
Maya sedang membuang sampah ke tempat sampah yang ada di luar rumahnya. Setelah membuang bungkusan plastik besar berisi sampah ke tempat sampah, dia lantas berbalik badan dan berjalan kerumahnya.
"May." Panggil Gavlin.
Maya menghentikan langkahnya, karena mendengar suara Gavlin memanggil namanya. Maya mencari cari, tapi dia tak melihat Gavlin.
"Aku di sini, May. Samping garasi." ujar Gavlin.
Maya pun lantas menoleh ke arah garasi mobil, dia melihat, ada sosok bayangan orang yang berdiri di kegelapan, samping garasi.
Maya perlahan berjalan mendekati, Gavlin pun keluar dari tempat persembunyiannya di tempat gelap tak bercahaya.
"Gavlin?" ujar Maya senang.
Maya langsung berlari dan memeluk erat tubuh Gavlin, Gavlin pun membalas pelukan Maya, mereka berpelukan erat untuk sesaat.
Tampak Maya sangat merindukan Gavlin, karena, sudah berminggu minggu mereka tak bertemu.
Gavlin menghilang, sebab, dia harus bersembunyi, karena dia sedang di buru kepolisian sebagai buronan.
Gavlin melepaskan pelukan Maya dari tubuhnya, lalu, dia mengecup lembut dahi Maya. mencurahkan kerinduan dan kasih sayangnya.
Maya tersenyum senang, menatap lekat wajah Gavlin yang juga tersenyum lembut padanya.
Gavlin memakai pakaian serba hitam, dan penutup wajah, agar dia leluasa bergerak, dan tidak di kenali orang, khususnya kepolisian yang sedang memburunya saat ini.
"Kamu kemana aja, vlin? Aku kangen sama kamu, hape mu gak bisa aku hubungi, aku cemas." ujar Maya dengan manjanya.
"Maafkan aku, May. Aku membuang hapeku, agar gak bisa di lacak lagi, selain itu, aku harus bersembunyi dan menghilang untuk sementara waktu dari kejaran polisi." tegas Gavlin, memberi penjelasan pada Maya.
"Lantas, bagaimana aku bisa menghubungimu?" tanya Maya.
"Nanti aku yang hubungi kamu, kalo nggak, aku akan datang ke sini, nemui kamu." jelas Gavlin.
"Kamu sembunyi dimana, vlin?" tanya Maya, ingin tahu.
"Sebaiknya, kamu gak perlu tau, May. Itu lebih baik buatmu." ujar Gavlin.
"Kenapa?!" tanya Maya heran.
"Ya, agar kamu gak di tuduh bersekongkol denganku oleh polisi, aku gak mau melibatkanmu, May. Karena itu aku harus menghindarimu untuk sementara waktu." jelas Gavlin, serius dan bersungguh sungguh.
Maya pun terdiam, dia mencoba untuk mengerti dan memahami perkataan Gavlin kepadanya.
"Baiklah, Vlin, aku paham." ujar Maya tersenyum.
Mobil Gatot masuk ke halaman rumah lalu meluncur ke garasi. Dari dalam mobilnya, dia melihat Maya sedang bersama Gavlin.
Gavlin dan Maya melihat kedatangan Gatot. Gatot lantas bergegas keluar dari dalam mobilnya, dan segera menghampiri Gavlin.
"Om." Sapa Gavlin, tersenyum ramah.
Gatot mengangguk, mengiyakan. Dia berdiri di hadapan Gavlin, di samping Maya berdiri.
"Rasid udah aku beresin, Om. Tinggal Gunadi." jelas Gavlin.
"Kamu membunuh Rasid?" tanya Gatot, dengan wajah serius.
"Ya, Om." jawab Gavlin.
"Dimana mayatnya kamu buang?" tanya Gatot.
"Kamu gak ninggalin jejak saat membunuh Rasid kan?" tanya Gatot lagi, dengan wajah yang serius.
"Mayatnya ku simpan di tempat aman, Om. Dan gak ada orang yang tau. Aku gak meninggalkan jejak." jelas Gavlin.
