VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Apa Kabar


__ADS_3

   Linda tampak sedang duduk menunggu di dalam cafe Seruni, cafe tempat biasa dia bertemu dengan Maya, bahkan Gavlin.


Beberapa saat kemudian masuk Maya kedalam cafe dan berjalan mendekati Linda yang berada di meja, sedang duduk santai.


"Hai Lin...udah lama nungguin?" Sapa Maya begitu sampai di depan Linda yang duduk, Linda senang melihat kedatangan Maya.


"Nggak kok, baru juga lima menit, belum mesan, sengaja nunggu kamu datang." Ujar Linda.


Linda lalu berdiri menyambut kedatangan Maya, sahabat baiknya sejak sekolah itu.


Maya dan Linda berpelukan, saling cipika cipiki, lalu kemudian mereka duduk di kursi masing masing, dengan posisi berhadapan.


"Wajahmu keliatan seger banget Lin, ceraaah membara." Ujar Maya menatap wajah Linda, menggoda Linda yang tersenyum senang.


"Masa sih May ?"


Ujarnya tersipu memegang pipinya dengan kedua telapak tangannya, Linda tersenyum senang.


"Kamu gak sedang godain aku kan?" Lirik Linda tersenyum pada Maya yang tertawa kecil melihatnya.


"Ya nggaklah, beneran loh, beda banget sama kemaren kemaren." Ujar Maya meyakinkan Linda.


"Aku memang sedang bahagiaaa banget May." Ujar linda semangat.


Rona kebahagiaan tergambar di wajahnya, Maya tersenyum menatapnya.


"Kamu harus cerita soal kebahagiaanmu padaku." Ujar Maya.


"Jadi gini loh May..." Ujar Linda mau menceritakan kisah bahagianya.


"Ntar...ntar dulu, kita pesan makanan dulu, sebelumnya kamu wajib traktir aku, baru boleh ceritain." Ujar Maya.


Maya lantas menatap wajah Linda dengan senyumannya, Linda tertawa.


"Iya...iya. Ya pesan sana, buruan." Ujar Linda tersenyum pada Maya.


Maya lantas berdiri dari duduknya dan beranjak untuk segera memesan makanan dan minuman.


Linda mengambil ponselnya, melihat wajahnya di layar ponsel, memperhatikan dirinya dilayar ponsel, dia tersenyum senang.


Beberapa saat kemudian Maya kembali dan duduk di kursinya. Maya menatap wajah Linda yang lantas menyimpan ponselnya kembali kedalam tasnya.


"Sekarang kamu boleh cerita semuanya. Aku siap jadi pendengar setiamu." Ujar Maya menatap wajah Linda yang juga ikut tersenyum.


"Jadi awalnya itu kan aku ngerasin kangen banget, tiap saat kepikiran Gavlin." Ujar Linda mulai cerita.


"Karena gak bisa nahan rasa kangen, aku telpon dia, niatnya biar kami ketemuan dan aku bisa melepas rasa rinduku." Linda cerita.


"Terus?" Tanya Maya.


"Terus aku mengutarakan semua isi hatiku padanya." Ujar Linda pada Maya.


Maya diam memperhatikan diri Linda dan mendengarkan semua yang dikatakan Linda.


"Eeh, berkali kali aku telpon, Gavlin gak angkat angkat, malah dia matiin telponnya." Ujar Linda dengan wajah sebal.


"Siapa yang gak sewot coba May." Linda sebal.


"Aku udah punya rencana, mau ngajak dia ke tempat yang indah, romantis dan mengutarakan cinta." Ujarnya.


"Eeh, malah hape dimatiin seolah gak mau ngomong sama aku." Ujar Linda dengan menunjukkan raut wajah kesalnya.


"Sebel deh kalo ingat pas itu." Ujar Linda cemberut, Maya tertawa.


"Tapi terus senangkaaan..." Goda Maya melirik wajah Linda yang tertawa.


"Nah, karena sewot gila, aku nekat mau nemui Gavlin langsung, gak kuat nahan kangen May, jantungku terus berdegup kencang."


"Sesak nafasku kalo ingat Gavlin, dan rasa itu gak kan hilang sebelum aku lihat  dan ketemu Gavlin." Ujar Linda.


Maya menatap lekat wajah Linda, dihati kecilnya dia berkata bahwa sahabatnya itu benar benar sangat mencintai Gavlin.


Dan Maya berusaha tidak mau merusak semua kebahagiaan yang sedang dirasakan Linda, sahabatnya itu.


Maya memutuskan untuk mendukung sepenuhnya langkah dan pilihan Linda.


