VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Menjadi Abu


__ADS_3

Gavlin duduk di sawung yang ada di kebun belakang rumah gatot, dia menunggu hujan reda. Sementara itu, mayat Ronald masih terbaring diatas tanah dan di guyur hujan lebat dan deras.


Maya datang dari dalam rumahnya dengan membawa segelas air hangat di nampan, sambil mengenakan kain penghangat ditubuhnya, Maya menghampiri Gavlin yang duduk di sawung.


"Minum, Vlin, biar tubuhmu hangat." ujar Maya.


"Trima kasih, May." Jawab Gavlin.


Dia lantas mengambil gelas berisi air hangat dari nampan ditangan Maya. Lalu, Maya meletakkan nampan di atas meja kecil yang ada di dalam sawung, lalu, Mayapun duduk di samping Gavlin.


Gavlin meminum air hangat yang diberikan Maya, tatapan matanya masih terus melihat mayat Ronald ditanah.


"Kamu juga akan membakar kepala Ronald, Vlin?" tanya Maya, ingin tahu.


"Nggak, Kepala dan jantungnya akan kuberikan pada Bramantio." tegas Gavlin.


"Oh, begitu." Ujar Maya, mengangguk mengerti dan paham.


Hujan pun lalu berhenti, Gavlin melihat ke atas langit, tampak langit perlahan lahan mulai cerah, dan hujan pun semakin reda.


Gavlin memberikan gelas yang dia pegang pada Maya, Maya mengambil gelas dan meletakkannya di atas meja.


"Aku mau buat lubang pembakaran mayat monster itu, May." ujar Gavlin.


"Iya, Vlin. Cangkulnya ada dalam gudang itu." ujar Maya.


Maya menunjuk gudang yang ada disamping dalam kebun tersebut. Gavlin pun mengangguk, mengiyakan.


Lalu, dengan cepat, Gavlin pun pergi meninggalkan Maya, dia lantas segera masuk ke dalam gudang, Gavlin mengambil cangkul.


Lalu, Gavlin keluar dari dalam gudang, lantas, dia mendekati mayat Ronald.


Kemudian, Gavlin pun menggali tanah di dekat mayat Ronald, dia akan membuat lubang untuk membakar mayat Ronald.


Maya di dalam sawung duduk diam mengamati Gavlin yang sedang mencangkul, menggali tanah. Di hati kecilnya, Maya terenyuh, dia tak menyangka, jika Gavlin bisa sebuas itu.


Maya pun memaklumi diri Gavlin, karena memendam dendam dihatinya sejak kecil hingga saat ini, Gavlin terkadang berubah menjadi seperti iblis yang sangat mengerikan.


Maya tak sanggup melihat kemarahan Gavlin seperti tadi, saat dia menghabisi dan membunuh Ronald. Masih terlintas dengan jelas di benak Maya, saat Gavlin mencabik cabik perut Ronald.


Kilatan ingatan itu terus melintas dan membekas dalam benaknya, dia tahu, Gavlin, memiliki kepribadian lain dalam dirinya, jika Gavlin manusia normal, semarah apapun dia, semurka apapun, dia tak akan melakukan hal seperti tadi, dia pasti tidak akan mencabik dan mengeluarkan seluruh isi perut Ronald yang sudah mati.


Maya tahu, itu semua hanya bisa dilakukan orang yang memiliki kepribadian ganda, seperti halnya Ronald, Maya akhirnya tahu, bahwa Gavlin sebenarnya seorang psikopat sejati.


Namun, Gavlin masih memiliki dan bisa merasakan cinta dan kasih sayang serta kesedihan. Berbeda dengan psikopat lainnya, yang tak bisa merasakan kesedihan atau semua perasaan lainnya.


Dan itu satu poin penting buat diri Gavlin, karena Gavlin memang telah mencintai Maya sejak mereka kecil dulu, cinta itu tak pernah pudar, bahkan menghilang, walau Gavlin berubah menjadi psikopat. Gavlin tetap mencintai Maya setulus hatinya.


Gavlin selesai menggali lubang di tanah, lubang itu lumayan dalam di gali Gavlin. Lalu, dia meletakkan cangkul di samping lubang.


Gavlin berjongkok di samping mayat Ronald yang tanpa kepala dan tubuh tercabik cabik, dia menggeledah celana Ronald.


