
Setelah tidak menemukan Jafar dirumah Jack dan juga Herman, lantas Andre pun mengalihkannya ke rumah Peter yang menjabat sebagai Kapolda. Andre menjadikan target rumah Jack sebagai persembunyian Jafar karena selama ini diketahui, bahwa Peter adalah komplotan Herman dan Bramantio yang membantu serta meloloskan Jafar dahulu dari dalam penjara, dan membebaskan Jafar dari segala tuduhan pembunuhan yang dia lakukan dulunya.
Peter dan Istrinya tak ada dirumah, karena Peter sedang berdinas, dan sementara istri serta anak anaknya sengaja di ungsikan Peter ke rumah mertuanya di Gorontalo, agar terbebas dari ancaman Gavlin yang tengah memburu dirinya dan teman temannya yang lain seperti Herman dan Jack.
Dirumah Peter kosong, tak ada siapapun juga, hanya ada satu asisten rumah tangga saja. Andre tampak kesal karena dia tidak juga menemukan Jafar di rumah Peter.
Andre keluar dari dalam rumah Peter dengan wajah geram dan marah, para petugas penyidik kepolisian dan Masto serta Edo juga ikut keluar dari dalam rumah, mereka berdiri dihalaman rumah.
"Kemana si Jafar sembunyi? Dia menghilang seperti di telan bumi! Sial!!" ujar Andre geram dan marah.
Tiba tiba, teleponnya berdering, dengan cepat dia mengambil ponselnya dari dalam kantong celananya, lalu, dia melihat layar ponselnya, Richard yang menelponnya. Andre pun cepat menerima panggilan telepon Richard.
"Ya, Pak." jawab Andre, di teleponnya.
"Dimana kamu sekarang?" tanya Richard, dari seberang telepon.
"Masih dirumah Peter, grebek rumahnya, tapi Jafar gak ada." ujar Andre, melapor pada Richard melalui ponselnya.
"Balik ke kantor, dan temui saya !" tegas Richard, dari seberang telepon.
"Baik, Pak." jawab Andre, diteleponnya.
Lantas, dia menutup telepon dan menyimpan ponsel ke dalam kantong celananya, lalu dia menoleh dan melihat Masto serta Edo yang berdiri disampingnya.
"Kita balik kantor, kita sudahi pencarian Jafar untuk hari ini!" tegas Andre.
"Baik, Kapten!" jawab Edo dan Masto bersamaan.
Lantas, Masto dan Edo bergegas memberi tahu para petugas penyidik kepolisian untuk balik ke kantor. Wajah Andre tampak heran, dia tengah memikirkan Richard.
"Kenapa Pak Richard menelpon dan menyuruhku bertemu dengan dia? Ada apa? Suara pak Richard juga kedengarannya tegang dan seperti mencemaskan sesuatu." Gumam bathin Andre.
Andre lantas menghela nafasnya, lalu dia berjalan dan masuk ke dalam mobilnya. Sesaat kemudian, mobil Andre berjalan dan pergi meninggalkan rumah Peter, di ikuti mobil mobil para petugas penyidik kepolisian dan juga Masto serta Edo.
---
Jack masuk ke dalam ruang kerja salah satu Jaksa Penuntut yang bekerja di bawah naungannya, wajah Jack terlihat marah, dia menghampiri Sopan Simanjuntak, sang Jaksa yang memberikan izin dan perintah penggeledahan rumah Jack, Herman dan juga Peter.
Jack langsung memukul wajah Sopan Simanjuntak yang sedang berdiri di depan meja kerjanya. Sopan Simanjuntak kaget, begitu juga dengan asisten jaksa dan karyawati yang ada dalam ruangan.
"Kurang ajar ! Berani kamu buat surat perintah menggeledah rumahku!! Kamu lupa siapa aku?!!" bentak Jack penuh amarah.
"Saya tau, Bapak Jaksa Agung di kantor kejaksaan, pemimpin tertinggi, tapi, untuk hukum, saya gak bisa mengabaikan segala bentuk kejahatan, sebagai Jaksa, saya wajib memberikan izin penyelidikan pada Polisi jika mereka mencurigai Bapak!" tegas Sopan Simanjuntak.
Sebagai Jaksa Penuntut hukum yang jujur dan adil, Sopan Simanjuntak tak gentar melawan Jack sebagai pimpinannya, demi keadilan, Sopan Simanjuntak berani bersikap tegas, dia tak pandang bulu, walaupun tersangka itu pimpinannya sekalipun, jika bersalah wajib di selidiki.
