VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Ledakan Dahsyat di Angkasa


__ADS_3

Pesawat terbang mulai bergerak untuk segera Take Off, atau lepas landas , bersaman dengan itu, mobil yang di naiki Gavlin bersama Indri dan juga Rifai sebagai supirnya tiba di lokasi perbukitan tersebut.


Mobil berhenti, Gavlin yang melihat pesawat sudah bergerak hendak lepas landas semakin panik, dia buru buru membuka pintu mobil, dan lantas segera berlari keluar.


Indri yang melihat Gavlin berlari berusaha mengejar pesawat langsung keluar dari dalam mobil dan mengejar Gavlin. Begitu juga dengan Rifai, dia juga ikut turun dan berlari lari kecil mengejar Gavlin.


"Hentikan pesawatnya, hentiiikaaann!!" Teriak Gavlin dengan suara yang sekeras kerasnya mencoba menghentikan pilot yang menjalankan pesawat.


"Gaaavvliiiinnn !!" Teriak Indri, sambil berlari mengejar Gavlin.


Gavlin terus saja berlari kencang mengejar pesawat, namun, usaha Gavlin sia sia, Dia tak mampu mengejar pesawat yang sudah lepas landas.


Gavlin terduduk lemas di tanah, sambil kepalanya menengadah ke atas langit, melihat pesawat yang sudah terbang diangkasa.


Gavlin tampak kecewa karena tak berhasil mengejar pesawat yang membawa Binsar. Dia terduduk lemas di tanah, khawatir akan Malik yang mengatakan akan menggantikan dirinya melakukan bom bunuh diri bersama Binsar di dalam pesawat.


Indri tiba di dekat Gavlin, lalu dia berjongkok di samping Gavlin dan merangkulnya, Indri mencoba menenangkan diri Gavlin yang kalut itu.


"Pesawat itu sudah pergi, aku gak bisa mengejarnya, In." ujar Gavlin, dengan wajah kalutnya.


Indri diam tak menjawab, namun, dia terus mendekap erat tubuh Gavlin, memberi kehangatan dan ketenangan pada Gavlin. Rifai datang, dan Dia berdiri disamping Indri serta Gavlin yang sedang berpelukan duduk di tanah.


Rifai melihat ke langit, Pesawat terbang semakin tinggi. Tiba tiba saja, dari atas langit, Pesawat itu meledak dan seketika hancur berkeping keping.


Gavlin dan Indri serta Rifai syock dan sangat kaget sekali, mereka sama sama melihat ke atas langit, pesawat meledak terbakar hebat mengeluarkan api dan hancur berkeping keping lalu menukik terjatuh.


"Maaaalllliiiiiikkkk!!!" Teriak Gavlin , histeris.


Gavlin panik , dia histeris melihat Pesawat akhirnya meledak, seketika Gavlin ingat akan Malik yang berada di pesawat bersama Binsar.


"Maaallliiikkk ! Mengapa kamu melakukannya, kenapa, Liiikk?!!" Ujar Gavlin, memelas dan dengan wajah yang penuh kesedihan.


Indri terdiam, dia tak bisa berkata kata apapun juga, begitu juga dengan Rifai. Mereka melihat Gavlin yang sangat sedih namun tak menangis, Rifai dan Indri tahu, bahwa hati Gavlin saat ini sangat sedih sekali, karena sahabat baiknya mati bunuh diri di dalam pesawat bersama penjahat yang akan dibawa pulang ke negaranya.


"Sudah, Vlin. Ikhlaskan kepergian temanmu." ujar Indri, mencoba menenangkan diri Gavlin yang sangat sedih itu.


Indri terus saja memeluk erat tubuh Gavlin, memberinya ketenangan, agar Gavlin tidak larut terus dalam kesedihannya.


"Aku gak pernah berharap, Malik menggantikan Aku melakukan bom bunuh diri itu, In." ungkap Gavlin sedih.

__ADS_1


"Jika aku tau, kalo Malik memang sudah niat dan merencanakannya, dari awal aku gak akan memberi tau Malik bagaimana menggunakan bom itu , dan aku gak akan bilang kalo aku akan melakukan bom bunuh diri , agar aku dan Binsar mati bersama di dalam pesawat." ungkap Gavlin, lirih dan getir.


