VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Aku merahasiakannya


__ADS_3

Gavlin mendekati Maya yang masih syock, Gavlin tahu, Maya kaget mengetahui dirinya seorang pembunuh.


Wajah Maya tampak menegang, dia menatap tajam wajah Gavlin tak percaya. Dia tak menyangka, Gavlin, atau yang dia kenal dengan nama Yanto, bisa membunuh banyak orang.


"May, apa kamu takut denganku setelah tau, aku pembunuh?" Ujar Gavlin serius.


Dia menatap tajam wajah Maya, Gavlin ingin tahu, bagaimana sikap Maya setelah mengetahui tentang dirinya sebagai pembunuh.


"Tunggu, Vlin. Biarkan aku tenang, beri aku kesempatan untuk memikirkan semua ini, aku sedang berusaha menerima kenyataan ini." Ujar Maya lirih dengan wajah tegangnya.


Gavlin pun diam, dia menuruti permintaan dan keinginan Maya, dia membiarkan Maya berfikir sejenak.


Maya memejamkan matanya, lalu, sesaat kemudian, perlahan lahan Maya pun membuka kedua matanya, kemudian, dia menarik nafasnya dalam dalam.


Gavlin diam memperhatikan Maya, Maya tampak berusaha menenangkan dirinya dan tidak syock lagi. Lalu, ditatapnya wajah Gavlin.


"Apa, kamu juga membunuh Mike? Karena membalaskan dendam Linda?" Tanya Maya dengan wajah sedihnya.


Dia sedih, karena mengetahui, bahwa Gavlin telah berubah menjadi seorang pembunuh berdarah dingin.


"Ya, May. Aku yang bunuh Mike, dan aku juga yang membunuh Samsul dan anggota Wolf Gank, juga Jauhari, Kepala Desa Rawas." Ungkap Gavlin.


Maya semakin terhenyak, dia limbung sesaat, dia syock mendengar perkataan jujur Gavlin. Maya sebenarnya berharap, agar Gavlin tak mengakuinya.


Maya pun menatap lekat wajah Gavlin yang tampak dingin dan kaku itu, tatapan mata Maya nanar, penuh kesedihan.


"Mengapa kamu jadi pembunuh, Vlin?" Tanya Maya lirih dan sedih.


"Karena mereka yang menjadikanku sebagai pembunuh." Ujar Gavlin dengan sikap dinginnya.


"Mereka siapa?" Tanya Maya heran.


"Mereka semua yang udah menghancurkan hidupku dulu!" Tegas Gavlin geram.


"Memangnya kamu tau, siapa dalangnya?" Ujar Maya bertanya ingin tahu.


"Ya, dia Bramantio, dan adiknya, Jafar. Mereka otak yang menjebak Bapakku dan juga membunuh Ibuku." Ungkap Gavlin geram.


"Wijaya juga, dia salah satu komplotan Bram, dia juga terlibat!" Tegas Gavlin.


Maya semakin terhenyak tak percaya dengan apa yang dikatakan Gavlin.


Maya pun menghela nafasnya dengan berat.


"Kecurigaan Ayahku ternyata benar selama ini." Ujar Maya tersadar.


Dia baru sadar, mengapa selama ini, Ayahnya seperti menaruh curiga pada Gavlin, dan terkesan ingin tahu lebih jauh lagi tentang Gavlin.


Ternyata, Ayahnya sudah lebih dulu mencurigai Gavlin sebagai pembunuh, sebab, Ayahnya tahu, kalau Gavlin adalah Yanto, teman kecil Maya, yang dulu di selamatkan Ayahnya.


Akhirnya Maya pun paham dengan kecurigaan Ayahnya pada Gavlin, dan dia pun jadi mengerti, mengapa Ayahnya bersikeras untuk menjauhkan dia dari Gavlin.


Ayahnya takut, Dia terbawa bawa dengan masalah Gavlin, Ayahnya tak ingin, dia celaka, karena Gavlin membalas dendam.


Maya pun serba salah, antara menuruti Ayahnya, atau tetap bersama Gavlin.


