
Sumantri menghela nafasnya, dia berdiri dihadapan Jafar yang mengikutinya berdiri.
"Maaf, Pak, saya tidak bisa melakukan itu." Ujar Sumantri tertunduk.
Sumantri tak berani menatap wajah Jafar yang berdiri dihadapannya dengan tersenyum sinis memandangnya.
"Kamu membangkang perintah saya?" Ujar Jafar menatap geram Sumantri.
"Saya tidak bermaksud membangkang bapak." Ujar Sumantri.
"Dengan rasa hormat saya pada bapak jujur saya katakan, saya tidak bisa melakukan itu, saya tidak ada keberanian melakukannya." Ujar Sumantri.
Sumantri masih dengan wajah yang tertunduk tidak berani menatap Jafar yang tersenyum sinis padanya.
"Pengecut, gak punya nyali kamu!" Ujar Jafar dengan tatapan sinisnya.
Jafar lalu berbalik, dia berjalan cepat menuju meja kerjanya, melewati Irmida.
Irmida masih berdiri di samping meja kerjanya dengan tubuh gemetar ketakutan dan wajah yang pucat pasi.
Jafar membuka laci meja kerjanya, mengambil pisau dan memegangnya.
Sebilah pisau kecil yang tajam ada dalam genggaman tangannya, Jafar menutup kembali laci meja kerjanya.
Jafar berjalan mendekati Irmida, dia lalu membekap tubuh Irmida dari belakang, mengunci kuat tubuh Irmida dengan lengan tangannya yang besar dan kuat.
Irmida terkesiap kaget saat dari belakang Jafar menyergap dan memeluk kuat dirinya.
"Tolong, lepaskan saya pak. Jangan sakiti saya, tolong, saya punya 2 anak yang masih kecil kecil pak." Ujar Irmida.
Irmida meronta dengan wajah pucat ketakutan menangis memohon belas kasihan Jafar.
Sumantri terdiam, berdiri di tempatnya melihat Jafar yang memeluk kuat tubuh Irmida, sekretaris di kantor Jafar.
"Kamu mau saya contohkan, bagaimana cara membunuh yang mudah Mantri ?" Ujar Jafar dengan suara kerasnya.
Dia tersenyum sinis menatap Sumantri yang berdiri diam ditempatnya, lalu Jafar menyeringai pada Irmida.
Jafar membelai leher Irmida dengan sebilah pisau lipat kecil yang dipegangnya.
Irmida semakin takut saat pisau menyentuh kulit lehernya, dia semakin gemetar ketakutan, menangis takut.
"Jangan bunuh saya pak, saya mohon." Ujar Irmida.
Irmida terus memohon, Sumantri hanya bisa diam mendengar suara Irmida yang memelas memohon pada Jafar.
"Lihat baik baik Mantri." Ujar Jafar pada Sumantri.
Lalu dengan cepat dia sudah menyayat leher Irmida dengan pisau ditangannya.
Irmida tercekat, matanya melotot, tangannya memegang lehernya yang terluka berdarah karena sayatan pisau tajam milik Jafar.
Darah segar menyembur keluar dari lehernya yang terluka, Sumantri syok dan kaget menyaksikan perbuatan Jafar.
Dengan mata kepalanya sendiri dia saksikan bagaimana Jafar dengan sikap tenang dan dinginnya menyembelih Irmida, menggorok lehernya.
Jafar melepaskan pelukan tangannya di tubuh Irmida yang langsung terjerembab jatuh kelantai ruang kerjanya.
Tubuh Irmida menggelepar gelepar menahan rasa sakit yang begitu besar.
Menggelepar bagai ayam baru di potong lehernya, untuk kemudian tubuh Irmida diam tak bergerak, matanya melotot, sudah tak bernyawa.
Sumantri menundukkan kepalanya, membuang muka, agar pandangannya tidak melihat pada tubuh Irmida yang sudah tergeletak di lantai tak bernyawa.
Ada amarah di hati Sumantri melihat perbuatan biadab Jafar itu, namun dia tak punya kekuatan dan keberanian untuk melawan dan menentang Jafar.
Apalagi Jafar dikenal sebagai seorang pria yang kejam, bringasan, berprilaku kasar, dan mantan preman.
