VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Bukti Kejahatan Lainnya


__ADS_3

Herman, Jack dan Peter masuk ke dalam ruangan rumah yang pernah ditempati Herman untuk bersembunyi dan berlindung.


Wajah ketiganya terlihat sangat kesal sekali, karena Gavlin sudah mencampuri urusan mereka, hingga mereka gagal membunuh Andre malam ini.


"Anak setan itu benar benar sialan!!" ujar Herman, kesal sambil menghempaskan tubuhnya di sofa.


"Aku heran, dimana saja kita ada, si Gavlin muncul!? Dia sepertinya tau kemana pun kita pergi." ujar Jack, berfikir.


"Jangan jangan, dia juga mengejar dan mengikuti kita sampai ke sini?" ujar Peter, dengan wajahnya yang cemas.


"Gak mungkin, kita tadi kabur duluan, dan si Gavlin pasti gak sempat mengejar kita, dia pasti sibuk dengan Andre, Andre juga kan memburu Gavlin sebagai buronan polisi?" ujar Jack.


"Iya, ya. Mudah mudahan aja si Gavlin baku tembak sama si Andre, terus, Andre mampus!" ujar Herman geram dan kesal.


Jack dan Peter tertawa mendengar perkataan Herman, Herman sangat kesal dan muak pada Andre dan juga Gavlin.


"Bagaimana pun, kita harus memburu dan membunuh Gavlin!" tegas Herman.


"Pet, gimana anak buahmu? Belum ketemu juga lokasi persembunyian si Gavlin?!" tanya Jack.


"Belum, anak buahku masih berusaha mencari, mereka melacak semua akses Gavlin, termasuk kartu kreditnya juga di lacak." jelas Peter.


"Sial !! Andai saja kita tau tempat persembunyiannya, kita bisa menyergapnya diam diam, lalu membunuhnya!!" ujar Herman geram.


"Iya, aku juga udah gak sabar melihat si Gavlin mampus!! Aku belum bisa tenang dan tidur nyaman, selama dia hidup dan masih berkeliaran memburu kita!!" ujar Jack, dengan wajahnya yang serius.


"Ya. Mudah mudahan aja, anak buahku menemukan lokasi persembunyian Gavlin!" tegas Peter.


Herman dan Jack mengangguk, mereka mengiyakan perkataan Peter.


"Untuk sementara waktu, kita bersembunyi di sini, menurutku, ini tempat paling aman dari kejaran Gavlin." ujar Peter.


"Dan aku yakin, Andre sekarang mengejar kita, karena dia tau, kita berusaha untuk membunuhnya!" jelas Peter dengan serius.


"Artinya kita gak bisa bekerja dan datang ke kantor sementara waktu?" ujar Jack bertanya.


"Sebaiknya begitu, aku khawatir, Gavlin mendatangi rumah kita, atau, dia nekat mendatangi kantor kita untuk mencari dan membunuh kita bertiga!" ujar Peter menjelaskan.


"Sial !! Ruang gerak kita jadi terbatas lagi, karena kita gagal membunuh Andre tadi!" ujar Jack geram.


"Gak apa apa. Memang sebaiknya kita menghilang sementara waktu, sampai nanti suasana menjadi tenang kembali, aku yakin, masalah kita ini akan selesai dengan cepat." jelas Herman.


"Aku gak akan takut, aku akan tetap datang ke kantorku, Andre gak akan bisa menangkap kita, dia kan gak punya bukti, kalo kita bertiga mau membunuhnya?!" ujar Herman.


"Oh, iya. Benar juga katamu." ujar Peter.


"Nah, buat apa kita khawatir sama si Andre ? Dia gak bakalan bisa menangkap kita, kalo dia mau menangkap kita dengan tuduhan, kita mau membunuhnya, dia harus menyertakan bukti yang memperkuat tuduhannya !" jelas Jack.


"Ya." Angguk Peter mengerti.


"Ya , sudah, kita bekerja seperti biasanya di kantor, tapi ingat, kita jangan lengah, tetap waspada, karena Gavlin pasti terus mengintai kita." ujar Peter mengingatkan.


"Ya." ujar Herman dan Jack bersamaan.


"Dan aku akan menugaskan beberapa anak buahku, untuk melindungi kalian berdua." ujar Peter serius.


"Okay." jawab Herman dan Jack.


