VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Rencana Menjebak Binsar


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, terlihat Gavlin datang berkunjung bersama Malik ke Markas gank Mafia 'Seira Costa' yang di pimpin Aamauri.


Malik membawa Gavlin menghadap kepada Aamauri yang memang sudah menunggu kedatangan Gavlin untuk menemuinya.


Gavlin dan Malik masuk ke dalam ruangan yang besar dan luas, didalam ruangan itu terlihat kesan mewah.


Duduk di kursi kerja seorang Pria seumuran Wicaksono, berusia sekitar 59 tahun, tubuhnya tampak kekar, dan orangnya terlihat sangat berwibawa.


"Gavliiin, anakku...!" ujar Aamauri.


Aamauri dengan wajah yang tersenyum senang berdiri dan menghampiri Gavlin , lantas Aamauri memeluk erat tubuh Gavlin. Melepaskan rasa rindunya pada Gavlin.


"Apa kabar, Pak?" ujar Gavlin, menyapa ramah, dalam pelukan Aamauri.


Aamauri melepaskan pelukannya, dia memegangi kedua bahu Gavlin dengan kedua tangannya, dia menatap lekat wajah Gavlin yang berdiri dihadapannya.


"Kabar Bapak baik. Sudah lama sekali, sekarang, anakku yang hilang telah kembali." ucap Aamauri sambil tertawa kecil menatap wajah Gavlin.


"Iya, Pak. Maaf, saya baru sempat datang sekarang mengunjungi Bapak di markas ini." ucap Gavlin, tersenyum kecil menatap Aamauri.


"Tidak apa apa, Bapak paham kesibukanmu, Malik sudah cerita semuanya tentang maksud dan tujuanmu datang kembali ke kota Paris ini." ungkap Aamauri, tersenyum ramah menatap wajah Gavlin.


Gavlin menoleh pada Malik yang berdiri disampingnya setelah mendengar perkataan Aamauri.


"Iya, Vlin. Aku bilang ke bos, kalo kamu datang kembali ke Prancis ini, dan Aku jelaskan tujuanmu datang kesini." ungkap Malik, menatap wajah Gavlin.


"Iya, gak apa." jawab Gavlin pada Malik.


Aamauri sangat menyayangi Gavlin, dulu, saat Gavlin masih menjadi anggota gank mafia Aamauri, dia sangat dipercaya oleh Aamauri, bahkan, dia menjadi tangan kanan Aamauri, setiap transaksi bisnis apapun yang dilakukan, Aamauri selalu mempercayakannya pada Gavlin untuk menjalani, mengurus dan menyelesaikannya, dan selama bekerja, Gavlin selalu di dampingi Malik.


Dan Aamauri sudah menganggap Gavlin seperti anak kandungnya sendiri, karena dia menilai diri Gavlin yang baik, jujur, dan bertanggung jawab serta sigap dan juga cerdas , selain itu Gavlin berani dan tangguh, dia tak segan segan dulu menghabisi lawan lawannya dari gank gank mafia lainnya jika mencoba menentang dan melawan gank mafia mereka.


Sebab itu, dulu, sosok Gavlin sangat disegani dan dihormati oleh para anggota gank mafia 'Seira Costa' pimpinan Aamauri, dan diantara para gank mafia lainnya, sosok Gavlin sangat ditakuti, karena Gavlin hebat dalam berkelahi.


"Ayo kita duduk, Vlin." ujar Aamauri, mengajak Gavlin.


Aamauri merangkul tubuh Gavlin dan mengajaknya duduk di sofa yang ada di dalam ruang kantor tersebut. Terlihat Aamauri sangat akrab sekali dengan Gavlin. Malik ikut duduk juga di sofa menemani Gavlin dan Aamauri yang sudah duluan duduk di sofa.


"Apa yang bisa Bapak bantu untukmu, Vlin." ujar Aamauri, menatap lekat wajah Gavlin yang duduk di sampingnya.


"Tidak ada, Pak. Saya gak mau merepotkan Bapak." ucap Gavlin.


Gavlin dari dulu memang selalu memanggil Aamauri dengan sebutan 'Bapak' , karena dia menghormatinya sebagai orang tuanya sendiri, tidak pernah Gavlin menyebutnya dengan panggilan 'Bos' seperti yang dilakukan Malik dan anggota lainnya.


"Katakan saja, apa yang kamu butuhkan, Bapak akan membantu dan memenuhinya." ujar Aamauri, tersenyum ramah pada Gavlin.


Gavlin diam, untuk sesaat dia tampak ragu untuk menyatakannya, sebenarnya memang ada yang dia perlukan dan butuh bantuan langsung dari Aamauri, namun dia segan mengatakannya.


