VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Menghilang


__ADS_3

Gavlin masuk ke dalam rumah Ronald, dengan tenang dan sikap dinginnya, dia berjalan menyusuri ruangan dalam rumah. Ditangannya ada senapan laras panjang yang siap ditembakkannya kapan saja Ronald menyerang secara tiba tiba.


"Ronaaald, dimana kamuu?!! Keluarlaaah, jangan sembunyii!" ujar Gavlin, dengan sikap dingin dan kakunya.


Dia membuka pintu kamar, lalu melihat kedalam kamar, kamar itu kosong, Gavlin menggeledah kamar, tak ada Ronald, lalu, dia keluar, terus mencari Ronald.


Seluruh ruangan sudah di geledah Gavlin, namun, Ronald tak juga terlihat batang hidungnya, Gavlin pun semakin geram dan marah.


"Ronaaallldd, keluarlaaah, jangan takuutt, mari hadaaapi akuuu!" ujar Gavlin, memanggil Ronald, dengan suara sedikit keras.


Tak ada juga Ronald di dalam ruangan, Gavlin cepat berjalan ke dapur, di dapur, dia melihat bercak darah Ronald di lantai, Gavlin pun mengamati darah di lantai.


Gavlin melihat, tetesan darah itu mengarah ke pintu belakang rumah, Gavlin dengan cepat membuka pintu dan keluar rumah.


Di halaman belakang, Gavlin melihat lagi, tetesan darah milik Ronald yang ada di tanah. Gavlin geram dan marah.


"Bedebaaah !! Iblis itu melarikan diri!!" ujar Gavlin marah.


Dia melihat bercak bercak darah yang mengarah ke tembok pembatas rumahnya, dia pun mengikuti tetesan bercak darah di tanah.


Lantas, Gavlin naik ke atas tembok, lalu, dia pun melompat. Gavlin lompat dan turun, menjejakkan kakinya di tanah pemakaman.


Di tanah pemakaman, lagi lagi dia melihat banyak darah darah di tanah, dan dia tahu, sepertinya darah itu milik Ronald saat melompat dan bergulingan di tanah.


Dengan cepat, Gavlin pun berlari keluar dari area pemakaman tersebut, dia mencoba mencari dan mengejar Ronald.


Dengan sekencang kencangnya, Gavlin berlari ke luar area pemakaman menuju jalanan. Di pinggir jalan, Gavlin diam sebentar.


Dia menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari, kemana arah Ronald melarikan diri. Lalu, tidak jauh dari tempatnya berdiri, di atas aspal jalanan, ada noda seperti darah.


Gavlin pun mendekati noda yang menempel di aspal jalanan, dia menegaskan matanya untuk melihat. Setelah memastikan bahwa itu darah, Gavlin pun mengepalkan tangannya geram.


"Dia lari ke sana! Baiklah, Ronald!! Larilah sesuka hatimu!! Aku pasti akan menemukanmu!!" ujar Gavlin geram dan marah.


Gavlin lantas berjalan cepat sambil memegang senapan laras panjangnya, dia mengejar Ronald.


Sementara itu, tampak Ronald dengan susah payah berlari dijalanan, darah terus mengalir dari bahunya yang tertembak, wajahnya mulai pucat, karena dia banyak mengeluarkan darah.


Saat berjalan, dia terhuyung huyung, lalu, terjatuh ke aspal jalanan, dengan memaksakan dirinya, Ronald berusaha untuk bangun dan berdiri.


Dia pun lantas berdiri, kemudian, dia melanjutkan pelariannya, Dia terus berjalan sambil menahan rasa sakit di bahunya.


Gavlin terus berjalan dengan sikap dinginnya, dia mengikuti tetesan darah Ronald yang ada di aspal jalanan.


Dengan bantuan tumpahan darah Ronald, Gavlin jadi mudah menemukan Ronald, dan mengejarnya. Gavlin pun santai berjalan, tidak berlari mengejar Ronald.


Sebab, dengan petunjuk darah di aspal jalanan, dia pasti akan menemukan Ronald, dia tahu, Ronald terkena tembakannya, dia tak mungkin bisa lama bertahan, jika darah terus keluar, dan luka tembaknya tidak di tutup dan di obati.


Untuk itu, Gavlin tenang, mengejar Ronald.


