VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Pengadilanku akan Datang


__ADS_3

Herman duduk di sofa yang ada di hadapan Mulyono, sang Mensesneg. Wajah Mulyono tampak tak senang dan kesal pada Herman.


Herman tersenyum angkuh merasa menang, karena dia berhasil mempengaruhi Mulyono, untuk menuruti keinginannya.


"Aku udah mentahkan rencana Richard untuk membuka kasus 18 tahun lalu dan menangkap kalian ,sekarang, cepat lepaskan anakku dan istrinya!!" tegas Mulyono, menahan geram dan marahnya.


Mulyono ternyata berada di bawah tekanan Herman, Sebab, Herman saat ini menculik anaknya yang baru saja menikah bersama istri anaknya.


Herman mengancam Mulyono, jika dia tak menuruti apa yang dikatakan Herman, maka, anak semata wayangnya akan di bunuh Herman.


Karena dibawah tekanan dan ancaman Herman, dengan terpaksa dia menuruti semua keinginan Herman. Dengan berat hati, dia pun harus mematahkan serta mementahkan Richard, agar Richard tidak lagi berkeinginan membuka kasus 18 tahun lalu.


Richard yang percaya sepenuhnya pada Mulyono mematuhi perkataan Mulyono, walaupun dia harus kecewa, sebab tak bisa menangkap Herman dan komplotannya.


Richard sama sekali tak tahu, Mulyono menjelaskan masa kadaluwarsa pidana pembunuhan yang terjadi 18 tahun silam, karena berada di bawah ancaman Herman.


"Dimana anakku dan istrinya sekarang?" ujar Mulyono, kesal.


"Santai dulu, Mul! Anakmu baik baik aja sama istrinya! Mereka bersama Peter saat ini." ujar Herman, cuek dan angkuh.


Mulyono tampak semakin geram melihat sikap sombong dan angkuh Herman.


"Tadi aku sempat dengar, kenapa kamu nyarani Richard untuk membuka kasus aku lainnya, agar dia bisa menangkapku? Kenapa Mul?!" bentak Herman marah.


"Aku harus melakukan itu, agar Richard semakin percaya dan yakin dengan apa yang aku katakan padanya!" jelas Mulyono.


"Kalo aku gak menyarankan hal itu, bisa saja Richard curiga dan gak percaya padaku!" tegas Mulyono, kesal.


"Oke, Oke, kalo gitu, aku paham." ujar Herman, mengangguk angguk tengil.


Lantas, Herman mengambil ponsel dari kantong jasnya, kemudian, dia menelpon Peter.


"Lepaskan anak Mulyono dan istrinya sekarang, kita udah aman!" tegas Herman, bicara di telepon.


Lantas, Herman mematikan ponsel dan memasukkannya kembali ke dalam kantong jasnya.


"Anakmu dan istrinya udah aku bebaskan, tunggu saja." ujar Herman.


"Awas aja kamu Herman ! Kalo sampe anakku dan istrinya terluka, akan ku habisi kamu!!" bentak Mulyono, geram dan marah.


"Nyantai, Mul. Nyantai! Anakmu gak akan terluka, percaya padaku, aku jamin ! Karena kamu udah menjalankan tugasmu dengan baik, maka, anakmu dan istrinya pantas di lepaskan, sebagai kemurahan hatiku!" tegas Herman, sombong.


Herman lantas berdiri, lalu, dia berjalan keluar dari dalam rumah Mulyono, Sang Mentri Sekretaris Negara.


Mulyono hanya diam duduk di sofa, dia tak mau mengantarkan Herman keluar dari rumahnya.


Mulyono mengambil ponselnya dari kantong bajunya, dia lantas menelpon anaknya. Wajahnya tampak masih cemas.


"Hallo? Kamu dimana sekarang?" ujar Mulyono, ditelepon.


"Di jalan, Pah. Sama istriku, kami udah di bebaskan." jelas Anak Mulyono, dari seberang telepon.


"Oh, Syukurlah, cepat balik ke rumah jangan kemana mana lagi." ujar Mulyono, di telepon.


"Baik, Pah." Jawab anaknya, dari seberang telepon.


Lantas, Mulyono pun menutup telepon dan menyimpan ponselnya kembali ke dalam kantong bajunya.


Wajahnya tampak tegang, ada rasa bersalah di hatinya, karena dia seperti sudah mengkhianati kepercayaan Richard.

__ADS_1


"Maafkan aku Chard, aku terpaksa melakukan itu, demi menyelamatkan nyawa anakku." Gumam Mulyono, dengan penuh penyesalan dihatinya.


