VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Hancur berantakan


__ADS_3

Mobil yang membawa Samsudin beserta istrinya masih meluncur dengan kecepatan tinggi dijalan raya, Samsudin melihat ke jalan raya.


"Mau kemana kita?" tanya Samsudin pada Penjaga keamanan yang ikut bersamanya.


"Ke markas Inside, Pak. Sebaiknya, untuk sementara waktu, Bapak tinggal di sana, sampai situasi benar benar aman dan bisa terkendali." jelas Penjaga Keamanan.


"Jangan kesana, kita ketempat lain saja." ujar Samsudin.


"Tapi, Pak. Ini perintah pak Binsar." ujar Penjaga Keamanan.


"Gak apa apa. Saya gak mau melibatkan Inside, kalo saya tinggal di markas, saya khawatir, orang yang mengejar saya itu datang ke sana." ujar Samsudin.


"Saya yakin, orang yang mau membunuh dan menghancurkan rumah saya itu pasti Gavlin. Dia pasti sengaja mengincar saya!" tegas Samsudin, dengan wajah seriusnya.


"Baiklah. Tapi , Bapak mau kemana dan tinggal dimana?" tanya Penjaga Keamanan.


"Ke Hotel, Bawa saya ke hotel Veronica. Di sana tempat yang aman, saya yakin, gak akan ada yang bisa menemukan saya di sana." jelas Samsudin.


"Papah yakin, kalo kita tinggal di hotel aman?" tanya Istri Samsudin.


"Ya, Ma. Papah yakin, justru Markas Inside bukan tempat yang aman saat ini, Gavlin pasti tau lokasi markas, dan dia pasti datang untuk mencari Papah kesana." ujar Samsudin.


"Jadi, Papah pikir, ada baiknya kita menghindar dan gak tinggal di markas, agar aman." jelas Samsudin, dengan wajah yang serius.


"Kita ke hotel veronica!" tegas Penjaga Keamanan pada Supir.


"Baik, Pak." Jawab Supir.


Lantas Sang Supir pun menyetir mobilnya, dia berbelok di pertigaan jalan, mobil melaju di jalan raya menuju hotel tempat yang di sebutkan Samsudin.


Binsar yang ada di ruang kerjanya tampak sedang menelpon anak buahnya, wajahnya terlihat tegang dan menahan amarah.


"Bagaimana Samsudin?" tanya Binsar, bicara di telepon.


"Beliau sudah di selamatkan, Pak. Sekarang sedang di bawa ke hotel kata anak buah saya tadi." ujar Mino, dari seberang telepon.


"Hotel?! Kenapa gak ke markas? Ngapain dia tinggak di hotel?!" ujar Binsar, dengan wajah kesal, di teleponnya.


"Maaf Pak. Kata pak Samsudin, dia merasa lebih nyaman dan aman kalo tinggal di hotel." ujar Mino, dari seberang teleponnya.


"Ngaco aja Samsudin, justru tempat yang aman itu markas Inside, karena disana banyak yang menjagai dia nantinya, kalo di hotel, siapa yang bisa melindunginya?!" tegas Binsar, dengan wajah kesal dan marahnya, di telepon.


"Saya gak tau, Pak. Katanya, Yang menghancurkan rumah dan memburunya itu Gavlin, dan dia khawatir, Gavlin tau markas Inside lalu datang ke sana, alasan pak Samsudin, beliau katanya gak mau melibatkan Inside." jelas Mino , dari seberang telepon.


Mendengar perkataan Mino di telepon, untuk sesaat Binsar pun terdiam, dia teringat kalau Gavlin pernah mengirimkan paket potongan tubuh salah satu anggota Inside, dan dengan begitu memang benar kata Samsudin , kalau Gavlin sudah tahu markas Inside, dan sewaktu waktu, dia pasti datang ke markas untuk mencari Samsudin.


"Baiklah, kalo Samsudin merasa lebih aman tinggal di hotel gak apa apa. Tapi kamu dan anak buahmu tetap harus melindunginya ! Jangan sampai Samsudin terbunuh oleh Gavlin!" tegas Binsar, di telepon.


"Baik, Pak. Saya akan kerahkan anak buah saya nanti buat berjaga jaga di sekitar hotel." jelas mino, dari seberang telepon.