Lalu, dia menemukan ponsel di kantong celana Ronald, Gavlin pun mengeluarkan ponsel dari dalam kantong celana Ronald, lalu, dia mengambil dan menyimpan ponsel milik Ronald kedalam kantong celananya.


Gavlin kemudian menyeret mayat Ronald, lalu, dimasukkannya mayat Ronald ke dalam lubang yang dia gali. Mata Gavlin melihat pada potongan tangan Ronald yang tergeletak ditanah, tidak jauh dari lubang.

__ADS_1


Gavlin pun mengambil potongan tangan Ronald, lalu, dimasukkannya ke dalam lubang yang dia gali tadi.


Kemudian, Gavlin berbalik badan, dia lalu berjalan ke arah gudang untuk mengambil bensin, saat dia mengambil cangkul, di dalam gudang, dia melihat ada sebotol bensin.


Lalu, di dalam gudang, Gavlin melihat ada sebotol bensin, bensin itu biasa di gunakan Ronald untuk membakar sampah dan daun daun kering di kebunnya.


Gavlin pun mengambil botol berisi bensin, lalu dia segera keluar dari dalam gudang, Gavlin mendekati Maya yang duduk di sawung menunggunya.


"May, kamu punya korek?" tanya Gavlin.


"Ada, Vlin, sebentar, aku ambil di dalam rumah." ujar Maya.


Gavlin mengangguk, mengiyakan, lalu, Maya pun berdiri, diambilnya nampan, lalu, Maya pun bergegas keluar dari sawung.


Maya berjalan masuk ke dalam rumahnya, Gavlin berdiri menunggu di depan sawung. Beberapa saat kemudian, Maya pun keluar dari dalam rumahnya, sambil membawa korek gas di tangannya.


"Ini koreknya, Vlin." ujar Maya.


Gavlin mengambil korek gas dari tangan Maya, lalu, dia berbalik badan dan segera berjalan ke arah lubang yang dia gali.


Maya pun berjalan mendekati Gavlin. Gavlin lantas menuangkan botol berisi bensin ke mayat Ronald yang ada di dalam lubang.


Seluruh tubuh Ronald yang telah menjadi mayat diguyur bensin oleh Gavlin, kemudian, Gavlin mematahkan sebuah ranting pohon, lantas, dibalurinya ranting kayu dengan bensin, setelah bensin habis, Gavlin membuang botolnya.


Lalu, Gavlin membakar ranting kayu yang sudah di lumurinya bensin, kemudian, ranting mulai terbakar. Dengan cepat, Gavlin membuang ranting yang sudah terbakar ke dalam lubang.


Seketika, Api pun menjalar, membakar tubuh Ronald yang telah menjadi mayat, Asap tebal mulai terlihat, dari pembakaran mayat Ronald.


Maya menutup hidungnya, karena bau terbakar yang begitu menyengat. Maya merasa mual dan ingin muntah, dia tak tahan berdiri lama di dekat pembakaran mayat Ronald.


Sementara itu, Gavlin tampak berdiri tenang di dekat lubang, dia terus menatap kedalam lubang, api membesar dan terus membakar seluruh tubuh Ronald.


Gavlin sama sekali tak terganggu dengan bau terbakar dan yang menyengat, serta asap tebal , Asap berasal dari mayat Ronald yang mulai hangus terbakar.


Satu jam berdiri menunggu di dekat lubang, akhirnya, tubuh Ronald pun sudah habis terbakar, dan berubah menjadi debu debu di dalam lubang.


Tak ada yang tersisa dari mayat Ronald, semua sudah habis terbakar dan menjadi abu. Gavlin tersenyum sinis.


Lalu, dengan sikap dingin dan tenang, dia mengambil cangkul, kemudian, mulai menimbun lubang dengan tanah yang ada di sekitar lubang.


Gavlin pun menutup lubang pembakaran mayat Ronald. Maya kembali keluar dari dalam rumahnya, dia berdiri di dekat sawung, melihat Gavlin yang sedang menimbun lubang.


Setengah jam berlalu, Gavlin selesai menutupi lubang, abu Ronald pun sudah tertimbun tanah. Lalu, Gavlin membawa cangkul dan menyimpannya ke dalam gudang.


Kemudian, Gavlin berbalik ke dekat lubang, Gavlin lantas mengambil potongan kepala dan jantung Ronald, kemudian, dia membawanya ke dalam rumah Maya.