---


Richard menghempaskan tubuhnya di sofa, dalam ruang bawah tanah rumah Gavlin, dia sudah kembali ke tempat persembunyian mereka.


Diatas meja, barang bukti masih terbungkus rapi dalam kain, Wajah Richard terlihat murung, dia juga lemas, seperti kehilangan semangat.


Gatot heran melihat sikap Richard yang tak seperti biasanya itu, dia pun lantas menatap lekat wajah Richard yang terlihat murung dan seperti kecewa.


"Ada apa? Pak Mensesneg menolak membantumu untuk membuka kasus 18 tahun lalu itu?" tanya Gatot, penasaran dan ingin tahu.


"Dia gak menolak, tapi menjelaskan sesuatu pada saya tentang kasus lama itu." ujar Richard, getir.


"Tentang apa?" tanya Herman, heran.


"Menurut pak Mentri, Kasus 18 tahun lalu itu sudah kadaluwarsa, jadi, Herman dan komplotannya bebas, gak bisa lagi di sidang dalam pengadilan!" jelas Richard.


"Apa? Kenapa Kadaluwarsa? Aturan dari mana?!" ujar Gavlin.


Gavlin yang saat itu datang dan mendekati Richard serta Gatot mendengar penjelasan Richard tentang kasus bapaknya 18 tahun lalu.


Gavlin pun terhenyak kaget, mendengar dari Richard, bahwa kasus bapaknya sudah kadaluwarsa.


"Menurut perhitungan, Kasus pidana hukuman seumur hidup akan berakhir selama 18 tahun, di mulai dari dibukanya kasus, persidangan dan memberikan hukuman seumur hidup." Jelas Richard.


Gavlin dan Gatot terdiam mendengarkan penjelasan Richard tentang kadaluwarsanya kasus bapaknya.


"Menurut perhitungan pak Mentri, dua minggu yang lalu, kasus itu sudah berakhir, dan selanjutnya menjadi kadaluwarsa." tegas Richard.


"Jadi, Herman dan komplotannya bebas gitu aja tanpa pernah menjalani hukuman sama sekali?!" bentak Gavlin marah.


"Begitulah hukum dan undang undangnya, Vlin. Kita gak bisa menentangnya." jelas Richard, mencoba meyakinkan Gavlin.


"Ini sebabnya aku gak pernah percaya dengan hukum buatan manusia, sama seperti aku gak pernah percaya sama polisi polisi!!" teriak Gavlin, meluapkan emosi amarahnya.


"Vlin, tenangkan dulu dirimu, kita bicara baik baik, kita bahas sama sama." ujar Gatot, mencoba menenangkan Gavlin.


"Gak ada lagi yang perlu dibahas, Om!!" tegas Gavlin, penuh amarah.


"Jika hukum negara bisa membebaskan Herman dan komplotannya, biar aku yang jadi mata hukum mereka !! Aku akan mengadili Herman dan komplotannya dengan caraku sendiri!!" bentak Gavlin, penuh amarah.


"Vlin, kamu harus tenang, jangan bertindak gegabah, jangan sampai kamu dikendalikan emosi amarahmu, lalu gak bisa berfikir jernih." jelas Richard, menenangkan Gavlin.


"Percuma semua ini!! Cuma buang buang waktuku saja !!" Bentak Gavlin, emosi marah.


Lantas, Gavlin pun beranjak pergi meninggalkan Gatot bersama Richard, dengan membawa amarah yang meluap luap dalam dirinya.


"Gavlin! Kamu mau kemana?" teriak Gatot memanggil Gavlin.


Gavlin tak perduli dengan panggilan Gatot, dia terus berjalan pergi menjauh.


"Biarkan saja dia. Mungkin dia syock." ujar Richard.


"Aku khawatir, Gavlin nekat menyerang Herman dan komplotannya dalam keadaan emosi begitu!" tegas Gatot, penuh rasa khawatir dalam dirinya.


"Percaya saja sama Gavlin, dia pasti bisa menyelesaikan masalahnya." ujar Richard.


Gatot pun lantas diam, dia tak membantah perkataan Richard tersebut. Namun, hatinya masih terlihat sangat cemas dengan Gavlin.

__ADS_1


---


Mobil Sport milik Gavlin meluncur dengan kecepatan sangat tinggi di jalan raya, dia mengebut, wajahnya terlihat sangat marah sambil menyetir mobilnya.


"Wajah hukum Keparaaaat!!" teriak Gavlin di dalam mobilnya.