"Siaaal !! Kamu kira mudah menjatuhkan saya?!" bentak Jack marah.
__ADS_1
Sopan Simanjuntak tak menjawab, dia memilih diam, tak ada gunanya berdebat dengan Jack, Sopan Simanjuntak hanya tersenyum dan tetap bersikap tenang menghadapi Jack yang amarahnya tengah meluap luap.
"Sekali lagi kamu berbuat hal itu lagi! Saya pecat kamu !!" hardik Jack marah.
Jack lantas pergi keluar dari dalam ruang kerja meninggalkan Sopan Simanjuntak, Para karyawan dan karyawati yang ada di dalam ruang kerja terlihat takut dengan kemarahan Jack, namun tidak bagi Sopan Simanjuntak, dia tetap cuek dan bersikap tenang.
"Sudah gak apa apa. Lanjutkan kerjaan kalian, Kita harus cepat mencari bukti bukti untuk menjebloskan Jafar dan komplotannya ke penjara!" tegas Sopan Simanjuntak dengan wajah serius dan sikap tenangnya.
"Kita masih tetap menjadi Jaksa penuntut dari kasus Jafar?" tanya Asisten Jaksa.
"Ya. Jangan karena pak Jack marah lantas kita melepaskan kasus ini ! Sebagai Jaksa Penuntut yang di pilih dan ditugaskan untuk kasus Jafar, saya akan tetap maju dan gak akan mundur ! Saya gak akan takut sekalipun saya berada dalam tekanan dan ancaman!!" tegas Sopan Simanjuntak.
Sopan Simanjuntak tampak serius, dia bertekat, untuk bisa menjebloskan Jafar dan komplotannya yang selama ini sudah berbuat jahat dan meresahkan. Dia juga tahu, bagaimana Jack, pimpinannya sudah bertindak kejahatan selama ini, namun, karena dia belum menemukan bukti penting, dia tidak bisa berbuat apapun, diam diam, Sopan Simanjuntak mencari bukti keterlibatan Jack dengan Jafar.
---
Andre masuk ke dalam ruang kerja Richard, tampak Richard duduk di kursi meja kerjanya dengan wajah yang cemas.
Richard tampak resah dan gelisah.
Ancaman Gavlin ditelepon yang mengancam dirinya bersama keluarganya masih terngiang ngiang terus dalam telinganya, ingatannya terus tertuju pada perkataan Gavlin yang memberikan ancaman pada dirinya.
Richard resah, dia cemas dan memikirkan keselamatan dirinya, dia berfikir, mencari cara untuk bisa menyelamatkan dirinya dari kejaran Gavlin.
Tak berapa lama, pintu ruang kantornya di ketuk, Lalu, Andre membuka pintu dan masuk ke dalam ruang kantor. Andre lantas berjalan menghampiri Richard yang masih duduk di kursi kerjanya dengan raut wajah yang cemas.
"Kalian gak usah lagi nyari Jafar!" tegas Richard.
"Kenapa Pak? Bukankah Jafar buronan? Kalo kita gak mengejar dan memburu Jafar, dia akan semakin bebas membunuh dan merampok! Jafar pembunuh berantai yang sadis !" tegas Andre , menjelaskan dengan serius.
"Jafar gak akan membunuh lagi!" tegas Richard.
Dia berdiri dari duduknya di kursi, Richard menatap tajam wajah Andre yang heran mendengar perkataan Richard tentang Jafar.
"Bapak yakin, Jafar gak akan membunuh lagi?!" tanya Andre heran.
Dia menatap lekat wajah Richard yang tampak tegang dan menyimpan amarahnya itu, Andre ingin tahu maksud perkataan Richard.
"Saya yakin! Karena Jafar sudah mati dibunuh!!" tegas Richard, berdiri menatap Andre.
"Jafar mati?!" Andre terhenyak kaget mendengar perkataan Richrad.
"Dari mana Bapak tau?" tanya Andre, bertanya dengan wajahnya yang serius.
"Gavlin! Gavlin yang bilang, dia telpon saya, Gavlin meneror dan mengancam saya, dia bilang, Jafar sudah dia bunuh !" ujar Richard menjelaskan.
"Gavlin?! Pembantai warga kampung rawas?!" ujar Andre kaget.
__ADS_1
"Ya, dia !" tegas Richard.