"Eh, kok kamu malah bengong sih, mau aku terusin gak nih ceritanya?" Ujar Linda bertanya pada Maya.


Linda melihat maya sedang diam melamun. Maya tersadar, lalu tersenyum menatap wajah Linda.


"Eeh, maaf Lin, maaf, terus...terus gimana, lanjutin dong." Ujar Maya dengan sikap manja pada Linda.


"Kelanjutannya, aku ketemu Gavlin di jalan raya by pass May." Ujar Linda.


"Pas di lampu merah, aku kebut mobilku, ngejar mobil Gavlin." Ujar Linda lagi.


"Ohya?" Ujar Maya.


"Heeh, terus aku salip dia, lalu aku turun dan berdiri di jalanan menunggu dia." Ujar Linda dengan semangatnya.


"Gila, senekat itu kamu Lin ?!" Ujar Maya tertawa melihat Linda.


"Iya, habis kesal, kalo gak gitu, aku gak ketemu Gavlin." Ujar Linda.


"Terus si Gavlin gimana ?" Tanya Maya ingin tahu kelanjutan cerita Linda.


"Ya dia turun dari mobilnya, wajahnya kayak kesal gitu May." Linda tertawa.


"Kaget mungkin kali dia ya karena tiba tiba mobilnya aku salip." Ujar Linda ketawa lepas, Maya pun ikut tertawa.


"Gavlin terus dekati aku, dia marah, negur aku Lin, kayak gak suka gitu deh sama cara dan sikapku." Ujar Linda.


"Habis dia marahin aku, dia pergi tuh mau balik ke mobilnya, ya udah, langsung aja aku utarakan semua isi hatiku ke dia." Ujar Linda.


Maya makin serius mendengarkan cerita Linda, Maya memandangi wajah Linda yang tampak menggebu gebu cerita padanya.


"Singkatnya Gavlin akhirnya luluh, tau tau dia mengejarku yang udah didalam mobil."


"Aku mau pergi, aku ngambek sama dia yang cuma diam aja gak ada jawaban dari semua yang aku bilang." Ujar Linda.


"Dia ngejar kamu ke mobil karena masih marah Lin ?" Tanya Maya penasaran.


"Dia tiba tiba masuk ke mobilku, terus dia..." Ujar Linda menghentikan bicaranya.


Maya menatap wajah Linda menunggu kelanjutannya, namun Linda hanya diam, Maya sebal melihat Linda yang diam.


"Terus gimana Lin? Kok diam?" Ujar Maya.

__ADS_1


Dengan penasaran, Maya menatap lekat wajah Linda yang menahan gelinya melihat reaksi wajah Maya yang penasaran menunggu kelanjutan dia bercerita.


"Gavlin menyentuh bibirku May." Ujar Linda, matanya berbinar binar saat mengatakan hal itu, Maya terbelalak mendengarnya, dia kaget.


"Gavlin ******* bibirku dengan penuh kelembutan, sesaat aku cuma diam, kaget." Ujar Linda.


"Kenapa?" Tanya Maya.


"Ya aku gak nyangka, Gavlin senekat itu, tau tau bibirku dan bibir Gavlin berpagutan." Ujar Linda.


"Ohya?" Mata Maya terbelalak lebar.


"Iya, terus kamipun hanyut dalam suasana hangat penuh kelembutan May." Ujar Linda.


Maya terbelalak, mulutnya terbuka lebar, dia segera menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.


Matanya melotot kaget tak percaya dengan yang dia dengar, di satu sisi dia senang mendengar cerita Linda itu.


"Oooh...romantis bangeeet Lin." Ujar Maya menatap wajah Linda yang berbinar binar bahagia.


Pembicaraan mereka terhenti saat pelayan datang membawakan makanan dan minuman.


Pelayan meletakkan makanan dan minuman yang dibawanya ke meja, Maya dan Linda membantu pelayan meletakkan makanan dan minuman di meja.


Setelahnya Pelayan pamit pergi meninggalkan mereka berdua, Maya menatap wajah Linda, Lindapun melanjutkan ceritanya lagi.


"Aku gak mau kebahagiaan yang kudapat cuma sesaat." Linda lanjut cerita.


"Aku ajak Gavlin pergi, kami ke Villa milikku, selanjutnya, di Villa itu, aku menghabiskan waktu bersama Gavlin didalam kamar." Ujar Linda.


Linda masih dengan wajah yang bahagia bersemangat cerita, Maya diam menatap lekat wajah Linda.


"Kalian melakukan hubungan badan?" Tanya Maya sambil menggerakkan dua jari tangan kanan dan kirinya, mengisyaratkan hubungan badan pria dan wanita.