"Akan ku bunuh kamu Herman !! Akan ku bunuuuuhhh kaliaaan semuaaa!!" teriak Gavlin sekencang kencangnya.


Dia menumpahkan amarahnya sambil tetap menyetir mobilnya di jalan raya. Mobil terus meluncur dijalanan dengan kecepatan yang sangat tinggi.


---


Sementara itu, di sebuah ruang bar kelas atas dan mewah, tampak berkumpul Herman, Peter, Prawira dan Jack Hutabarat.


Mereka berempat saling tos gelas berisi minuman alkohol, lantas, mereka tertawa tawa dengan senangnya.


"Kita bebas dan aman sekarang ! Ini semua berkatmu Herman!!" ujar Jack Hutabarat, tertawa senang.


"Apa benar, kita gak bisa di tuntut lagi, karena kasus itu sudah kadaluwarsa?!" tanya Prawira.


"Ya, setau aku begitu, coba saja kalian ingat dan hitung sendiri, hitung dari kapan kasus itu di mulai, hingga sekarang, berapa lama rentang jaraknya?" ujar Herman.


"Kalo aku rasa, ya benar, sekitar 18 tahun sudah berlalu, aku masih ingat semuanya!" jelas Peter.


"Begitulah, karena itu, aku mengatakan pada Mulyono, agar dia menjelaskan seperti yang aku sampaikan padanya tentang kasus yang sudah kadaluwarsa!!" ujar Herman, tersenyum bangga.


"Lantas, Mulyono menurutimu, dan Richard pun langsung keok?!" ujar Prawira, tertawa kesenangan.


"Jelas saja Mulyono nurut sama Herman, Anaknya ada ditanganku, kami sengaja menculik anak Mulyono!" jelas Peter.


"Jadi, Kamu mengancam Mulyono? Kamu berani ngancam Mensesneg? Gak takut di laporkan ke Presiden? Bisa di pecat loh kamu, Man!!" ujar Prawira, kaget.


"Mulyono gak bakal bertindak sejauh itu, kalo dia berani, ya aku bunuh aja anaknya, bereskan? Kelemahan Mulyono itu ada pada anaknya!! Tegas Herman.


"Cerdas!! Kamu benar benar licik dan cerdas, Herman!!" ujar Jack Hutabarat kagum.


Mereka berempat pun lantas kembali tertawa tawa kesenangan, mereka tak ada beban lagi, hilang rasa takut mereka, karena sekarang, mereka sudah aman, dan tak akan di seret ke pengadilan untuk mengungkap kasus pembunuhan 18 tahun lalu.


---


Mobil Gavlin berhenti di sebuah bukit yang tinggi, Gavlin keluar dari dalam mobilnya, lalu, dia pun berlari sekencang kencangnya.


Gavlin kemudian berdiri tepat di pinggir jurang, yang ada di atas bukit. Wajahnya terlihat sangat marah.


"Biaaaadaaaaabbbb !!! Beeeeddddeeeebaaaaaahhh!!" teriak Gavlin sekencang kencangnya di pinggir jurang.


Gavlin menumpahkan segala amarahnya yang sudah meluap laup dalam jiwanya.


"Kaliaaan haruuus matiiii !! Haaaaruuusss maaaatiii!!" teriak Gavlin, melampiaskan emosi amarahnya.


Suaranya bergema dari atas bukit dan di pinggir jurang. Gavlin benar benar sangat marah, dia murka, karena tak bisa menerima kenyataan, bahwa kasus pembunuhan bapaknya di bilang sudah kadaluwarsa, dan tidak bisa di buka dalam persidangan kembali.


Gavlin marah dan sangat murka pada Herman dan komplotannya, sebab, mereka telah mempermainkan hukum, mereka semua telah mencoreng hitam wajah hukum.


"Pengadilanku akan datang pada kalian!! Tunggu saja !! Kalian akan berada dalam persidanganku!! Akan ku berikan hukuman pada kalian!! Ya, Hukum rimba belantara!!" ujar Gavlin.


Gavlin tampak geram dan marah, sikapnya terlihat dingin, dia melihat kebawah jurang, wajahnya menyeringai jahat. Tampak Gavlin masih memendam amarahnya dalam jiwanya.


"Paaak, Buuuu !! Saksikanlah!! Para penjahat yang membunuh kalian akan ku bantai semuanya !!" Ujar Gavlin, geram dan marah.

__ADS_1


Dia mengepalkan jemari tangannya dengan kuat, giginya bergeretak, berbunyi karena beradu, Gavlin sangat geram sekali, dia tak sabar ingin segera menghabisì Herman dan komplotannya.


__ADS_2