VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Richard Memburu Gavlin


__ADS_3

Gavlin masuk ke dalam rumah bilik kayu Sarono dengan membawa dua tas besar dan panjang. Gavlin meletakkan tas tas itu di lantai, di samping sofa panjang ruang tamu.


Gavlin lantas duduk di sofa, dia lalu membuka satu tas, kemudian, di keluarkannya sebuah senapan laras panjang. Sarono dan Indri kaget melihat senapan ditangan Gavlin. Gavlin dengan tenang dan santai meletakkan senapan di atas meja, lalu, dikeluarkannya senjata senjata lainnya.


Senjata senjata milik Gavlin yang dikeluarkannya dalam satu tas menumpuk di atas meja, Sarono dan Indri saling pandang, mereka terbelalak syock melihat, begitu banyaknya senjata milik Gavlin yang dibawanya.


"Buat apa senjata sebanyak ini nak Gavlin?" tanya Sarono, dengan wajahnya yang heran.


"Buat menyerang musuh musuh saya, Pak." jawab Gavlin santai.


"Lalu, granat itu untuk apa?" tanya Indri heran.


"Buat persiapan, berjaga jaga, kalo kalo aku di kepung, aku gunakan granat ini dalam keadaan terjepit." jelas Gavlin sekenanya pada Indri.


"Oh." jawab Indri.


Dia lalu terdiam, Indri menatap senjata senjata yang menumpuk di atas meja, lalu dia menatap wajah Gavlin yang sedang mengecek ketersediaan peluru di pistol yang ada di tangannya.


Sarono lantas berdiri, dia menatap Gavlin yang sibuk mengecek senjata senjatanya, Dia tak mau mengganggu Gavlin.


"Bapak istirahat ya, nak Gavlin." ujar Sarono, pamit pada Gavlin.


"Oh, iya Pak." jawab Gavlin.


Gavlin menoleh sebentar pada Sarono, lalu, dia melanjutkan kembali pekerjaannya mengecek pistol ditangannya. Sarono lantas berjalan pergi meninggalkan Gavlin yang asyik dan serius dengan senjata senjatanya.


Indri pun lantas berdiri dari duduknya, dia juga pergi, meninggalkan Gavlin sendirian di ruang tamu, Indri tak mau mengganggu Gavlin yang sedang asyik sendiri bersama senjata senjatanya.


---


Andre, Kapten Polisi yang datang ke rumah Sarono menghadap ke Richard di ruangan kantor Richard.


"Gavlin gak ada di rumah itu, Pak. Kami sudah geledah dan mencarinya." ujar Andre, memberi laporan.


"Hmm...Sepertinya Gavlin tau kedatangan kalian, lalu melarikan diri." ujar Richard geram.


"Saya yakin, Gavlin belum pergi jauh, dia pasti sembunyi disuatu tempat, gak mungkin dia bisa menghilang begitu saja." tegas Richard.


"Ya Pak. Saya curiga, orang tua bernama Sarono itu pasti menyembunyikan sesuatu, karena itu, saya menugaskan anak buah saya untuk mengawasinya." jelas Andre.


"Bagus ! Dengan begitu, kalo dia masih berhubungan dengan Gavlin, kalian bisa menangkapnya bersama Gavlin!" tegas Richard.


"Ya, Pak." jawab Andre.


"Sekarang, coba kalian cari Gavlin, datangi rumah Gatot, siapa tau Gavlin menemui Gatot." ujar Richard.


"Saya yakin, Gavlin pasti nemui Gatot, karena dia marah dan dendam sama Gatot, karena telah mengambil mayat mayat yang dia jadikan patung!" tegas Richard.


"Baik, Pak. Saya bersama tim akan kerumah Gatot." ujar Andre serius.


"Ya. Paksa Gatot untuk bicara, jangan sampai dia juga menyembunyikan Gavlin!" tegas Richard memberi perintah.


"Siap ! Laksanakan!" ujar Andre, memberi hormat pada Richard.


Lantas, Andre pun berjalan keluar dari dalam ruangan kantor Richard, Richard menghempaskan tubuhnya ke kursi kerjanya, dia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.


"Gavlin, Gatot. Kalian gak akan lolos dariku!" Gumam Richard geram.


Richard sama sekali tidak tahu, jika sebenarnya , Gatot sudah mati ditangan Jafar, dan Jafar juga sudah mati, karena tidak ditemukan mayat Jafar, maka tak ada yang tahu kematian Jafar. Gavlin telah melenyapkan tubuh Jafar dari muka bumi.