Di tempat lain, Ronald tertatih tatih kelelahan terus berjalan, langkah kakinya sudah semakin melemah.


Ronald tidak bisa lagi berlari atau pun berjalan cepat, dengan sisa sisa tenaganya, dia pun memaksakan dirinya, untuk terus berlari, dan menghindar dari kejaran orang yang telah menembaknya.


Ronald belum tahu, jika yang menembaknya dan menjadi penembak misterius adalah Gavlin, orang yang akan membalas dendam padanya.


Ronald lalu berhenti berjalan, dia mengatur nafasnya yang sudah sangat kelelahan, karena sudah sangat jauh sekali berlari lari dan berjalan.


Ronald melihat ke aspal jalanan, ceceran darahnya banyak di aspal, dia pun tahu, pasti penembaknya mengikuti ceceran darahnya untuk mengejar dirinya.


Lalu, dia pun membuka bajunya, kemudian, dengan bajunya, dia menutupi luka di bahunya yang berdarah. Ronald berusaha menghentikan darah terus keluar. Dia menekan kuat bajunya di bahu yang terkena tembakan.


Lalu, Ronald berjalan dan berbelok ke sebuah gang, dia melihat, ada sebuah rumah, dengan cepat, Ronald pun menerobos masuk ke dalam rumah tersebut.


Orang yang berada di dalam rumah, Pria tua dan istrinya kaget melihat Ronald yang memaksa masuk kerumahnya, lalu terjatuh di lantai rumah.


Istri Pria tua histeris, melihat Ronald terkapar dilantai, dalam rumah mereka, wajah sang istri tampak ketakutan, melihat darah keluar dari sela sela baju Ronald yang menempel dibahunya yang terluka.


Dengan perlahan, Pria tua mendekati Ronald, dia lantas memeriksa kondisi Ronald yang terkapar di lantai.


"Dia masih hidup, Bu." ujar Pria tua.

__ADS_1


"Terus, bagaimana ini, Pak? Apa yang kita lakukan sama orang ini?" tanya Sang Istri dengan wajah penuh ketakutan.


"Tolong ambilkan obat luka di laci meja dapur, Bu." ujar Pria tua.


Sang Istri pun mengangguk, dia lantas berlari masuk ke dalam rumahnya untuk mengambil obat luka, yang di perintahkan Suaminya.


Di jalanan, Gavlin pun tiba di tempat terakhir Ronald berdiri di pinggir jalan, Gavlin melihat, banyak ceceran darah di sekitar dia berdiri.


Gavlin melihat ke kanan ke kiri, depan belakang, mencari cari, adakah ceceran darah lainnya di aspal jalanan.


Gavlin tak menemukan, ceceran darah lagi, ceceran darah terakhir yang dia lihat, terhenti dan berakhir sampai di tempatnya berdiri.


"Biaaadaaabbb!! Kemana si Iblis itu menghilang?!" ujar Gavlin geram dan marah.


Dia tetap berdiri ditempatnya, matanya menyusuri seluruh area jalanan, mencari cari keberadaan Ronald, dia lantas melanjutkan perjalanan untuk mencari Ronald.


Di dalam rumah, tampak Ronald sedang di obati Pria tua, yang di bantu Istrinya. Pria tua menaburi obat luka di bahu Ronald yang berlubang terkena tembakan, lantas dia menjahit luka dan membalut luka tersebut dengan perban.


Lalu, Pria tua dan sang Istri diam menunggu, mereka duduk di sofa panjang, mereka terus melihat Ronald yang masih terbaring di lantai rumah mereka.


"Bagaimana, kalo dia mati, Pak?" Bisik Sang istri, di telinga Pria tua.


"Berharap aja, dia sadar, Bu. Kalo dia mati di dalam rumah, kita yang repot, bisa bisa, kita di tuduh membunuhnya." ujar Pria tua, menegaskan.


"Iya, Pak." Angguk Sang Istri.


---


Karena dia tak bisa menemukan Ronald yang sudah menghilang, dia pun kembali ke mobilnya, yang disembunyikannya di rawa rawa yang ada di dekat rumah Ronald.


Gavlin masuk ke dalam mobilnya, setelah dia menyimpan senapan laras panjangnya dibagasi mobil. Kemudian, mobilnya pun berjalan, dan pergi dari tempat persembunyiannya.