Maya diam, dia hanya mendengarkan pembicaraan Ayahnya bersama Gavlin.
"Kamu harus hati hati, Vlin, jangan lemah, polisi ada dimana mana, Sutoyo dan Gunadi sedang bergerak mencarimu, Sutoyo mengerahkan semua anggota kepolisian untuk menangkapmu!" tegas Gatot.
"Iya, Om. Aku tau, dan aku akan hati hati." ujar Gavlin.
"Maaf, Om. Kalo gitu, saya pamit dulu." ujar Gavlin.
"Ya." Jawab Gatot mengangguk.
"May, aku pergi, ya. Nanti kita ketemu lagi." ujar Gavlin tersenyum lembut pada Maya.
"Iya, Vlin, hati hati." ujar Maya, tersenyum.
Gavlin pun lantas berbalik badan, namun, saat dia hendak melangkah pergi, Gatot memanggilnya.
"Tunggu, Vlin." ujar Gatot.
Gavlin pun mengurungkan niatnya untuk pergi, lalu, dia berbalik badan, dan berdiri dihadapan Gatot.
"Aku akan memberi tahu, dimana Gunadi tinggal." ujar Gatot.
"Ya, Om." jawab Gavlin.
Gatot lantas mendekati Gavlin, lalu, dia berbisik di telinga Gavlin, Gatot memberi tahu Gavlin alamat rumah Gunadi.
"Hanya dirumahnya kamu bisa membekuk Gunadi, karena, selama dia di kantor, atau pun diluaran, dia selalu ditemani tim kepolisian, yang memburumu." jelas Gatot.
"Terima kasih infonya, Om." ujar Gavlin tersenyum senang.
"Ya, jangan gegabah, kalo mau menangkap Gunadi, dia orangnya lebih licik dari Rasid." tegas Gatot.
"Ya, Om." jawab Gavlin.
__ADS_1
"Aku pamit, Om. Terima kasih." ujar Gavlin, membungkukkan badannya, memberi hormat pada Gatot.
Gavlin lantas berbalik badan, lalu, dia melompat ke atas pagar samping rumah Gatot, lalu, menghilang dalam kegelapan.
Maya tampak sedih wajahnya, karena di tinggal pergi Gavlin, Ayahnya mendekatinya, dan merangkul Maya.
"Mudah mudahan, Gavlin gak mengalami hambatan." ujar Gatot.
"Iya, Yah." ujar Maya lirih.
"Ayah kenapa mau bantu Gavlin?" tanya Maya. Ingin tahu.
"Karena Ayah juga mau balas dendam atas perbuatan Rasid dan Gunadi yang membunuh Teguh." jelas Gatot, serius.
"Karena Ayah gak punya bukti, Sulit buat Ayah menangkap mereka berdua, satu satunya jalan, menyerahkannya pada Gavlin." lanjut Gatot, menjelaskan.
"Ayah gak bisa terus melindungi Gavlin, karena dia telah menjadi buronan, Ayah hanya bisa membantunya diam diam dengan memberikan informasi yang dibutuhkan Gavlin." tegas Gatot, dengan wajahnya yang serius.
Maya pun mengangguk mengerti dan Paham.
"Yuk, kita masuk kerumah." ajak Gatot.
Maya pun mengangguk, mengiyakan. Gatot merangkul Maya, Lantas mereka berjalan masuk ke dalam rumahnya.
---
Di ruang kerjanya, di kantor Polsek, tampak Sutoyo sedang bicara serius dengan Gunadi.
"Kenapa Rasid, sudah lebih seminggu gak kelihatan, kemana dia?" tanya Sutoyo.
"Saya gak tau, Bos. Saya hubungi, hape nya gak aktif, dirumahnya juga dia gak ada." jelas Gunadi.
"Apa dia melarikan diri, bersembunyi, karena takut di kejar si Yanto, anak Sanusi itu?!" ujar Sutoyo geram dan marah.
