
Pintu di ketuk dari luar, Aamauri yang sedang duduk bersantai di kursi kerjanya mendengar suara Ketukan dan menoleh ke pintu.
"Ya, Masuk!" Ujar Aamauri, dengan suaranya yang sedikit keras.
Pintu lalu terbuka, masuk Gavlin dan menutup pintu ruang kantor kembali, Dia berdiri di depan pintu dan melihat Aamauri yang sedang duduk di kursi kerjanya.
"Gavliiin?!!" Ujar Aamauri, tersentak kaget, melihat Gavlin berdiri di depan pintu ruang kantornya.
Dengan cepat Aamauri bangun dan berdiri dari duduknya di kursi kerja, lalu, bergegas berjalan menghampiri Gavlin, Gavlin juga berjalan mendekati Aamauri.
Aamauri sangat senang melihat Gavlin datang menemuinya, dengan cepat Dia memeluk tubuh Gavlin.
"Syukurlah kamu masih hidup , Vlin!" Ujar Aamauri, dengan wajah senangnya memeluk Gavlin.
"Ya, Pak, Maaf, saya baru bisa datang menemui Bapak sekarang." Ujar Gavlin, memeluk juga tubuh Aamauri.
Aamauri lalu melepaskan pelukannya dari tubuh Gavlin, Dia lantas menatap lekat wajah Gavlin yang berdiri tegak di hadapannya.
"Kemana saja kamu menghilang selama ini? Bapak cemas, khawatir jika kamu mati terbunuh." Ujar Aamauri, menatap tajam wajah Gavlin.
"Saya tinggal di rumah Indri, calon istri saya selama ini, Pak." Ujar Gavlin.
"Oh, begitu." Ujar Aamauri. Mengangguk mengerti dan paham.
"Mari kita duduk." Ujar Aamauri.
"Baik, Pak." Angguk Gavlin.
Lalu keduanya berjalan dan duduk di sofa tamu yang ada di ruang kantor Aamauri itu, Aamauri yang duduk di hadapan Gavlin menatapnya tajam.
"Ceritakan , apa yang terjadi padamu? Bapak dengar dari Malik, kalo kamu punya rencana membunuh Binsar dan berniat melakukan aksi bom bunuh diri, untuk meledakkan Binsar di dalam pesawat, apa benar?!" Ujar Aamauri, menatap tajam wajah Gavlin, dengan tatapan mata ingin tahu kebenaran dari Gavlin langsung.
"Ya, Pak. Awalnya saya memang punya rencana seperti itu, tapi, niat saya di gagalkan Malik." Ujar Gavlin.
"Oh, ya? Maaf, Vlin. Sebenarnya, Bapak yang menyuruh Malik untuk menghentikan niat kamu itu, bagaimana pun caranya, dan apa pun yang di lakukan Malik, Bapak izinkan, yang penting kamu gak jadi melakukan aksi bom bunuh diri !" Ungkap Aamauri, menegaskan pada Gavlin.
"Iya, Pak. Malik memang berhasil menghentikan saya, sehingga saya gagal melakukan hal itu." Ungkap Gavlin.
"Saat saya mau membawa Binsar pergi ke pesawat yang sudah menunggu untuk membawa kami pergi, tiba tiba saja dari belakang Malik memukul saya hingga pingsan, lalu, Dia mengikat saya di rumah." Ujar Gavlin, memberi penjelasan pada Aamauri.
__ADS_1
"Lalu, Malik membawa Binsar pergi, Dia juga membawa bom rakitan saya, saya pikir, Malik berencana menggantikan posisi saya untuk meledakkan Binsar saat di dalam pesawat." Ungkap Gavlin, dengan wajah yang serius menjelaskan pada Aamauri.
"Oh, ya? Malik melakukan bom bunuh diri?" Ujar Aamauri, kaget.
"Ya, saya kira awalnya begitu, Pak. Tapi ternyata dugaan saya salah. Malik ternyata gak melakukan aksi bunuh diri, Dia justru memasang bom rakitan di tubuh Binsar langsung." Ujar Gavlin, menjelaskan.
