VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Berkhianat


__ADS_3

"Braaakk "


Binsar memukul meja kerjanya, dia terlihat sangat marah sekali, Binsar mengamuk, karena dia mendapat kabar yang tidak baik.


Beberapa anggota organisasi Inside nya di tangkap Polisi yang bekerjasama dengan pihak kejaksaan dan tim pemberantasan korupsi.


Samsudin duduk diam di sofa yang ada didalam ruang kantor Binsar. Dengan wajah penuh amarahnya, dia mendekati Samsudin.


"Perintahkan semua anggota untuk berkumpul di markas Inside dua jam dari sekarang! Aku akan membahas soal penangkapan anggota anggota kita!!" Perintah Binsar.


"Baik, Pak." ujar Samsudin, berdiri mengangguk hormat di hadapan Binsar.


"Dan bawa Herman kehadapanku! Aku menduga, Herman yang membocorkan rahasia Inside, sehingga pihak polisi dan kejaksaan menangkap anggota anggota kita!" tegas Binsar, dengan wajah penuh amarah.


"Jika nanti terbukti Herman yang membongkarnya, habisi dia!! Lenyapkan Herman!! Aku gak mau ada anggota Inside yang berkhianat!!" ujar Binsar, geram dan marah.


"Baik, Pak. Akan saya lakukan." jawab Samsudin, memberi hormat.


"Ya, sudah, segera panggil dan bawa Herman, lalu kumpulkan anggota anggota lainnya, kita ketemu di markas Inside nanti!" tegas Binsar.


"Baik, Pak. Saya permisi." ujar Samsudin.


Samsudin pamit, dia membungkuk memberi hormat pada Binsar yang bertindak sebagai ketua organisasi Inside.


Binsar berdiri menahan amarahnya, dia melihat Samsudin yang berjalan keluar dari dalam kantornya.


"Siaaal !! Puluhan tahun gak terlacak, bisa bisanya sekarang Polisi dan Kejaksaan menemukan bukti dan menangkap anggotaku!! Kurang ajar Herman!! Berani dia mengkhianatiku!!" ujar Binsar geram.


Binsar mengira dan menuduh, bahwa Herman lah yang sengaja membongkar rahasia kejahatan anggota anggotanya, dan dia menduga, Herman juga yang memberikan nama nama anggotanya, sehingga Polisi dan pihak kejaksaan dengan mudah menciduk dan menangkap satu persatu anggotanya.


Binsar marah, dia tak bisa menerima semua hal itu, dia geram, karena polisi dan kejaksaan menangkapi anggotanya.


---


Peter membuka pintu ruang kantor Herman, lalu, dia masuk ke dalam ruangan, wajah Peter tampak sangat kesal dan marah.


Dia berjalan menghampiri Herman yang duduk di kursi kerjanya.


Peter mendekati Herman, lalu, dengan cepat, dia menarik kerah baju Herman, dan mengangkat tubuh Herman dengan paksa hingga Herman berdiri dari duduknya.


"Berani sekali kamu membongkar rahasia Inside !!" bentak Peter, geram dan marah pada Herman.


"Apa apaan ini? Apa maksudmu?" tanya Herman, heran dan bingung.


Dia berusaha melepaskan cengkraman tangan Peter yang memegang kuat kerah bajunya.


Peter menatap geram wajah Herman.


"Kamu kan, yang memberikan nama nama anggota Inside pada polisi dan kejaksaan?" bentak Peter.


"Apa maksudmu?! Aku gak pernah melakukan hal itu, jangan asal tuduh kamu!!" bentak Herman.


Dengan kuat dia menepiskan tangan Peter yang mencengkram kerah bajunya, Peter melepaskan tangannya dari kerah baju Herman.


Dia berdiri dihadapan Herman dengan wajah penuh amarah.


"Kamu waktu itu kecewa karena Pak ketua menolak permintaanmu untuk memberikan perlindungan, dan aku juga tau, kamu sakit hati karena merasa diabaikan pak Ketua!" tegas Peter marah.


"Dan kamu juga bilang sama aku, kalo kamu mau mengakui segala macam perbuatan kejahatan kamu di masa lalu!! Itu artinya, kamu juga sengaja membongkar rahasia Inside dan memberikan nama nama anggota Inside pada Polisi!! Ngaku saja kamu!!" bentak Peter, mendorong tubuh Herman.


Herman terjajar ke belakang karena di dorong kuat Peter, dia terduduk di kursi kerjanya. Dengan cepat dia bangun dan berdiri.


"Kurang ajar kamu Peter !! Aku gak pernah berkhianat sama Inside!! Aku juga belum datang ke kantor polisi!!" bentak Herman, menatap tajam wajah Peter yang berdiri dihadapannya.


