VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Sadar dari Koma


__ADS_3

Gatot menggeretakkan giginya dengan geram, dia menatap wajah Jafar yang terekam di kamera video amatir.


"Jafar Setan!!" Ujar Gatot geram dan marah.


Dia lantas pergi begitu saja meninggalkan para petugas penyidik kepolisian, kedua petugas penyidik kepolisian saling memandang, mereka bingung, karena Gatot pergi begitu saja tanpa ada basa basi dengan mereka berdua.


Seorang petugas penyidik kepolisian mengambil flash disk dari laptop, lalu, dia menyimpannya ke dalam kantong celananya, flash disk itu dijadikannya barang bukti kasus pembunuhan di rumah pasangan pengantin muda.


Gatot menyetir mobilnya dengan membawa amarahnya pada Jafar. Dia geram, karena Jafar sudah semakin berbuat di luar batas dan terus membunuh.


"Siaaaal...siaall...Bedebaaah Jafaaar!!" ujar Gatot, melampiaskan amarahnya dengan memukuli stir mobilnya.


Mobil lantas meluncur cepat dijalanan, Gatot kembali ke kantornya.


Sementara itu, di rumah bilik kayu Sarono, seperti biasanya, Indri dengan senang hati merawat Gavlin, dia tengah membersihkan wajah Gavlin dengan kain lap ditangannya.


Sangat perlahan Indri melap wajah Gavlin dengan kain lap , Saat asyik asyiknya Indri membersihkan wajah Gavlin, kedua mata Gavlin terbuka, dia mulai sadar.


Dengan cepat Gavlin memegang tangan Indri, di cengkramnya kuat tangan Indri yang hendak membersihkan wajahnya.


"Siapa kamu?!! Apa yang kamu lakukan dengan mukaku?!!" bentak Gavlin.


Indri meringis kesakitan, karena tangannya di cengkram kuat Gavlin.


"Aduuuh...sakit, tolong lepaskan tanganku !" ujar Indri meringis kesakitan.


"Aku gak akan melepaskan tanganmu, sebelum kamu bilang, siapa kamu!!" tegas Gavlin dengan wajahnya yang serius.


"A...Aku Indri." ujar Indri menyebut namanya, sambil menahan rasa sakit di pergelangan tangannya.


"Mengapa aku ada di sini?!" tanya Gavlin.


"Aku menemukanmu di rawa rawa dekat sungai, kamu pingsan dan terluka parah, aku dan bapak yang membawamu ke sini, dan bapak mengobati luka lukamu." jelas Indri, sambil meringis kesakitan.


Gavlin terdiam, dia lantas melepaskan tangannya yang mencengkram pergelangan tangan Indri.


Indri lantas memegangi pergelangan tangannya, dia masih merasakan sakit di pergelangan tangannya.


"Maaf, aku gak bermaksud menyakitimu." ujar Gavlin.


"Ya, aku paham, kamu bingung dan kaget." ujar Indri.


Gavlin lantas berusaha untuk bangun dan duduk, dia memegangi tubuhnya yang penuh dengan luka tembak, dia meringis menahan sakit di lukanya.


"Kamu mau apa? Jangan bergerak dulu, sebaiknya kamu rebahan aja." ujar Indri, dengan wajahnya yang khawatir pada kondisi Gavlin.


Indri memegang tubuh Gavlin, dan membantunya untuk rebahan lagi di atas tikarnya.


"Kamu belum boleh banyak bergerak, luka lukamu belum kering semua, kamu belum benar benar sembuh." ujar Indri.


"Terima kasih udah menolongku." ujar Gavlin.


"Bukan aku, Bapakku yang menolongmu, bapak yang mengeluarkan peluru peluru dari tubuhmu lalu mengobati luka lukamu." jelas Indri.


"Bapak mu bisa mengobati orang? Apa dia dokter?" tanya Gavlin sambil rebahan di tikar.


"Dulu, 10 tahun yang lalu Ayahku sempat jadi Dokter, tapi di pecat, dan izin prakteknya di cabut." jelas Indri.


"Kenapa?" tanya Gavlin.


"Karena Bapak di tuduh menjalankan mal praktek pada pasiennya, saat Bapak mengoperasi pasiennya, pasien meninggal, katanya, ada kesalahan yang di buat bapak saat operasi." ujar Indri, dengan lirih.


Indri merasa sedih menceritakan tentang masalah Bapaknya yang dipecat dari tugasnya sebagai dokter specialis ahli bedah.


Gavlin menatap wajah Indri yang tertunduk menyimpan kesedihannya.


"Bapakmu di mana sekarang?" tanya Gavlin.