"Iya, aku menyerahkan tubuhku sepenuhnya pada Gavlin, aku biarkan diriku hanyut dalam pelukan Gavlin." Ujar Linda.


"Ya ampun Lin." Maya tak percaya mendengarnya.


"Aku membiarkan Gavlin menikmati tubuhku, karena akupun menikmatinya, aku bahagia dengan kelembutan yang diberikan Gavlin padaku." Ujar Linda.


Linda penuh dengan semangat menceritakan pada Maya yang diam mendengarkan dan menatap wajahnya.


"Aku semakin cinta Gavlin, dia benar benar pria yang kudambakan May." Wajah Linda berbinar binar bahagia.


"Gavlin pria perkasa, berkali kali dia menyetubuhiku, gak ada rasa lelah sedikitpun pada dirinya." Ujar Linda.


"Malah aku yang minta untuk istirahat di sela sela waktu." Linda tersenyum.


"Selanjutnya, Gavlin terus memberiku kenikmatan hingga pagi, sampai aku tertidur karena begitu lelahnya melayani Gavlin." Ujar Linda.


Dia tidak malu sedikitpun menceritakan semuanya pada Maya.


Karena dia menganggap Maya bukan siapa siapa, seorang sahabat yang sudah seperti keluarga sendiri.


Jadi bukan hal tabu baginya bicarakan tentang hal itu pada Maya.


Di hatinya, Maya kaget mendengar cerita Linda, dia tak percaya Linda pasrah menyerahkan kehormatan dirinya pada Gavlin.


Dia juga seakan tak percaya Gavlin bisa berbuat senekat itu dengan melakukan hubungan intim dengan Linda, sahabatnya.


"Aku ikut senang dan bahagia dengarnya Lin, akhirnya kamu bisa juga mendapatkan Gavlin." Ujar Maya tersenyum menatap wajah Linda yang berbinar binar bahagia.


Maya mengangguk angguk dan tersenyum. Maya memandangi wajah Linda yang terlihat begitu senangnya.


"Sekarang, untuk merayakan kebahagiaan dan hari jadimu bersama Gavlin, kita makan yuk." Ujar Maya.


Dia mengajak Linda untuk makan, mereka lantas menikmati makanan yang sudah ada diatas meja.


   Di sebuah gudang kosong, Yanto terlihat sedang serius mengerjakan patung lilin yang di order Bramantio untuk Hotel Hera.


Yanto berada di gudang yang terlihat luas dan atapnya beberapa meter tingginya.


Gudang itu memang tempat biasa Yanto mengerjakan karyanya, membuat patung patung lilin.


Beberapa saat setelah dia membentuk patung lilin sesuai dengan sosok Dewi Hera, dia mengamati patung lilin yang baru 35 persen jadi itu.


Yanto terlihat wajahnya tidak puas, dia menatap lekat pada patung lilin yang dibuatnya itu.


Yanto menghela nafasnya, lalu dia berbalik meninggalkan patung lilin, dia menghentikan pekerjaannya karena merasa dirinya tidak dalam kondisi focus buat mengerjakannya.


Yanto mengambil sebuah kain yang tergeletak diatas meja, lalu mengelap wajahnya yang berkumis tipis dan penuh brewok.


Dia menghapus peluh keringat yang mengalir diwajah dan lehernya karena habis mengerjakan pembuatan patung lilin yang cukup rumit kali ini dibuatnya.


"Aku gak bisa tenang sebelum menemui orang itu, menyelesaikan semua urusan dengannya." Ujarnya bergumam dengan sorot mata tajam.


Yanto lalu berjalan keluar dari gudang itu, dia melangkah masuk ke dalam kamar mandi, untuk membersihkan dirinya.


   Di kamarnya, malam itu, Maya terlihat masih rebah rebahan di kasurnya.


Maya belum bisa tidur, terngiang ngiang kembali ucapan Linda saat menceritakan kisah kemesraan dirinya dengan Gavlin.


Maya mengingat kembali wajah Linda yang penuh kebahagiaan saat menceritakan kemesraan yang dia rasa bersama Gavlin.


Maya memeluk bantalnya, teringat juga dia akan ucapan Linda menceritakan tentang hubungan intim yang dilakukannya bersama Gavlin, Maya terlihat tersenyum.


"Lindaaa...Lindaaa...kamu kayak bocah yang begitu kesenangan pas dapat bonek kesayangan yang udah lama kamu inginkan." Ujar Maya tersenyum dan tertawa kecil.