"Ayolah, katakan saja, Bapak tau, ada hal yang sangat kamu butuhkan, jangan ragu, katakan saja sama Bapak." ucap Aamauri, tersenyum ramah menatap wajah Gavlin.

__ADS_1


"Sebenarnya memang ada, Pak. Saya butuh beberapa jenis senjata lagi buat menjalankan misi balas dendam saya." ujar Gavlin, menatap lekat wajah Aamauri yang duduk di sampingnya.


"Baik, akan Bapak siapkan semuanya untukmu." ujar Aamauri, tersenyum senang menatap wajah Gavlin.


"Selain senjata, saya juga butuh bahan bahan peledak, Pak." ungkap Gavlin.


Mendengar perkataan Gavlin itu, Malik kaget, karena Gavlin masih ngotot juga butuh bahan peledak untuk dirakitnya menjadi bom bunuh diri. Malik menatap tajam wajah Gavlin, Gavlin meliriknya dan memegang paha Malik , memberi isyarat pada Malik agar dia diam saja. Malik paham dengan isyarat tangan Gavlin yang mencengkram pahanya, dia pun lantas diam saja.


"Untuk apa bahan bahan peledak itu, Vlin?" tanya Aamauri, menatap tajam wajah Gavlin.


"Untuk saya gunakan sewaktu waktu nanti, Pak. Saat saya dalam situasi genting." ungkap Gavlin berbohong.


Gavlin tak mau jujur mengatakan kalau bahan bahan peledak itu untuk bom bunuh diri yang akan dia gunakan rencananya nanti , karena, kalau dia jujur bilang, Aamauri pasti tidak akan mau menyediakan bahan peledak tersebut.


"Okay, Akan Bapak siapkan bahan bahan peledaknya dan juga senjata senjata yang kamu perlukan. Secepatnya semua barang itu akan tersedia." ujar Aamauri, menjelaskan pada Gavlin.


"Ya, Pak, terima kasih." ucap Gavlin, tersenyum senang menatap wajah Aamauri.


Aamauri mengangguk mengiyakan, dia tersenyum senang menatap wajah Gavlin yang duduk disampingnya, Aamauri menepuk nepuk pundak Gavlin dengan pelan.


Malik hanya duduk diam mendengarkan saja.


"Kamu semakin gagah saja Vlin, setelah bertahun tahun Bapak gak melihatmu, badanmu makin kekar." ujar Aamauri, tersenyum bangga pada Gavlin.


Gavlin hanya tersenyum kecil saja mendengar perkataan Aamauri yang memuji dirinya itu, Aamauri lantas menatap wajah Gavlin.


"Dia pelarian dan buronan di negara saya Pak. Dia penjahat negara, dan juga yang telah menjebak lalu membunuh Bapak saya puluhan tahun lalu, saat saya kecil dulu." ungkap Gavlin, mencoba menjelaskan pada Aamauri.


"Oh, ya, Bapak ingat, waktu pertama kali kamu datang menemui Bapak, meminta agar Bapak mau menerimamu sebagai anggota gank, kamu pernah cerita soal masa kecilmu dulu." ujar Aamauri, tersenyum ramah menatap wajah Gavlin.


"Ya, Pak." Angguk Gavlin.


"Kalo Bapak boleh tau, siapa nama musuhmu itu? Agar Bapak menghubungi gank gank mafia lainnya buat melacak keberadaannya di negara Prancis ini." ujar Aamauri, menjelaskan.


"Namanya Binsar, Pak. Di negara saya, dia sebagai menteri dan salah satu penasehat Presiden, Binsar itu yang mengendalikan negara, Presiden nurut dan tunduk sama dia, bahkan , karena Presiden melawan, Binsar membunuhnya. Binsar juga yang telah menjual aset aset negara." ujar Gavlin, menjelaskan pada Aamauri.


"Binsar namanya? Sepertinya Bapak pernah mendengar nama itu." ujar Aamauri.


Aamauri diam sesaat, dia tampak berfikir, mencoba mengingat ingat, Gavlin dan Malik saling lirik, mereka diam menunggu, duduk di sofa.


Beberapa saat kemudian, Aamauri tersenyum kecil, lalu dia menatap wajah Gavlin yang duduk disampingnya itu.


"Bapak ingat sekarang, Bapak sebelumnya pernah ketemu dengan orang yang bernama Binsar itu." ungkap Aamauri.


"Benarkah, Pak?" tanya Gavlin, menatap tajam wajah Aamauri.


"Ya. Kami bertemu saat Bapak menjalankan transaksi bisnis dengan gank Mafia 'De Brain", sepertinya, dia salah satu orang kuat di gank tersebut." ujar Aamauri menjelaskan.


