
Gavlin bersama Maya berjalan ditrotoar pinggir jalan, Gavlin tak henti hentinya dengan diam diam melirik wajah Maya yang cuek berjalan disampingnya.
Ada kerinduan yang begitu mendalam dihati Gavlin saat ini pada Maya.
Ingin rasanya, dia langsung memeluk erat tubuh Maya, dan melepaskan kerinduannya yang terpendam bertahun tahun lamanya pada Maya.
Gavlin sangat yakin, bahwa Maya memang benar benar teman kecil yang sangat dia sukai dulu.
Namun, dia tak mau mengungkapkan dengan terus terang, dia khawatir Maya akan salah paham, dan malah membenci dan menjauh darinya.
Gavlin mencari cara, bagaimana agar Maya ingat siapa dirinya, dan bisa mengenali sosok Gavlin yang sekarang.
"May, mampir kerumahku ya." Ujar Gavlin.
"Mau apa Vlin?" Tanya Maya heran.
Gavlin menghentikan langkahnya, Maya ikut berhenti dan menatap wajah Gavlin.
"Ada yang ingin aku kasih ke kamu." Ujar Gavlin tersenyum.
"Apa ?" Tanya Maya heran.
Maya semakin tak mengerti dengan perkataan Gavlin padanya.
"Pokoknya kamu ikut aja dulu kerumahku, nanti juga kamu tau." Ujar Gavlin tersenyum.
"Ehmm..." Ujar Maya berfikir.
Dia ragu, sebenarnya dia memang masih ingin bersama Gavlin, hanya saja, dia khawatir pulang kemalaman, dan Ayahnya sudah pulang dan menunggu dia dirumah dengan khawatir.
"Mau ya? Sebentar aja." Ujar Gavlin.
Gavlin berharap, Maya mau kerumahnya, karena ada yang ingin Gavlin tunjukkan pada Maya.
"Ya udah deh, gak apa, tapi aku gak bisa lama lama ya Vlin." Ujar Maya.
"Iya, gak apa. Aku cuma butuh 5 menit buat ngasih sesuatu itu sama kamu." Ujar Gavlin tersenyum.
Maya diam, dia masih heran, apa yang mau di kasih Gavlin.
"Yuk, kita jalan lagi." Ajak Gavlin.
"Eh, ayuk." Ujar Maya tersadar dari lamunannya.
Lantas, mereka berdua pun melanjutkan perjalanannya menuju rumah Gavlin.
---
Dikantor kepolisian, di sebuah ruangan, Gatot bersama Teguh sedang memeriksa hasil rekaman cctv dari perusahaan yang menyewa mobil Crane.
Gatot datang keperusahaan tersebut, karena dia tahu, pelaku pembunuh Mike menyewa crane buat mengangkat tong besar yang berisi mayat Mike yang dikubur salam semen.
Gatot menghentikan rekaman cctv, di layar monitor, terlihat sosok Pria memakai topi dan jaket hitam serta celana hitam.
Gatot menatap tajam wajah orang yang terekam di kamera cctv perusahaan rental alat berat.
Gatot berfikir, dia mengingat ingat sosok wajah pria yang ada di rekaman cctv.
Teguh diam memperhatikan Gatot yang sedang berfikir keras.
"Selintas seperti dia, dari samping, pipi dan rahangnya sama persis, ada tahi lalat kecil di telinga kanannya." Bathin Gatot.
Gatot tampak sedang membanding bandingkan wajah pria yang ada dalam rekaman cctv dan wajah Gavlin yang dia kenal.
"Bagaimana Pak?" Tanya Teguh.
"Sudah cukup." Ujar Gatot.
Gatot lantas keluar dari ruangan tersebut, Teguh mematikan monitor, lalu dia segera keluar dari ruangan mengejar Gatot.
"Bagaimana hasilnya Pak? Apa bapak bisa mengenali wajah orang itu?" Tanya Teguh penasaran.
"Saya belum yakin, masih perlu mencari kebenarannya." Ujar Gatot.
"Oh, baik Pak." Ujar Teguh.
"Saya mau pulang, kalo ada perkembangan soal kasus kita, segera kabari saya." Ujar Gatot pada Teguh.
"Siap Pak !" Jawab Teguh memberi hormat.
Lantas Gatot keluar dari gedung kantornya, sementara Teguh kembali ke meja kerjanya.
Wajah Gatot terlihat tegang, di dalam mobil, dia memakai sabuk pengaman, lalu menelpon Maya.