Herman marah, karena Peter menuduhnya berkhianat pada organisasi Inside, dia tak terima jika dirinya yang di tuduh menyebarkan nama nama anggota Inside pada polisi.

__ADS_1


"Aku saja baru tau dari kamu, kalo anggota Inside di tangkap polisi!!" bentak Herman marah.


"Aku gak mau tau, entah benar atau kamu berbohong padaku, yang jelas, Pak Ketua memanggilmu, dia minta kamu datang ke markas Inside!" tegas Peter.


"Buat apa aku datang ke sana, setelah perlakuan buruk ketua padaku tempo hari!" tegas Herman marah.


"Karena pak Ketua menggelar rapat bersama seluruh anggota Inside, dan dia mau kamu datang, untuk di tanyain keterlibatanmu dalam penangkapan anggota Inside!" tegas Peter.


"Bedebaaah!! Sudah aku katakan, aku gak terlibat sama sekali!!" bentak Herman marah pada Peter.


"Kamu gak percaya denganku, Pet? Kamu lebih percaya dengan tuduhan ketuamu itu daripada perkataanku, sahabatmu sendiri?!!" tegas Herman, geram dan marah.


"Entahlah Man.Ucapanmu tempo hari membuatku ragu dan sedikit percaya, kalo kamu membeberkan nama nama anggota Inside!" tegas Peter.


"Siaaal kamu Peter !! Enyah kamu sekarang juga dari kantorku!!" Bentak Herman marah.


Herman marah dan tersinggung pada Peter, dia juga kecewa, karena Peter, sahabat baiknya tidak percaya padanya, dan malah ikut menuduh dirinya sebagai pelaku yang memberikan nama nama anggota Inside yang berbuat kejahatan pada Polisi dan pihak kejaksaan.


"Baik, aku pergi, tapi, aku harap, kamu hadir di markas Inside nanti!" tegas Peter.


Peter lantas berbalik badan, dia berjalan meninggalkan Herman, Herman masih geram dan marah pada Peter.


"Jangan pernah temui aku lagi Peter!! Hiduplah terus dibawah ketiak ketuamu itu!!" bentak Herman marah.


Peter tak perduli dengan teriakan Herman, dia terus berjalan keluar dari dalam ruang kantor Herman dengan membanting pintu dengan keras.


"Siaaal...Siaaal...Siaaal !!" ujar Herman marah.


Dia mengamuk, semua benda benda yang ada didekatnya di lempar dan dibuangnya, Herman melampiaskan amarahnya.


---


Edo tampak berjalan tergesa gesa, dia lantas masuk ke dalam ruang kerja Andre. Andre yang sedang duduk di kursi kerjanya menoleh pada Edo yang masuk dengan wajah tegangnya.


"Maaf mengganggu, Pak." ujar Edo.


"Pak Herman datang, dia mau ketemu Bapak katanya, ada yang mau di bicarakannya dengan Bapak." jelas Edo, dengan wajah serius.


"Herman mentri kehakiman?!!" ujar Andre, tersentak kaget.


Dia tak menyangka sama sekali, jika Herman datang menemui dirinya di kantor Polisi.


"Ya, Pak." jawab Edo.


"Dimana dia sekarang?" tanya Andre, dengan wajah seriusnya.


"Di ruang tunggu, Pak." ujar Edo.


"Baik, bawa dia ke ruang Interogasi, biar kami bicara di ruang tertutup berdua, pasti ada hal penting yang mau dia bicarakan, kalo tidak, dia tak akan datang ke sini!" tegas Andre.


"Baik, Pak." ujar Edo.


Edo lantas bergegas keluar dari dalam ruang kerja Andre, Andre terdiam duduk di kursi kerjanya.


"Ada apa Herman tiba tiba datang ke sini dan mau ketemu aku?!" Gumam Andre, berfikir keras.


Lantas, dia menarik nafasnya dalam dalam, lalu dia merapikan berkas berkas yang berserakan di meja kerjanya, di simpannya berkas kedalam map, lalu, map tersebut dimasukkannya ke dalam laci meja kerjanya.


Kemudian, Andre berdiri dari kursi kerjanya, lalu, dia bergegas jalan keluar dari dalam ruang kerjanya.


---


Di markas organisasi Inside, saat ini sedang berlangsung rapat penting yang di pimpin Binsar sebagai ketua umum dan para anggota Inside.


Seluruh anggota Inside hadir dalam ruang rapat, termasuk Peter, dia juga hadir. Namun, tak ada Herman diantara anggota yang hadir.