"Tapi naas, saat memasang bom di tubuh Binsar, Malik tiba tiba di serang Binsar, Dan Malik terluka parah, terkena tusukan pisau miliknya sendiri yang di ambil Binsar saat mereka berkelahi." Ujar Gavlin, memberi penjelasan dengan serius pada Aamauri.
"Terus, bagaimana nasib Malik? Bapak khawatir padanya, Malik juga sampai sekarang belum ada kabar, hape nya gak bisa di hubungi." Ujar Aamauri, serius menatap wajah Gavlin yang duduk di hadapannya.
"Singkatnya, nyawa Malik tertolong, Pak. Karena, ada seseorang yang datang menolong Malik saat hampir di pasangkan bom sama Binsar." Ujar Gavlin.
"Siapa orang yang menolong Malik?" tanya Aamauri, dengan tatapan mata yang ingin tahu.
"Dia seorang sahabat baik pak Wicak, Bapak angkat saya sekaligus pimpinan gank mafia di negara saya. Beliau juga memiliki Gank Mafia seperti Bapak juga di sini." Ujar Gavlin, menegaskan pada Aamauri.
"Oh, ya? Siapa nama orang itu, dan dari gank mafia mana dia?" ujar Aamauri, bertanya pada Gavlin.
"Namanya Pablo, Pak." Ujar Gavlin, memberi tahu Aamauri.
"Pablo Escobar ?! " Ujar Aamauri, tersentak kaget.
"Ya, Bapak sangat kenal, dan setau Bapak, selama ini Pablo sudah tak mau lagi berurusan dengan segala macam tindak tanduk perdagangan mafia nya, Dia mau menghabiskan masa tuanya dengan damai, itu yang pernah dia katakan dulu pada Bapak." Jelas Aamauri. Memberi penjelasan kepada Gavlin yang duduk di hadapannya.
"Bapak gak nyangka, Dia turun gunung sekarang." Ujar Aamauri, dengan raut wajahnya yanh serius.
"Ya, Pak. Katanya, karena pak Wicak, sahabatnya langsung yang meminta pak Pablo untuk mengawasi dan melindungi saya saat mengejar Binsar di negara ini, Beliau langsung bergerak dan bekerja sendirian, untuk segera mencari dan mengawasi saya." Ujar Gavlin menjelaskan pada Aamauri.
"Karena Beliau berhasil menemukan saya dan lalu mengawasi saya, Dia tau apa yang terjadi di restoran jepang, saat kita perang melawan kelompok mafia Acheel." ungkap Gavlin , memberi penjelasan pada Aamauri yang serius mendengar penjelasan Gavlin.
"Pak Pablo juga tau, kalo Malik membuat saya pingsan dan mengikat saya, Dia sengaja gak langsung menolong saya, dan memilih untuk mengikuti Malik hingga ke pesawat, Dia awalnya ingin tau, apa yang akan di lakukan Malik kepada Binsar." Ujar Gavlin, dengan wajah yang serius menjelaskan pada Aamauri.
"Oh, begitu." Ujar Aamauri, mengangguk mengerti dan paham.
"Karena Pak Pablo mengikuti Malik hingga pesawat, Dia melihat Malik terluka oleh Binsar, lalu, Dia datang menolong dan menghajar Binsar hingga pingsan, lalu, Mengikat Binsar yang pingsan dan memasangkan bom di tubuh Binsar. Jelas Gavlin.
"Pak Pablo lantas membawa Malik keluar dari dalam pesawat, mereka pergi, hingga pesawat berangkat terbang, dan lalu pesawat pun akhirnya meledak, Binsar mati meledak di dalam pesawat." Ujar Gavlin, memberi penjelasan.
"Oh, Binsar diledakkan dalam pesawat?" ujar Aamauri kaget.
__ADS_1
"Ya, Pak. Tubuhnya yang hancur di temukan di puing puing pesawat yang di temukan saat pesawat jatuh." ungkap Gavlin.