"Tenang, Vlin. Sabar dan Ikhlaskan. Malik melakukannya untukmu. Malik mengorbankan dirinya, agar kamu tetap bisa menjalani hidupmu ke depannya." ujar Indri, dengan suaranya yang lembut mencoba menenangkan Gavlin.


Gavlin terdiam, Dia masih terduduk lesu di tanah, raut wajahnya menyiratkan kesedihan yang begitu mendalam.


Sesaat kemudian, Gavlin pun lantas melepaskan pelukan Indri dari tubuhnya, Dia lalu segera berdiri dari duduknya di tanah. Indri ikut berdiri disamping Gavlin.


"Aku harus mencari tau, di mana pesawat itu jatuh. Aku mau liat puing puing pesawat . Aku ingin memastikan jenazah Malik dan Binsar di dalam pesawat!" Ujar Gavlin, dengan raut wajah yang tegang dan kalut.


Gavlin hendak melangkah pergi, Indri cepat memegang tangannya dan mencegah Gavlin pergi.


"Kamu mau kemana, Vlin? Sebaiknya kita tunggu kabar dari media, baru kamu datangi lokasi tempat jatuhnya pesawat. Pesawat itu pasti akan segera di evakuasi." jelas Indri.


Gavlin terdiam mendengar perkataan Indri, sesaat dia berfikir, ada benarnya perkataan Indri.


Jika dia memaksakan dirinya mencari lokasi jatuhnya pesawat saat ini juga, dia tak akan menemukannya, karena tak bisa memastikan, dimana tepatnya pesawat yang ditumpangi Binsar dan Malik itu jatuh setelah meledak dan hancur saat terbang di angkasa.


"Sebaiknya, kita pulang dulu, Vlin." ujar Indri, menatap lembut wajah Gavlin yang berdiri disampingnya.


Gavlin dengan lemah dan lesu serta wajah sedihnya mengangguk, mengiyakan perkataan Indri.


Lalu, Indri menggandeng tangan Gavlin dengan mesra, dan membawa Gavlin masuk ke dalam mobil.


Beberapa saat kemudian, mobil pun mulai berjalan, pergi meninggalkan lokasi tempat pesawat berangkat dan lepas landas.


Indri dan Gavlin duduk di jok belakang mobil, sementara Rifai menyetir mobilnya.


Sepanjang jalan, Gavlin berdiam diri, wajahnya murung dan masih menyimpan kesedihannya pada Malik. Indri yang duduk disampingnya tetap memegang tangan Gavlin.


Indri tak melepaskan genggaman tangannya, Indri mencurahkan perhatian dan rasa cinta serta kasih sayangnya pada Gavlin yang tengah di landa kesedihan mendalam itu.


---


Di ruang kerjanya, Andre sedang duduk di kursi meja kerjanya, Masto datang menghampiri dan memberi laporan padanya. Andre wajahnya tampak menahan kesedihan.


"Maaf, Pak. Apa Bapak sudah dapat kabar? Bahwa Pesawat yang di tumpangi Gavlin membawa Binsar meledak saat terbang? Saya baru dapat laporan tadi." ujar Masto, berdiri disamping Andre, yang duduk lemas di kursi kerjanya.


"Ya, Saya juga sudah di kabari Samuel." ucap Andre getir.

__ADS_1


"Menurut laporan, Pihak kepolisian negara Prancis sedang menyelidiki, apa yang membuat pesawat meledak saat terbang itu, Pak." ujar Masto, memberi laporan pada Andre.


"Karena Gavlin yang meledakkannya, Dia melakukan hal itu, agar Binsar gak di sidang dan di penjara, tapi, Dia langsung membunuhnya, dengan cara meledakkan dirinya dan Binsar di pesawat, dengan begitu, Binsar mati." tegas Andre, dengan serius menjelaskan pada Masto.


"Oh, begitu. Tapi, menurut laporan, saat mengevakuasi pesawat, hanya ada dua mayat yang baru ditemukan di dalam puing pesawat yang meledak terbakar dan hancur itu, Pak." ungkap Masto, serius menjelaskan pada Andre.