__ADS_1


Richard terlihat masih kesal dan marah pada Gatot, dan ingin memenjarakan Gatot. Karena itu, dengan segala cara dia akan menjebak Gatot. Namun dia tak menyadari, bahwa akan sia sia rencananya, karena Gatot sudah mati.


---


Gavlin masih membersihkan senjata senjatanya yang menumpuk diatas meja ruang tamu, Indri datang membawakan makanan ringan dan gelas berisi air minum.


"Di minum, Vlin. Dari tadi kamu belum makan dan minum." ujar Indri.


"Terima kasih, In." ujar Gavlin, tersenyum senang melihat Indri.


Indri membalas senyuman Gavlin, dia juga tersenyum lembut pada Gavlin. Indri yang mengetahui Gavlin belum makan dan minum memberi perhatian pada Gavlin, dia mengingatkan Gavlin untuk mengisi perutnya, dan jangan terlalu focus dengan kerjaannya hingga melupakan kesehatannya.


"Udah, makan dulu, Vlin. Nanti dilanjut lagi kerjaannya." ujar Indri.


"Sedikit lagi In." ujar Gavlin.


"Udah nanti aja." jawab Indri.


Indri mengambil pistol dari tangan Gavlin, lalu dia letakkan pistol diatas meja, Gavlin tertawa kecil melihat kelakuan Indri yang mengambil pistolnya, Indri lantas mengambil sepotong kue dari piring dan memberikannya pada Gavlin.


"Makan ini." ujar Indri.


Indri menyodorkan kue ditangannya agar Gavlin mengambilnya, tapi Gavlin malah menyodorkan mulutnya ke tangan Indri yang memegang kue, lalu, dia membuka mulutnya lebar lebar. Gavlin minta disuapin Indri.


"Tanganku kotor bekas pegang peluru peluru. Tolong suapin." ujar Gavlin.


Indri pun tersenyum senang melihat Gavlin yang minta dia suapin makanannya. Lalu, Indri pun memasukkan kue ke dalam mulut Gavlin. Gavlin lantas memakan dan mengunyah kue itu.


"Wah, enak kuenya, beli dimana In?" tanya Gavlin, sambil mengunyah kue di mulutnya.


"Enak aja beli, aku yang buat sendirilah." ujar Indri, tertawa kecil.


Indri hanya tersenyum, dia senang di puji Gavlin, namun, dia menyembunyikan rasa senangnya itu, Indri berusaha untuk bersikap biasa saja dan tenang dihadapan Gavlin.


Indri lantas mengarahkan kue ditangannya kemulut Gavlin lagi, Gavlin membuka mulutnya, lalu, dia memasukkan semua kue ke dalam mulutnya. Indri tertawa melihat Gavlin menghabiskan semua kue yang di tangannya.


"Tuh kan, lapar kamu." ujar Indri tertawa kecil.


"Habis enak sih kuenya." ujar Gavlin tertawa senang.


"Ya kalo enak makan lagi, tuh masih banyak di piring." ujar Indri.


"Iya. Nanti pasti aku habisi." ujar Gavlin, tersenyum senang.


"Udah ah, aku mau ke dapur, mau masak buat makan malam." ujar Indri.


"Loh, kok pergi, kan masih nyuapin aku ?" tanya Gavlin.


"Iih, makan aja sendiri, aku sibuk." ujar Indri, tertawa kecil.


Indri lantas pergi meninggalkan Gavlin, Gavlin tertawa kecil melihat kepergian Indri, lantas, dia melanjutkan pekerjaannya yang tertunda, membersihkan senjata senjatanya.


---


Andre bersama tim Penyidik Kepolisian mendatangi rumah Gatot, Dia membawa banyak pasukan, ada sekitar 20 petugas penyidik kepolisian yang datang menemaninya.


Mereka keluar dari dalam mobil, lalu, bergegas berpencar ke segala penjuru rumah Gatot yang berbentuk dua muka rumahnya. Andre membagi tugas pada tim nya untuk mencari dan menggeledah seluruh isi rumah Gavlin.


Seorang Petugas Penyidik Kepolisian mendobrak pintu rumah Gatot, pintu lantas terbuka, Para petugas Penyidik Kepolisian bergegas masuk ke dalam rumah, Andre lalu mengikutinya.

