
Gavlin datang menemui Pak Aamauri di markas gank Mafia 'Seira Costa' . Mereka bertemu di ruang kantor Aamauri.
Gavlin duduk di sofa tamu yang ada di dalam ruang kantor, dan di hadapannya, Aamauri juga duduk di sofa.
"Bapak sudah menugaskan anggota kita buat melacak keberadaan orang yang mengintai rumah calon mertuamu, Vlin. Tapi, sampai saat ini, mereka belum berhasil menemukan orang itu." ujar pak Aamauri, menjelaskan dengan wajahnya yang serius pada Gavlin.
"Ya, Pak. Saya hanya penasaran, siapa orang itu, dan apa maksudnya mengintai rumah Indri, kekasih saya itu." ujar Gavlin, dengan wajah seriusnya.
"Mungkin saja musuhmu masih ada yang tersisa, dan Dia tau kalo kamu masih berada di negara Prancis ini, lalu mencoba untuk membunuhmu, Vlin." ujar pak Aamauri, mencoba mengambil kesimpulan dan pendapatnya sendiri.
"Entahlah, Pak. Setau saya, semua musuh musuh saya sudah habis terbunuh, gak ada yang tersisa." ucap Gavlin serius.
"Ya, siapa tau aja, Vlin. Yang jelas, kamu jangan sampai lengah, dan tetap berhati hati, siapa tau, Orang itu secara tiba tiba datang menyerangmu." ujar Pak Aamauri, mengingatkan Gavlin.
"Ya, Pak. Saya akan waspada ." ujar Gavlin, menatap serius wajah pak Aamauri yang duduk di hadapannya.
"Bapak akan meminta bantuan pada beberapa gank mafia lainnya, biar mereka juga ikut menyelidiki dan mencari tau, apakah memang ada orang yang ingin kamu mati dan menyuruh pria misterius itu untuk mengintaimu." ujar pak Aamauri.
"Mudah mudahan saja, Orang tersebut segera diketahui jati dirinya, agar kamu bisa membuat perhitungan dengannya." tegas pak Aamauri.
"Ya, Pak." Angguk Gavlin.
"Oh, ya Vlin. Jadi, kapan acara pernikahanmu akan berlangsung?" tanya pak Aamauri, menatap lekat wajah Gavlin.
"Bulan depan, Pak. Hanya tanggalnya saja yang belum saya dan indri tetapkan." jelas Gavlin.
"Nanti saya akan kabari Bapak." Lanjut Gavlin.
"Ya, Vlin. Bapak senang kamu akhirnya menikah. Dan Bapak akan segera menimang cucu, anakmu nanti yang menjadi cucuku." ujar pak Aamauri, tersenyum senang menatap wajah Gavlin.
"Iya, Pak." ujar Gavlin, ikut tersenyum juga menatap wajah pak Aamauri yang tampak senang itu.
"Baiklah, Pak. Kalo begitu, saya pamit pulang dulu, ada yang mau saya persiapkan berhubungan dengan pernikahan saya." ujar Gavlin, memberi tahu Aamauri.
"Oh, ya, Vlin. Salam buat calon Istrimu, kapan kapan, bawa dia ke sini , Bapak ingin bertemu dengannya." ujar pak Aamauri, tersenyum senang pada Gavlin.
"Ya, Pak. Nanti akan saya bawa Indri bertemu Bapak. Saya janji." ucap Gavlin bersungguh sungguh.
"Ya." Angguk Aamauri, tersenyum senang.
Gavlin lantas berdiri dari duduknya di sofa, Aamauri juga ikut berdiri, Gavlin lalu bersalaman pada Aamauri, dan Gavlin memberi hormat pada Aamauri.
Lalu, Gavlin berbalik badan dan berjalan keluar dari dalam ruang kantor meninggalkan Aamauri sendirian.
Pintu ruang kantor tertutup, Aamauri tersenyum senang melihat kepergian Gavlin, Dia tampak bahagia, melihat wajah Gavlin yang kini bisa lebih sering tersenyum dan terlihat bahagia.
"Akhirnya, kamu bisa hidup dengan tenang , dan semoga, kamu selalu mendapatkan kebahagiaan bersama Istrimu nantinya, Vlin." Gumam bathin Aamauri, mendoakan Gavlin dan Indri.
Lalu, Dia berjalan menuju meja kerjanya, lantas, Dia duduk di kursi kerjanya , dan melanjutkan kembali pekerjaannya yang tertunda karena kedatangan Gavlin menemuinya tadi.
