
Gavlin duduk diam di dalam mobilnya, dia melihat pada layar monitor yang ada di dalam mobilnya. Pada layar itu menampilkan GPS.
Gavlin sedang memperhatikan, dari layar monitor yang menampilkan GPS, mobil Jack sudah bergerak di jalan raya.
Mengetahui kalau Jack sudah pergi dari kantornya, Gavlin lantas menyalakan mesin mobilnya, kemudian, dia segera menjalankan mobilnya, untuk mengikuti mobil Jack yang bergerak.
Melalui GPS yang ditampilkan pada layar monitor di dalam mobilnya Gavlin bisa mengetahui dengan jelas kemana tujuan Jack.
"Kamu gak akan lolos Jack." Gumam Gavlin, sambil menyetir mobilnya.
Sementara itu, Jack terlihat santai menyetir mobilnya, dia tak tahu, jika mobilnya sudah di pasangi alat pelacak sama Gavlin.
---
Satu jam kemudian, Jack tiba di sebuah rumah, tempat persembunyian dia bersama Herman dan juga Peter. Mobil Jack masuk dan berhenti di halaman rumah. Terlihat puluhan penjaga ada di sekitar area halaman rumah.
Mereka semua adalah petugas kepolisian yang sengaja dikerahkan Peter untuk menjaga rumah persembunyian mereka dan juga melindungi mereka bertiga dari incaran Gavlin yang ingin membunuh mereka.
Jack keluar dari dalam mobilnya, lantas, dia berjalan masuk ke dalam rumah. Beberapa menit kemudian, Gavlin pun tiba, dia menghentikan mobilnya di pinggir jalan, tidak jauh dari rumah persembunyian Herman dan komplotannya.
Gavlin melihat GPS yang ada di layar monitor dalam mobilnya. Terlihat titik terakhir tujuan Jack menunjukkan rumah persembunyian.
Gavlin lantas mengamati rumah tersebut dari dalam mobilnya. Lalu dia pun lantas kembali menjalankan mobilnya.
Gavlin mengendarai mobilnya dengan pelan, saat dia melewati rumah persembunyian itu, sekilas, dia melihat, begitu banyaknya orang yang berdiri berjaga jaga sambil memegang senjata ditangannya masing masing.
Gavlin terus menjalankan mobilnya, wajahnya terlihat geram dan menahan amarahnya.
"Sial , rumah itu di jaga ketat !!" ujar Gavlin dengan geram dan marah.
Gavlin lantas menghentikan mobilnya, sedikit menjauh dari rumah persembunyian Herman dan komplotannya.
Gavlin diam sesaat di dalam mobilnya, dia terlihat sedang berfikir. Beberapa detik kemudian, Gavlin pun lantas menjalankan mobilnya kembali.
Dia memutar balik mobilnya, lalu mobil melaju ke arah rumah persembunyian kembali. Saat di dekat rumah, mobil Gavlin pun lantas berhenti, di parkirkannya mobilnya di pingir jalan, tepat disamping rumah persembunyian.
Lalu, Gavlin bergegas keluar dari dalam mobilnya, dia berjalan cepat menuju bagasi mobil.
Gavlin lantas membuka pintu bagasi mobil , lalu, diambilnya senapan mesin yang ada di dalam tas ransel besar dan panjang, tidak lupa juga dia mengambil beberapa bom granat juga dua pistol.
Gavlin menyimpan granat granat di dalam tas pinggangnya, dua pistol di selipkannya di pinggangnya.
Gavlin kemudian menutup pintu bagasi mobilnya.
Dengan wajah penuh amarah, Gavlin lantas berjalan ke arah rumah persembunyian, lalu, dia berhenti di samping pagar, dia bersembunyi di balik pagar dan mengintai ke halaman rumah.
Gavlin melihat, puluhan petugas kepolisian masih berjaga jaga di sekitar rumah persembunyian. Lantas Gavlin pun mengambil granat dari dalam tas pinggangnya.
Di bukanya pemicu bom, kemudian Gavlin melemparkan granat ditangannya ke dalam halaman rumah persembunyian Herman dan komplotannya.
__ADS_1
Bom Granat meledak, puluhan penjaga yang ada di sekitar area halaman rumah kaget, melihat granat meledak.