"Lantas, tugas apa yang akan Bapak berikan pada saya?!" tanya Andre.
"Sekarang tugasmu bersama tim mencari mayat Jafar, dimana Gavlin membuang mayatnya!! Saya yakin, Gavlin mengubur mayat Jafar di tempat terpencil yang sulit ditemukan! Karena Gavlin bilang, Polisi gak akan bisa menemukan mayat Jafar!!" tegas Richard, memberi penjelasan dengan wajah tegang dan geramnya.
"Baik, Pak. Akan saya kerahkan anak buah saya untuk menyusuri setiap tempat, mencari mayat Jafar!" ujar Andre serius.
"Dan satu lagi!! Kejar Gavlin, tangkap dia hidup atau mati!! Jangan biarkan dia lolos dan berkeliaran, cari tau, siapa orang dekatnya ! Dan kemana saja dia, serta siapa saja selama ini orang yang ditemui Gavlin!!" tegas Richard.
"Seret dan jebloskan orang orang dekat Gavlin, lalu tanyain, paksa dan siksa mereka agar membuka mulut dan memberitahu tempat persembunyian Gavlin!!" ujar Richard dengan tegas memberi perintah.
"Baik, Pak. Akan saya kerjakan semua yang Bapak perintahkan.
"Ya, kabari saya jika kami sudah mendapatkan hasilnya!! Ingat!! Tembak di tempat jika si Gavlin melawan!!" tegas Richard.
"Siap !!" Jawab Andre, memberi hormat pada Richard yang tampak menahan geram dan marahnya.
"Ohya. Suruh beberapa anggotamu berjaga jaga di depan pintu masuk ruang kantor saya ini!! Jangan biarkan siapapun masuk ke dalam ruangan saya tanpa seizin dan sepengetahuan saya!" tegas Richard.
"Baik, akan saya tugaskan beberapa anggota untuk berjaga jaga di kantor Bapak!" ujar Andre.
"Ya, Saya yakin, Gavlin pasti nekat datang ke kantor ini, karena dulu, sebelumnya dia nekat menghancurkan gedung kantor kepolisian pusat kita!!" tegas Richard.
"Ya, Pak." jawab Andre mengangguk, mengerti dan paham.
"Ya, sudah. Cepat kamu urus semuanya!!" Ujar Richard dengan wajah tegang dan serius.
"Baik, Pak. Saya permisi!" tegas Andre.
Richard mengangguk, mengiyakan. Lantas Andre pun bergegas jalan keluar dari dalam ruang kantor, setelah kepergian Andre, Richard pun lantas menghempaskan tubuhnya di kursi kerjanya.
Wajahnya masih terlihat cemas, dia juga masih resah dan gelisah, Richard mulai merasakan ketakutan dengan teror dan ancaman Gavlin.
Dengan meminta perlindungan pada petugas polisi, itu bentuk ketakutan Richard, dia tahu, nyawanya terancam, dan dia tak mau Gavlin datang ke kantornya lalu membunuhnya.
Richard pun mulai meminta perlindungan pada anak buahnya di kepolisian, agar selalu melindungi dirinya.
Sebagai Pimpinan tertinggi kepolisian, sebagai Kapolri, ternyata nyali Richard kecil, setelah mendapatkan teror dan ancaman Gavlin melalui telepon, nyali Richard ciut, dia tampak takut dan cemas dengan ancaman itu.
Seketika Richard takut akan kematian dirinya. Dia panik, cemas, resah dan gelisah.
Richard benar benar tak bisa tenang di buat Gavlin yang sudah mengancam dia. Di satu sisi dia harus melindungi dirinya sendiri dari Gavlin, dan di sisi lain dia juga harus melindungi keluarganya, karena, Gavlin bukan saja mengancam dia, tapi, Gavlin juga memberi peringatan dengan ancaman, jika Gavlin juga akan membantai keluarganya.
Richard benar benar resah, dia berfikir keras, mencari cara, bagaimana caranya agar dia bisa segera menangkap Gavlin. Dia berusaha menghentikan Gavlin, karena itu juga dia perintahkan Andre untuk menembak Gavlin langsung di tempat jika mereka bertemu Gavlin.
Dengan begitu, nyawanya akan terselamatkan, Jika Gavlin mati, dia akan aman dan bebas dari segala bentuk ancaman, dan jika Gavlin sudah mati ditangan anak buahnya, dia hanya tinggal membersihkan Herman dan komplotannya saja.
__ADS_1