__ADS_1
---
Hari ini, Gavlin mengajak Indri ke pusat perbelanjaan di kota Paris, untuk membeli perlengkapan dan kebutuhan mereka saat menikah nantinya.
Gavlin dan indri bersiap untuk berangkat, tidak lupa mereka pamit pada pak Sarono yang mengantarkan mereka pergi.
"Hati hati di jalan nak Gavlin." ujar pak Sarono, tersenyum ramah pada Gavlin.
"Iya, Pak." ujar Gavlin, mengangguk tersenyum pada pak Sarono.
"Kami pamit, Pak." ujar Indri, salim pada pak Sarono.
"Iya." Jawab pak Sarono.
Lalu, setelah Indri dan Gavlin salim pada pak Sarono, mereka berdua lantas masuk ke dalam mobil Gavlin. Sedangkan pak Sarono berdiri menunggu.
Mobil mesin menyala, pak Sarono mundur beberapa langkah, agar mobil leluasa bergerak jalan dan pergi, tak berapa lama, mobil pun segera meluncur pergi meninggalkan pak Sarono yang berdiri di depan rumahnya memandangi kepergian Gavlin dan Indri.
Setelah mobil menghilang dari pandangannya, pak Sarono tersenyum senang, melihat kebahagiaan Indri, anaknya yang akan menikahi Pria pujaannya, yakni Gavlin.
Pak Sarono lantas berbalik badan lalu berjalan masuk kembali ke dalam rumah, tidak lupa dia menutup dan mengunci pintu rumahnya, berjaga jaga, kalau kalau Pria misterius yang kemaren datang lagi ke rumahnya.
---
Di sepanjang jalan, tampak Indri terus tersenyum penuh kebahagiaan duduk di jok depan, disamping Gavlin yang duduk di joknya sambil menyetir mobilnya.
"Kamu kenapa , In? Senyum senyum terus dari tadi aku perhatikan." Tanya Gavlin, sambil terus menyetir mobilnya yang melaju di jalan raya.
"Aku senang , Vlin. Karena sekarang, Kita lebih sering menghabiskan waktu bersama sama, pergi berdua kemanapun kita mau. Dan sebentar lagi, kita akan hidup bersama, di dalam satu rumah." ujar Indri, tersenyum senang penuh kebahagiaan menoleh pada Gavlin yang menyetir mobilnya.
"Iya, In. Aku juga bahagia, karena akhirnya, bisa bersamamu lagi." ucap Gavlin, tersenyum senang menoleh pada Indri.
"Sehabis belanja nanti, Aku akan membawamu untuk melihat rumah yang sudah aku beli untuk tempat tinggal kita nanti setelah menikah." ujar Gavlin, memberi tahu Indri.
"Kamu beli rumah buat kita? Aku baru tau sekarang, Vlin." ujar Indri, sedikit kaget, mengetahui kalau Gavlin telah menyiapkan sebuah rumah buat mereka berdua tinggal nantinya setelah menikah.
"Iya, Aku membelinya, sengaja gak aku bilang kamu, tadinya mau buat kejutan padamu, tapi, Aku pikir pikir, lebih baik, sekarang saja kamu taunya." ujar Gavlin menjelaskan sambil pandangannya tetap kedepan melihat jalanan dan menyetir mobilnya.
"Aku kira, kita nantinya tinggal serumah dengan Bapak, Vlin." ujar Indri.
"Nggak, In. Aku gak mau merepotkan Bapak. Lagi pula, Aku mampu kok membeli rumah sendiri, jadi, kita gak perlu menumpang tinggal dirumah Bapak. Bapak nanti bisa datang dan menginap di rumah kita." ungkap Gavlin, menjelaskan pada Indri.
"Iya, Vlin." jawab Indri, tersenyum senang pada Gavlin.
Mobil terus melaju di jalanan dengan kecepatan yang sedang sedang saja, ada banyak kendaraan kendaraan yang juga berlalu lalang di jalan raya itu.
Di belakang mobilnya yang melaju di jalan raya, terlihat sebuah mobil melaju mengikutinya, mobil tersebut terlihat menjaga jarak di belakang mobil Gavlin, Terlihat, kalau mobil tersebut sengaja mengikuti mobil Gavlin.
Dan di belakang mobil Gavlin serta mobil orang yang mengikuti Gavlin, terlihat sebuah mobil putih juga mengikuti mobil mereka, tak terlihat jelas wajah si pengendara mobil itu, karena memakai topi dan masker penutup wajah. Sementara, Pria yang mengikuti mobil Gavlin di belakangnya, terlihat jelas wajahnya, namun, tak di ketahui siapa dirinya, dan apa tujuannya mengikuti Gavlin.