Yang bisa menundukkan dan membuat Jafar tidak berkutik hanyalah abangnya, Bramantio.
Saudara kandungnya itulah yang bisa menjinakkannya, selain Bramantio, tidak ada seorangpun yang bisa mencegah apa yang dilakukan Jafar.
"Kamu telah membunuh Irmida Mantri !" Ujar Jafar tertawa sinis pada Sumantri yang kaget.
Sumantri melihat Jafar yang mengatakan bahwa dia membunuh Irmida.
"Kesini kamu, cepat !" Ujar Jafar menyuruh Sumantri agar mendekatinya.
Sumantri melangkah mendekati Jafar, setelah mendekat, dia berdiri dihadapan Jafar.
"Ambil pisau ini." Ujar Jafar menyerahkan pisau lipat yang tajam ditangannya pada Sumantri.
Sumantri melihat pisau lipat yang berlumuran darah, habis digunakan memotong leher Irmida. Dia terdiam tak bergeming.
"Pegang pisau ini !" Ujar Jafar.
Dia menarik paksa tangan Sumantri, lalu meletakkan pisau lipat ke telapak tangan Sumantri.
Sumantri terpaksa menggenggam pisau yang sudah berada ditelapak tangannya, dia berdiri diam dengan tangannya sekarang memegang pisau lipat.
"Sekarang sidik jarimu ada di pisau itu sebagai pembunuh Irmida." Ujar Jafar tersenyum licik.
"Dengan begini, kamu tidak akan mungkin berani melaporkan aku yang sudah membunuh Irmida." Ujar Jafar.
"Barang bukti ada ditanganmu, bukan aku yang akan dipenjara nanti, tapi kamu." Ujarnya lagi menyeringai.
"Tapi Pak?" Ujar Sumantri bingung.
"Jika polisi menemukan pisau itu sebagai bukti digunakan sebagai alat membunuh, dan ditemukan sidik jarimu, maka pelakunya adalah kamu." Ujar Jafar tertawa.
Jafar menatap wajah Sumantri yang terdiam, dia tak menyangka, dirinya begitu mudah terjebak oleh Jafar.
"Jika kamu tidak mau di tuduh sebagai pembunuh, cepat bereskan semua ini!" Bentak Jafar.
"Buang dan lenyapkan kedua mayat wanita wanita ini !" Ujar Jafar menatap tajam wajah Sumantri.
"Ingat ! Jangan sampai ada yang melihatmu, membawa mayat mayat ini keluar dari ruangan ini !" Ujar Jafar lagi.
__ADS_1
Jafar menegaskan pada Sumantri yang mengangguk lemah. Dia melirik tubuh kaku Irmida yang ada di lantai.
Lalu menoleh pada mayat Savitri yang juga ada di lantai ruang kerja Jafar.
"Saya minta izin menggunakan ruangan ini dari sekarang hingga pagi pak." Ujar Sumantri pada Jafar.
"Saya akan menyingkirkan mayat mayat ini saat suasana kantor sudah sepi dan tidak ada satu karyawanpun yang bekerja." Ujar Sumantri.
"Saya juga akan membersihkan ruangan ini agar tidak ada bekas darah yang tercecer." Ujar Sumantri memberikan penjelasan pada Jafar.
"Bagaimana kamu akan melewati para keamanan yang berjaga, dan dari tertangkap kamera cctv ?" Tanya Jafar memandang wajah Sumantri yang diam berfikir.
"Saya akan menemui teman baik saya yang bertugas di ruang kontrol cctv, saya akan menyabotase semua cctv." Ujar Sumantri.
"Lantas, dengan petugas keamanan?" Tanya Jafar lagi pada Sumantri.
Sumantri terdiam, dia berfikir, lalu menghela nafasnya menatap wajah Jafar yang berdiri dihadapannya.
"Saya akan membungkus mayat mayat ini dan memasukkannya ke dalam koper besar Pak." Ujar Sumantri.
"Lalu saya akan keluar dari pintu darurat yang ada di lantai ruangan ini." Ujar Sumantri.
Jafar diam sesaat, lalu dia mengangguk paham dengan rencana Sumantri itu.
