." ungkap Pablo tersenyum pada Gavlin.
"Pak Wicaksono?!" Gavlin tersentak kaget.
"Ya, benar. Pak Wicaksono menghubungi pimpinanku, mereka bersahabat baik sudah puluhan tahun. Pak Wicaksono minta bantuan kami, untuk mencarimu, dan jika menemukanmu, Beliau meminta agar kami mengawasi dan melindungimu." ungkap Pablo, menjelaskan pada Gavlin.
Mendengar nama Wicaksono di sebut, Gavlin pun lantas lega dan menjadi tenang pada akhirnya. Dia juga sudah tidak lagi curiga pada Pablo.
"Sudah In. Kamu gak usah takut, Dia bukan musuhku." ujar Gavlin pada Indri.
Akhirnya, Indri menurut pada Gavlin, dia keluar dari persembunyiannya di belakang tubuh Gavlin dan berdiri di samping Gavlin sambil tetap memegang tangan Gavlin.
"Aku menemukanmu saat kamu nginap di hotel. Sejak itu, dengan menyamar, aku selalu mengawasi dan mengikuti kemanapun kamu pergi. Maaf, aku harus melakukan itu." ucap Pablo. Menatap serius wajah Gavlin yang berdiri dihadapannya sambil tetap berpegangan tangan dengan Indri.
"Saat kamu berada di dalam pameran busana Aku hadir. Dan Aku juga tau, saat kamu di pukul dan di buat pingsan Malik. Lalu, Malik membawa kamu kerumah dan mengikatmu, Aku tau semua." lanjut Pablo menjelaskan.
"Aku juga ada di restoran jepang menyamar sebagai pelayan restoran, saat terjadi perang antar gank kalian dengan Binsar dan Acheel. Aku tau semuanya." Jelas Pablo serius pada Gavlin.
Gavlin dan Indri hanya diam mendengarkan perkataan Pablo yang menjelaskan siapa sosoknya dan apa tujuannya menemui Gavlin.
"Aku juga yang melaporkan pada pak Wicaksono, bahwa kamu selamat dan masih hidup dari ledakan pesawat itu. Dan pak Wicaksono lega serta senang mendengarnya." tegas Pablo.
"Jadi pak Wicaksono tau, kalo Aku masih hidup?!" tanya Gavlin, menatap serius wajah Pablo.
"Ya. Awalnya pak Wicak mengira, kalo yang tewas dalam pesawat dan mayat tak di kenal yang ditemukan pihak polisi adalah kamu." ujar Pablo menjelaskan.
__ADS_1
"Tapi, setelah Aku kabari dan Aku jelaskan semuanya pada pak Wicak, Beliau lega dan jadi tenang saat tau kalo mayat itu bukan kamu dan kamu masih hidup hingga saat ini." lanjut Pablo, memberi penjelasan pada Gavlin.
"Syukurlah jika pak Wicak sudah tau. Aku juga sudah menelpon Beliau, mengatakan, kalo Aku baik baik aja, Aku gak mau Beliau khawatir pada diriku jika tau tentang kejadian ledakan pesawat itu." ungkap Gavlin pada Pablo.
"Iya. Dan semuanya aman sekarang. Pak Wicak tenang, karena tau kamu masih hidup." ujar Pablo, tersenyum senang menatap wajah Gavlin yang berdiri tegak di hadapannya.
Ya, Pablo inilah yang di maksud pak Wicaksono, saat Dia bersama Chandra datang waktu itu bertemu Andre di kantor polisi dan mengatakan bahwa Dia tahu kalau Gavlin masih hidup karena sudah di kabari oleh temannya dari gank mafia di negara Prancis.
"Aku tau, kamu sedang di ikuti orang yang mati itu." ujar Pablo, sambil menunjuk ke tanah, Mayat anaknya Guntur.