Maya berat untuk pergi dari Gavlin, sebab, dia sangat mencintai Gavlin.


Maya pun berusaha untuk memahami apa yang sudah dilakukan Gavlin, dia mencoba untuk bertahan, dan memilih tetap bersama Gavlin.


"Vlin, apakah kamu akan terus membunuh sampai musuhmu habis?" Tanya Maya penasaran.


"Ya, May. Aku belum bisa hidup tenang, jika semua musuhku masih hidup dan mereka bersenang senang diatas penderitaanku selama ini." Ungkap Gavlin dengan sikap dingin.


"May, apakah kamu akan bilang pada Ayahmu, bahwa, aku telah mengaku sebagai pelaku pembantaian kampung Rawas?" Tanya Gavlin lirih.

__ADS_1


"Nggak, Vlin. Aku akan merahasiakannya dari Ayahku." Tegas Maya.


"Dan, apakah kamu akan menjauh dariku, setelah kamu tau, aku seorang pembunuh?" Tanya Gavlin lagi dengan lirih.


"Nggak, Vlin. Aku gak akan pergi, sampai kapan pun aku gak akan meninggalkanmu, aku akan tetap bersamamu!" Ungkap Maya tegas dan penuh keyakinan.


"Biar pun kamu udah tau, siapa aku?" Tanya Gavlin lagi dengan getir.


"Ya, Vlin. Bagaimana pun dirimu, aku akan tetap ada di sampingmu, menemanimu, aku gak takut, sekalipun aku akan dalam bahaya, karena aku yakin, kamu pasti melindungiku." Tegas Maya.


"Terima kasih, May. Aku janji, aku pasti akan menjaga dan melindungimu, Aku gak akan membiarkan musuh musuhku mencelakakanmu!" Tegas Gavlin.


"Vlin, sebenarnya perang yang dipicu oleh balas dendam, gak ada yang bisa lahir, kecuali kesedihan." ujar Maya.


"Ya, aku tau, May. Karena tindakan kita itulah, kita dihancurkan atau diselamatkan. Pilihan ada di tangan kita." Tegas Gavlin.


"Sebenarnya, menurutku,balas dendam jelas merupakan ekspresi dendam yang sangat kacau. Bahkan sulit untuk menyebutnya jahat. Itu hanya kegilaan biasa. Hasil dari pemikiran yang sangat kacau." Ungkap Maya serius.


"Balas dendam melihat ke belakang, sedangkan rasionalitas melihat ke depan, jadi keduanya gagal untuk saling berkaitan." Lanjut Maya.


"Setiap bilah memiliki dua sisi, Vlin. Dia yang melukai dirinya sendiri dan dengan yang melukai yang lain." Tegas Maya.


"Hukum lama tentang mata ganti mata membuat semua orang buta." Tandasnya.


"May, ketika rasa sakit bertemu dengan dendam. Maka benci adalah keturunannya. Dan itu yang terjadi dalam diriku!" Tegas Gavlin.


"Ya, aku paham, Vlin." Ujar Maya tersenyum getir.


"Balas dendam itu sebenarnya termasuk perbuatan tercela yang sebaiknya dihindari. Sebab balas dendam seringkali menimbulkan dampak negatif dan merugikan." Ujar Maya menjelaskan.


"Sebab, saat kamu memulai perjalanan balas dendam, kamu pun mulai dengan menggali dua kuburan, satu untuk musuhmu, dan satu untuk dirimu sendiri." Lanjut Maya.


"Namun, biar bagaimana pun, aku gak bisa mencegahmu, Vlin. Karena itu hakmu, itu pilihan jalan hidupmu!" Tegas Maya.


"Aku hanya berusaha untuk selalu memberi dukungan dan mendampingimu." Lanjut Maya tersenyum.


"Jika kamu merasa perlu balas dendam, maka, lakukanlah, aku mendukung sepenuh hati!" Tandasnya.


"Ingat lah, Vlin, mencari keadilan adalah hal yang baik dan mulia kamu lakukan, namun, jangan sampai karena bernafsu membalas dendam, kamu malah menghancurkan jiwamu!" Tegas Maya mengingatkan Gavlin.