__ADS_1
Lalu, siapa juga orang yang berada didalam mobil putih yang sedang mengikuti mobil Gavlin dan mobil Pria misterius itu.
---
Mobil Gavlin tiba di sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kota Paris, pusat perbelanjaan itu terlihat indah, mewah dan megah. Gavlin memasuki pelataran parkir pusat perbelanjaan, lalu, memarkir mobilnya di satu sudut kosong .
Sementara, Mobil Pria misterius masih mengikuti Gavlin, dia juga memarkir mobilnya tidak jauh dari mobil Gavlin parkir.
Gavlin dan Indri segera keluar dari dalam mobilnya, lalu mereka berdua berjalan masuk ke dalam pusat perbelanjaan, Sesaat kemudian, datang mobil putih , dan berhenti di sudut parkiran.
Dari dalam mobilnya, Dia mengintai Pria misterius yang keluar dari dalam mobilnya, lalu berjalan masuk ke dalam pusat perbelanjaan untuk mengikuti Gavlin dan Indri.
Pria di mobil putih lantas segera keluar juga dari dalam mobilnya, lalu dia bergegas mengikuti Pria misterius, yang sudah masuk ke dalam pusat perbelanjaan mengikuti dan mengejar Gavlin.
Gavlin berjalan bersama Indri sambil bergandengan tangan dengan mesra, mereka berdua asyik melihati sekitar pusat perbelanjaan, Saat berjalan melewati sebuah toko, tak sengaja Gavlin melihat dari sebuah kaca, ada seseorang yang berjalan mencurigainya di belakang Dia dan Indri.
"Sepertinya, Dia sedang mengikutiku." Gumam bathin Gavlin.
Gavlin tetap bersikap tenang, Dia berjalan santai menggandeng tangan Indri, Indri lalu mengajak Gavlin masuk ke sebuah toko pakaian. Gavlin menurut dan mengikuti Indri, mereka berdua masuk ke dalam toko pakaian.
Dan Pria misterius terus mengikuti Gavlin dan Indri, Dia juga ikut masuk ke dalam toko pakaian, berpura pura menjadi sebagai costumer yang mau membeli pakaian di toko tersebut. Sementara , Pria yang memakai topi dan masker penutup wajah tetap menunggu diluar toko, Dia tak ikut masuk ke dalam toko, karena khawatir, keberadaannya nanti akan di ketahui oleh Gavlin atau pun Pria misterius yang sedang mengikuti Gavlin dan indri.
Gavlin melirik ke arah Pria misterius itu, muncul kegeraman pada diri Gavlin, karena ternyata, dugaannya benar, Pria misterius yang dilihatnya tadi sengaja mengikuti dirinya dan Indri.
Gavlin yang berjalan mengikuti Indri dan masih menggenggam tangan Indri terus berjalan di dalam toko pakaian, menemani Indri yang memilah milah pakaian yang terpajang di toko tersebut. Mata Gavlin tetap awas mengamati Pria misterius yang masih mengikutinya itu.
Ingin rasanya Gavlin langsung menyergap Pria itu , namun dia berfikir, Dia tak mau membahayakan diri Indri dan membuat Indri ketakutan nantinya.
Akhirnya, Gavlin menahan diri untuk tidak mendatangi dan menyergap Pria misterius itu , Dia tetap bersikap tenang menemani Indri yang hendak belanja pakaian buat dirinya.
Beberapa saat kemudian, Gavlin menoleh ke arah Pria misterius, sementara, indri berdiri sedang memilih pakaian yang di pajang didepannya.
Gavlin menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari cari, namun, Dia sudah tak melihat Pria misterius yang mengikutinya.
Gavlin merasa aneh, karena tiba tiba saja Pria misterius itu menghilang dan tak terlihat lagi di dalam toko pakaian.
"Kamu kenapa, Vlin?" Tanya Indri.
Indri heran, karena melihat Gavlin celingak celinguk seperti mencari sesuatu , menoleh ke kanan dan ke kiri dan seperti orang yang sedang gelisah.
"Ah, nggak apa apa, In. Aku cuma ngamati seisi toko ini." ucap Gavlin, tersenyum lembut menatap wajah Indri.
"Oh." Ujar Indri, lalu memilih pakaiannya lagi.
Gavlin sengaja berbohong pada Indri, karena Dia tak ingin melihat Indri menjadi cemas apalagi takut, jika dia mengatakan yang sejujurnya , kalau mereka sedang di ikuti seseorang.
Gavlin berdiri diam di samping Indri yang sibuk memilih milih pakaian untuk dirinya itu.
__ADS_1