VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Menghindar dari Maut yang Mengancam


__ADS_3

Maya terlihat sedang duduk di kursi teras rumah Gavlin, wajahnya terlihat murung.


Maya tak bisa konsentrasi bekerja, dia hanya satu jam berada di tempat kerjanya, setelah itu dia pun pergi dan bolos kerja.


Wajah Maya murung, dia kesal, dia masih tak percaya Ayahnya sudah membentak dia hanya karena dia dekat dan menjalin hubungan dengan Gavlin.


Maya heran, mengapa Ayahnya tiba tiba melarang dia berhubungan dengan Gavlin setelah Ayahnya tahu, bahwa Gavlin adalah Yanto, teman masa kecilnya, dan Yanto yang di tolong Ayahnya saat kecil dulu.


Maya sengaja datang kerumah Gavlin, sebab, hanya Gavlin seoranglah yang bisa menghibur dirinya, membuat nyaman hatinya.


Namun, Maya tak bertemu Gavlin, Gavlin tak ada di rumahnya pagi itu.


Saat Maya hendak beranjak pergi dari rumah Gavlin, datang Gavlin dari arah luar, Gavlin berjalan masuk kehalaman rumahnya.


Melihat Maya duduk diteras rumahnya, Gavlin tersenyum, dia senang melihat Maya yang datang menemuinya.


"Hai May." Sapa Gavlin dengan ramah dan bersikap lembut.


"Kamu dari mana Vlin?" Tanya Maya.


"Aku habis belanja keperluanku di Mini Market." Ujar Gavlin tersenyum.


"Oh." Angguk Maya.


"Kamu kenapa May?" Tanya Gavlin.


Dia heran melihat wajah Maya murung dan terlihat kesal.


"Aku masih kesal sama Ayahku karena kemaren dia membentakku." Ujar Maya kesal.


Gavlin tersenyum, dia pun mengerti dan paham penyebab Maya murung dan terlihat kesal.


Gavlin meletakkan belanjaannya di atas meja, lalu dia pun duduk di kursi, disamping Maya.


"Aku heran sama Ayahku Vlin, kenapa sih tiba tiba dia ngelarang aku berhubungan dengan kamu setelah dia tau kalo kamu itu Yanto?" Ujar Maya sewot.


"Padahal kan Ayah yang nolong kamu waktu kecil dulu, terus, sebelumnya Ayahku itu suka sama kamu, hampir tiap hari dia nanyain kamu." Ujar Maya jengkel.


Maya menumpahkan perasaan kesal dan jengkelnya terhadap Ayahnya.


Gavlin hanya tersenyum mendengarkan cerita Maya, Dia tahu, Ayah Maya bertanya tentang dia bukan karena Ayah Maya suka padanya, namun karena Ayah Maya penasaran dan curiga akan jati diri dia sebenarnya.


Dan Gavlin tahu, setelah Ayah Maya mengetahui bahwa dia adalah Yanto, anak kecil yang rumahnya di bakar, dan dia di selamati Ayah Maya. Ayah Maya pun melarang Maya dekat dengannya.


Sebenarnya Gavlin memahami ketakutan Ayah Maya terhadap Maya jika dia terus dekat dengannya.


Sebab, Gavlin pun tahu, jika musuh musuhnya tahu Maya pacarnya, pastilah musuh musuhnya akan menjadikan Maya sandera, agar dia menyerah.


Namun, Gavlin tak bisa pergi dan menjauhi Maya.


Setelah bertahun tahun dia mencari Maya, memendam rasa rindu dan cintanya, lalu berhasil menemui Maya, cintanya yang lama hilang, dia di suruh meninggalkan Maya?


Sampai kapanpun Gavlin tak kan pernah meninggalkan Maya, dia tak mau kehilangan Maya lagi, gadis yang sangat di cintainya sejak kecil dulu hingga sekarang.


"Apa sih yang terjadi denganmu dan Ayahku Vlin?" Tanya Maya pada Gavlin.


"Aku gak tau May." Ujar Gavlin tersenyum.


Dia sengaja menutupi apa yang sebenarnya yang menyebabkan Ayah Maya takut jika Maya terus di dekat Gavlin.


Gavlin tak mau cerita, dia tak ingin Maya tahu, jika dia sedang merencanakan balas dendamnya.


Gavlin tak ingin membuat Maya khawatir dan takut jika dia tahu, bahwa dirinya ingin membalas dendam.


Wajah Maya masih terlihat kesal, dia pun masih murung, Gavlin tersenyum melihat wajah murung Maya.


Gavlin pun merangkul tubuh Maya, dia menyandarkan kepala Maya dipundaknya.


"Bersandarlah di pundakku sayang, sampai kamu menemukan titik kenyamananmu. Karena sudah tugasku lah membuatmu merasa nyaman." Ujar Gavlin tersenyum.