"Aku mengikuti kalian sampai ke pusat perbelanjaan lalu ke rumah ini, dan Aku tau, kalo orang itu berniat jahat, dan saat Dia menodongkan pistol , ingin membunuhmu, Aku langsung menembaknya, Aku hanya gak ingin kamu terluka olehnya." ungkap Pablo, menjelaskan dengan serius pada Gavlin.
"Terima kasih, sudah menyelamatkan nyawaku." ujar Gavlin serius dan bersungguh sungguh pada Pablo.
"Ya." Angguk Pablo, tersenyum.
"Aku akan menjelaskan semuanya padamu, apa yang terjadi di pesawat yang meledak itu." ucap Pablo, serius memberi tahu Gavlin yang berdiri tepat di hadapannya itu.
Indri masih Diam berdiri di samping Gavlin, sambil masih takuft takut melihat Pablo, dan mendengarkan obrolan Gavlin bersama Pablo.
Gavlin diam menatap tajam wajah Pablo yang menjelaskan semuanya dengan wajah yang serius dan bersungguh sungguh.
"Saat kamu di ikat di rumahmu, dan Malik membawa Binsar pergi, Aku sengaja gak membebaskan kamu dan memilih untuk mengikuti Malik bersama Binsar, Aku tau, Malik menggantikan posisimu membawa Binsar, dan Aku tau, Malik sedang merencanakan sesuatu pada dirinya dengan sengaja membuatmu pingsan." ujar Pablo menjelaskan.
"Aku mengikuti Malik dan Binsar hingga ke tempat di mana pesawat yang akan membawamu pergi bersama Binsar sudah menunggu." ungkap Pablo.
"Kamu tau Malik?!! Di mana Malik?!! Apa Malik mati terbunuh di dalam pesawat yang meledak itu?!!" tanya Gavlin, dengan wajah seriusnya menatap Pablo yang berdiri di hadapannya.
"Ya, Aku tau Malik." ucap Pablo, tersenyum penuh arti menatap wajah Gavlin.
Gavlin tegang, Dia ingin tahu tentang keberadaan Malik, apakah dia masih hidup atau benar benar sudah mati karena melakukan bom bunuh diri menggantikan Dia.
"Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu, Jika kamu gak keberatan, Mari ikut Aku ke suatu tempat." ujar Pablo, menatap serius wajah Gavlin.
"Mau kamu bawa kemana Aku? Dan apa yang mau kamu tunjukkan padaku?!" tanya Gavlin menatap heran wajah Pablo.
"Nanti juga kamu akan tau sendiri." ucap Pablo, tersenyum penuh arti menatap tajam wajah Gavlin yang heran dan bertanya tanya akan perkataan Pablo kepadanya itu.
Gavlin diam dan sesaat berfikir , Di satu sisi ada keraguan pada dirinya dengan sosok Pablo, tapi, setelah dia ingat kalau Pablo orang suruhan pak Wicaksono, Gavlin langsung saja mengabaikan kecurigaannya.
Di sisi lain, Gavlin penasaran, ada hal apa yang mau di tunjukkan Pablo kepada dirinya.
Gavlin akhirnya menghela nafas dan menatap tajam wajah Pablo yang berdiri di hadapannya itu.
"Baiklah. Aku bersedia ikut denganmu." ucap Gavlin, dengan raut wajahnya yang serius.
__ADS_1
"Okay. Mari kita pergi sekarang." ujar Pablo, tersenyum senang menatap wajah Gavlin.
"Ayo." Angguk Gavlin.
"Sebelumnya, bantu Aku membawa mayat ini, kita harus melenyapkannya, jangan sampai Polisi menemukan mayatnya di sini, kamu nanti akan mendapatkan masalah." ujar Pablo pada Gavlin.
"Ya." Angguk Gavlin.
Gavlin lantas memnantu Pablo menggotong mayat anak Guntur itu, dan membawanya pergi, Indri berjalan mengikuti mereka.