Maya lalu membalikkan tubuhnya yang rebahan dikasur, miring ke kanan, dia menatap pada dinding kamar.


"Aku akan selalu mendukung dan ikut bahagia buatmu Lin. Semoga hubunganmu dan Gavlin lancar kedepannya." Ujar Maya bergumam pada dirinya sendiri.


Lalu perlahan matanya mulai terpejam, Maya akhirnya terlelap tidur malam itu.


   Sosok bayangan orang berpakaian serba hitam muncul dalam kegelapan malam dan sepi.


Dia menyelinap masuk kerumah pria separuh baya yang sebelumnya diikuti Gavlin.


Sosok bayangan orang itu menyelinap masuk kedalam rumah, melangkah dengan penuh ke hati hatian.


Wajah dan seluruh kepalanya tertutup dengan masker hitam, agar tidak di kenali.


Sosok bayangan orang itu berhasil masuk ke dalam rumah dengan mencongkel pintu belakang rumah secara perlahan dan hati hati.


Agar tidak didengar dan diketahui penghuni rumah yang berada didalam rumah.


Suasana didalam rumah hening, seluruh ruangan dalam rumah itu gelap, tidak ada satu lampu yang menyala menerangi ruangan.

__ADS_1


Pemilik rumah terbiasa mematikan semua lampu jika saatnya tidur. Sosok bayangan orang berpakaian serba hitam melangkah pelan menuju sebuah kamar.


Dia membuka pintu kamar sedikit dan pelan, melihat ke dalam kamar, terlihat di dalam kamar tertidur seorang wanita separuh baya, tidur nyenyak diatas kasurnya.


Di dalam kamar itu tidak terlihat orang yang sedang di incarnya, lalu dengan pelan sosok pria itu menutup pelan pintu kamar.


Lalu melangkah meninggalkan kamar, dia berjalan menuju ke ruangan lain.


Dia berhenti di depan sebuah pintu kamar, membukanya secara perlahan.


Matanya melihat kedalam kamar, ada seorang gadis kecil yang tertidur pulas, ternyata itu kamar anak.


Tiba tiba terdengar suara orang membuka pintu dari arah belakang, sosok pria kaget, dengan cepat dia berbalik dan melangkah meninggalkan kamar.


Dia tidak menutup kamar anak kembali, kamar anak masih dalam keadaan terbuka sedikit.


Dari dalam kamar mandi, dibelakang rumah, tepatnya di dapur, keluar pria separuh baya.


Pria separuh baya merapikan baju dan celananya, dia habis dari kamar mandi .


Pria separuh baya melangkah berjalan menuju kamarnya dalam keadaan mata masih menahan kantuknya.


Sepasang mata dari sosok pria yang bersembunyi di balik lemari yang ada di ruang tengah rumah pria separuh baya menatap tajam.


Saat Pria separuh baya melangkah hendak menuju ke kamarnya, dengan cepat sosok pria itu bergerak.


Dia melangkah ke arah Pria separuh baya, lalu segera menyergapnya.


Sosok Pria menutup mulut Pria separuh baya, mendekap erat dan kuat tubuh Pria separuh baya hingga tak bisa bergerak.


Wajah Pria separuh baya itu kaget karena tiba tiba disergap sosok Pria.


Dia mencoba meronta, tapi rangkulan sosok Pria begitu kuat hingga dia susah untuk bergerak dan melepaskan diri dari dekapan sosok Pria.


"Kalo kamu gak mau mati, jangan coba coba berisik, apalagi teriak." Ujar sosok Pria itu.


Di tangannya memegang sebilah pisau kecil yang sangat tajam, pisau itu berada di leher Pria separuh baya yang wajahnya sangat ketakutan itu.


"Apa kabar Sumantri ?" Ujar sosok Pria berbisik di telinga Pria separuh baya yang ternyata bernama Sumantri.


Sumantri kaget, matanya terbelalak, dia tak menyangka sosok Pria itu mengenal dirinya.


"Kamu Sumantri, supir Bramantio dulu kan ?" Ujar sosok Pria itu lagi pada Sumantri yang kaget. 


"Sudah 17 tahun lamanya aku mencari carimu, akhirnya kita bertemu juga." Ujar sosok Pria itu lagi pada Sumantri.


Sumantri terlihat sangat kaget dan wajahnya juga terlihat bingung saat ini.


Sosok Pria lalu melepaskan tangannya yang membekap mulut Sumantri.


"Siapa kamu ? Apa maksudmu datang menemuiku?" Tanya Sumantri begitu tangan sosok pria tidak lagi menutupi mulutnya, hingga dia bisa bicara.


