
Sosok Pria masih berdiri menatap tajam dihadapan Sumantri yang bersimpuh dilantai memohon ampun.
Terlihat mata sosok Pria merah menahan amarah, mulutnya menggeram, kepalan tangannya semakin kuat.
Dia menatap tajam wajah Sumantri yang tetunduk lemah merasa bersalah.
Saat sosok Pria misterius hendak melangkahkan kakinya agar lebih dekat pada Sumantri, dia mendengar suara seorang anak kecil dari arah kamar.
"Paaakk..." Ujar gadis kecil berdiri diluar kamar, depan pintu kamarnya sambil mengucek matanya yang masih mengantuk.
Melihat ada anaknya Sumantri, sosok Pria misterius mengurungkan niatnya memukul Sumantri, dia menatap lekat wajah Sumantri.
"Tolong, jangan lakukan apapun, aku tidak mau anakku menyaksikan semua ini." Sumantri memohon.
"Tolong, jangan sekarang, tundalah membalas dendammu padaku, aku mohon." Ujar Sumantri memelas pada sosok Pria misterius yang berdiri diam itu.
Dia kemudian menoleh pada wajah anak kecil yang berdiri di depan pintu kamarnya.
Dia menatap wajah lugu anak gadis kecil itu, dia lantas menghela nafasnya dan menatap lekat wajah Sumantri.
"Kamu aman saat ini karena anakmu, ingat, aku pasti akan datang lagi menemui kamu." Ujar sosok Pria dengan geram.
Dia lalu cepat melangkah hendak pergi, Sumantri berdiri dan memanggilnya.
"Tunggu." Ujar Sumantri menatap sosok Pria yang menghentikan langkahnya lalu berbalik melihat Sumantri.
"Temui aku besok sore di pangkalan taksi Octo, aku kerja sebagai tukang cuci mobil disana." Ujar Sumantri.
"Aku akan menceritakan semua yang selama ini aku rahasiakan padamu." Ujar Sumantri.
Sosok Pria berdiri diam menatap tajam wajah Sumantri, dia melirik ke arah anak kecil yang melangkah mendekati ke arah Sumantri.
Dia dengan cepat berbalik dan berjalan pergi meninggalkan Sumantri, menghilang keluar dari dalam rumah Sumantri.
Sumantri menghela nafasnya, lalu berbalik dan segera beranjak mendekati anaknya yang terbangun.
"Shasy kenapa bangun nak ?" Tanya Sumantri sambil menggendong anaknya dengan penuh kasih sayang.
"Shasy dengar suara bapak lagi ngomong sama om tadi." Ujarnya dalam gendongan Sumantri.
"Sekarang Bapak antar ke kamar ya, Shasy bobo lagi, bapak temani." Ujar Sumantri mencium pipi anaknya. Shasy mengangguk.
"Pak, Shasy mau pipis dulu." Ujarnya pada Sumantri yang mengangguk lalu membawa anaknya ke kamar mandi untuk buang air kecil.
Sumantri membantu anak gadisnya yang masih berusia 6 tahun itu buang air, membersihkannya.
Lalu setelah selesai, dia menggendong kembali anaknya dan membawanya masuk kedalam kamar anak.
Sumantri merebahkan tubuh anaknya di kasur, dia duduk di pinggir ranjang, membelai lembut rambut anaknya.
Sumantri menatap wajah lugu anaknya yang tersenyum padanya, Sumantri ikut tersenyum memandangi wajah anaknya.
Lalu dia mengecup kening anaknya penuh kasih sayang. Anaknya tersenyum, lalu memejamkan matanya dan tertidur.
Di jalanan, tidak jauh dari rumah Sumantri, sosok pria misterius itu menghentikan langkahnya, dia terdiam berfikir.
Dia mengingat kembali ucapan Sumantri yang menyuruhnya untuk bertemu besok ditempat yang dikatakan Sumantri.
Dia berfikir, lantas kemudian melanjutkan perjalanannya, meninggalkan tempat itu.
Sumantri masuk ke dalam kamarnya setelah menemani anaknya sampai terlelap tidur.