"Apa mereka disana sudah bisa mengidentifikasi, siapa mayat mayat itu?!" tanya Andre, menatap tajam wajah Masto yang berdiri disampingnya itu.


"Sudah, Pak. hanya satu mayat saja yang berhasil di identifikasi, yang satu korban itu adalah pilot pesawat, dan satunya lagi, korban belum diketahui identitasnya, Pak." Tegas Masto, melaporkan pada Andre.


"Hanya pilot saja?!! Dan yang satu belum diketahui siapa orangnya?! Lantas, kemana mayat Gavlin?!!" tanya Andre, dengan wajahnya yang kaget menatap serius wajah Masto.


"Mayatnya belum ditemukan, Pak. Sampai detik ini, masih berlangsung evakuasi, mencari korban Gavlin." ujar Masto.


"Apa Gavlin memanb benar benar melakukan bom bunuh diri seperti yang aku pikir dan duga ini?! Hingga tubuhnya hancur berkeping keping saaat bom meledak? Sehingga mayatnya gak bisa ditemukan?!" Ujar Andre, sambil berfikir serius.


"Tapi, kalo memang Gavlin melakukan hal itu, tentunya, akan di temukan potongan potongan tubuh Gavlin disekitar lokasi tempat jatuhnya pesawat, tapi, sampai sekarang, belum ditemukan satu potong dari bagian tubuh Gavlin, Pak!" Ujar Masto, menegaskan pada Andre.


"Ya, sudah, Kamu terus pantau perkembangannya di lapangan, jika ada kabar baru, segera kabari saya!" Tegas Andre, menatap serius wajah Masto yang berdiri disampingnya.


"Siap, Pak. Laksanakan !" Ujar Masto, sambil memberi hormat pada Andre.


"Ya, sudah, tinggalkan saya sendirian disini." ujar Andre, tanpa melihat Masto.


"Baik, Pak." Ujar Masto.


Masto mengangguk hormat, lalu, dia segera berbalik badan, dan pergi keluar dari dalam ruang kerja Andre.


Andre menghela nafasnya dengan berat, dia tampak sangat menyesali perbuatan Gavlin, yang membunuh Binsar dengan cara melakukan bom bunuh diri saat mereka berada di dalam pesawat.


"Kenapa kamu ingkari janjimu, Vlin? Kenapa kamu harus meledakkan dirimu bersama Binsar di dalam pesawat, padahal, Aku sudah berniat, Binsar gak akan sampai di pengadilan, sesampainya kalian di sini, Aku akan menembak mati Binsar !" Ungkap Andre, lirih dan getir.


Ternyata, antara Gavlin dan Andre berbeda pandangan dan jalan pikiran dalam menyikapi hukuman apa yang akan mereka berikan pada Binsar.


Gavlin yang sudah tak percaya dengan hukum di negaranya, tak mau menyerahkan Binsar, karena itu dia berniat membunuh Binsar dengan cara meledakkannya dalam pesawat, sementara, Andre punya rencana, saat Gavlin dan Binsar tiba di negaranya. Dia akan membawa Binsar ke suatu tempat yang sudah di siapkannya, lalu dia akan menyiksa Binsar , kemudian menembak mati diri Binsar.


Namun, karena Binsar sudah mati, niat dan rencana Andre gagal total, Dan yang paling dia sesali adalah, Gavlin bertindak gegabah, dan nekat melakukan bom bunuh diri untuk membunuh Binsar.


Andre mengira, Gavlin yang melakukan hal itu, dia tak tahu, jika Gavlin masih hidup dan tidak melakukan seperti yang di duga Andre, karena, Malik yang melakukannya, menggantikan Gavlin, meledakkan Binsar di dalam pesawat yang sedang terbang di angkasa.

__ADS_1


"Kalo kamu menurut dengan perkataanku, kamu gak akan mati Vlin." Gumam Andre, lirih dan getir.


Andre mengira Gavlin mati terbunuh di dalam pesawat yang meledak dan hancur berkeping keping itu.


__ADS_2