"Bramantio dan komplotannya telah merusak kehidupanku, dan mereka harus membayar mahal perbuatan mereka padaku!" Tegas Gavlin geram.


"Aku hanya ingin mencari keadilan, May. Karena, aku gak pernah mendapatkannya, dan aku gak percaya sama Polisi, sebab, Polisi tak mampu menangkap Bramantio!" Ujar Gavlin geram.


"Karena itu aku memilih jalanku sendiri, aku membalas dendam sendiri, karena, kalo aku menunggu, sampai kapanpun, Polisi gak bakal menangkap Bram!" Tegas Gavlin.


"Jika Polisi bisa menangkap, dari dulu pastinya Bramantio dan komplotannya sudah dipenjara, dan aku, gak mungkin menjadi pembunuh, karena membalas dendam!" Tandasnya.


Maya diam mendengarkan, dia menangkap, ada kemarahan yang begitu mendalam di dalam diri Gavlin.


"Iya, Vlin. Jika aku dalam posisi kamu, aku pasti menempuh jalan yang sama sepertimu, membalas dendam !" Tegas Maya, meyakinkan Gavlin.


"Aku hanya ingin melihatmu bahagia, Vlin, jika membalas dendam membuatmu bahagia, dan bisa membuatmu tersenyum tenang, maka lakukanlah!" Ujar Maya bersungguh sungguh.


"Iya, May. Selama ini, aku selalu mengingat kejadian itu, aku gak bisa hidup tenang, wajah wajah para bedebah selalu muncul dalam pikiran dan ingatanku selama ini!" tegas Gavlin geram.


"Ya, Vlin, ada waktunya stay. Ada waktunya on the way, ada waktunya care, dan ada waktunya I dont care." Ungkap Maya serius.


"Setiap perkara ada gantinya. Setiap perlakukan ada ganjarannya. Setiap kejadian ada hikmahnya." lanjut Maya.


"Terima kasih, May. Kamu udah mendukung langkah yang ku tempuh ini." Ujar Gavlin tersenyum senang.


"Iya, Vlin." Ujar Maya tersenyum.


Mereka berdua pun lantas saling bertatapan, tatapan mata Gavlin dan Maya terlihat penuh kemesraan.

__ADS_1


Terlihat jelas, bahwa Gavlin dan Maya, benar benar saling mencintai dan menyayangi. Tak akan ada yang bisa memisahkan mereka.


Gavlin tampak bahagia, sebab, dia telah mendapatkan dukungan dari Maya, kekasih hati yang sangat dia cintai selama ini.


---


Di dalam Hotel Hera, tepatnya di lobby hotel, tampak ramai para tamu yang datang untuk menginap.


Setiap tamu yang baru datang dan masuk ke lobby, pasti melihat patung Dewi Hera yang tinggi besar, berdiri kokoh di tengah tengah Lobby.


Decak kekaguman terlihat jelas dari wajah wajah para tamu yang datang untuk menginap, mereka benar benar kagum dengan Maha Karya Patung lilin Dewi Hera.


Tiba tiba, kedua mata patung lilin Dewi Hera menyala dan berubah menjadi merah, tak ada satu orang pun yang melihat perubahan dari kedua mata patung Dewi Hera tersebut.


Di ujung sebuah jalan, tak jauh dari Hotel Hera berdiri, tampak seseorang berdiri di balik gardu listrik. Tangannya memegang remote control.


Orang tersebut, lalu menekan tombol remote control yang ada ditangannya tersebut. Tatapan matanya tajam, penuh kebencian melihat ke arah hotel Hera.


Di dalam lobby Hotel, kedua mata patung Dewi Hera masih menyala merah, sesaat kemudian, kedua mata patung tersebut berkedip kedip, dari perlahan lahan hingga cepat.


Lalu, tiba tiba, tanpa ada yang menyadarinya, bertepatan dengan orang yang menekan remot control, Patung Lilin Dewi Hera pun meledak.