Maya pun bersandar di pundak Gavlin, memang benar, saat dia bersama Gavlin, berada dalam dekapan dan pelukan Gavlin, Maya merasa nyaman dan tenang.


Seperti saat ini, wajahnya yang tadi murung dan kesal, sudah berubah menjadi senang.


"Terima kasih Vlin." Ujar Maya bersandar di pundak Gavlin.


Gavlin hanya mengangguk mengiyakan dan tersenyum.


"Saat Ayahmu memintaku pergi dan menjauh darimu, sebenarnya ada seribu alasan lagi yang bisa membuatku meninggalkanmu sendiri di sini May, tetapi hanya ada satu kalimat yang membuatku tetap berada di sini. Yaitu aku mencintaimu dengan seluruh hatiku." Ujar Gavlin tersenyum.


Maya pun tersenyum penuh kebahagiaan dihatinya mendengar perkataan Gavlin untuknya.


"Kehadiranmu di hidupku membuatku berpikir May, bahwa aku akan menghadapi tantangan yang ada dalam hidupku. Terima kasih sayang, karena kamu sudah memberiku kekuatan." Ucap Gavlin tersenyum.


Maya pun mengangkat kepalanya dari pundak Gavlin, lalu dia menatap wajah Gavlin.


Maya tersenyum senang, tatapan matanya berbinar binar penuh cinta memandangi wajah Gavlin yang tersenyum mesra pada dirinya.


"Vlin, Kebahagianmu adalah segalanya untukku, dan kebahagiaanmu adalah hidup dan juga matiku." Ucap Maya tersenyum penuh cinta.


"May, aku pernah menjatuhkan setetes air mata di Selat Sunda, tapi, setelah aku berhenti menjatuhkan air mataku, saat itulah aku menemukanmu di hidupku." Ungkap Gavlin tersenyum bahagia.


Maya pun senang, dia lantas memeluk erat tubuh Gavlin, Gavlin pun membalas pelukan Maya.

__ADS_1


Gavlin memeluk erat tubuh Maya, dia menumpahkan rasa rindu dan cinta dihatinya pada Maya.


Begitu juga dengan Maya, dia pun mencurahkan kasih sayangnya terhadap Gavlin, dia bahagia, bisa bersama Gavlin lagi, setelah mereka bertahun tahun terpisah sebelumnya.


"Bagiku, cinta gak selalu bisa diukur oleh seberapa lama aku menunggumu, tetapi, bagaimana aku dapat memahami apa yang aku tunggu." Ucap Gavlin tersenyum.


Mereka masih berpelukan dengan mesra.


Gavlin lantas melepaskan pelukannya, Maya pun juga melepaskan pelukannya.


Mata mereka beradu pandang, tatapan mata mereka berbinar binar penuh cinta saling pandang.


"May, aku tahu kamu mencintaiku ketika melihat matamu yang bersinar cerah saat menatapku." Ucap Gavlin tersenyum.


"Dan aku pun tau, jika kamu memendam rasa rindu dan cintamu padaku selama ini." Ucap Maya tersenyum bahagia.


Gavlin dan Maya kembali saling menatap penuh kelembutan, lalu gavlin pun mengecup bibir Maya dengan lembut.


Maya tak mau Gavlin hanya mengecup bibirnya, dia menahan kepala Gavlin, agar Gavlin tak melepaskan bibirnya dari bibir dia.


Maya pun lantas mengulum bibir Gavlin dengan lembut, bibir mereka pun berpagutan, saling *******.


Gavlin dan Maya mencurahkan kasih sayang dan cinta mereka.


Untuk beberapa saat mereka terhanyut dalam cumbuan asmara, lalu, Maya pun melepaskan bibirnya dari bibir Gavlin.


Maya menatap wajah Gavlin, dia tersenyum bahagia, Gavlin pun tersenyum, ada cinta di mata Gavlin pada Maya.


"May, Kata-kata ungkapan perasaan cinta kita akan tersimpan di suatu tempat rahasia di surga." Ucap Gavlin.


"Kelak, kata kata itu akan berjatuhan bagaikan hujan, lalu tersebar, dan misteri cinta kita akan tumbuh bersemi di segala penjuru dunia." Ungkap Gavlin.


Maya semakin senang dan merasa bahagia mendengar kata kata puitis Gavlin.


"Vlin, aku membutuhkanmu, karenanya, aku mencintaimu." Ucap Maya tersenyum senang.


Gavlin kembali memeluk Maya, Mayapun rebah di dada Gavlin, dia membiarkan tubuhnya di peluk erat Gavlin.


"Pelukmu adalah pulang yang kutuju dari kegilaan paling tajam." Ucap Maya sambil memeluk erat tubuh Gavlin.