Mereka bertiga lantas pergi meninggalkan rumah yang baru di beli Gavlin, berjalan menuju mobil mereka.
Pablo masuk ke dalam mobilnya yang di parkir di pinggir jalan, mayat anaknya Guntur di masukkan ke dalam bagasi mobil Pablo, mobil Pablo parkir disamping rumah baru Gavlin. Sedangkan Gavlin dan Indri masuk ke dalam mobil milik Gavlin.
Tak berapa lama, Mobil Pablo mulai berjalan pergi meninggalkan rumah, lalu, mobil Gavlin pun lantas berjalan mengikutinya dari belakang.
"Kita mau kemana, Vlin?" tanya Indri, sambil menoleh pada Gavlin yang menyetir mobilnya.
Indri duduk di jok depan, disamping Gavlin yang menyetir mobil. Wajah Indri masih bingung karena Gavlin mengikuti mobil Pablo.
"Kita mau ke suatu tempat, In. Mengikuti Si Pablo itu." ujar Gavlin, sambil tetap menyetir mobilnya.
"Kamu percaya padanya, Vlin?" tanya Indri, menatap khawatir wajah Gavlin.
"Aku percaya padanya, In. Sebab, Dia orang suruhan Bapak angkatku yang bernama Wicaksono." ungkap Gavlin sambil melirik Indri dan tetap menyetir mobil.
"Bapak angkatmu?!" tanya Indri, menatap heran wajah Gavlin.
"Ya, In. Aku pernah menolong pak Wicaksono, saat pertama kali Aku datang dari Belanda untuk mencari pembunuh Bapak dan Ibuku, lalu, setelahnya, Aku tinggal di markas gank mafia pimpinan pak Wicaksono , dan kemudian, Aku pun lantas bergabung menjadi anggota gank mafianya, Dan juga, sekaligus Aku lalu di angkat menjadi anak angkat pak Wicaksono." ujar Gavlin dengan wajahnya yang serius menjelaskan pada Indri.
"Oh, begitu." Ujar Indri, mengangguk mengerti dan paham akan penjelasan Gavlin.
"Pak Wicaksono selama ini di penjara, In. Beliau menjadi korban fitnah Binsar, musuh besarku itu. Lalu, baru baru ini, pak Wicaksono di bebaskan dari penjara dan namanya dibersihkan dari segala macam tuntutan dan tuduhan kepadanya." lanjut Gavlin, menjelaskan pada Indri.
" Aku meminta bantuan teman polisiku untuk membebaskan dan membuat sidang ulang pak Wicak, dan semua berjalan lancar. Pak Wicak dibebaskan." ungkap Gavlin, menjelaskan pada Indri.
"Oh, Pantas tadi Aku sempat dengar, kata orang yang bernama Pablo itu, kalo Dia sengaja mengawasi kamu selama ini atas permintaan pak Wicaksono." ujar Indri, menatap wajah Gavlin yang terus menyetir mobilnya.
"Iya, In." ujar Gavlin.
"Jika ada waktu, kamu bisa bertemu dengan Pak Wicaksono, dan juga teman baikku yang bernama Chandra. Chandra itu yang membantuku mengungkap kejahatan Binsar dan organisasinya yang menjebak dan membunuh Bapakku dulu." ujar Gavlin, memberi tahu Gavlin.
"Iya, Vlin." Jawab Indri, tersenyum lembut menatap wajah Gavlin.
Gavlin tetap menyetir mobilnya, mobil melaju di jalan raya, mengikuti mobil Pablo di depannya, Diam diam, Gavlin menyimpan rasa penasaran pada Pablo, Hal apakah yang ingin di perlihatkan Pablo kepada dirinya?
__ADS_1
Sambil menyetir mobilnya, Gavlin terlihat berfikir keras dan bertanya tanya, Dia ingin segera sampai ditempat tujuan , agar Dia segera tahu, apa maksud dari perkataan Pablo tadi kepadanya.