VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Jafar Melarikan Diri


__ADS_3

Persidangan kedua kasus pembunuhan berantai dengan Jafar sebagai tersangka utama di gelar kembali, tampak Jafar duduk di kursi meja persidangan bersama pengacaranya yang duduk disampingnya.


Jaksa sedang menjelaskan bukti bukti pembunuhan yang dia dapatkan dari petugas penyidik kepolisian.


Jafar terlihat gelisah dalam duduknya, dia mengamati seluruh ruangan dan ke tempat duduk para pengunjung yang datang menyaksikan jalannya persidangan tersebut.


Diantara para pengunjung, hadir para keluarga dari korban korban pembunuhan Jafar, mereka semua sama, menuntut keadilan, dan agar hakim menjatuhkan hukuman mati pada Jafar yang sudah merampok dan membunuh keluarga mereka dengan cara yang keji dan sadis.


Jafar tampak gelisah, karena dia tak melihat Herman dan komplotannya di dalam ruang persidangan, Jafar pun lantas berbisik pada pengacaranya.


"Kenapa Herman dan yang lain gak hadir di persidangan? Kemana mereka?" tanya Jafar berbisik.


"Gak mungkin Herman dan komplotannya datang ke sini, mereka juga sedang jadi target buruan kepolisian." jelas pengacara juga berbisik.


"Terus, bagaimana denganku? Siapa yang akan membebaskanku?" tanya Jafar, mulai gusar.


"Gak ada, kamu sendirian yang membela dirimu, aku juga gak bisa apa apa." jelas Pengacara berbisik.


"Ada baiknya kamu mengakui perbuatanmu, agar aku meminta keringanan hukumanmu pada hakim nanti." tegas Pengacara, berbisik.


"Keparat ! Ngapain kamu nyuruh aku ngaku? tugasmu membelaku, membebaskanku dari vonis bersalah!" tegas Jafar, berbisik menahan geram dan marahnya.


"Aku gak bisa apa apa, sorry." ujar Pengacara berbisik.


Mendengar perkataan Pengacaranya yang tak mau berjuang membelanya dan berusaha membebaskannya dari segala tuntutan, Jafarpun tampak marah, dia geram pada Pengacaranya, karena merasa di khianati.


Jaksa lantas memanggil petugas tim forensik yang di jadikan saksi atas kasus pembunuhan berantai, Jafar tampak terdiam dan melamun.


Dia tidak lagi bersikap tenang seperti sebelumnya, tampak kerisauan dalam dirinya, dia cemas dengan keselamatan nyawanya, Dan Jafar juga kecewa, karena teman temannya tak ada yang membantunya.


"Dimana kamu bang Bram? Aku butuh pertolonganmu." Bathin Jafar bicara.


Jafar masih berharap ada bantuan dari Bramantio seperti dulu, dia sama sekali tak tahu, jika Bramantio sudah lama mati di bunuh Gavlin.


---


Di rumah bilik kayu, tampak Indri sedang membersihkan luka luka di seluruh badan Gavlin. Luka luka Gavlin sudah di obati, pelurunya sudah berhasil diambil oleh Sarono, lalu lukanya di jahit dan di obati serta di balut perban.


Gavlin masih tertidur dengan tubuhnya yang lemah.


Indri terus membersihkan pelan tubuh Gavlin yang penuh luka, Indri mengamati wajah Gavlin yang masih tak sadarkan diri itu.


Sarono datang dan menghampiri Indri yang sedang membersihkan tubuh Gavlin dan menggantikan perban luka Gavlin.


"Dia belum sadar juga?" tanya Sarono.


"Belum Pak. Udah seminggu lebih dia gak sadarkan diri, dan tubuhnya semakin lemah keliatannya." ujar Indri prihatin.

__ADS_1


"Ya, mudah mudahan dengan obat obatan alami yang Bapak buatkan, lukanya cepat sembuh, dan dia bisa sadar kembali dan pulih." ujar Sarono.


"Iya, Pak. Indri kasihan, dia seminggu lebih gak makan, minum obatpun harus di paksa, Kita harus membuka mulutnya." jelas Indri.


"Ya, doain aja dia, agar cepat sembuh." ujar Sarono.


"Bapak ke pasar dulu, mau jualan, udah kesiangan." ujar Sarono.


"Iya, Pak." jawab Indri.