"Bapak tau markas gank tersebut?" tanya Gavlin, menatap serius wajah Aamauri.

__ADS_1


Gavlin tampak bersemangat mendengar perkataan Aamauri, dia senang, karena ternyata Aaamauri juga kenal dan pernah bertemu dengan Binsar sebelumnya.


"Kamu tenang dulu, Vlin." ujar Aamauri.


"Binsar itu ingin membeli banyak senjata senjata pada Bapak. Dan kesepakatan atas perjanjian jual beli senjata belum berakhir, Bapak masih akan mengadakan pertemuan lagi dengan gank mafia 'De Brain'yang di wakili Binsar itu." ujar Aamauri, memberi penjelasan pada Gavlin.


"Oh, begitu, Kapan kira kira Bapak akan bertemu lagi?!" ujar Gavlin, bertanya dengan wajahnya yang serius menatap wajah Aamauri.


"Bapak belum memberitahu mereka, kapan Bapak ada waktu ketemu lagi dengan mereka, karena Bapak masih berfikir, apa Bapak menerima harga beli yang diajukan Binsar untuk jenis jenis senjata yang dia pesan atau tidak." ujar Aamauri, menjelaskan dengan serius pada Gavlin.


"Oh, begitu." ujar Gavlin.


Aamauri diam, dia perhatikan wajah Gavlin yang tampak serius itu, dia tahu, ada dendam yang tersimpan dalam diri Gavlin.


"Kamu pastinya sangat ingin bertemu dan membunuh Binsar itu, Vlin?" ujar Aamauri, menatap tajam wajah Gavlin.


"Iya, Pak. Memang saya ingin membunuhnya, sudah lama saya mengincarnya, dan dia selalu bisa melarikan diri." ungkap Gavlin, menjelaskan pada Bapak.


"Baiklah, karena kamu ada dendam dengan Binsar itu, Bapak akan mempermudah langkahmu dalam mengejarnya." ujar Aamauri, tersenyum ramah menatap wajah Gavlin.


"Maksud Bapak?" tanya Gavlin, menatap heran wajah Aamauri, yang tersenyum padanya.


"Bapak akan mengabarkan pada gank Mafia 'De Brain' untuk bertemu dan menyelesaikan transaksi kami yang tertunda itu." ujar Aamauri serius.


"Nanti, setelah bertemu dengan Binsar, kamu bisa menyergap dan menangkapnya." lanjut Aamauri menjelaskan.


"Apa mungkin, Pak? Saya pikir, Binsar pastinya datang dengan di kawal anak buahnya saat bertemu Bapak." ujar Gavlin, menatap serius wajah Aamauri.


"Ya, Bapak tau itu, selama kami bertemu, Bapak memang melihat Binsar selalu datang bersama para anak buahnya." ungkap Aamauri.


"Tapi kamu jangan khawatir, Bapak akan menjebaknya, dengan memintanya bertemu empat mata di dalam ruang tertutup, dan nanti kamu bisa menangkapnya lagi diruangan itu." jelas Aamauri dengan wajahnya yang serius.


"Dan anak buahnya, Malik beserta anggota lainnya bisa menghabisi mereka semua saat Bapak dan Binsar ada di dalam ruangan tertutup." ujar Aamauri, menjelaskan rencananya pada Gavlin dan Malik.


"Bagaimana, Vlin? Apa kamu bisa menerima rencana Bapak ini?" tanya Aamauri, menatap tajam wajah Gavlin.


"Ya, Pak. Saya ikut rencana Bapak saja. Yang penting Binsar bisa saya tangkap." ujar Gavlin, dengan wajahnya yang serius.


"Okay, akan kita atur semuanya, dan kamu Malik, bersiaplah dengan anggota lainnya, kita bantu Gavlin." ujar Aamauri, memberi perintah pada Malik yang duduk diam saja di sofanya.


"Baik, Bos. Akan kami jalankan." ujar, Malik sambil mengangguk hormat pada Aamauri.


"Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih, Pak." ujar Gavlin, menunduk hormat pada Aamauri.


"Tenang, Vlin. Kita ini keluarga, sudah selayaknya saling bantu dan tolong menolong." ujar Aamauri, tersenyum senang menatap wajah Gavlin yang duduk disampingnya.


"Ya, Pak." ujar Gavlin, mengangguk dan tersenyum senang juga pada Aamauri.


Malik terlihat juga ikut tersenyum senang, dia lega, karena pimpinan ganknya mau ikut membantu Gavlin, dan turun langsung dalam menjebak Binsar, musuh besar Gavlin selama ini.

__ADS_1


__ADS_2