Namun telepon Maya mati, Gatot kesal.
"Pake dimatiin lagi hapenya." Ujar Gatot kesal.
Gatot lantas meletakkan ponselnya di dalam kantong bajunya.
Lalu dia segera menyalakan mesin mobilnya, untuk kemudian, segera pergi dari kantornya.
---
Gavlin mengajak masuk Maya kedalam rumahnya, kali ini Gavlin berani mengajak masuk Maya.
Sebab dia sudah merapikan semua patung patung yang ada didalam rumahnya.
Gavlin memindahkan patung patung tersebut ke Apartemen mewahnya, Apartemen tempat dia tinggal selama menyamar menjadi Yanto.
Dia memilih menyimpan patung patung lilin di dalam Apartemen Penthousenya, sebab dia yakin, tak akan ada yang datang dan masuk ke Apartemen Penthousenya.
__ADS_1
"Duduk May, sebentar, aku ambilkan." Ujar Gavlin tersenyum.
"Iya Vlin." Angguk Maya.
Gavlin lantas pergi meninggalkan Maya sendirian di ruang tamu rumahnya.
Maya pun duduk di sofa, dia melihat, pintu di tutup rapat Gavlin, dan di ruang tamu tersebut, tidak ada barang barang, hanya ada sofa dan meja, beserta buffet kecil.
Maya melihat, bahwa kondisi rumah Gavlin sangat sederhana.
Tak lama kemudian, Gavlin datang menemui Maya yang diam, duduk di sofa menunggunya.
Tangan Gavlin ada di belakang badannya memegang sesuatu. Lalu Gavlin berdiri tepat di depan Maya.
Maya heran melihat Gavlin berdiri di depannya dengan wajah yang tersenyum cerah.
Maya juga melihat satu tangan Gavlin di belakang badannya, Maya tahu, Gavlin sedang menyembunyikan sesuatu.
"Aku minta, kamu mau menutup matamu May." Ujar Gavlin tersenyum.
"Kamu mau apa, nyuruh aku tutup mata?" Ujar Maya.
Ada curiga dalam diri Maya, dia curiga, Gavlin mau berbuat yang aneh aneh pada dirinya.
"Kamu gak usah khawatir atau curiga May, aku gak bakalan bersikap aneh." Ujar Gavlin.
"Beneran?" Tanya Maya masih ragu.
"Iya, sumpah !" Ujar Gavlin tersenyum.
"Ya udah deh, iya." Ujar Maya.
Setelah dia melihat kesungguhan Gavlin, dia percaya Gavlin tidak akan membohongi dirinya.
Maya pun lantas menutup matanya.
Gavlin tersenyum melihat mata Maya terpejam.
Gavlin menatap wajah Maya , lalu, dia keluarkan tangannya yang dia sembunyikan di belakang badannya.
Di tangan Gavlin ada sebuah boneka kayu. Boneka kayu yang dia buat saat kecil dulu, dan diberikannya pada almarhum adiknya.
Gavlin mengarahkan Boneka kayu ditangannya tepat di dekat wajah Maya.
"Kamu boleh buka matamu sekarang May." Ujar Gavlin tersenyum.
Secara perlahan, Maya pun membuka matanya, Mata Maya terbelalak lebar saat melihat Boneka kayu ditangan Gavlin.
Untuk sesaat Maya terdiam, dengan cepat, terlintas dibenaknya ingatan masa lalunya.
Maya seketika mengingat boneka kayu itu, lintasan ingatannya mengingat saat adik Yanto, teman kecilnya memegangi boneka kayu itu.
"Boneka kayu ini...kan..." Ujar Maya.
Maya terpaku diam, dia tak melanjutkan ucapannya. Matanya lekat menatap boneka kayu ditangan Gavlin.
"Yantooo..." Gumamnya.
Maya lantas mengingat Yanto, teman kecilnya dulu.
Kilatan bayangan wajah Yanto kecil dulu melintas di benaknya, dia mengingat saat saat dia bercanda dan tertawa bersama Yanto kecil dan adiknya yang sudah meninggal.
"Kamu ingat boneka ini May?" Ujar Gavlin tersenyum.
"Darimana kamu dapatkan boneka kayu ini Vlin?" Tanya Maya heran.
Dia menatap tajam wajah Gavlin, dia ingin tahu, darimana Gavlin mendapatkan boneka kayu milik Yanto, mengapa boneka kayu itu ada pada Gavlin.
"Kamu tau, boneka kayu ini punya siapa, dan siapa yang membuatnya?" Ujar Gavlin tersenyum.