Saat Sumantri naik ke atas ranjang, hendak merebahkan tubuhnya, istrinya yang masih dalam posisi rebah di kasur menegurnya dengan mata terbuka sedikit.
"Kamu darimana Pak?" Tanya Lastri pada Sumantri.
"Aku habis dari kamar mandi tadi, terus nemani Shasy tidur bu, dia kebangun tadi, pengen pipis katanya." Ujar Sumantri berbohong pada istrinya.
Sumantri tak ingin istrinya ketakutan karena tahu bahwa ada orang yang datang kerumah dan berniat membunuhnya.
Lastri tertidur, Sumantri menatap lembut wajah istrinya itu, ada rasa bersalah terlihat pada air mukanya.
Raut mukanya sedih, penyesalan terlihat jelas di wajahnya, dia merasa bersalah pada istri dan anaknya karena masa lalunya yang hina dulu.
Sumantri kemudian merebahkan dirinya di kasur, memejamkan matanya dengan posisi memunggungi istrinya yang sudah tertidur nyenyak disampingnya.
Sumantri membuka matanya yang terpejam, dia tercenung, lalu dia memejamkan matanya lagi, sesaat kemudian matanya terbuka lagi.
Dia gelisah dan tidak tenang, teringat akan sosok pria yang menyergapnya.
Dia berbalik ke arah istrinya yang tertidur, menatap punggung istrinya, tercenung, tatapan matanya kosong, Sumantri melamun tak bisa tidur.
Jam dinding sebuah Mini Market menunjukkan pukul 01:45 wib dini hari.
Terlihat Gatot yang malam itu sedang bertugas menyelidiki kasus pembunuhan massal melangkah ke arah luar Mini Market.
Di tangannya ada bungkusan besar berisi makanan dan minuman yang sengaja dibelinya untuk persediaan dirumahnya.
Saat Gatot membuka pintu Mini Market dan melangkah keluar, dia berpapasan dengan Yanto yang hendak masuk kedalam Mini Market.
Yanto yang mau masuk ke dalam Mini Market tidak sengaja menabrak Gatot yang hendak keluar dari dalam Mini Market.
Bungkusan plastik besar jatuh ke tanah, terlepas dari pegangan Gatot karena di senggol Yanto hingga dirinya sedikit terhuyung ke belakang.
Karena kaget, bungkusan plastik besar berisi makanan dan minuman terlepas dari tangannya.
Makanan dan minuman berhamburan keluar karena plastik besar sobek.
"Maaf Pak, maaf, saya gak sengaja." Ujar Yanto.
Lalu dia cepat berjongkok hendak merapikan barang belanjaan Gatot yang jatuh dan berserakan di tanah.
"Sudah, biarkan saja mas." Ujar Gatot.
Gatot berjongkok dan mengambil makanan dan minuman lalu memasukkannya kembali ke dalam plastik.
__ADS_1
"Sebentar Pak, saya ambilkan plastik baru." Ujar Yanto.
Yanto lalu bergegas lari masuk ke dalam Mini Market, dia membeli plastik besar baru pada kasir yang lantas memberikannya.
Yanto segera berlari keluar dan membantu Gatot memasukkan makanan dan minuman.
Makanan dan minuman berserakan di tanah,Yanto mengambil dan memasukkannya kedalam plastik besar yang baru diambilnya.
Setelah beres semuanya, Yanto pun berdiri di ikuti Gatot yang juga berdiri.
"Terima kasih mas." Ujar Gatot menatap wajah Yanto yang mengangguk dan berusaha menundukkan wajahnya.
Yanto berusaha menghindar dari tatapan mata Gatot, agar Gatot tak mengenalinya.
Gatot diam berdiri mengamati sosok Yanto yang bertubuh atletis dan gagah itu.
Gatot berambut gondrong, memakai topi, berkaca mata minus, berkumis tipis serta berjenggot tebal.
Terlihat kerean dengan penampilan senimannya memakai jaket dan celana jeans belel.
"Saya permisi pak." Ujar Yanto tertunduk pamit meninggalkan Gatot yang berdiri ditempatnya.
"Mas, tunggu dulu." Ujar Gatot memanggil.