"Beritanya ada di televisi dan surat kabar." Ujar Gavlin, menjelaskan pada Aamauri.
"Oh , begitu. Bapak gak pernah liat tivi dan baca surat kabar." Ujar Aamauri.
"Terus, kalo Malik selamat dari ledakan pesawat, dan kamu juga, lantas, dimana Malik sekarang ini, kenapa Dia gak langsung kembali ke markas kita ?!" Ujar Aamauri, bertanya pada Gavlin.
"Malik saat ini masih dirumah pak Pablo, Pak. Dia di obati disana, lukanya sudah dijahit, dan Malik mendapatkan perawatan disana." Jelas Gavlin.
" Malik akan tinggal sementara di rumah pak Pablo sampai lukanya benar benar sembuh total." Ungkap Gavlin, serius menjelaskan pada Aamauri.
"Oh, begitu. Syukurlah jika Malik baik baik saja." Ujar Aamauri lega.
"Ya, Pak." Angguk Gavlin.
"Oh, ya? Seingat Bapak, kenapa kamu datang ke sini gak bersama Jackson? Kemana Dia? Bapak sengaja menyuruh Jackson memanggilmu, agar Bapak bisa mencegah niatmu melakukan aksi bom bunuh diri!" Ungkap Aamauri, menegaskan pada Gavlin.
"Maaf, Pak. Jackson mati terbunuh, saat datang ke rumah nemui saya." Ujar Gavlin.
Gavlin terpaksa jujur menjelaskan apa yang terjadi pada Jackson, Dia tak mau berbohong dan menambah masalah jika membohongi pak Aamauri dengan mengatakan kalau dia dan Jackson di serang sekelompok gank mafia lainnya. Pastinya pak Aamauri tak akan terima dan marah besar, itu akan menjadi masalah, jika Aamauri mau mencari pelaku yang sebenarnya tak ada. Karena itu, Gavlin memberanikan dirinya berkata jujur pada Aamauri tentang kematian Jackson.
"Jackson mati?!! Kenapa dia mati!? Dan siapa yang membunuhnya?!" tanya Aamauri dengan wajah yang kaget.
"Malik yang membunuhnya, Pak." Ungkap Gavlin, berkata jujur pada Aamauri.
"Malik?!!" Aamauri tersentak kaget mendengar perkataan Gavlin.
"Iya, Pak. Malik terpaksa membunuh Jackson di halaman rumah tempat saya tinggal selama ini." Ujar Gavlin, memberi penjelasan pada Aamauri.
"Apa yang terjadi diantara Malik dan Jackson, sampai Malik harus membunuh Jackson?!!" Ujar Aamauri, dengan wajah mulai kesal dan sedikit marah pada Malik.
Gavlin diam sesaat, Dia melihat raut wajah Aamauri yang sudah mulai kesal dan terlihat sedikit marah itu, Gavlin pun berfikir sesaat, Dia harus berhati hati dan mencari cara yang tepat untuk menjelaskan pada Aamauri, alasan Malik terpaksa membunuh Jackson. Agar pak Aamauri bisa menerima alasan Malik membunuh Jackson.
"Kenapa kamu diam? Apa kamu gak tau kejadian itu? Jika kamu gak tau, mengapa kamu bisa bilang ke saya kalo Jackson mati di bunuh Malik?" Ujar Aamauri, bertanya pada Gavlin dengan menatap tajam wajahnya.
"Saya tau dari Malik, Pak. Malik yang cerita semua kejadiannya, dari awal hingga akhir, dan mengapa Dia membunuh Jackson." Ujar Gavlin, menatap serius wajah pak Aamauri yang duduk di hadapannya.
" Saya bertemu Malik dirumah Pak Pablo. Dan di sana Malik cerita kejadian yang menimpa dirinya hingga terluka parah diperutnya." Ungkap Gavlin, menjelaskan pada Aamauri.
__ADS_1