"Jelas aku tau Vlin, boneka kayu ini milik adik Yanto, teman kecilku dulu, Yanto yang buat boneka ini, dan dikasihnya ke adiknya." Ujar Maya.
"Dan, kami sering bermain boneka ini." Ujar Maya.
Maya lantas terdiam, Gavlin menatap wajah Maya yang tiba tiba bersedih.
"Kamu kenapa May?" Tanya Gavlin.
"Saat aku bermain boneka ini bersama adik Yanto, rumah Yanto kebakaran, dan kami pun berpisah sejak saat itu." Ujar Maya menangis sedih.
Gavlin terharu melihat Maya menangis, Gavlin juga senang, Maya bisa mengingat dengan jelas boneka kayu yang ada ditangannya.
"Ambillah May, boneka ini buat kamu." Ujar Gavlin tersenyum.
Maya menghapus air matanya, dia menarik nafasnya dalam dalam, berusaha untuk menenangkan dirinya.
Maya lantas mengambil boneka kayu dari tangan Gavlin, lalu maya mendekap erat boneka kayu tersebut.
Seakan, Maya sedang memeluk adik Yanto dan juga Yanto, sebab, Maya pun sangat merindukan teman masa kecilnya itu.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku tadi Vlin." Ujar Maya.
Dia menatap lekat wajah Gavlin yang berdiri didepannya, dengan tersenyum manis padanya.
"Soal darimana aku dapat boneka itu?" Ujar Gavlin tersenyum.
Maya mengangguk, mengiyakan, Gavlin menatap tajam wajah Maya yang duduk di sofa, dihadapannya.
"Aku Yanto May, teman kecilmu dulu." Ujar Gavlin tersenyum.
Mendengar Gavlin mengaku kalau dirinya Yanto, Maya pun terhenyak kaget.
__ADS_1
Maya lantas menatap tajam wajah Gavlin yang tersenyum padanya, dia tak percaya dengan pengakuan Gavlin.
"Kamu Yanto? Teman kecilku dulu?" Ujar Maya.
Dia terus menatap wajah Gavlin yang tersenyum dan bersikap tenang didepannya.
Maya ingin melihat kesungguhan Gavlin saat dia mengakui, bahwa dirinya adalah Yanto.
"Aku Yanto May, dulu, saat rumahku terbakar dan menyelamatkan adikku, aku menyimpan boneka kayu itu di kantong celanaku."Ujar Gavlin.
"Boneka kayu itu terus ada di kantong celanaku, sampai aku dibawa ke panti asuhan oleh Ayahmu." Ujar Gavlin tersenyum.
Maya semakin kaget, karena Gavlin pun ternyata mengenali Ayahnya.
"Kamu tau, kalo Ayahku yang nolongin kamu sama adikmu?" Tanya Maya.
"Pas awal ketemu Ayahmu, aku belum menyadarinya, tapi setelah, Ayahmu beberapa kali cerita tentang masa kecil Yanto, apalagi bahas soal tanda lahirku, aku jadi yakin, kalo memang Ayahmu yang nolong aku dulu." Ujar Gavlin tersenyum.
Maya terdiam, dia tak mampu berkata kata, hanya menangis yang bisa dia lakukan saat ini.
"Aku berpura pura gak kenal Ayahmu May, aku sengaja melakukannya, karena, aku perhatikan, Ayahmu menaruh curiga padaku." Ujar Gavlin tersenyum.
"Ayahmu curiga, aku ada kaitannya dengan kematian Linda." Ujar Gavlin.
Maya terdiam, dia menatap tajam wajah Gavlin, Maya masih tak percaya, bahwa Gavlin, adalah Yanto, teman kecilnya dulu.
Gavlin lantas mengambil dompetnya, dia pun mengeluarkan photo saat dia kecil.
Dia di photo waktu dia tinggal dirumah orang tua angkatnya, diluar negeri, setahun setelah kejadian kebakaran rumahnya.
Liatlah photo ini May." Ujar Gavlin.
Gavlin memberikan photo yang terlipat lipat itu pada Maya.
Maya melihat photo ditangan Gavlin. Lantas, dia mengambil photo tersebut.
Gavlin menyimpan dompetnya kembali ke dalam kantong celananya, Maya membuka lipatan lipatan photo yang dia pegang.
Maya terhenyak kaget saat melihat wajah seorang anak di photo tersebut.
Maya menegaskan pandangan matanya pada photo, pada sosok anak kecil didalam photo.