"Gak tau juga, bos. Tapi, sepertinya Rasid gak bakal bersembunyi. Saya tau, siapa Rasid." ujar Gunadi.
"Ya, terus, kenapa dia menghilang tiba tiba?!" ujar Sutoyo kesal.
Gunadi terdiam, dia juga bingung dan heran, mengapa Rasid tidak kelihatan batang hidungnya.
Pintu ruang kerja Sutoyo di ketuk, Sutoyo dan Gunadi saling pandang mendengar suara ketukan pintu.
"Masuk." ujar Sutoyo.
Pintu ruang kerja Sutoyo terbuka, lalu, masuk seorang petugas polisi dengan membawa kotak di tangannya.
"Maaf, Pak. Ada kurir yang mengantarkan paket, buat Bapak." ujar Petugas Polisi.
"Paket buat saya? dari siapa?" tanya Sutoyo heran.
"Nama tertulis di paket, pengirimnya Rasid, di tujukan pada Bapak." jelas petugas polisi.
"Rasid?!" tanya Sutoyo heran.
"Iya, Pak." Angguk petugas polisi yang membawa paket.
"Ya sudah, letakkan di meja, kamu boleh pergi." ujar Sutoyo.
"Baik, Pak." Jawab petugas Polisi.
Lalu, Petugas Polisi meletakkan kotak paket di atas meja kerja Sutoyo, lalu, dia pun lantas segera pergi keluar dari dalam ruang kerja Sutoyo sambil menutup pintu ruang kerja kembali.
"Kira kira, Rasid kirim apa, Gun?" tanya Sutoyo, penasaran.
"Gak tau, Bos. Coba aja buka." ujar Gunadi.
Sutoyo pun diam, untuk sesaat, dia berfikir, ada keraguan dalam dirinya untuk membuka paket, yang katanya dari Rasid itu.
"Bos gak mau buka kotak paketnya?" tanya Gunadi.
Sutoyo menghela nafasnya, lalu, dia berjalan ke meja kerjanya, di bukanya laci meja kerjanya, kemudian, Sutoyo mengambil pisau pemotong dari dalam laci.
Dengan hat hati, Sutoyo membuka kotak paket yang ada di atas meja, Gunadi mendekatinya, Gunadi ingin tahu isi kotak tersebut.
Beberapa saat kemudian, kotak pun terbuka, lalu, Sutoyo mengambil sesuatu yang ada di dalam kotak tersebut.
Saat dia memegang bungkusan plastik dan melihatnya, Sutoyo pun terperanjat kaget, dengan refleks, Sutoyo membuang bungkusan plastik yang dipegangnya. Lalu dia meletakkan pisau pemotong diatas meja.
Gunadi heran, dia lantas mendekati bungkusan plastik yang tergeletak di lantai, Gunadi kaget, melihat isi di dalam bungkus plastik tersebut.
"Jari tangan?!" ujar Gunadi heran dan kaget.
"Apa apaan si Rasid, ngirim begituan ke saya?!!" bentak Sutoyo marah.
"Apa maksudnya ngirim jari tangan orang ke saya?!" Hardik Sutoyo marah.
"Kira kira, jari tangan siapa ini, bos?!" tanya Gunadi heran, sambil mengamati jari jari tangan di dalam bungkus plastik.
"Mana saya tau !! Pake nanya lagi kamu!!" bentak Sutoyo marah.
Tiba tiba, ponsel Sutoyo berdering, dengan cepat, dia mengambil ponsel dari dalam kantong celananya.
Dia melihat layar telepon, di layar ponsel tertulis nama Rasid sebagai penelpon, dengan wajah marah, Sutoyo menerima panggilan telepon dari Rasid.
"Kamu gila ya !! Ngirim jari tangan orang ke saya!! Apa maksudmu?!!" bentak Sutoyo, penuh amarah.
"Sudah terima paket dariku ternyata kamu, Sutoyo." ujar Gavlin, dari seberang telepon.
Mendengar suara di telepon, Sutoyo kaget, dia pun semakin geram dan marah.