"Ya, tapi ingat, jangan sampai keliatan dan mencurigakan, bilang anak buahmu, agar saat menjaga Samsudin, jangan sampai ada yang curiga dan mengetahui siapa mereka!" tegas Binsar, di telepon.


"Baik, Pak." jawab Mino, dari seberang telepon.


Lalu, Binsar pun segera menutup teleponnya, dia lantas menyimpan ponselnya ke dalam kantong celananya, lalu, dia menghempaskan tubuhnya di kursi kerjanya, wajahnya tampak tegang dan geram. Dia sangat marah pada Gavlin, yang masih saja menghalangi dan berusaha untuk menghancurkannya.


---


Di kantor kepolisian, Masto tampak berjalan tergesa gesa, dia masuk ke dalam ruang kantor menemui Andre yang duduk sambil mempelajari berkas kasus kejahatan organisasi Inside.


"Maaf mengganggu, Pak." ujar Masto, berdiri di hadapan Andre yang duduk di kursi meja kerjanya.


"Ya, ada apa?" tanya Andre, menatap lekat wajah Masto yang terlihat serius itu.


"Saya baru dapat informasi, kalau rumah Samsudin, menkopolkam di serang, Pak." ujar Masto, memberi laporan.


"Di serang?!" Andre tersentak kaget mendengar perkataan Masto.


"Ya, Pak. Rumahnya di ledakkan dengan menggunakan bom roket, sekarang, rumahnya hancur berantakan!" tegas Masto.


"Oh, ya? Pasti ulah Gavlin!" ujar Andre.


"Sepertinya begitu Pak. Dari perbuatannya, semua sama seperti yang pernah Gavlin lakukan sebelumnya." jelas Masto, dengan wajah seriusnya.

__ADS_1


"Ya. Gavlin sudah bergerak lagi, karena sudah sembuh dari sakitnya dan berhasil melarikan diri dari kita!" ujar Andre geram.


"Ya, Pak." jawab Masto.


"Lantas, bagaimana dengan pak Samsudin?" tanya Andre.


"Belum di ketahui bagaimana nasib dan keadaannya Pak." ujar Masto.


"Baik, kita ke sana sekarang juga. Kerahkan tim penyidik untuk iķut ke lokasi dengan kita!" tegas Andre.


"Siap Pak!" ujar Masto, memberi hormat.


Lalu, Masto pun segera keluar dari dalam ruang kantor Andre untuk mempersiapkan tim penyidik kepolisian, Andre merapikan berkas berkas kasus yang dia baca, dimasukkannya file berkas ke dalam laci meja kerjanya.


Andre lantas mengambil dan memakai jaketnya, lalu, dia segera berjalan keluar dari dalam kantornya.


---


Samsudin dan istrinya ditemani Penjaga keamanan telah tiba di hotel, dan saat ini, mereka sudah berada di dalam kamar hotel kelas Presidential suite.


"Saya akan menempatkan anak buah saya untuk berjaga jaga di luar kamar ini , Pak." ujar Penjaga Keamanan.


"Ya, Terima kasih. Oh ya, siapa nama kamu?" tanya Samsudin.


"Saya Muhtadin Pak." jawab penjaga Keamanan.


"Oh, baiklah." ujar Samsudin mengangguk mengerti.


"Baiklah Pak. Saya tinggal dulu, nanti, kalo ada apa apa, Bapak bisa panggil anak buah saya yang berjaga di luar kamar, dan nanti juga, Pak Mino akan datang ke sini menemui Bapak." ujar Muhtadin, Penjaga Keamanan.


"Ya, Baik." jawab Samsudin.


Muhtadin lantas segera keluar dari dalam kamar, Samsudin lantas berjalan mendekati Istrinya yang duduk di sofa dan diam tercenung.


"Kamu kenapa?!" tanya Samsudin.


"Aku cemas dan khawatir, Pah." ujar Istri Samsudin.


"Sudah, kamu gak usah cemas lagi, kita sudah aman di sini." jelas Samsudin.


"Ya, Papah yakin." tegas Samsudin.


"Ya sudah, kamu istirahat sana di kamar, biar kamu tenang." ujar Samsudin.


"Ya, Pah." Angguk Istri Samsudin.


Istri Samsudin lantas berjalan menuju ke kamar yang ada di dalam ruang kamar hotel berkelas Presidential suite itu, sementara Samsudin, dia duduk di sofa yang ada di dalam kamar hotelnya itu.


