
Chandra masuk ke dalam sel tahanannya, Wicaksono dan juga Gentong serta Pijar juga ikut masuk ke dalam sel.
Mereka baru saja selesai makan siang tadi.
Chandra duduk dilantai pojokan, Wicaksono berjalan mendekatinya, lalu, dia duduk disamping Chandra, sementara, Gentong dan Pijar asyik bersantai berduaan di sisi lain dalam sel.
"Kamu belum bilang, siapa pelaku yang membunuh mantan presiden?" Tanya Wicaksono, menatap wajah Chandra, dengan penuh rasa ingin tahu dan penasarannya.
"Kalo kamu tau, lantas mau apa?" tanya Chandra, menatap tajam wajah Wicaksono yang duduk disampingnya.
"Ya, gak mau apa apa, paling tidak, aku kan jadi tau, ternyata selama ini, mantan presiden itu punya musuh juga." ucap Wicaksono.
"Kenapa gak ada yang mengawalnya ya?" tanya Gentong, ikut nimbrung dalam obrolan Wicaksono dan Chandra.
"Dia kan udah gak jadi presiden, para pasukan pengawal presiden ya pasti ditarik mundur, dan gak lagi mengawal Adiwinata." jelas Wicaksono.
"Lagi pula, kalo melihat lokasi pembunuhannya, memang sudah direncanakan sebelumnya, sepertinya pelaku tau, dan sudah mengawasi beberapa kali Adiwinata yang sering lewat jalan itu." jelas Wicaksono.
"Dan pelaku pastinya tau, kalo Adiwinata sekarang sendirian, tanpa pengawalan, makanya, mereka bisa menghadangnya dijalan sepi itu lalu membantainya." tegas Wicaksono, menjelaskan.
"Oh, begitu." ujar Gentong mengangguk.
Pijar yang ada stressnya hanya diam saja, dia tak menanggapi obrolan mereka bertiga, Chandra menghela nafasnya.
"Pelakunya Binsar, Penasehat Presiden, dan menteri perekonomian negara ini, sekaligus menjabat sebagai menteri di bidang lainnya juga." ungkap Chandra.
"Binsar?!" Wicaksono tersentak kaget, mendengar namanya.
"Ya, dia ketua dan pemimpin organisasi Inside, dia juga yang mengendalikan presiden selama ini, aku tau semua, aku juga punya bukti bukti kejahatan mereka." jelas Chandra.
"Tapi sayang, tangan kanan Binsar yang bernama Samsudin lolos dari hukuman, dia malah dibebaskan hakim dan dinyatakan tak bersalah, padahal bukti sangat banyak mengarah padanya." ungkap Chandra.
"Tapi, ya, begitulah, karena negara ini sudah dikuasai Inside dan dikendalikan Binsar, jadi Inside bisa bertindak bebas." ujar Chandra menjelaskan.
Wicaksono diam mendengarkan semua penjelasan Chandra, dia perhatikan wajah Chandra menyimpan dendam yang begitu besar, terlihat dia menunjukkan kemarahan saat menyebut nama Binsar dan juga Samsudin.
"Kamu sepertinya sangat membenci Binsar itu?" ujar Wicaksono, menatap lekat wajah Chandra.
"Bukan hanya benci, aku dendam, karena dia telah membunuh Bapakku, dengan culasnya mereka meracuni Bapakku, lalu mengatakan kalo kematiannya akibat serangan jantung, padahal mereka memberikan serum racun untuk menghentikan jantung bapakku!" ungkap Chandra menahan amarahnya.
"Itu sebabnya kamu menyelidiki Binsar, lalu mendapatkan bukti bukti atas kejahatan Binsar dan organisasi Inside?" ujar Wicaksono bertanya.
"Ya. Aku berusaha untuk membalas dendam atas kematian Bapakku. Tapi sepertinya aku gagal." ucap Chandra dengan wajah kecewa dan menahan geramnya.
"Begitu rupanya ceritanya, aku mengerti dan paham sekarang." ujar Wicaksono, mengangguk angguk mengerti dan paham atas penjelasan Chandra.
"Chandra, sebaiknya, beberapa hari kedepan, kamu berhati hati, baik saat berada di dalam pemandian bersama, atau di ruang makan, dan bahkan di luar tahanan, waspadalah saat kamu bekerja membersihkan halaman rumah tahanan." jelas Wicaksono, menatap tajam wajah Chandra.
"Aku tau, ada yang mengincarku, dan ingin membunuhku. Hanya, aku belum tau, siapa orangnya yang ditugaskan." ujar Chandra, menatap lekat wajah Wicaksono.