"Baik, kamu kerjakan saja semua sesuai rencanamu." Ujar Jafar, dia beranjak duduk santai di sofa.
"Saya akan memakai mobil rental untuk membawa mayat mayat ini pak, tidak memakai mobil kantor." Ujar Sumantri pada Jafar.
"Saya butuh uang untuk bayar sewa mobil rental nanti." Ujar Sumantri terus terang pada Jafar.
Jafar menoleh dan menatap wajah Sumantri yang terlihat serius itu, Jafar lalu berdiri dari duduknya.
Dia berjalan menuju ke sebuah lemari, disamping lemari terlihat ada sebuah brankas besi.
Jafar membuka brankas itu dengan kode yang hanya dia saja mengetahuinya.
Di dalam brankas terlihat banyak tumpukan uang uang baru, dan map map berisi berkas berkas.
Jafar mengambil segepok uang yang bernilai 10 juta dari dalam brankas, memegang uang ditangannya.
Dia kemudian cepat menutup dan mengunci kembali brankas miliknya.
Sebuah brankas yang memang sengaja digunakannya menyimpan dokumen dokumen rahasia beserta uang yang didapatnya dari bisnis yang dijalaninya.
Jafar melangkah mendekati Sumantri, menyerahkan tumpukan uang 10 juta dalam keadaan baru dan ada pengikatnya.
Jafar memberikan uang pada Sumantri yang terdiam melihat tumpukan uang.
Sumantri terdiam, dia melihat nominal 10 juta yang tertera diatas lembaran tumpukan uang ditangan Jafar.
"Ayo ambil, ini sebagai upah untukmu." Ujar Jafar.
Dengan ragu, Sumantri akhirnya mengambil uang 10 juta dari tangan Jafar yang tersenyum sinis melihat Sumantri mengambil uang.
Lantas, Sumantri cepat mengantongi uang banyak itu di kantong celananya.
"Cepat kamu kerjakan dengan rapi dan bersih , jangan sampai ada sekecil apapun yang tersisa !" Ujar Jafar menepuk nepuk pipi Sumantri dengan pelan.
Dia pergi meninggalkan Sumantri sendirian di dalam ruang kerja Jafar.
Setelah kepergian Jafar, cepat Sumantri berjalan ke pintu masuk ruang kerja.
Kepalanya menjulur keluar di pintu, mengintip keluar ruangan, tidak ada siapapun di koridor lantai ruangan.
Sumantri menutup pintu dan menguncinya dari dalam, dia kemudian terduduk lemas di lantai, tubuhnya bersender di pintu masuk ruangan.
"Mimpi apa aku semalam, harus melakukan semua ini !" Ujarnya terduduk lemas dilantai sambil tangannya memukul mukul kepalanya.
Dia terdiam, berfikir sesaat. Kemudian Sumantri bangun dan berdiri, dia melangkah gontai mendekati tubuh kaku Irmida.
"Maafkan aku, aku gak bisa menolongmu." Ujar Sumantri menatap sedih pada Irmida yang terlihat matanya dalam keadaan melotot.
Sumantri meletakkan telapak tangannya diwajah Irmida, menutup mata Irmida.
Bramantio berada didalam lift, sesaat kemudian lift berhenti dan pintunya terbuka.
Dengan cepat Bramantio melangkah keluar dari dalam lift, berjalan menyusuri koridor dilantai gedung perkantoran miliknya.
Bramantio berjalan menuju ke ruang kerja Jafar, Bramantio biasa datang keruang kerja Jafar. Bramantio mau mengajak Jafar pergi.
Disaat waktu senggang, sore maupun malam, Bramantio biasa mengajak Jafar untuk sekedar minum atau pergi ke tempat hiburan bersama sama.
Bramantio berjalan, dia lantas berjalan mendekati ruang kerja Jafar.
Saat dia berada didepan pintu masuk, saat dia hendak membuka pintu, tiba tiba pintu terbuka dan keluar Sumantri dari dalam ruang kerja Jafar.
Bramantio kaget melihat Sumantri yang berdiri tepat di depan pintu masuk.
Wajah Sumantri tegang, karena tidak menyangka dengan kedatangan Bramantio yang tiba tiba muncul didepannya.