---

__ADS_1


Keesokan harinya, Samuel, Jaksa Penuntut sedang berjalan menuju ruang kantornya, saat dia melewati ruangan sekretarisnya yang ada di dekat ruangannya, dia berhenti, karena sekretaris memanggilnya.


"Maaf , Pak." ujar Sekretaris, menghampiri Samuel.


"Ya, ada apa Wati?" tanya Samuel.


"Ada kiriman paket buat Bapak tadi dari kurir." ujar Wati, Sekretaris Samuel.


"Paket untuk saya? Dari siapa?" tanya Samuel heran.


Dia heran, karena merasa tak pernah membeli sesuatu apapun juga melalui online.


"Disini tertulis pengirimnya bernama Gavlin, Pak!" ujar Wati.


"Gavlin?! Mana paketnya?" ujar Samuel.


Dia terkejut mendengar nama Gavlin di sebut Wati, dengan cepat, Samuel mengambil paket yang ada di tangan Wati.


"Terima kasih ya." ujar Samuel, tersenyum ramah pada Wati.


"Ya, sama sama Pak." Angguk Wati.


Lantas, Samuel bergegas jalan kembali, dia lalu masuk ke dalam ruang kantornya, Samuel penasaran, dia ingin tahu, apa yang di kirimkan Gavlin padanya.


Samuel masuk ke dalam ruang kantornya, dia lantas bergegas jalan ke meja kerjanya, lalu, di letakkannya tas kerjanya di pinggir meja, kemudian, dia duduk di kursi kerja.


Samuel mengambil pisau cutter dari laci meja kerjanya, lalu, dibukanya kotak paket yang ada di tangannya. Kotak kecil itu kecil.


Dengan hati hati dan wajah yang serius Samuel membuka kotak paket tersebut, lalu, kotak tersebut berhasil dia buka.


Samuel cepat mengambil isi yang ada di dalam kotak paket, dia heran, melihat sebuah flash disk, dan juga, ada secarik kertas kecil di dalamnya.


"Play Me", begitu isi tulisan yang ada di secarik kertas kecil tersebut.


Samuel terdiam, dia sesaat berfikir, lalu, diamatinya Flash disk yang ada ditangannya.


"Apa isi Flash disk ini?" Gumam Samuel berfikir.


Lalu, dia membuka laptopnya yang tergeletak di atas meja kerjanya, kemudian, dinyalakannya laptopnya. Lalu, Flash disk pun di pasangnya pada laptop.


Sesaat kemudian, Samuel sudah memutar flash disk tersebut. Flash disk itu tidak berisi gambar atau rekaman video, tapi melainkan hanya rekaman suara saja.


Samuel lantas memutar rekaman suara yang ada pada flash disk, lalu, dia pun diam mendengarkan suara suara yang ada dalam rekaman audio flash disk.


Samuel kernyitkan keningnya, dia mendengarkan percakapan Herman, Jack dan Peter yang berencana menjebak Andre lalu membunuhnya, dan mereka bertiga juga berencana akan membunuh dirinya.


Samuel kaget, dia geram mendengar rekaman percakapan Herman dan komplotannya tersebut.


"Kurang ajaar !! Kalian ternyata sedang merencanakan kejahatan lagi !! Kalian gak akan bisa membunuhku atau pun Andre !! Aku akan menjebloskan kalian ke penjara!!" ujar Samuel geram dan marah.


Samuel terlihat sangat marah sekali mendengar rekaman percakapan antara Herman dan Jack serta Peter yang merencanakan pembunuhan Andre dan dia.


"Kalian gak akan bisa lolos! Rekaman ini akan menjadi bukti lainnya, dan dengan rekaman ini, aku akan membuat tuduhan baru lainnya lagi!!" ujar Samuel dengan serius.


Samuel lantas menghentikan rekaman suara Herman, Jack dan Peter, lalu, dia melepaskan flash disk dari laptopnya, Samuel menyimpan flash disk dalam kantong celananya. Lalu, dia mematikan laptopnya.


Terdengar pintu ruangannya di ketuk dari arah luar, Samuel yang duduk di kursinya lantas berdiri dari duduknya di kursi kerja.


"Ya, masuk saja!" ujarnya, sambil merapikan berkas berkas yang ada diatas meja kerjanya.

__ADS_1


Tak berapa lama, pintu terbuka dan Andre masuk ke dalam ruang kantor, dia berjalan mendekati Samuel.