---


Gavlin kembali ke rumah bilik milik pak Sarono, dia tampak sangat kesal dan kecewa, karena gagal dalam membunuh Samsudin.


Gavlin duduk di sofa yang ada diruang tamu rumah pak Sarono, dia memegangi flash disk, yang berisi bukti kejahatan pembicaraan Samsudin bersama anggota Inside lainnya dan juga Binsar.


Gavlin tampak tengah memikirkan sesuatu hal, di perhatikannya dengan seksama flash disk yang dipegangnya, ada sesuatu hal yang tengah di pikirkan dan di rencanakan Gavlin saat ini pada flash disk tersebut.


---


Andre dan Masto beserta para tim penyidik kepolisian datang kelokasi rumah Samsudin yang sudah hancur berantakan. Para Petugas Penyidik kepolisian segera bergerak mencari barang bukti yang ada di sekitar reruntuhan rumah Samsudin.


Andre berdiri di tengah tengah halaman rumah Samsudin, dia menoleh ke arah rumah Samsudin yang sudah hancur berkeping keping karena di ledakkan dengan bom roket. Masto menghampirinya dan berdiri di depan Andre.


"Tidak ada jejak dari pelaku atau Gavlin, Pak." ujar Masto, memberi laporan.


"Ya, karena Gavlin pintar dan lihai, gak akan mungkin dia meninggalkan jejak di sekitar lokasi ini." jelas Andre.


"Tapi, ciri ciri pembantaiannya sama Pak. Dulu, Gavlin juga pernah menghancurkan rumah Herman dengan menggunakan bom roket juga kan?" ujar Masto.


"Iya, benar. Tapi kita harus memastikannya, paling tidak, kita harus menemukan bukti keterlibatan Gavlin dalam hal ini, agar kita bisa menangkapnya!" ujar Andre, dengan wajah serius.


"Kalo kita gak punya bukti atas keterlibatan Gavlin, kita gak bisa menangkapnya! Karena itu, kalian harus mencari dan bisa menemukan apapun yang dapat di jadikan bukti keterlibatan Gavlin!" ujar Andre, menegaskan.


"Baik Pak." ujar Masto.

__ADS_1


Masto lantas pamit pergi meninggalkan Andre yang sendirian berdiri ditengah halaman rumah Samsudin.


Pandangan mata Andre menelusuri seluruh area rumah Samsudin, dia mencoba mencari cari sesuatu hal yang ganjil di area rumah itu, namun, dia tak menemukan dan tak melihat apa pun juga.


Beberapa mobil ambulance tiba di lokasi rumah Samsudin, para petugas medis segera keluar dari dalam mobil, mereka datang atas permintaan Andre, untuk membawa mayat mayat para penjaga keamanan yang banyak mati di sekitar lokasi rumah Samsudin.


Andre mendekati Masto yang tengah memerintahkan tim medis untuk segera membawa mayat mayat penjaga keamanan.


"Bagaimana dengan Samsudin dan keluarganya? Apa ditemukan jejak mereka?!" tanya Andre, dengan wajah serius menatap Masto yang berdiri dihadapannya.


"Pak Samsudin dan keluarganya gak ada di rumah ini, Pak. Sepertinya, saat kejadian berlangsung, beliau berhasil melarikan diri." ujar Masto.


"Oh, begitu." ujar Andre.


"Kamu cari dan lacak keberadaan Pak Samsudin saat ini, dan juga, buru Gavlin, tangkap dia segera!" ujar Andre.


"Baik, Pak." Angguk Masto.


Andre lantas mendekati para medis yang sibuk mengangkati mayat mayat penjaga keamanan, Andre melihat luka luka yang ada di sekujur tubuh para penjaga keamanan, dia menghela nafasnya.


"Nekat kamu Gavlin ! Kapan kamu berhenti membunuhi orang orang?!" Gumam bathin Andre bicara.


Andre kepikiran Gavlin, dia sebenarnya tak ingin Gavlin terus membantai dan membunuhi orang orang yang tak bersalah. Hanya karena ingin membalas dendam, dia sudah banyak membunuh orang orang. Dan Andre sangat prihatin akan hal itu.


Namun, sebagai polisi dia tak bisa melarang Gavlin begitu saja, satu satunya cara yang bisa dia lakukan saat ini hanyalah memburu Gavlin, agar Gavlin tertangkap dan tidak bisa lagi membunuhi orang orang dengan sesuka hatinya.