"Aku hanya ingin kamu tahu May, bahwa kamu sangat spesial. Dan satu-satunya alasanku memberitahumu adalah, karena aku gak yakin ada yang sudah pernah memberitahumu sebelumnya." Ucap Gavlin.


"Sejak pertama kali mata ini bertemu dengan matamu saat mobilmu mogok dulu, mataku ini udah bicara, jika kamu lah pendamping hidupku yang sudah lama ku cari." Ucap Gavlin masih memeluk Maya.


"Mata ini gak ingin melihat mata orang lain di setiap pagi kecuali matamu yang indah dan bersinar itu. Karena, mata ini tahu, di balik matamu yang sendu itu, ada cinta yang sangat dalam pula kepadaku.” Ucap Gavlin penuh cinta dihatinya.


Maya pun melepaskan pelukan Gavlin, Maya lalu tersenyum bahagia menatap wajah Gavlin yang bersinar penuh cinta.


"Kamu mengajarkan aku bahagia Vlin." Ucap Maya tersenyum.


Tatapan matanya penuh kebahagiaan menatap wajah Gavlin yang juga tersenyum mesra padanya.


"May, temani aku makan yuk." Ujar Gavlin.


"Ayo." Jawab Maya tersenyum.


"Sebentar May, aku simpan dulu belanjaanku." Ujar Gavlin.


Maya mengangguk mengiyakan, Gavlin lalu mengambil belanjaannya dari atas meja, lalu dia membuka pintu dan masuk ke dalam rumahnya.


Maya masih duduk di kursinya, dia diam menunggu Gavlin yang sedang menyimpan belanjaannya.


Sesaat kemudian Gavlin pun keluar, dia lalu menutup dan mengunci pintu rumahnya.


Lalu Gavlin menyimpan kunci pintu dibawah vas bunga yang ada di samping pintu, di teras rumah Gavlin.


"Kamu gak takut ada yang tau kamu nyimpan kunci di vas bunga itu Vlin?" Tanya Maya.


"Nggak May, selama ini gak ada yang tau, baru kamu yang tau aku nyimpan kunci selalu dibawah vas bunga itu." Ujar Gavlin tersenyum.


"Oh." Angguk Maya.


"Yuk ah, kita berangkat." Ujar Gavlin dengan wajah senangnya.


"Ayo." Jawab Maya bersemangat.


Lantas, mereka berdua pun pergi meninggalkan rumah Gavlin untuk makan bersama.



Siang hari, banyak petugas Polisi dan Tim Ahli Forensik di dalam ruang kerja Wijaya.


Diantaranya, ada juga Gatot dan Teguh yang sedang berdiri bersama Wijaya.


Gatot dan tim Kepolisian serta Tim Ahli Forensik datang ke kantor Wijaya, sebab Wijaya sendiri yang melaporkan tentang kepala Samsul yang di kirim padanya.


"Saya gak tau, apa maksudnya mengirimkan kepala Samsul, pimpinan Wolf genk itu pada saya." Ujar Wijaya dengan wajah takut.


"Jadi Bapak kenal dengan korban?" Tanya Gatot.


"Ya, saya kenal, seperti yang sebelumnya saya bilang, saya kenal Samsul itu dari Bramantio, Bram yang mengenalkannya saat kami mengadakan pertemuan di restoran membahas bisnis." Ungkap Wijaya.


Gatot pun mengangguk angguk mengerti dan paham.

__ADS_1


"Apakah saya bisa mendapat perlindungan dari pihak kepolisian?" Tanya Wijaya cemas.


"Untuk saat ini kami belum bisa memberikan keamanan pada Bapak. Sebab, tidak ada ancaman langsung pada Bapak." Ucap Gatot.


"Gak ada ancaman? Orang itu mengirim kepala Samsul, apa itu bukan ancaman buat saya?" Tanya Wijaya kesal dan marah.


Dia marah pada Gatot yang mengatakan tidak ada ancaman pada dirinya. Wijaya sebenarnya marah karena takut, dia takut, menjadi sasaran pembunuhan berikutnya.


"Kalo Bapak merasa terancam sebab di kirim kepala Samsul, artinya Bapak terlibat masalah dengan Pelaku ?!" Tanya Gatot.


Gatot menatap tajam wajah Wijaya, dia ingin tahu kebenaran dari Wijaya.


Wijaya terlihat gugup mendengar perkataan Gatot padanya, dia berusaha untuk bersikap tenang.


"Aah, sudahlah ! Cepat urus dan bawa pergi Kepala itu !!" Ujar Wijaya marah dan kesal.


"Baik Pak." Ujar Gatot.


"Jika sudah selesai menyelidiki, suruh mereka pergi, tinggalkan tempat ini." Ujar Gatot pada Teguh.