__ADS_1
"Siapa kamu?!! Kenapa nomor telpon Rasid ada di kamu?!" bentak Sutoyo, marah ditelepon.
"Aku Gavlin, atau yang kamu kenal dengan nama kecilku, Yanto. Aku anak Sanusi yang kamu bunuh dulu." jelas Gavlin, dari seberang telepon.
"Bedebaaaah !! Kamu mau main main rupanya dengan saya!! Bentak Sutoyo, di telepon.
Gunadi diam , dia memperhatikan Sutoyo yang tampak sangat marah bicara di telepon.
"Dimana Rasid?!! Apa yang kamu lakukan sama Rasid?!!" bentak Sutoyo, emosi di teleponnya.
"Aku udah kirim Rasid ke neraka, dan jari jari yang kamu terima itu, jari tangan Rasid." ujar Gavlin, dari seberang telepon.
"Kepaaaraaaat kamu Yaaaantooo!!!" teriak Sutoyo penuh amarah, di telepon.
Gunadi terhenyak kaget, saat mendengar Sutoyo menyebut nama Yanto ditelepon. Gunadi pun tampak geram mendengarnya.
"Aku akan menangkapmu, aku akan menggantungmu Yaaantoo!!" bentak Sutoyo marah, di telepon.
"Silahkan, silahkan tangkap aku Sutoyo, kejar aku, cari aku, dan buru aku!" Ujar Gavlin, dari seberang telepon.
"Dengan senang hati, aku akan menyambutmu, jika kamu sendiri yang menangkapku." tantang Gavlin, dari seberang telepon.
"Bedeebaaaah !!" Teriak Sutoyo penuh amarah.
Sutoyo lantas mematikan teleponnya, dia tampak sangat marah sekali, Gunadi mendekatinya.
"Apa kata si Yanto, bos?" tanya Gunadi, ingin tahu.
"Dia membunuh Rasid, jari jari itu, milik Rasid !!" ujar Sutoyo, geram dan marah.
"Apa?!! Jadi...Rasid mati?!" ujar Gunadi syock dan terhenyak kaget.
"Pantes aja, selama ini Rasid menghilang, rupanya si Yanto udah membunuhnya!" ujar Sutoyo geram dan marah.
"Cepat kerahkan semua pasukan kepolisian buat mencari si Yanto itu!! Cepat kejar dan tangkap dia, lalu bawa kehadapanku!! Akan ku gantung dia di tengah jalan!!" Bentak Sutoyo, penuh amarah.
"Siap, Bos!" ujar Gunadi.
Gunadi meletakkan bungkus plastik berisi jari jari tangan Rasid di atas meja. Lalu, dia segera pergi keluar dari dalam ruang kerja Sutoyo.
Sutoyo lantas menghempaskan tubuhnya di kursi meja kerjanya, wajahnya tampak masih sangat marah.
Mata Sutoyo menatap bungkusan plastik berisi jari tangan Rasid di atas meja. Sutoyo semakin geram dan marah.
---
Di sebuah kamar khusus, tempat Gavlin, atau Yanto menyimpan patung patung lilin yang dibuatnya, tampak Gavlin berdiri di hadapan patung lilin berwujud sosok Rasid.
Gavlin dengan sikap dingin membuat dan membentuk jari jari tangan baru pada patung sosok Rasid. Gavlin menggantikan jari tangan Rasid yang di potongnya, dengan membuat jari palsu, yang dibuatnya dari bahan dasar lilin.
Wajah Gavlin tampak tersenyum menyeringai kejam, menatap tajam wajah patung lilin bersosok Rasid.
---
Di malam hari, tampak sosok bayangan hitam melesat cepat menyelinap masuk ke dalam pekarangan halaman rumah Gunadi.
Rumah Gunadi tampak gelap di dalamnya, dengan mengendap endap, sosok bayangan hitam berjalan ke samping rumah Gunadi.