Tapi Yanto sudah masuk kedalam Mini Market karena tidak mendengar panggilan Gatot.
Gatot lantas menghela nafasnya.
Dia menoleh ke arah Yanto yang sudah masuk ke dalam Mini Market.
Gatot berfikir, dia lalu membalikkan tubuhnya kemudian melangkah berjalan meninggalkan Mini Market.
Namun langkahnya terhenti, dia terdiam dan menoleh ke belakang, kearah Mini Market, wajahnya terlihat sedang berfikir.
"Wajahnya kayak gak asing, aku pernah melihat dan ketemu dia dimana ya?!" Ujarnya bergumam pada dirinya sendiri.
Gatot lalu menghela nafas dan melanjutkan langkahnya, berjalan menuju mobilnya yang terparkir di pinggir jalan tidak jauh dari Mini Market tempat dia belanja.
Sesampainya di depan mobilnya yang terparkir, Gatot mengambil kunci mobil dari kantong celananya.
Dia membuka pintu mobil, lalu masuk kedalam mobil, dia meletakkan belanjaannya di jok belakang.
Gatot menyalakan mesin mobil, petugas parkir mendekatinya, Gatot menjalankan mobilnya.
Tangannya mengulur keluar jendela mobil, memberikan uang lima ribuan pada tukang parkir.
Dia lalu menjalankan mobilnya, Mata Gatot tertuju pada Yanto yang baru saja keluar dari dalam Mni Market sambil menenteng botol minuman ditangannya.
Gatot mengikuti Yanto yang berjalan diatas trotoar dengan mobilnya yang berjalan pelan.
Pandangan matanya terus memperhatikan sosok Yanto yang berjalan.
Yanto kemudian berbelok ke kiri, masuk ke sebuah gang, Gatot yang melihat Yanto berbelok segera menghentikan mobilnya.
Gatot tidak melihat Yanto lagi, dari dalam mobil, matanya menyusuri seluruh ruko ruko dan jalanan.
Gatot akhirnya melanjutkan perjalanannya, pergi meninggalkan tempat itu.
Beberapa saat setelah kepergian Gatot, Yanto muncul dari balik tembok sebuah ruko.
Yanto sengaja bersembunyi karena menyadari dirinya sedang di ikuti Gatot.
Karena dia merasakan Gatot sedang mengikutinya, Yanto bersembunyi, agar Gatot tidak terus mengikutinya.
Yanto berdiri dan terdiam, dia berfikir, kenapa Gatot mengikuti dirinya?
Apakah ada yang aneh pada dirinya, atau Gatot ingin melanjutkan masalah dia menabrak Yanto didepan Mini Market?
Yanto menatap lekat ke arah mobil Gatot yang sudah menjauh dan tak terlihat, lalu dia melanjutkan perjalanannya lagi.
Yanto berjalan mendekati sebuah mobil sedan, mobil itu terlihat mewah dan berharga mahal.
Hal yang wajar jika Yanto memiliki mobil sedan yang sangat mewah berharga mahal.
Karena dirinya seorang pematung lilin yang terkenal dan mendapatkan bayaran yang berjuta juta bahkan ratusan juta dari karya patung lilin yang dibuatnya.
Yanto masuk kedalam mobilnya yang terparkir, dia sengaja memarkir mobilnya jauh dari Mini Market agar tidak menjadi pusat perhatian orang orang.
Dia tidak ingin orang orang mengenali dan melihatnya, karena itu dia memutuskan untuk selalu memakai kaca mata dan topi, agar orang orang tidak mengenalinya.
Setelah didalam mobil dan mesin mobil menyala, Yanto pun menyetir mobilnya.
Dia pergi meninggalkan tempat parkir yang tidak dijaga oleh tukang parkir.
Mobil Yanto melaju dengan kecepatan sedang menyusuri jalan raya yang sangat sepi itu.
Gatot turun dan keluar dari dalam mobilnya, dia sudah sampai dirumahnya.
Lalu dia berjalan sambil menenteng belanjaannya masuk kedalam rumah.
Dengan kunci serep yang selalu di bawanya dia lalu membuka pintu rumahnya.