Dentuman dan suara ledakannya begitu dahsyat, suara ledakannya begitu keras menggelegar. Seketika, para tamu dan karyawan serta petugas keamanan hotel berhamburan lari.


Ledakan terus terjadi, bukan saja menghancurkan patung lilin Dewi Hera saja, tapi, ledakan keras tersebut, seketika menghancurkan lobby dan gedung hotel Hera milik Bramantio.


Orang orang yang ada di dalam gedung tak sempat melarikan diri, mereka terjebak dalam reruntuhan patung tinggi besar dan batu batuan gedung hotel.


Banyak korban yang mati, akibat ledakan dahsyat yang terjadi dari patung lilin Dewi Hera. Tak ada yang menyangka, jika Patung Dewi Hera meledak dengan sangat dahsyatnya.


Di luar, dari balik gardu listrik, orang yang menekan remote control tertawa tawa renyah dengan wajah puas.


Orang tersebut ternyata Yanto, Yantolah yang telah meledakkan gedung hotel milik Bramantio. Dan tak ada yang tahu, dengan aksinya itu.


Dan ternyata, saat dulu Yanto menerima orderan dari Bramantio membuat patung Dewi Hera, dia sudah mrerencanakan semuanya.


Dia merakit bom, dan menanam 10 bom bermuatan ledakan yang besar di dalam tubuh patung lilin Dewi Hera.


Karena patung lilin itu di buat tinggi hingga beberapa meter, mudah bagi Yanto menanamkan sejumlah bom, di dalam patung lilin yang dibuatnya.


Sebenarnya, Yanto berencana akan meledakkan hotel Hera, sesaat dia akan membunuh Bramantio nantinya. Dia ingin memberi kenang kenangan terakhir buat Bramantio.


Namun, karena dia tahu, bahwa Ronald adalah komplotan Bramantio, dan dia tahu, Bramantio yang meminta Ronald untuk membunuh dirinya, mau tak mau, Yanto mempercepat aksinya.


Apalagi dia begitu marah, sebab Ronald dan Bramantio dengan sengaja telah meledakkan gedung Apartemen, hingga dia sudah tak memiliki Penthouse.


Yanto pun membalaskan perbuatan Bramantio dan Ronald, dia tahu, Ronald tinggal di hotel milik Bramantio tersebut.


Sama seperti Ronald yang meledakkan gedung apartemen, Yanto pun meledakkan hotel Hera milik Bramantio, dengan harapan, Ronald mati, meledak dan tertimbun dalam reruntuhan bangunan hotel.


Seketika, tampak Gedung Hotel yang menjulang tinggi dan berdiri gagah serta mewah hancur berantakan.


Gedung hotel Hera itu meledak, ledakkannya begitu keras, sehingga menarik perhatian para warga dan para pengendara yang melintas di jalanan sekitar gedung hotel Hera.


Yanto tersenyum menyeringai, dia pun lantas pergi dari tempat persembunyiannya. Dengan wajah puas, Yanto pun masuk kedalam mobil sport mewahnya.


Lalu, Mobil Yanto pun segera berjalan, melaju dengan kecepatan tinggi, pergi meninggalkan hotel Hera yang meledak dan hancur berkeping keping.


Tak bisa di duga, aksi Yanto yang sudah merencanakan semuanya dengan matang. Sebagai Pembunuh berdarah dingin, Yanto benar benar tak bisa di tebak cara berfikirnya.


Dia benar benar sangat profesional, rapi, dan tidak meninggalkan jejak dirinya saat melakukan aksi kejahatan.


Itu sebabnya, Polisi sangat kesulitan mengungkap jati dirinya, apalagi sampai menangkapnya, karena, Yanto selalu bisa menghindar, dan memperdaya polisi.


Belum lagi, selama ini, dia mendapat dukungan dan informasi dari Teguh, abang tirinya yang bekerja di kepolisian dan bertugas menyelidiki kasusnya.

__ADS_1


Yanto pun dengan mudah menghindar dari incaran kepolisian.


Polisi benar benar kesulitan mengungkap kasus tersebut.


__ADS_2