Beberapa bom granat di lempar Gavlin lagi, ada yang mengenai beberapa penjaga keamanan rumah persembunyian.
Beberapa penjaga terpental jauh karena terkena ledakan bom granat yang di lemparkan Gavlin. Para penjaga pun lantas sibuk , mereka siap siaga dengan memegang pistolnya masing masing.
Mata mereka semua menyusuri seluruh area rumah, mencari siapa yang melemparkan granat dan membuat beberapa rekan mereka tewas terkena ledakan bom granat.
Di sebuah ruangan, dalam rumah persembunyian , Jack yang sedang duduk di sofa bersama Herman kaget saat mendengar ledakan dari arah luar.
Mereka berdua saling pandang, lalu, dengan cepat, mereka beranjak dari tempat duduknya, mereka berdua berjalan ke depan rumah. Lalu, Jack mengintip dari balik horden jendela, dia melihat keluar.
Jack kaget , karena bom granat kembali meledak, dan dia juga melihat, beberapa petugas polisi yang berjaga jaga di luar mati terkena bom granat.
"Gawat !! Kita diserang!!" ujar Jack, mulai terlihat panik.
"Diserang? Siapa yang menyerang kita?" tanya Herman cemas.
"Aku gak tau." ujar Jack.
Di luar, Gavlin lalu keluar dari tempat persembunyiannya di balik pagar rumah, dia berjalan cepat sambil menembaki senapan mesinnya ke arah para petugas polisi yang berjaga jaga di sekitar area rumah persembunyian.
Melihat Gavlin datang dengan membawa senapan mesin dan menembak, para penjaga itu kocar kacir, mencari tempat persembunyian.
Para penjaga bersembunyi di tempat yang mereka rasa aman, lalu, tembak menembak pun terjadi antara Gavlin dan para penjaga.
Gavlin lantas bersembunyi di belakang mobil Jack yang ada di halaman rumah. Gavlin terus menembaki senapan mesinnya ke tempat persembunyian para penjaga.
Jack yang mengintip dari balik horden jendela tersentak kaget melihat Gavlin.
"Gavlin?!! Kenapa dia bisa tau tempat persembunyian kita ini?! Bukannya tempat ini aman dan gak ada orang yang tau?!" ujar Herman dengan wajah cemasnya.
"Entahlah. Sepertinya Gavlin mengikuti aku ke sini!!" ujar Jack.
"Waaah, gila !!! Terus, kita harus bagaimana?!!" tanya Herman, mulai panik dan takut mati.
"Gak ada pilihan lain, kita kabur!!" ujar Jack.
"Kabur lewat mana? Di luar ada si Gavlin. Kalo kita keluar, sama saja kita bunuh diri !!" ujar Herman panik.
"Ikut aku!!" Ajak Jack.
Herman dengan wajah heran dan cemas serta paniknya bergegas mengikuti Jack yang berjalan ke arah belakang rumah persembunyian.
Jack membuka pintu belakang rumah, lalu dia segera keluar dari dalam rumah, Herman pun dengan cepat mengikutinya.
Mereka berdua keluar dari dalam rumah, di halaman belakang, ada sebuah mobil yang terparkir. Jack membuka pintu mobil yang tak di kunci.
"Tolong Man, bukain pintu pagar." ujar Jack.
Herman yang masih bingung dan heran karena ada mobil di belakang rumah persembunyian lalu bergegas membuka pintu pagar yang ada di halaman belakang.
__ADS_1
Jack lantas menyalakan mesin mobil, kunci mobil sudah menempel di dalam mobil, mobil tersebut memang sudah di siapkan Peter sebelumnya, untuk berjaga jaga, jika mereka di serang, mereka bisa melarikan diri menggunakan mobil. Dan posisi mobil sudah dalam keadaan stand by, tinggal di jalani saja.
"Cepat masuk, Man!" ujar Jack dari dalam mobil.
"I...iya." ujar Herman , dengan wajah yang masih bingung.
Herman lantas segera masuk ke dalam mobil, lalu, Jack pun segera menjalankan mobil, mobil lalu meluncur keluar, pergi meninggalkan rumah persembunyian.