Lantas, Sarono pun segera pergi meninggalkan Indri yang terus membersihkan luka luka dan tubuh Gavlin.


Sarono keluar dari dalam rumah bilik kayunya, dia berjalan menuju mobil tuanya, di dalam mobil sudah banyak sayur mayur dan lauk pauk untuk di jualnya ke pasar.


Sarono sehari harinya bekerja sebagai pedagang sayuran, jika dia tak berjualan di pasar, dia keliling kampung menjajakan dagangannya, Selain itu, Sarono mengisi waktunya dengan memancing dan berkebun, mereka punya tanah sepetak di belakang rumahnya, yang ditanami sayur mayur oleh Sarono.


Sementara Indri, gadis berusia 24 tahun, anak semata wayang Sarono, ibunya sudah lama meninggal karena sakit keras, sehari harinya Indri menjahit, dan itu dijadikannya mata pencarian dan pendapatannya, dia sudah memiliki pelanggan yang datang untuk dijahitkan baju olehnya. Terkadang, Indri ikut bapaknya kepasar untuk berjualan sayur mayur dan lauk pauk mentah.


Indri selesai membersihkan tubuh Gavlin, dia pun lantas berdiri dengan membawa baskom berisi air dan kain lap, lalu, dia pergi meninggalkan Gavlin sendirian, yang masih dalam keadaan tak sadarkan diri.


---


Di hari lainnya, sebuah mobil tahanan kejaksaan melaju di jalanan, di dalamnya, banyak para narapidana dengan tangan di borgol dan di jaga dua petugas tahanan kejaksaan.


Para narapidana tersebut di pindahkan dari tahanan kejaksaan ke tahanan khusus para narapidana kasus kasus kejahatan berat.


Diantara para narapidana terlihat Jafar.


Jafar tak mau di masukkan ke tahanan khusus kasus berat seperti pembunuhan dan perampokan, dia tahu, jika dia masuk ke dalam tahanan tersebut, nyawanya tak akan selamat, karena banyak musuhnya juga di dalam tahanan sana.


Jafar melirik sekitarnya, dia melihat para narapidana duduk diam di bangkunya masing masing, sementara dua petugas tampak berdiri di hadapan mereka sambil mengarahkan senapannya.


Tiba tiba, Jafar kejang kejang, dari mulutnya lantas keluar busa yang banyak, para narapidana panik melihat Jafar kejang kejang dan mengeluarkan busa banyak dari mulutnya, Dua petugas keamanan kejaksaan kaget melihat jafar kejang kejang.


Salah seorang petugas keamanan segera mendekati Jafar, dia ingin melihat secara dekat keadaan Jafar yang kejang kejang.


Saat Petugas keamanan tahanan kejaksaan mendekati Jafar, dengan cepat Jafar merangkul dan menekan kuat leher petugas dengan borgol yang mengikat kedua tangannya.


Jafar ternyata berpura pura, dia sudah menyiapkan semuanya, dengan triknya itu dia berhasil menipu petugas keamanan tahanan kejaksaan.


Jafar mencekik kuat leher si petugas keamanan tahanan kejaksaan, petugas itu megap megap, karena lehernya tercekik borgol dan dia susah bernafas.


Salah seorang petugas keamanan tahanan kejaksaan yang masih berdiri kaget melihat rekannya di cekik Jafar dan susah bernafas, dia pun marah pada Jafar.


"Hei, lepaskan ! Atau aku tembak!!" bentak Petugas keamanan tahanan kejaksaan pada Jafar.


Saat petugas itu mengarahkan senapannya ke arah Jafar yang mencekik rekannya, beberapa narapidana segera menyerang petugas yang memegang senjata, salah seorang narapidana merampas senjata dari tangan petugas, lalu dia menembakkan senapan ke tubuh petugas keamanan tahanan kejaksaan, petugas itu pun mati.

__ADS_1


Jafar lantas mematahkan leher petugas keamanan tahanan kejaksaan yang dicekiknya, leher petugas pun patah, lalu dia terkapar mati. Jafar lantas menjatuhkan tubuh petugas yang sudah mati ke lantai mobil.


Supir yang membawa para tahanan kaget, mendengar suara tembakan, dia hendak mengambil radio panggil untuk melaporkan kejadian tersebut, namun, belum sempat dia memberikan kabar, narapidana yang memegang senapan langsung menembaknya. Supir pun mati, rebah di atas stir mobil.