Melihat kedatangan Andre, Samuel senang, dia lalu berjalan menghampiri Andre.


Mereka berdua bersalaman, lalu berdiri saling berhadapan.


"Baru saja aku mau menelponmu." ujar Samuel.


"Aku sengaja kesini, karena ada yang mau aku sampaikan padamu." ujar Andre, dengan wajahnya yang serius.


"Aku juga, ada yang mau aku tunjukkan padamu." ujar Samuel serius.


"Kemarilah." Ajak Samuel.


Lantas, Samuel mengambil laptopnya yang ada di atas meja kerjanya, kemudian, dia berjalan dan duduk di sofa, lalu, diletakkannya laptop di atas meja. Andre pun duduk di sofa, disamping Samuel.


Samuel mengambil flash disk dari dalam kantornya, lalu, dia memutar rekaman audio yang ada di dalam flash disk tersebut pada laptopnya.


Andre kaget saat mendengar suara suara yang ada dalam rekaman audio tersebut, dia tampak geram.


"Ini suara Herman, Jack dan Peter!" ujar Andre geram.


"Iya. Dengar, apa yang mereka bicarakan!" ujar Samuel.


Andre diam, dia lantas mendengarkan suara Herman, Jack dan Peter, Andre semakin kaget, karena, dari rekaman audio itu, dia mendengar, kalau Peter sengaja mengajaknya bertemu untuk menjebak dan membunuhnya.


"Kurang ajar Peter !!" Ujar Andre geram.


"Mereka berencana mau membunuh kita berdua, agar kasus kejahatan mereka gak pernah di ungkap oleh kejaksaan !" ujar Samuel.


"Ya, aku juga berfikir demikian. Aku Kesini karena mau mengingatkanmu, agar berhati hati, aku tau, Herman dan komplotannya mau membunuhku, mereka juga pasti akan membunuhmu, agar kita berdua bungkam selamanya!" tegas Andre, menjelaskan dengan serius.


"Ya. Ini gak bisa dibiarkan, Mereka sudah keterlaluan, berani merencanakan pembunuhan, mereka bisa di tahan, dengan bukti percakapan mereka ini!" jelas Samuel.


"Ya, kita harus menangkap mereka, agar mereka bertiga gak bisa berbuat seenak hati mereka lagi!" ujar Andre serius.


"Baik, aku akan mempersiapkan semuanya, aku akan membuat laporan laporan yang berisi tuntutan dan tuduhan tuduhan pada mereka beserta bukti buktinya, setelah itu, satu persatu, kita tangkap mereka bertiga!" tegas Samuel menjelaskan.


"Ya, aku tunggu kabar, kapan kamu mau, aku dan tim bergerak menangkap Herman, Jack dan Peter." ujar Andre serius.


"Secepatnya akan ku kabari." jawab Samuel.


"Baiklah, kalo begitu, aku pamit. Kamu harus berhati hati , jangan lengah." ujar Andre mengingatkan Samuel.


"Ya, Terima kasih. Aku akan berhati hati, terutama sama Jack, karena dia satu kantor sama aku, dan dia pimpinanku, jadi, dia orang yang dekat dan bebas untuk membunuhku kapan saja." ujar Samuel.


"Dan aku gak akan lengah dari Jack, aku akan berhati hati padanya." lanjut Samuel menjelaskan.


"Ya, aku pamit." ujar Andre.


Andre lantas berdiri dari duduknya di sofa, Samuel juga ikut berdiri, mereka berjabatan tangan, lalu, Andre pun berbalik badan dan berjalan keluar dari dalam ruang kantor Samuel.


Sepeninggalannya Andre, Samuel lantas membawa laptopnya, lalu, dia meletakkan laptopnya di atas meja kerjanya.


Samuel mengambil flash disknya yang masih menempel di laptopnya, lalu, dia menyimpan flash disk ke dalam kantong celananya.


Samuel lalu duduk di kursi kerjanya, wajahnya tersenyum senang, dia senang karena mendapatkan bukti kejahatan Herman , Jack dan Peter lainnya.


"Apapun motifmu Gavlin, aku berterima kasih padamu, karena kamu tepat, menyerahkan bukti rekaman suara Herman, Jack dan Peter yang merencanakan pembunuhan Andre dan aku." ujar Samuel, tersenyum senang.

__ADS_1


__ADS_2