Maya ngeri melihat kepala dan jantung Ronald yang ditenteng Gavlin, Maya memilih lebih dulu masuk ke dalam rumahnya.


Di dalam dapur, Gavlin mencari cari sesuatu, kepala dan jantung Ronald diletakkannya di westafel. Maya mendekati Gavlin.


"Cari apa, Vlin?" tanya Maya heran.


"Karung, atau kain bekas, buat bungkus kepala dan jantung monster itu!" tegas Gavlin.


"Oh, sebentar." ujar Maya mengerti.

__ADS_1


Maya pun bergegas menuju lemari yang ada di dapur, dia lantas membuka pintu lemari, Maya berjongkok, dia kemudian mengambil beberapa kain bekas dan karung bekas beras.


Maya kemudian menutup pintu lemari, lalu, dia berdiri dan mendekati Gavlin.


"Ini, Vlin." ujar Maya.


Gavlin pun mengambil kain kain bekas dan karung dari tangan Maya. Lalu, dengan kain, dia membungkus kepala Ronald.


Setelah dia membungkus dan mengikat potongan kepala Ronald dengan kain, lalu, dia membungkus jantung Ronald dengan kain bekas lainnya, dan di ikatnya kain yang membungkus jantung Ronald.


Setelah itu, Gavlin pun memasukkan potongan kepala dan jantung yang sudah dibungkus kain ke dalam karung. Lalu, diletakkannya karung di lantai.


Gavlin kemudian membersihkan bekas bekas darah di atas westafel, setelah selesai membersihkan wastafel, Gavlin membawa karung berisi kepala dan jantung Ronald ke depan rumah Maya.


Maya berjalan dibelakang Gavlin, dia mengikuti Gavlin.


Gavlin lantas meletakkan karung di teras rumah Maya. Lalu, dia kembali masuk ke dalam rumah.


Gavlin duduk di sofa ruang tamu rumah Maya, kemudian, diambilnya ponsel Ronald dari dalam kantong celananya.


Maya lantas duduk di samping Gavlin, dia melihat ponsel yang ada ditangan Gavlin.


"Hape manusia laknat itu, Vlin?" tanya Maya.


"Iya." ujar Gavlin.


"Buat apa kamu ambil?" tanya Maya heran.


"Aku mau liat, apa didalam hape ini, ada nomor telepon Bramantio. Kalo ada aku akan menghubungi Bramantio, berpura pura menjadi Ronald." Ujar Gavlin.


"Bramantio kan belum tau, kalo Ronald udah mati." jelas Gavlin, dengan wajahnya yang serius.


"Oh, begitu." ujar Maya, mengangguk mengerti dan paham.


Gavlin lantas mau membuka layar ponsel Ronald, namun, ponsel tak bisa di buka, karena Ronald memakai kode khusus dan sidik jarinya.


Gavlin pun geram, karena dia tak bisa membuka dan melihat isi ponsel milik Ronald, Maya heran melihat wajah Gavlin seperti kesal itu.


"kenapa, Vlin?" tanya Maya, heran.


"Monster itu mengunci hapenya, dia pake kode dan sidik jari, jadi, aku gak bisa membukanya, sial!" ujar Gavlin geram dan marah.


Maya terdiam dan sesaat berfikir, lalu, dia menatap wajah Gavlin yang tampak marah itu.


"Serahkan hapenya sama aku." ujar Maya.


"Kamu bisa, buka kodenya?" tanya Gavlin.


"Kan pake sidik jari, sementara semua tubuh monster itu udah ku bakar, tangannya yang ku potong juga aku bakar tadi!" tegas Gavlin.


"Tenang aja, akan kubawa ke teman aku, dia ahli membongkar kode rahasia ponsel orang!" tegas Maya, dengan wajah serius.


"Kamu beneran, punya teman yang bisa buka ponsel ini tanpa sidik jari si monster Ronald itu?" ujar Gavlin.


"Yakin, pokoknya kamu tunggu aja. Nanti juga Ponsel ini bisa di buka." jelas Maya, tersenyum senang.

__ADS_1


Maya meyakinkan Gavlin, akhirnya, Gavlin pun menuruti perkataan Maya. Gavlin menyerahkan ponsel Ronald pada Maya.


__ADS_2