"Aku datang untuk membuat perhitungan denganmu." Ujar sosok Pria.


Dia berbisik dengan suara berat dan pelan di telinga Sumantri, mulutnya menahan geram pada Sumantri.


"Apa maksudmu ? Apa salahku? Siapa kamu?" Tanya Sumantri semakin bingung.


Sumantri tidak tahu maksud dan tujuan sosok Pria menemuinya saat ini.


"Apa kamu lupa kejadian 17 tahun lalu Sumantri ? Kejadian saat Sanusi di tangkap polisi karena laporan tuduhan palsu kalian ?" Ujar Pria Misterius.


"Dan apa kamu lupa dengan semua kejadian saat kebakaran terjadi pada rumah Sanusi korban fitnah kalian?" Tanya Sosok Pria.


"Kalian membuat anak anak Sanusi menderita seumur hidup mereka!" Ujar sosok Pria menahan geram dan amarahnya.


Dia memberitahukan semuanya pada Sumantri yang terhenyak kaget mengingat kembali kejadian masa silam dulu.


"Aku tidak bisa berbuat apa apa dulu, aku cuma supir pribadi, aku hanya mengikuti perintah majikanku." Ujar Sumantri memelas takut.


"Tolong lepaskan aku, aku tidak akan lari ataupun teriak, aku akan jujur denganmu." Ujar Sumantri memohon.


Sosok Pria terdiam sejenak, akhirnya dia melepaskan dekapan tangannya ditubuh Sumantri.


Setelah terlepas dari dekapan sosok Pria, Sumantri berbalik menatap sosok Pria yang memakai masker diwajahnya.


Sehingga Sumantri hanya melihat sorot mata tajam sosok Pria, tidak dapat mengetahui wajah sosok Pria yang berdiri didepannya.


"Siapa kamu? Apa hubunganmu dengan Sanusi ? Tujuanmu menceritakan kembali semua padaku untuk apa?" Ujar Sumantri bertanya.


"Aku anak Sanusi, korban fitnah dari segala kejahatan kamu dan Bramantio serta anak buahnya yang lain." Ujar sosok Pria.


Suaranya terdengar berat dan menyeringai geram menatap Sumantri.


"Sejak kejadian itu, aku gak tenang, gak bisa tidur nyenyak, jujur aku merasa bersalah." Ujar Sumantri.


"Hati kecilku menolak semua kejahatan yang dilakukan pada pak Sanusi dan keluarganya." Sumantri cerita.


"Tapi aku hanya orang kecil, tidak punya kekuatan untuk melawan dan menentang." Ujar Sumantri.


"Aku hanya bisa diam mematuhi perintah." Ujar Sumantri, raut wajahnya menyiratkan rasa bersalah yang mendalam pada dirinya.


"Setelah kejadian itu aku terus dihantui ketakutan, rasa bersalah." Ujar Sumantri merasa bersalah.


"Wajah pak Sanusi terus ada dalam fikiranku." Ujarnya.


"Aku tidak bisa lagi nyaman berada di dekat majikan yang memaksaku melakukan perbuatan berdosa." Ujar Sumantri.


Sumantri lalu terdiam menghela nafas, sosok pria menatap tajam wajahnya.


"Akhirnya aku memutuskan untuk berhenti kerja, aku mengundurkan diri jadi supir pribadi pak Bramantio." Ujar Sumantri lagi.


"Aku ingin, agar aku bisa melupakan semuanya, tapi tidak bisa!" Ujar Sumantri.


"Sampai sekarang rasa bersalah dan berdosa terus menghantui hidupku." Sumantri menangis.


"Biar sekuat apapun aku mencoba melupakan dengan menyibukkan diri bekerja serabutan apa saja agar tak nganggur, tapi tetap aku mengingat kejadian itu." Ujarnya.


Sosok Pria yang berdiri dihadapannya diam menatap tajam wajah Sumantri.


Sesaat kemudian Sumantri menjatuhkan dirinya ke lantai ruangan rumahnya.


Sumantri bersimpuh dihadapan sosok Pria yang berdiri didepannya, air matanya menetes, menyesali semua perbuatannya.


"Aku memohon maaf atas semua kesalahan dan dosa yang sudah ku perbuat pada bapakmu dan kamu, anaknya." Ujar Sumantri bersujud.


Sumantri memohon maaf dari sosok Pria yang diam berdiri menatapnya.

__ADS_1


Tatapan mata sosok Pria itu semakin tajam, dia mengepalkan tangannya, menahan amarahnya yang sudah meluap luap pada Sumantri .


__ADS_2