"Siap Pak !" Jawab Teguh memberi hormat.


Gatot lalu keluar dari ruang kerja Wijaya, dia pergi begitu saja meninggalkan Wijaya yang tampak gemetar ketakutan duduk di kursi meja kerjanya.


Gatot berjalan sambil berfikir keras, dia memikirkan kemana tubuh Samsul, mengapa hanya kepalanya saja yang di kirimkan ke Wijaya?


Gatot bertanya tanya didalam hatinya, ada rasa penasaran dalam dirinya atas pembunuhan Samsul.


Gatot pun pergi meninggalkan kantor Wijaya.


Teguh mendekati tim ahli Forensik dan petugas kepolisian yang ada diruangan itu.


Teguh berbisik bisik pada mereka, lantas, mereka pun mengangguk pamit pada Wijaya yang terdiam di kursinya.


Teguh bersama tim kepolisian dan tim ahli Forensik keluar dari dalam ruang kerja Wijaya.


Tim Ahli Forensik membawa kepala Samsul untuk di teliti lebih lanjut lagi nantinya.


Wijaya tampak berfikir, dia hendak mengambil telepon yang ada di atas meja kerjanya.


Saat dia memegang gagang telepon, dia lantas meletakkan gagang telepon tersebut.


Wijaya terlihat ragu, tadinya dia berniat mau menelpon Bramantio, memberi tahu Bramantio tentang kematian Samsul.


Namun, Wijaya ragu Bramantio akan menanggapi dia yang memberi kabar tentang Kepala Samsul, Pemimpin Wolf Genk.


Sebab, Wijaya menyadari, bahwa saat ini, dirinya dan Bramantio sedang bermusuhan.


Dia tak ingin, Bramantio semakin menyudutkan dirinya, bahkan melecehkannya sebab dia mengadu pada Bramantio tentang kepala Samsul.


Wijaya masih tak habis pikir, apa tujuan si pelaku mengirimkan kepala Samsul padanya, dia bingung, apa hubungannya Samsul dengan dia dan pelaku.


Mengapa dirinya di libatkan atas permusuhan pelaku dan Samsul? Wijaya tak habis habisnya berfikir.


Wijaya tak bisa menemukan jawaban dari semua pertanyaan yang dia pikirkan saat ini.


Wijaya resah, dia gelisah, wajahnya tegang, panik, penuh ketakutan.


Wijaya menjadi tidak tenang dan tidak nyaman sejak mendapatkan kiriman kepala Samsul.


Hari harinya pun semakin tertekan, dia ketakutan, setiap hari dan setiap saat.


Dimana pun, dan kemanapun dia pergi dan berjalan, dia selalu di bayang bayangi ketakutan yang begitu besar.


Ada ketakutan yang begitu besar dalam diri Wijaya, dia takut dirinya di bunuh.


Wijaya belum mau mati, dia masih ingin hidup lebih lama lagi.


Namun, dia juga tahu dan sadar, bahwa dirinya tak akan bisa menghindari dari maut yang mengejarnya.


Samsul yang seorang pimpinan Mafia berbahaya dan buas saja bisa di bunuh Pelaku, apalagi dia.


Dirinya hanya seorang pebisnis, yang tak pernah berkelahi, tak punya ilmu bela diri.


Satu satunya alat untuk menjaga dan melindungi dirinya adalah Pistol miliknya.


Wijaya lantas membuka laci meja kerjanya. Dia lalu mengambil pistol dari dalam laci.


Wijaya memeriksa Pistol, Pistol tersebut masih terisi penuh peluru.


Wijaya lantas memegang pistolnya, wajahnya tegang, dia bertekat, mulai saat ini, dia tak akan pernah meninggalkan pistolnya di meja kerjanya.


Dia akan selalu membawa pistol tersebut bersamanya, Wijaya pun bersiap siap, dia mulai berhati hati dalam setiap langkahnya.


Dengan pistol yang ada padanya, Wijaya sedikit tenang, wijaya berfikir, jika dia di serang nanti, setidaknya dia masih bisa memberi perlawanan.


Dia akan menembak pistol tersebut pada orang yang menyerangnya nanti.


Wijaya menarik nafasnya dalam dalam, tatapan matanya tajam jauh ke depan, wajahnya masih terlihat menunjukkan rasa takut yang besar.


Ya, Wijaya takut mati, dia takut, dirinya di bantai dan di bunuh secara sadis, seperti Samsul yang mati dan di bunuh dengan sadis.


Wijaya tak ingin, kepalanya di penggal, dan dia belum mau mati. Dia akan berusaha melawan jika sewaktu waktu orang tersebut datang dan menyerang dia.

__ADS_1


__ADS_2