Sumantri yang ingin keluar mengambil dan menyiapkan koper untuk memasukkan mayat Savitri dan Irmida bertemu dengan Bramantio.
Dia tak menyangka, Bramantio datang mengunjungi Jafar di ruang kerjanya.
Bramantio dan Sumantri sama sama terdiam sejenak, kemudian dengan wajah heran Bramantio menatap wajah bingung dan gugup Sumantri.
"Sedang apa kamu dikantor Jafar?" Tanya Bramantio pada Sumantri.
"Saya dipanggil pak Jafar dan di mintai tolong oleh beliau pak." Ujar Sumantri gugup pada Bramantio.
"Jafarnya ada di dalam?" Tanya Bramantio.
"Pak Jafar pergi pak." Ujar Sumantri masih gugup tertunduk.
Sumantri tak berani menatap wajah Bramantio yang berdiri didepannya.
Bramantio melihat Sumantri yang bersikap aneh dan terlihat gugup berdiri di depannya, dia mengamati Sumantri, menatap curiga pada Sumantri yang tertunduk.
__ADS_1
"Kenapa muka kamu kayak ketakutan begitu?!" Tanya Bramantio tegas dan menatap lekat wajah Sumantri yang tertunduk.
Sumantri mengangkat kepalanya, memberanikan diri menatap bosnya itu.
"Saya tidak kenapa kenapa pak." Ujar Sumantri.
Bramantio yang melihat ada yang ganjil dari sikap Sumantri tidak percaya.
Dia berfikir pasti saat ini Sumantri menyembunyikan sesuatu agar dia tidak mengetahuinya. Dia melirik kedalam ruang kerja Jafar.
"Minggir kamu !" Ujar Bramantio mendorong tubuh Sumantri sehingga terjajar kebelakang.
Sumantri tak bisa mencegah Bramantio yang sudah melangkah masuk ke dalam ruang kerja Jafar.
Begitu Bramantio berada di dalam ruang kerja Jafar, matanya terbelalak kaget karena melihat ada 2 mayat tergeletak di lantai berlumuran darah.
Dia mengenali mayat Savitri dan Irmida, wajahnya terlihat menahan amarahnya.
"Gilaaa !! Siapa yang berani terang terangan membunuh Savitri dan Irmida di ruangan ini ?!" Bramantio menatap tajam dan geram pada Sumantri.
Bramantio mencekal leher Sumantri, menatapnya tajam penuh amarah.
"Apa yang sudah kamu lakukan, ha! Kenapa kamu membunuh mereka berdua ? Jawab !!" Bentak Bramantio.
Sumantri terlihat gugup karena dia malah di tuduh sebagai pembunuh oleh Bramantio.
"Bu...bukan...saya yang...membunuh pak." Ujar Sumantri berusaha menenangkan dirinya.
"Lantas siapa ?! Hanya ada kamu di dalam ruangan ini aku lihat !" Bentak Bramantio lagi pada Sumantri.
"Pak Jafar, Pak Jafar yang membunuh mereka." Ujar Sumantri.
Bramantio terdiam menatap lekat wajah Sumantri yang terlihat jujur mengatakan hal itu.
"Jafar adikku yang membunuh mereka? Kenapa ?!" Tanya Bramantio membentak Sumantri.
"Saya tidak tahu kejadian sebenarnya soal itu pak, saya di telpon pak Jafar." Ujar Sumantri menjelaskan pada Bramantio.
"Pak jafar minta saya ke ruangannya secepatnya." Ujar Sumantri.
"Sampai di sini, saya sudah melihat pacar pak Jafar, bu Savitri sudah terkapar di lantai bersimbah darah." Ujar Sumantri.
Sumantri memberikan keterangan pada Bramantio yang terlihat geram menahan marahnya.
"Lantas, kenapa Irmida, sekretaris itu juga dibunuh ?" Tanya Bramantio dengan marahnya.
"Mbak Irmida dibunuh karena menurut pak Jafar, dia sudah melihat pak Jafar saat membunuh bu Savitri." Ujar Sumantri.
"Pak Jafar menyuruh saya agar melenyapkan mereka, dia tidak mau ada saksi yang melihat dia membunuh." Ujar Sumantri, Bramantio semakin marah.