"Lagi di pasar, dagang sayuran." ujar Indri.


"Oh." ujar Gavlin.


"Lantas kamu? Kerja atau kuliah?" tanya Gavlin.

__ADS_1


"Aku punya usaha sendiri, usaha jahitan pakaian." jelas Indri.


"Oh, begitu." ujar Gavlin, mengerti dan paham.


Gavlin lantas meringis, dia merasa nyeri di luka lukanya, Indri langsung cemas melihat Gavlin yang meringis menahan sakitnya.


"Sebaiknya kamu istirahat, jangan banyak bicara dulu." ujar Indri cemas.


"Sebentar, aku ambilkan obatmu, sudah waktunya kamu minum obat." ujar Indri.


"Tunggu." ujar Gavlin.


Indri hendak berdiri, namun Gavlin memegang pergelangan tangannya, Indri meringis menahan sakit, karena pergelangan tangannya masih terasa nyeri dan sakit akibat di cengkram kuat Gavlin.


"Adduuuh, tanganku...!" ujar Indri, meringis sakit.


"Oh, maaf." ujar Gavlin.


Dengan cepat Gavlin melepaskan tangannya yang menggenggam pergelangan tangan Indri, Indri lantas memegangi dan mengurut pergelangan tangannya yang sakit.


"Masih sakit ya?" tanya Gavlin.


"Sakitlah. Kamu pegangi kuat." ujar Indri cemberut.


"Maaf, aku kaget tanganmu ada diwajahku, jadi refleks aku tangkap tanganmu." ujar Gavlin.


"Iya, Gak apa apa. Nanti aku obati sendiri." ujar Indri.


"Aku mau nanya, pas kamu nemui aku di rawa, apa ada orang lain yang melihat atau membantu?" ujar Gavlin bertanya.


"Gak ada, cuma aku sama Bapak aja, Bapak yang menggotongmu sampe kerumah kami ini." ujar Indri.


"Oh." Ujar Gavlin lega.


Dia lega, karena tak ada orang lain yang melihatnya, dengan begitu dia aman saat ini.


"Memang kenapa kamu nanya itu?" ujar Indri heran.


Gavlin berbohong, padahal dia khawatir, orang orang mengenali dirinya.


Mobil Sarono datang dan berhenti di halaman rumah bilik kayu , mobil itu sudah kosong, tak ada lagi sayur mayur dan juga lauk pauk di dalam mobil, dagangan Sarono habis terjual di pasar.


Sarono keluar dari dalam mobilnya, dia berjalan masuk ke beranda rumahnya, dimana Gavlin berbaring di lantai beralaskan tikar dan sedang di temani Indri.


Sarono masuk dan menghampiri Gavlin, Gavlin menoleh dan melihat Sarono yang jalan mendekatinya.


"Sudah sadar kamu ternyata." ujar Sarono, tersenyum senang.


"Ini Bapakku." ujar Indri, memperkenalkan Bapaknya pada Gavlin.


"Oh." ujar Gavlin, mengangguk mengerti dan paham.


Sarono lalu duduk di samping Gavlin, dia memeriksa luka luka Gavlin yang ada di tubuhnya.


"Apa kamu masih merasakan sakit?" tanya Sarono.


"Ya, saya belum bisa bangun dan duduk, kalo dipaksa duduk masih sakit." ujar Gavlin, sambil memegang lukanya.


"Ya, harus bersabar, rebahan aja dulu, tunggu sampai lukamu benar benar mengering nanti." ujar Sarono, tersenyum ramah.


"Sudah minum obatnya lagi?" tanya Sarono.


"Belum, Pak. Baru mau Indri ambilkan obatnya, Bapak pulang." ujar Indri.


"Ya, sudah, Bapak tinggal sebentar ke dalam, biar nanti Bapak siapkan obat obatannya." ujar Sarono.


Sarono hendak berdiri, Gavlin cepat memegang tangan Sarono, dia menatap wajah Sarono dengan tatapan mata yang seakan menunjukkan rasa terima kasihnya pada Sarono.


"Pak." panggil Gavlin pelan.


"Ya, ada apa?" tanya Sarono.


"Terima kasih udah nolongi saya, dan menyelamatkan nyawa saya." ujar Gavlin, bersungguh sungguh.

__ADS_1


"Ya, sama sama." ujar Sarono.


"Saya gak bisa membalas kebaikan Bapak, tanpa Bapak, mungkin saya sudah mati, saya berhutang budi yang sangat besar pada Bapak." ujar Gavlin, dengan serius dan bersungguh sungguh.