__ADS_1


"Dimana Herman?!" tanya Binsar pada Peter.


"Entah, saya gak tau pak Ketua." ujar Peter.


"Bagaimana ini Samsudin? Aku kan sudah perintahkan kamu untuk membawa Herman ke sini agar di sidang dihadapan seluruh anggota, mengapa dia gak hadir?!" bentak Binsar, marah pada Samsudin.


"Saya sudah suruh Peter untuk memberitahu Herman, karena Peter yang dekat dengan Herman pak Ketua!" jelas Samsudin.


"Saya sudah menemui Herman pak Ketua, saya suruh dia hadir di markas kita ini, tapi, sepertinya dia menolak datang, katanya dia tersinggung dengan ketua karena kejadian tempo hari!!" jelas Peter.


"Kurang ajar !! Berani Herman membangkang perintahku!!" ujar Binsar geram dan marah.


"Dengan ini jelas sudah, kalo Herman lah yang sengaja memberikan nama nama anggota kita pada polisi dan kejaksaan agar ditangkap!!" tegas Binsar.


"Mulai saat ini, kalian semua harus berhati hati, jangan percaya pada siapapun juga!!" jelas Binsar.


"Aku yakin, Herman pasti bekerjasama dengan seseorang yang juga berada dalam kelompok kita! Dan jika aku menemukan anggota lain yang berkhianat, akan ku bunuh !!" ujar Binsar penuh amarah.


Seluruh anggota Inside yang hadir terdiam, mereka tak berani membantah perkataan Binsar, yang terlihat sangat marah tersebut.


---


Pintu ruang interogasi terbuka, Andre masuk ke dalam ruang interogasi, di dalam , Herman sudah ada, dia duduk di kursi yang ada di ruang interogasi.


Andre menutup dan mengunci pintu ruang interogasi, dia berjalan mendekati Herman, lalu, Andre menarik kursi dan duduk di kursinya.


Dia saling berhadapan dengan Herman.


"Apa kabar pak Herman." ujar Andre, menyapa, sekedar berbasa basi saja.


"Baik." jawab Herman singkat.


"Ada apa Bapak tiba tiba datang ke sini menemui saya?"tanya Andre, mencoba tersenyum ramah dihadapan Herman.


"Aku mau membuat pengakuan atas kejahatanku di masa lalu." ungkap Herman, dengan wajah yang serius.


Andre terkesiap kaget, dia sama sekali tak menyangka, jika kehadiran Herman bertujuan untuk membuat pernyataan pengakuan dirinya yang sudah berbuat kejahatan.


"Silahkan, jika Bapak mau membuat pengakuan." ujar Andre.


"Tapi, boleh saya merekam pernyataan Bapak ?" tanya Andre serius.


"Ya, silahkan saja direkam pernyataanku." tegas Herman.


"Tapi, sebelum aku mengaku, ada satu permintaanku yang harus kamu turuti." ujar Herman, menatap tajam wajah Andre.


"Oh, ada syaratnya ternyata, apa itu?" ujar Andre, tersenyum kecut.


"Aku minta perlindungan sama pihak kepolisian dan kejaksaan, karena, setelah pengakuanku ini, nyawaku akan semakin terancam!" tegas Herman, dengan wajahnya yang serius.


"Terancam dari Gavlin maksudnya?!" tanya Andre.


"Bukan hanya Gavlin, tapi lebih besar dan berbahaya." jelas Herman, dengan wajah seriusnya.


"Maksud Bapak siapa jika bukan Gavlin?" tanya andre, heran.


Dia menatap tajam wajah Herman yang tampak tegang itu, Andre ingin tahu, siapa yang ditakuti Herman, selain Gavlin, sehingga dia meminta perlindungan pada pihak kepolisian dan kejaksaan.


"Organisasi Inside, aku akan jadi incaran dan target mereka , jika aku mengakui kejahatanku dan membongkar rahasia organisasi Inside padamu!" jelas Herman, dengan wajah seriusnya.


"Inside?!" Ujar Andre.


Andre terhenyak kaget, dia tak menyangka, jika dia akan mendapatkan informasi dengan mudah dari Herman tentang sepak terjang organisasi Inside.


Andre menatap tajam wajah Herman yang terlihat sangat tegang itu, dia tahu, ada rasa kecewa dan amarah serta benci dalam diri Herman.

__ADS_1


Dari raut wajah dan sikap Herman yang mau memberikan pernyataan pengakuan serta mau membongkar rahasia kejahatan Inside , Andre mengambil kesimpulan sendiri, bahwa, Herman sedang bermusuhan dengan organisasi Inside saat ini.


__ADS_2