Dua jam kemudian, Ronald pun mulai sadar, dia pun membuka kedua matanya, lalu, dia bangun dan berusaha untuk berdiri.


Dengan sempoyongan Ronald berdiri, Pria tua mencoba membantunya, Ronald di dudukkan di sofa oleh Pria tua.


"Sebaiknya, Bapak jangan banyak bergerak dulu, agar, darah dari luka bapak gak keluar terus." ujar Pria tua, menjelaskan.


"Ya." ujar Ronald, mengangguk lemah.


Ronald pun tahu, jika Pria tua sudah menolong dan menyelamatkan nyawanya, dia senang, karena dia selamat.


Sang Istri beranjak dari duduknya, dia berjalan ke belakang, hendak mengambilkan air minum buat Ronald.


Ronald yang duduk, mengamati ruangan rumah Pria tua, dia melihat sebuah Photo yang terpajang di dinding ruangan tersebut.


"Bapak Polisi?" Tanya Ronald.


"Pensiunan tepatnya, Saya sudah 6 tahun pensiun dari tugas polisi, tapi, masih berhubungan baik dengan rekan rekan di kepolisian." ujar Pria tua tersenyum ramah.


"Oh, begitu." ujar Ronald, mengangguk mengerti dan paham.


Ronald lantas terdiam, dia tampak sedang memikirkan sesuatu hal, Pak Tua membereskan obat obatan yang tergeletak dimeja, dimasukkannya obat obatan ke dalam kotak obat.


Di dapur, Sang Istri menuangkan air kedalam gelas, tiba tiba, tangannya bergetar kencang, wajahnya, panik, dia syock, matanya terbelalak lebar.


Tatatapan matanya tertuju pada kulkas, dia melihat, sebuah photo yang menempel di pintu kulkas. Tubuh Sang Istri gemetar ketakutan.


Dia melihat, Photo yang menempel di pintu kulkas adalah photo Ronald, dan di bawahnya tertulis, bahwa Ronald sebagai 'Buronan Kepolisian'.


Wajah sang Istri pun pucat, dia ketakutan, namun, dia berusaha untuk menenangkan diri dan tidak panik.


Dia tak ingin, Ronald tahu, jika dia ketakutan, sebab, mengenali Ronald sebagai buronan kepolisian saat ini.


Ya, Photo Ronald dipajang dan dijadikan buronan, karena dia menikam Gatot, komandan Polisi, dan Gatot serta Teguhlah, yang memberi perintah, untuk menyebarkan Photo Ronald sebagai buronan.


Dan Pria tua, karena dia pensiunan polisi, dan masih berhubungan baik dengan rekan polisi, kemudian, dia juga sering datang sekedar berkunjung ke kantor polisi melepas kangen pada rekan rekannya. Pria tua pun mendapatkan photo Ronald.


Lalu, Pria tua sengaja menempelkan photo Ronald di pintu kulkas, agar dia selalu ingat dengan wajah Ronald sebagai buronan kepolisian.


Di ruangan tempat Pria tua duduk bersama Ronald, tampak Pria tua memperhatikan wajah Ronald.

__ADS_1


"Sepertinya saya pernah melihat anda, tapi saya gak ingat, dimana." ujar Pria tua.


"Mungkin hanya mirip, Pak." ujar Ronald tenang.


Sang Istri datang membawa gelas berisi air minum di atas nampan, lalu, dengan tangan gemetar, Sang Istri meletakkan gelas di atas meja.


Ronald heran, melihat tangan istri pria tua gemetar, dia melihat wajah sang Istri, wanita tua itu di lihat Ronald ketakutan.


"Tanganmu kenapa gemetaran, Bu? Kamu sakit?" tanya Pria tua, khawatir pada istrinya.


"Aku gak apa apa , Pak." Jawab Sang Istri.


Dia lalu duduk di sofa, disamping suaminya, dia menahan dirinya, dan memegang tangannya, agar tidak terus bergetar.


Mata Ronald tajam melihat wanita tua tersebut, diam diam, Ronald pun mengambil pisau lipat dari kantong belakang celananya.


Dia curiga, kalau sang Istri mengenali wajahnya sebagai penjahat, maka dari itu, Ronald pun berhati hati.


"Kamu beneran gak apa apa, Bu?" tanya Pria tua, cemas.


"Nggak apa apa, Pak.Cuma gak enak badan dikit." ujar Sang Istri.