Lalu, dengan perlahan lahan, dia mencongkel pintu rumah Gunadi, beberapa saat kemudian, pintu berhasil di buka, lalu, dengan cepat, sosok bayangan hitam itu melesat masuk kedalam rumah Gunadi.
Sosok bayangan hitam berkelebatan di ruangan dalam rumah Gunadi, dia mencari, dimana Gunadi berada.
Dengan hati hati, dia membuka pintu kamar, dia melongo ke dalam kamar, kamar itu kosong, tak ada siapa siapa. Dia lantas menutup pintu kembali.
Lalu, dia pun bergegas ke arah kamar lainnya, dengan perlahan lahan, dia membuka pintu kamar, kamar itu tak terkunci, dia lantas segera masuk ke dalam kamar.
Di dalam kamar, dia melihat Gunadi tidur nyenyak diatas kasur bersama istrinya. Sosok bayangan hitam itu pun berdiri di samping ranjang.
Matanya tajam menatap wajah Gunadi yang terlelap tidur dengan nyenyaknya, lalu, di tangannya, ada pisau belati yang terhunus ke arah Gunadi yang tertidur.
Dengan sikap dingin dan tenang, sosok bayangan hitam itu berjalan ke arah sisi lain ranjang, lalu, dia mendekati istri Gunadi, yang tidur di samping Gunadi.
Dengan cepat, dia membekap mulut istri Gunadi dengan tangannya, seketika, Istri Gunadi pun terbangun, dia lalu meronta ronta, berusaha melepaskan tangan sosok bayangan hitam yang membekap mulut dan hidungnya.
Mata istri Gunadi terbelalak lebar, sosok bayangan hitam dengan sikap dingin dan tenang, terus menekan tangannya membekap mulut dan hidung istri Gunadi.
Istri Gunadi pun semakin susah untuk bernafas, matanya terus terbelalak lebar, seakan memohon untuk dilepaskan, kedua kakinya di hentak hentakkan di atas kasur, dia meronta, tangannya memukul badan Gunadi. Dia meminta tolong pada Gunadi.
Namun, Gunadi tak juga bangun, dia benar benar tertidur pulas, dia tak menyadari, jika nyawa istrinya tengah terancam.
Sosok bayangan hitam terus membekap kuat mulut dan hidung istri Gunadi, Istri Gunadi pun megap megap, karena tak bisa bernafas, dia pun akhirnya terkulai lemas.
Istri Gunadi mati karena kehabisan nafas, setelah memastikan bahwa istri Gunadi sudah benar benar mati, lalu, sosok bayangan hitam melepaskan tangannya yang membekap mulut dan hidung istri Gunadi hingga mati.
Lalu, dengan sikap dingin dan tenang, dia pun berjalan ke arah Gunadi tidur.
Lantas, dia berdiri di samping ranjang, tepat di dekat Gunadi yang tertidur pulas.
Dengan tenang dan sikap dinginnya, sosok bayangan hitam mengarahkan pisau ke leher Gunadi, ditusuk tusuknya ujung pisau ke kulit leher Gunadi, Gunadi belum terbangun juga, lalu, dia menampar wajah Gunadi dengan kuat dan keras.
Seketika, Gunadi terbangun dari tidurnya, karena kaget di tampar keras. Saat dia membuka kedua matanya, dia terhenyak kaget.
"Siapa kamu?!! Kenapa kamu ada di kamarku?!!" hardik Gunadi kaget.
Sosok bayangan hitam berdiri dengan tenang, dan sikapnya yang dingin. Lalu, dia pun membuka masker yang menutupi wajahnya.
Sosok itu ternyata Gavlin, dia tersenyum menyeringai jahat menatap wajah Gunadi yang kaget.
"Gavlin?!!" ujar Gunadi syock.
__ADS_1
"Ya, ini aku, adiknya Teguh, yang kamu bunuh bersama Rasid!" tegas Gavlin geram dan marah.
Gunadi pun menjadi takut, mengetahui, orang yang ada di dekatnya adalah Gavlin, dia tahu, Gavlin datang kerumahnya, untuk membunuh dirinya.