"Jangan di pikirkan, gak ada hutang budi, itu semua saya lakukan untuk menjalani hubungan sesama manusia saja, yang harus saling tolong menolong, sebagai manusia, wajib menolong orang yang kesusahan, tanpa memandang, siapa dirinya, dan bagaimana dia." jelas Sarono, tersenyum ramah.


"Terima kasih, Pak." ujar Gavlin, terharu mendengar perkataan Sarono.


Indri hanya diam saja memperhatikan Gavlin dan juga Bapaknya yang terlibat dalam pembicaraan.


"Kamu ingat, siapa kamu dan namamu?" tanya Sarono.


Sarono bertanya untuk memastikan, apakah Gavlin masih ingat dirinya, atau mengalami lupa ingatan sesaat akibat geger otak.


"Saya Gavlin, Pak." ujar Gavlin, memperkenalkan dirinya.


"Oh, syukurlah kamu masih ingat nama kamu, artinya kamu gak mengalami geger otak." jelas Sarono.


"Maaf, saya memeriksa dompet kamu saat kamu pingsan, untuk melihat data diri dan nama kamu, nama kamu benar Gavlin, sesuai dengan kartu tanda pengenal di dompetmu." ujar Sarono, tersenyum ramah.


"Saya Sarono, dan ini anak saya satu satunya, Indri. Mungkin kalian sudah saling mengenal tadi." ujar Sarono tersenyum senang.


"Iya, Pak. Kami sudah saling kenal tadi." jawab Gavlin, tersenyum, sambil melirik Indri yang hanya diam tertunduk.


"Ya, sudah, saya tinggal sebentar ya." ujar Sarono.


"Ya, Pak." jawab Gavlin.


Sarono lantas berdiri, lalu dia pun bergegas pergi masuk ke dalam ruangan rumah bilik kayunya, Indri juga berdiri, Gavlin melihatnya, dan menatap lekat wajah Indri.


"Kamu mau kemana?" tanya Gavlin.


"Mau nyiapin makanan." ujar Indri.


"Oh." Angguk Gavlin.


Indri lantas berdiri, saat dia hendak berbalik badan dan berjalan, Gavlin memanggilnya.


"Indri." Panggil Gavlin pelan.


"Ya." jawab Indri.


Indri berbalik badan dan berdiri dihadapan Gavlin yang berbaring, Indri menatap lekat wajah Gavlin.


"Maafkan aku ya, udah buat sakit tanganmu." ujar Gavlin, merasa menyesal dan bersalah.


"Gak apa apa kok, udah gak sakit sekarang." ujar Indri.


Indri memegangi pergelangan tangannya, dia berbohong, padahal dia masih merasakan nyeri dan sedikit sakit di pergelangan tangannya, namun, dia tak mau, membuat Gavlin terus merasa bersalah, dia tahu, Gavlin tak sengaja melakukan hal itu, dan tidak bermaksud kasar padanya.


"Terima kasih kamu udah merawatku." ujar Gavlin, tersenyum senang.


"Iya." Angguk Indri lemah.


Gavlin terus menatap wajah Indri yang berdiri dihadapannya, Indri merasa canggung ditatap Gavlin terus, dia pun tertunduk malu.


"Aku ke dalam dulu." ujar Indri canggung.


Dia cepat berbalik badan lalu bergegas pergi meninggalkan Gavlin sendirian yang berbaring di atas tikar, Gavlin tersenyum senang melihat kepergian Indri yang masuk ke dalam ruangan rumah bilik kayunya.


Gavlin lantas menghela nafasnya, dia lalu melihat ke luka lukanya yang ada di sekitar tubuhnya, Gavlin memegangi luka lukanya yang di perban satu persatu.


Tiba tiba, wajahnya berubah menjadi marah, tatapan matanya tajam, sorot matanya memperlihatkan dendam yang membara.


"Gatooott !! Aku akan membalas perbuatanmu!! Akan kubantai seluruh anak buahmu yang menembakku, dan kamu juga !! Tunggu saja waktunya !!" Gumam Gavlin, geram menahan amarahnya.


Gavlin teringat pada kejadian, dimana saat dia sudah hampir berhasil membunuh Jafar, namun Gatot datang malah menyerang dia dan bukannya menangkap Jafar.


Gavlin tak bisa menerima perlakuan Gatot yang membiarkan anak buahnya menembak dirinya dan berusaha membunuhnya.


Gavlin tak tahu, bahwa Gatot sendiri sama sekali tak tahu, jika anak buahnya akan menembaknya.


Gavlin benar benar marah, dendam muncul di dalam jiwanya terhadap Gatot dan juga para polisi yang sudah menembaknya.

__ADS_1


__ADS_2