"Aaaiiihhh, gilaaa !! Selalu saja buat masalah si Jafar !! Kambuh lagi ***** membunuhnya setelah lama berhenti membunuhi orang orang!" Ujar Bramantio marah.
Dia geram pada Jafar, adiknya itu karena tidak bisa menahan ***** membunuhnya yang kerap muncul didalam dirinya.
"Aku sengaja memberikannya perusahaan asuransi kepadanya agar dia taka jadi preman terus!" Bentak Bramantio.
"Aku sengaja kasih 40 persen saham perusahaan agar dia bisa melupakan dan menghilangkan ***** untuk membunuhnya !" Bramantio marah.
"Tapi ternyata, itu semua tidak bisa mencegah nafsunya membunuh !" Ujar Bramantio geram.
Dia terlihat kecewa pada Jafar karena sudah menghancurkan kepercayaannya melakukan pembunuhan di dalam gedung perkantoran miliknya.
"Aku harus mengasingkan Jafar sampai semuanya tenang kembali." Ujar Bramantio berfikir.
Dia terlihat menarik nafas, menahan segala luapan emosi amarahnya.
Kemudian Bramantio menatap wajah Sumantri yang diam berdiri di tempatnya.
"Sekarang, apa yang mau kamu lakukan dengan mayat mayat ini ?" Tanya Bramantio pada Sumantri.
"Saya tadi mau pergi mengambil koper koper besar untuk membawa kedua mayat ini." Ujar Sumantri.
"Tapi bapak datang tadi." Ujar Sumantri pada Bramantio yang melirik ke mayat Irmida dan Savitri.
"Mau kamu singkirkan kemana mayatnya ?" Tanya Bramantio lagi pada Sumantri.
"Saya akan membuangnya ke laut pak, akan saya lempar mayat mayat ini dari atas bukit yang dibawahnya ada laut." Ujar Sumantri.
"Terus ?" Tanya Bramantio.
"Saya akan menenggelamkan mayat mayat ke dasar laut, agar tidak muncul ke atas permukaan dan tidak ditemukan orang." Ujar Sumantri.
Mendengar itu, Bramantio mengangguk mengerti, dia tahu lokasi yang dimaksud dan dikatakan Sumantri itu.
Bramantio pernah ke bukit itu, sebuah bukit yang dibawahnya ada lautan kecil.
"Ya sudah, cepat kamu lakukan." Ujar Bramantio, Sumantri mengangguk hormat pada Bramantio.
"Saya tinggal dulu pak, saya mau menyiapkan koper koper dan juga akan menyewa mobil rental buat membawa mayat mayat ini." Ujar Sumantri.
"Tidak perlu sewa mobil, pakai saja mobil jeep saya yang biasa terparkir di parkiran." Ujar Bramantio.
"Mobil itu jarang saya pakai, hanya sesekali kalo pas saya ingin ke bukit." Ujar Bramantio.
"Baik Pak." Ujar Sumantri mengangguk, dia sedikit tenang karena tidak perlu repot menyewa mobil rental.
"Kamu bisa minta kunci mobilnya sama Shinta, sekretaris saya, dia masih ada diruangannya sekarang." Ujar Bramantio.
"Baik pak, saya pergi dulu." Ujar Sumantri pamit, Bramantio mengangguk.
Sumantri lalu cepat berjalan keluar dari ruang kerja, meninggalkan Bramantio sendirian di dalam ruangan.
Bramantio melangkah mendekati mayat Savitri, dia menatap lekat tubuh kaku Savitri, dia tak tahu apa alasan Jafar membunuhnya.
Kemudian Bramantio melangkah mendekati mayat Irmida yang tegeletak di lantai depan meja kerja Jafar.
Bramantio menatap lekat tubuh kaku Irmida, dia menghela nafasnya melihat Irmida yang sudah menjadi mayat.
__ADS_1
"Kasihan kamu, kenapa kamu harus melihat pembunuhan yang dilakukan jafar. Nasibmu sial ." Ujar Bramantio.
Bramantio menatap lekat wajah kaku Irmida , Sekretaris yang mati mengenaskan itu.