Karena terbiasa pulang pagi karena tugasnya sebagai polisi yang lebih banyak menghabiskan waktu diluar rumah, dia selalu bawa kunci duplikat rumahnya.
Seperti malam ini, karena lembur dia jadi pulang larut malam dari kantornya.
Karena memang Gatot seorang polisi yang sangat giat bekerja, dia tidak ingin terlihat santai, dia ingin secepatnya dapat memecahkan kasus yang sedang diselidikinya.
Gatot mengunci pintu rumah setelah dia masuk kedalam rumah, berjalan menyusuri ruangan rumahnya.
Dia meletakkan belanjaannya di atas meja makan, lalu berjalan ke arah kamar Maya.
Pintu kamar anaknya terbiasa dalam keadaan terbuka sedikit, agar Gatot bisa melihat dia ada di kamar atau tidak.
Gatot kemudian melihat kedalam kamar, di dalam kamar, Maya terlihat tidur nyenyak di atas kasurnya.
__ADS_1
Gatot berbalik dan berjalan meninggalkan kamar Maya lalu masuk ke dalam kamarnya.
Yanto melangkah masuk kedalam sebuah apartemen yang berukuran luas.
Ternyata selain dia punya rumah yang biasa digunakannya untuk workshop dan tempat tinggalnya, serta gudang besar dan luas.
Dia juga memiliki apartemen mewah sebagai tempat tinggal utamanya.
Yanto mengunci pintu apartemennya, melangkah dan duduk di sofa berukuran besar dan berharga mahal, dia duduk tercenung, terlihat berfikir.
"Apa dia mengenaliku? ah, sepertinya tidak, tapi, kalo dia gak mengenaliku, kenapa dia mengikutiku ? apa maksudnya?" Ujarnya bergumam.
Dia masih memikirkan tentang Gatot yang mengikuti dirinya pergi dari Mini Market, tempat pertemuan mereka tadi.
"Ada yang ganjil dari sikapnya aku lihat, aku harus lebih berhati hati lagi mulai sekarang, agar orang orang gak ada yang mengenaliku." Ujarnya bicara sendiri.
Dia merasa terganggu dengan sikap Gatot yang secara diam diam mengikutinya tadi, seakan Gatot menaruh kecurigaan pada dirinya.
"Aku tau dan kenal dia, tapi dia pasti gak mengenaliku." Ujarnya berfikir.
Yanto lantas menghela nafasnya, membuka botol minuman yang dibelinya dari Mini Market, meneguknya hingga sisa setengah botol.
Yanto melepaskan rasa hausnya, kemudian dia letakkan botol minuman diatas meja, dan berdiri, lalu melangkah pergi masuk kedalam kamarnya.
Di hari lain, terlihat wajah Bramantio marah besar, dia menggebrak meja sekuat kuatnya dengan tangannya.
Membuat Surya, Asisten Manager kaget, melihat Bramantio yang sangat marah itu.
"Lancaaaanggg !! Ini tidak bisa di biarkan ! Siapa saja yang mundur dan menarik diri ?" Tanya Bramantio marah.
Tatapan mata Bramantio tajam penuh amarah pada Asisten Manager yang terlihat takut.
"Maaf Pak, tidak ada yang tersisa, semua Investor menarik diri, mereka semua mengundurkan diri." Ujar Surya.
"Mereka kompak mundur dari perusahaan kita, karena memutuskan bergabung dengan perusahaan pak Wijaya sebagai investor disana." Ujar Surya.
"Ini pasti ulah Wijaya, dia sengaja menghasut mereka agar menarik uangnya dan tidak menjadi investor lagi di perusahaanku." Ujarnya geram.
Surya, Asisten Manager Bramantio hanya bisa diam, dia pun tertunduk.
"Kamu semakin berani jauh melangkahiku, kamu berani menantangku Wijaya, aku pasti akan menghancurkanmu, tunggu saja !" Ujar Bramantio.
"Aku akan membalas perbuatanmu ini!" Ujar Bramantio geram. dia lalu menatap wajah Asisten Manager.