Dia lantas merebahkan kepalanya di bahu Pria tua, lalu dia berbisik pelan ditelinga suaminya.


"Dia yang di pintu kulkas, Pak." bisik sang Istri.


Mendengar perkataan istrinya, Pria tua pun terkesiap kaget, dia melihat Ronald, yang tersenyum licik padanya.


Belum sempat dia menyadari sepenuhnya jika Ronald adalah buronan, seperti yang dibisikkan istrinya, photonya ada di pintu kulkas, dengan gerak cepat, Ronald menghujamkan pisau lipatnya ke dada Pria tua.


"Aaaarrrggghhh!!" teriak sang Istri ketakutan.


Dia berteriak histeris, melihat, suaminya di tikam dadanya, dan mengeluarkan darah yang banyak.


Dengan buas, Ronald terus menghujamkan pisaunya ke dada pria tua, Pria tua pun mati terkapar diatas sofa, lalu, Ronald menyeringai jahat pada sang Istri.


"Kamu mengenaliku, maka kalian harus mati!" ujar Ronald geram dan marah.


Lalu, dia pun menghujamkan pisau lipat keleher sang Istri, darah segar menyembur dari leher sang Istri, wanita tua itu pun terkapar, rebah di atas tubuh suaminya yang sudah mati.


Wanita tua itu tak sempat melarikan diri, karena, gerakan Ronald lebih cepat dari dirinya. Akhirnya, Pria tua dan sang Istri pun mati.


Mereka di bunuh Ronald hanya karena mengenali wajahnya sebagai penjahat kepolisian. Ronald tak mengingat, bahwa, Pria tua dan istrinya sudah menyelamatkan hidupnya.


Tanpa pertolongan Pria tua dan istrinya, mungkin saja Ronald sudah mati kehabisan darah. Karena bertemu Pria tua, yang pensiunan Polisi, lukanya pun bisa di obati.


Pria tua mengambil peluru dari dalam bahunya, lalu, menjahit luka tembak Ronald, Pria tua sebagai Polisi memiliki keahlian mengobati luka tembak. Dia terbiasa dengan hal itu.


Itu sebabnya, Ronald bisa di selamatkan, namun ternyata, kebaikan Pria tua dan istrinya, dibalas Ronald dengan kejahatan.


Tanpa berterima kasih, karena nyawanya di tolong, Ronald malah membantai Pria tua dan Istrinya hingga mati.


Ronald benar benar manusia keji, yang tidak memiliki hati nurani dan belas kasihan, sebagai Psikopat, dia memang tak punya jiwa kasihan sedikit pun.


Ronald menghapus darah yang menempel ditangannya dengan kain taplak meja. Setelah, itu, Ronald bergegas keluar dari dalam rumah.


Ronald pergi dari rumah Pria tua yang sudah dibunuhnya, Ronald berlari, ke arah jalanan lainnya, bukan ke jalan tempat awal dia masuk ke gang rumah Pria tua.


Ronald terus berlari, menyusuri jalanan, dia lantas tiba di pinggir jalan raya. Ronald lalu berdiri menunggu.


Di kejauhan, dia melihat sebuah taksi melintas ke arahnya, dengan cepat, Ronald berdiri di tengah jalan, menghadang laju mobil taksi.


Mobil taksi yang melaju ke arahnya kaget melihat Ronald berdiri menghalangi mobilnya, dengan cepat, sang Supir menginjak rem, mobil taksi pun berhenti, tepat di depan Ronald.


Dengan cepat, Ronald membuka pintu belakang mobil, lalu, dia segera masuk ke dalam mobil taksi.


"Antar saya ke jalan perjuangan gang suka nikmat, bekasi barat, rumah belanda." ujar Ronald.


"Baik, Pak." Jawab sang Supir Taksi.


Lantas, Supir pun menjalankan mobilnya, taksi lalu meluncur dijalanan, di jok belakang mobil taksi, tampak Ronald memegang bahunya yang terluka dan di balut perban.

__ADS_1


Ronald masih merasakan nyeri dari luka tembak di bahunya, dia pun menghela nafasnya dengan berat, wajahnya tampak geram dan marah.


"Siapapun kamu yang menembakku! Akan ku cari dan ku bantai!" Bathin Ronald bicara. Wajahnya terlihat geram dan marah.


__ADS_2