Jafar merogoh kantong baju dan celana petugas keamanan yang sudah mati, dia lantas mengambil kunci, lalu, dengan cepat Jafar membuka borgol ditangannya.


Mobil melaju dengan sendirinya, tanpa supir yang sudah ditembak mati. Laju mobil itu zig zag, dan dengan kecepatan tinggi, sebab, kaki si supir menginjak gas, saat ditembak.


Para narapidana pun oleng dan hampir terjatuh karena mobil melaju dengan cara zig zag di jalanan, lalu, mobil yang melaju dengan cepat itu menghantam sebuah tiang listrik, lalu depan mobil pun hancur. Mobil lantas berhenti.


Jafar memberikan kunci borgol pada salah seorang narapidana, narapidana itu cepat membuka borgol ditangannya, lalu, dia membantu narapidana lainnya melepaskan borgol borgol ditangan mereka.


Narapidana yang memegang senapan menendang pintu dengan sekuat tenaga, dia dibantu narapidana lainnya.


Pintu mobil pun terbuka lebar, dengan cepat, para narapidana keluar dari dalam mobil tahanan kejaksaan, mereka segera melarikan diri, mereka berpencar, saling lari menyelamatkan diri masing masing.


Jafar keluar dari dalam mobil dengan sikap tenang, dia lalu berjalan santai, menjauh dari mobil tahanan kejaksaan yang sudah hancur.


Jafar tampak senang, karena dia berhasil membebaskan diri dan keluar dari dalam mobil tahanan kejaksaan.


"Yuhuuuuuu !! Aku bebaaaas, aku bebaaaaassss !!" teriak Jafar sekencang kencangnya sambil merentangkan kedua tangannya lebar lebar.


Jafar senang, karena dia bebas, dan tak harus masuk ke dalam tahanan khusus para pembunuh.


Jafar melihat sekitarnya, suasana di sekitarnya sepi, para narapidana sudah tak ada yang terlihat, mereka sudah berhasil melarikan diri.


Lantas, Jafar pun segera lari, dia pergi meninggalkan tempat tersebut, untuk menyelamatkan dirinya.


Jafar terus berlari, dia menyusuri sawah sawah, lalu masuk ke jalan setapak dan ke gang gang rumah penduduk.


Jafar lantas mendatangi sebuah rumah, dia melihat, di depan rumah, ada pakaian yang sedang di jemur, Jafar pun ingin mengganti baju tahanannya, agar tak ada yang menyangka, kalau dia narapidana yang kabur melarikan diri.


Dengan cepat Jafar membuka baju tahanannya, lalu dia mengambil baju yang di jemur, kemudian, di pakainya baju itu, tidak lupa Jafar mengambil topi kupluk yang juga sedang di jemur diatas jemuran.


Setelah berganti baju dan memakai topi kupluknya, Jafar pun lantas segera lari, dia melarikan diri kembali, untuk mencari tempat persembunyian yang aman dari kejaran kepolisian nantinya.


Beberapa jam kemudian, pihak kepolisian mendapatkan laporan dari seorang pengendara mobil yang melaporkan bahwa mobil tahanan kejaksaan mengalami tabrakan dan hancur.


Pihak Penyidik kepolisian pun segera meluncur kelokasi yang di laporkan. Saat mereka tiba di lokasi, mereka kaget, karena pintu mobil tahanan kejaksaan itu hancur dan rusak, dan para narapidana tak ada satu pun di dalam mobil.


Mobil Gatot tiba di lokasi kejadian, sebagai komandan penyidik kepolisian, dia mendapatkan kabar, bahwa mobil tahanan kejaksaan mengalami kecelakaan.


Dan Gatot tahu, mobil itu membawa para narapidana, dan didalamnya termasuk Jafar, untuk itu Gatot cepat datang ke lokasi.


Gatot segera keluar dari dalam mobilnya, dia berjalan mendekati salah seorang petugas penyidik kepolisian yang berdiri di dekat mobil tahanan kejaksaan.


"Bagaimana?" tanya Gatot.

__ADS_1


"Semua napi melarikan diri, sepertinya mobil disabotase mereka, tiga petugas mati di bunuh dalam mobil!" ujar Petugas penyidik kepolisian.


"Siaaaall !! Jafar lolos lagi!!" ujar Gatot geram dan marah.


__ADS_2