"Bagaimana soal lima proyek yang sedang kita kerjakan itu ?" Tanya Bramantio.
"Terpaksa di tunda Pak, karena kita kekurangan modal setelah para investor menarik modal mereka masing masing, pembangunan tidak bisa di lanjutkan." Ujar Surya.
Dengan takut takut, Surya menyampaikan soal proyek yang di tunda pada Bramantio.
"Sebenarnya mereka tidak bisa seenaknya saja membatalkan perjanjian yang sudah disepakati bersama!" Ujar Bramantio.
"Apa mereka tidak sadar, tindakan mereka menarik diri bisa menghancurkan semua proyek yang sedang berjalan?"
"Apa mereka tidak takut aku membawanya ke jalur hukum?" Ujar Bramantio geram.
"Saya sudah sampaikan hal itu, mereka punya jawaban, bahwa mereka tidak takut." Ujar Surya.
"Mereka bilang, mereka berhak membatalkan perjanjian, jika mereka menganggap kerjasama itu merugikan mereka. Sesuai bunyi pasal perjanjian." Ujar Surya.
"Kurang ajar ! Merugikan dari mana? Belum juga beres bangunannya!" Bramantio marah.
"Belum juga berjalan dan laku gedung gedung itu, mereka sudah menyimpulkan rugi? omong kosong, itu hanya alasan saja." Ujar Bramantio dengan suara kerasnya.
"Biarkan saja mereka bergabung dengan Wijaya, aku tidak butuh pengkhianat seperti mereka!" Ujar Bramantio dengan suara keras.
"Suatu saat, ketika Wijaya hancur dan aku berjaya, tidak ada seorang pun dari mereka yang akan ku izinkan bergabung kembali!" Bramantio dendam.
"Aku tidak akan pernah memaafkan mereka." Ujarnya geram penuh amarah.
Bramantio menatap wajah Surya, Asisten Manager lagi. Tatapan mata penuh amarah.
"Ajukan pinjaman senilai 10 triliyun ke beberapa bank rekanan bisnis kita selama ini." Ujar Bramantio memberi perintah.
"Maaf Pak, semua bank bank yang menjadi rekanan perusahaan kita menolak dan tidak bisa memberikan pinjaman lagi." Ujar Surya.
"Kenapa ?" Tanya Bramantio.
"Karena pinjaman perusahaan sebelumnya belum kita lunasi." Ujar Surya memberitahu Bramantio.
"Sial...sial...sial ! Hancur semuanya, hancur !!" Bramantio ngamuk.
"Kalo saja aku mendapatkan tender proyek besar kemaren, aku pasti sudah melunasi hutang ke bank !" Bentak Bramantio.
"Ini semua gara gara kamu Wijaya!! Aku akan menghancurkanmu !! Aku akan menjatuhkanmu !!" Teriak Bramantio sekeras kerasnya.
Dia melampiaskan segala amarahnya yang meluap luap, tidak terima dengan semua keadaan perusahaannya.
Wijaya berhasil membuatnya tak berdaya, dan itu membuat dendam pada diri Bramantio.
"Tinggalkan saya sendiri." Ujar Bramantio geram menahan amarahnya.
Nafasnya terdengar terengah engah karena mengamuk, Surya mengangguk dan memberi hormat.
Lalu dia cepat berjalan pergi keluar dari ruang kerja meninggalkan Bramantio sendirian.
Setelah kepergian Asisten Manager keluar dari ruangannya, Bramantio kembali mengamuk.
Bramantio melemparkan patung kuda yang ada diatas meja kerjanya.
Patung kuda pun hancur berantakan di lantai. Bramantio meluapkan amarahnya.
Karena terbuat dari kaca bening, maka patung kuda itu dengan mudahnya hancur berserakan menjadi serpihan kaca di lantai.
Bramantio membuang semua berkas berkas map yang ada diatas meja.
__ADS_1
Semua barang barang yang ada diatas meja dibuangnya, terjatuh ke lantai.
Bramantio mengamuk didalam ruangannya,dia menumpahkan emosi amarahnya yang bergejolak didalam dadanya. Dia tidak bisa menerima kekalahan.