Sementara, di halaman rumah, baku tembak masih terjadi antara Gavlin dan para petugas polisi yang berjaga jaga.
Gavlin lantas kembali melemparkan sebuah granat ke arah persembunyian penjaga. Bom granat meledak, beberapa orang penjaga terpental dan terjerembab di tanah lalu mati akibat terkena bom granat.
Gavlin diam sesaat, dia menunggu, namun, beberapa saat, tak ada tembakan lagi dari para penjaga, Gavlin pun tersenyum sinis, dia tahu, peluru peluru di pistol para penjaga sudah habis semuanya, sehingga, mereka tak bisa lagi menembak Gavlin.
Lantas, Gavlin pun segera keluar dari tempat persembunyiannya di belakang mobil Jack.
Gavlin berjalan ke arah para penjaga yang bersembunyi, dia menembaki senapan mesinnya.
Para Petugas Polisi yang berjaga dirumah persembunyian pun tewas tertembak, tak ada satu pun yang selamat, semuanya mati di tembak Gavlin.
Dengan wajah garang penuh amarah, Gavlin masuk ke dalam rumah, dia menendang pintu sekuat kuatnya, hingga pintu terbuka dan rusak.
Gavlin cepat masuk kedalam rumah , dia mencari cari Jack, Herman dan Peter di semua ruangan , namun, di dalam rumah itu kosong , tak ada siapa pun juga.
Gavlin lantas berjalan ke arah belakang rumah, dia melihat pintu belakang terbuka lebar, Gavlin bergegas keluar melalui pintu belakang rumah.
Di halaman belakang rumah, Gavlin berdiri diam melihat ke pintu pagar yang terbuka, dan di tanah, dia melihat ada bekas jejak ban mobil.
"Bedebaaah !! Mereka kabur dari sini!! Siaaal !!!" ujar Gavlin geram dan marah.
Gavlin lantas masuk kembali ke dalam rumah, lalu, dengan wajah penuh amarah dia berjalan menuju ke depan rumah.
Gavlin keluar dari dalam rumah, dia lantas berdiri di halaman rumah, wajahnya penuh amarah menatap rumah persembunyian itu.
Lalu, Gavlin mengambil beberapa granat dari dalam tas pinggangnya, kemudian , di lemparkannya granat granat ke dalam rumah persembunyian.
Gavlin lantas bergegas berjalan menjauh, bom granat meledak, menghancurkan dalam rumah persembunyian.
Gavlin berjalan keluar pagar menuju mobilnya. Dia membuka bagasi mobilnya, lalu, di letakkannya senapan mesin di dalam bagasi.
Gavlin lantas mengambil senjata bom roket, dia tampak tak puas meledakkan rumah hanya dengan granat saja, dia ingin, menghancur leburkan rumah persembunyian itu.
Gavlin lantas berdiri di depan pagar rumah persembunyian, di arahkannya senapan bom roketnya ke rumah persembunyian.
Lalu, Gavlin melepaskan bom roket , bom roket meluncur dan menghantam rumah persembunyian, seketika, rumah persembunyian itu pun hancur berantakan , Sekali lagi Gavlin menembakkan bom roket ke rumah persembunyian.
Rumah persembunyian itu pun hancur lebur, luluh lantak terkena bom roket yang di luncurkan Gavlin. Gavlin lantas membidik mobil Jack. Lalu, dia melepaskan bom roket ke mobil Jack.
Mobil Jack pun meledak, hancur berkeping keping, Gavlin berjalan ke mobilnya dengan sikap dinginnya, lalu, di simpannya senjata bom roketnya ke bagasi, lalu, dia menutup bagasi mobilnya.
Gavlin lantas masuk ke dalam mobilnya, lalu, dia segera menjalankan mobilnya. Gavlin pun kemudian pergi meninggalkan rumah persembunyian yang sudah hancur lebur di ledakkan Gavlin.
__ADS_1
Gavlin emosi, dia sangat marah, karena, sekali lagi, Herman, Jack dan Peter berhasil melarikan diri darinya. Dan Gavlin tak bisa menerima hal itu. Dia tampak marah, karena gagal membunuh Herman, Jack dan Peter.
Gavlin menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia pergi dengan membawa amarahnya yang begitu besar dalam dirinya.