Telepon Andre tiba tiba berbunyi, dia cepat mengambil ponsel dari dalam kantong celananya, Andre melihat, si penelpon adalah Samuel, Jaksa Penuntut.


"Ya hallo? Aku sekarang lagi di lokasi rumahnya Samsudin." ujar Andre, bicara di teleponnya.


"Ya, Apa kamu sudah mendengar kabar, bahwa Samsudin di serang dan rumahnya di bom?" tanya Andre, ditelepon.


"Ya, aku udah dapat kabar, karena itu, aku langsung telepon kamu, nanya perkembangannya bagaimana?!" ujar Samuel, dari seberang telepon.


"Samsudin dan keluarganya gak ada di lokasi, mungkin melarikan diri." ujar Andre, ditelepon.


"Kamu yakin dia melarikan diri? Atau jangan jangan, Gavlin udah berhasil menangkapnya?!" tanya Samuel dari seberang telepon.


Mendengar perkataan Samuel itu Andre tercekat, dia diam sesaat, Andre berfikir, ada benarnya apa yang di katakan Samuel itu.


"Benar juga, apa mungkin Samsudin sudah ditangkap Gavlin? Kalo iya, dibawa Gavlin kemana Samsudin?!" ujar Andre, bicara di teleponnya.


"Entahlah, itu tugasmu menyelidikinya, bukan?" ujar Samuel, dari seberang telepon.


"Ya, kamu benar, Sam. Aku akan menyelidikinya, mencari tau, apa benar Samsudin ditangkap Gavlin atau tidak." ujar Andre, ditelepon.


"Ya, kamu harus mulai dari Inside, coba datangi markas Inside untuk mencari tau keberadaan Samsudin, dengan begitu ,kamu pasti akan tau kebenarannya, apakah Samsudin melarikan diri atau ditangkap Gavlin!" ujar Samuel, memberi penjelasan dari seberang teleponnya.


"Baiklah, akan aku datangi markas Inside !" ujar Andre, ditelepon.


"Ya, kabari aku nanti begitu kamu menemukan keberadaan Samsudin dan juga Gavlin." ujar Samuel, dari seberang teleponnya.


"Baik, akan aku kabari nanti." jawab Andre, ditelepon.


Lantas, Andre menutup teleponnya, lalu dia menyimpan ponselnya ke dalam kantong celananya, Andre kemudian mendekati Masto yang masih mengurusi mayat mayat penjaga keamanan bersama para petugas para medis.


"Kamu ikut saya sekarang, kita ke markas Inside !" ujar Andre, dengan wajah yang serius.


"Bawa 20 orang tim penyidik ikut bersama kita!" jelas Andre.


"Siap, laksanakan !" ujar Masto, sambil memberi hormat pada Andre.


Masto lantas bergegas pergi meninggalkan Andre sendirian untuk mengumpulkan tim penyidik kepolisian agar ikut bersama mereka mendatangi markas Inside.


Andre berjalan menuju ke mobilnya, dia lantas segera masuk ke dalam mobilnya, Andre memakai sabuk pengaman dan menyalakan mesin mobilnya, dari dalam mobil, dia melihat kembali kereruntuhan rumah Samsudin, dia tahu, bahwa Gavlin menembakkan rudal roketnya dari arah luar rumah Samsudin.


Andre menarik nafasnya dalam dalam, lalu, dia segera menjalankan mobilnya, dia pergi meninggalkan lokasi rumah Samsudin.


Tak berapa lama, Mobil Masto juga keluar dari dalam halaman rumah Samsudin, lalu kemudian, beberapa saat, lima mobil unit penyidik kepolisian juga pergi meninggalkan rumah Samsudin, mereka mengikuti mobil Andre yang sudah lebih dulu meluncur di jalan raya.


Hanya tinggal tim para medis saja yang ada di lokasi rumah Samsudin, mereka masih sibuk mengangkat dan menggotong mayat mayat penjaga keamanan yang sangat banyak mati tersebut.


Setelah semuanya beres, dan mayat mayat sudah dibawa masuk ke dalam mobil ambulance, para petugas medis pun segera masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Lalu, beberapa saat kemudian, mobil ambulance pun berjalan pergi meninggalkan rumah Samsudin dengan membawa mayat mayat para penjaga keamanan.


__ADS_2