"Yantoo..." Ujar Maya.
Akhirnya Maya mengenali wajah Yanto. Gavlin tersenyum senang, karena Maya mengenali wajahnya saat kecil dulu.
Maya lantas menatap tajam wajah Gavlin, lantas di lihatnya lagi photo Yanto kecil ditangannya, lalu, dia melihat wajah Gavlin lagi.
Maya ingin memastikan kesamaan wajah Gavlin dengan wajah Yanto, teman kecilnya di photo tersebut.
"Kamu benar benar Yanto teman kecilku?!" Ujar Maya menangis.
"Iya May, photo itu di ambil dirumah orang tua angkatku, saat aku tinggal bersama mereka diluar negri dulu karena di adopsi." Ujar Gavlin memberi tahu Maya.
Maya terdiam, dia terus menangis, dia menangis karena sangat terharu dan bahagia, sebab dia bertemu dengan teman kecilnya lagi.
"May, Aku berdoa setiap hari, sebelum aku bertemu denganmu, dan sekarang, aku merasa, bahwa doaku telah dijawab." Ujar Gavlin tersenyum bahagia.
Maya masih menangis dan diam, dia tak sanggup berkata kata. Gavlin lantas mengangkat tubuh Maya yang duduk di sofa.
Maya pun lantas berdiri tepat dihadapan Gavlin, mereka berdua saling bertatapan mata.
"May, Aku ingin kamu tau, bahwa aku selalu menitipkan harapan ke dalam beribu rintik hujan dalam diam. Aku ingin hari-hari depanku bersamamu." Ungkap Gavlin.
Maya diam tak menjawab, dia semakin menangis, menangis karena bahagia, hingga tak mampu berkata kata.
"Aku menyukai dan mencintaimu sejak kecil hingga sekarang, karena seluruh alam semesta bekerja sama untuk membantuku menemukanmu." Ucap Gavlin tersenyum.
Maya menghapus air matanya, dia lantas menatap tajam wajah Gavlin, ada kerinduan di bola mata Maya saat memandang wajah Gavlin.
"May, kamu adalah jantungku, hidupku, satu satunya yang aku pikirkan selama ini, dan aku gak pernah menyerah mencarimu, aku yakin, aku pasti akan menemukanmu." Ujar Gavlin tersenyum.
Mata Gavlin terlihat berbinar binar penuh kebahagiaan, sebab dia sudah menemukan kekasih hatinya yang bertahun tahun terpisah dari dirinya.
"Ketika aku melihat ke matamu saat pertemuan kita yang kedua, aku tahu, bahwa aku telah menemukan cermin jiwaku yang selama ini hilang, yaitu kamu May." Ujar Gavlin tersenyum.
"May, hanya kamulah pelabuhan terakhirku. Kapalku telah usang berkelana hingga ke ujung dunia untuk menemukan keindahan hatimu." Ucap Gavlin puitis.
"May, aku gak pernah keberatan untuk menunggu dan mencintaimu. Satu, dua, hingga beribu tahun lamanya, aku akan tetap menunggu dan mencarimu." Ujar Gavlin.
Maya terdiam, dia semakin yakin dengan kesungguhan hati Gavlin yang begitu sangat mencintai dirinya.
"May, inilah bukti, bahwa Tuhan gak pernah salah, aku berhasil menemukanmu di saat aku sangat merindukanmu." Ujar Gavlin.
Tatapan mata Gavlin pada Maya penuh cinta yang membara.
Tiba tiba Maya memeluk erat tubuh Gavlin, dia melepaskan kerinduannya pada Gavlin.
Gavlin pun memeluk erat tubuh Maya, Gavlin bahagia, karena cintanya yang sempat hilang, kini kembali hadir bersamanya.
Untuk sesaat mereka berdua berpelukan erat, menumpahkan rasa rindu mereka selama ini yang terpisah.
Gavlin melepaskan pelukan Maya, Maya pun melepaskan pelukannya, Maya berdiri di depan Gavlin.
Mereka saling berpandangan, beradu mata, lalu, Gavlin mendekatkan wajahnya ke wajah Maya.
Lantas, Gavlin pun ******* lembut bibir Maya, Maya pun membalas kecupan bibir Gavlin di bibirnya.
Bibir mereka pun lantas berpagutan mesra, mereka saling ******* bibir, mencurahkan rasa rindu dihati mereka berdua.
Gavlin dan Maya terhanyut dalam kerinduan dan kemesraan.
__ADS_1