__ADS_1


Sementara, di sisi lain rumah Gatot, Masto berpencar, dia ke sisi lain rumah bersama beberapa petugas penyidik kepolisian, dan Edo juga bersama petugas polisi lainnya pergi ke samping rumah Gatot.


Di dalam rumah, para petugas penyidik kepolisian segera menggeledah seluruh ruangan yang ada di dalam rumah Gatot, tak ada yang terlewatkan, semua ruangan mereka masuki dan mencari Gatot dan Maya.


Seorang Petugas Penyidik Kepolisian menghampiri Andre yang berdiri diruang tamu, untuk memberi laporan.


"Rumah ini kosong, gak ada siapa siapa, Kapten!" ujar Petugas Penyidik Kepolisian memberi laporan pada Andre.


"Hmm...Kalo meliat isi ruangannya, Gatot dan anaknya pasti belum lama pergi dari sini." jelas Andre.


"Sepertinya begitu, Kap!" ujar Petugas Penyidik Kepolisian.


Masto berlari lari kecil menghampiri Andre yang sedang bicara bersama Petugas Penyidik Kepolisian. Dia masuk dari belakang rumah Gatot.


Masto lantas berdiri menghadap Andre, wajahnya tampak tegang, dia memberi laporan pada Andre atas apa yang baru saja dia temukan di belakang rumah Gatot.


"Lapor Kapten ! Di kebun belakang rumah, ada dua kuburan baru!" jelas Masto, memberi laporan dengan wajah tegang dan serius.


"Kuburan?!" Andre kaget.


"Ya. Di papan yang tertancap ditanah kuburannya, tertulis nama Gatot dan Maya !" tegas Masto, memberi tahu


"Apa?!!" Andre kaget.


Lalu, dengan cepat dia berjalan menuju ke belakang rumah Gatot, Masto pun lantas bergegas mengikuti Andre yang berjalan cepat.


Andre keluar dari belakang rumah Gatot, dia masuk ke dalam kebun belakang rumah Gatot, dia lantas melihat ada dua gundukan tanah di kebun, lalu, Andre segera mendekati gundukan tanah tersebut.


Andre berdiri tepat diantara dua kuburan, dia membaca nama yang ada di papan yang tertancap ditanah kuburan itu. Dia pun menarik nafasnya.


Masto datang, lalu dia berdiri disamping Andre yang sedang mengamati kedua kuburan tersebut.


"Siaal !! Apa benar ini kuburannya Gatot dan Maya?! Kalo benar, siapa yang membunuh mereka?!" ujar Andre, geram dan marah.


Andre tampak marah, karena dia gagal menangkap Gatot, dan ternyata Gatot telah mati.


"Cepat panggil tim Forensik dan petugas Medis, agar kuburan ini di gali, dan mayat keduanya di bawa lalu segera di autopsi!" ujar Andre memberi perintah.


"Siap Kap ! Akan saya laksanakan!" Jawab Masto memberi hormat.


Masto lantas mengambil ponselnya untuk menghubungi petugas tim ahli forensik bersama petugas medis.


Andre geram, menahan amarahnya. Dia ingin tahu, siapa yang menguburkan Gatot dan Maya di kebun, dan siapa yang menbunuh keduanya.


---


Gavlin masuk ke ruang tengah, tas tas berisi senjata senjatanya sudah disimpannya di dalam kamarnya. Gavlin mendekat ke mesin jahit milik Indri.


Gavlin melihat buku diatas mesin jahit, dia lalu membuka lembaran buku, di dalamnya, banyak gambar pola dan rancangan model pakaian yang digambar Indri.


Gavlin memperhatikan satu persatu desain gambar pakaian pakaian itu, dia tersenyum senang, dia menilai bagus hasil rancangan Indri.


Lalu, Gavlin melihat sebuah pola gambar rancangan pakaian pengantin yang di buat Indri, Gavlin mengamati dan meneliti setiap garis garis dan lekukan gambar pakaian pengantin.


Gavlin tersenyum, dia lalu mengambil pensil yang ada di samping buku, lalu, dia menambahkan beberapa pola dan model ke dalam gambar baju pengantin yang dirancang Indri. Setelah itu, dia menutup bukunya.


Sebagai seniman hebat dan terkenal, Gavlin tentunya sangat mengetahui, model pakaian mana yang bagus dan menarik mode dan rancangannya, karena itu, dengan diam diam dia membantu Indri, agar desain baju pengantinnya menjadi lebih bagus hasilnya.


Lalu, Gavlin pun pergi dari ruang tengah, dia lantas masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2