"Makanya, kamu harus hati hati, aku hanya mengingatkan saja." ujar Wicaksono.
"Aku tau siapa Binsar, dulu, 20 tahun yang lalu, aku pernah bermasalah dengannya, dan aku dijebak, makanya aku di penjara selama 20 tahun ini." jelas Wicaksono.
Chandra kaget mendengar penjelasan Wicaksono, dia menatap tajam wajah Wicaksono yang terlihat serius itu.
"Benarkah?" tanya Chandra.
"Ya. Yang aku katakan benar, nanti, kamu akan tau semuanya, tidak sekarang aku ceritakan." jelas Wicaksono.
Chandra terdiam, dia tak menyangka, jika Wicaksono pernah berurusan dengan Binsar lalu dijebak dan dimasukkan kedalam penjara selama 20 tahun.
__ADS_1
"Boleh aku tau, apa masalah pak Wicak dengan Binsar?" tanya Chandra.
Chandra mulai memanggil 'Bapak' pada Wicaksono, dia mulai menghormatinya, setelah tahu kalau dia juga ternyata bermusuhan dengan Binsar.
"Perebutan wilayah kekuasaan genk mafia. Binsar menggusur tempatku, dan mengambil alihnya, lalu dia menyerang aku dan anak buahku secara tiba tiba. Untung saja aku di tolong seorang anak muda, jika tidak, aku pasti sudah mati dulu." ungkap Wicaksono, menjelaskan masa lalunya.
"Oh, begitu." ujar Chandra, mengerti dan paham.
"Ya, Binsar itu licik, dan dia ahli strategi, dia juga ambisius, Binsar juga kejam, dia gak akan segan segan menyingkirkan orang yang menghalanginya. Itu yang aku tau." ungkap Wicaksono pada Chandra.
"Tapi dulu, aku gak tau, kalo Binsar ternyata membuat sebuah organisasi yang bernama Inside." jelas Wicaksono.
Chandra diam, dia hanya mendengarkan penjelasan Wicaksono dengan serius.
"Ah, Sudahlah, gak perlu dibahas panjang lebar, hanya membuat darahku naik, kalo mengingat masa lalu itu." ujar Wicaksono.
Wicaksono lalu berdiri dari duduknya di lantai, dia lantas berjalan menjauh dari Chandra yang masih duduk di lantai pojokan sel tahanan.
Chandra terdiam, tampak raut wajahnya sedang memikirkan sesuatu hal, dan dia juga baru tahu, ternyata, Binsar banyak musuhnya, dan salah satunya adalah Wicaksono.
Namun, karena dia berada didalam penjara selama 20 tahun ini, dia tak bisa membalas dendam pada Binsar.
Diam diam, Chandra menatap wajah Wicaksono yang duduk dilantai dan sedang di pijat Gentong. Chandra mengamati sosok Wicaksono , dan Chandra berfikir, bahwa sepertinya dulu, saat mudanya, Wicaksono Jawara, bos mafia, seperti yang sempat dia katakan tadi.
Chandra lalu menghela nafasnya, dia kemudian memejamkan kedua matanya, berusaha untuk istirahat, sesaat kemudian, Chandra pun lalu tertidur dengan posisi terduduk dilantai sambil mendekap kedua lutut kakinya dan menundukkan kepalanya ke lutut.
Wicaksono yang memijat Gentong melirik Chandra yang sudah tidur itu, dia tersenyum menatap wajah Chandra.
"Mudah mudahan kamu bisa menjaga dirimu, Chandra. Didalam sini, sangat berbahaya, jika lengah sedikit, nyawamu akan melayang." Gumam bathin Wicaksono bicara.
Gavlin sedikit kaget, dia tak menyangka, Adiwinata di bunuh dijalanan sepi, dan Gavlin langsung tahu, siapa pelakunya.
"Ini pasti ulahnya Binsar, dia membunuh mantan presiden itu, untuk membungkamnya, agar gak membocorkan rahasia kejahatan Inside!" Gumam Gavlin, berfikir.
"Licik kamu Binsar." ujar Gavlin geram.
"Sepertinya, kamu gak boleh berlama lama hidup Binsar, agar kamu gak terus berbuat semena mena." lanjut Gavlin, dengan wajah geram dan penuh amarah.
"Tunggulah Binsar, aku akan mencari cara untuk membunuhmu!" tegas Gavlin penuh dendam dan amarah yang membara dalam jiwanya.
Keesokan paginya, tampak para Narapidana di keluarkan dari dalam sel tahanan mereka masing masing.
Para Narapidana berdiri berbaris didepan sel tahanan, Dua Petugas Tahanan, Sipir penjara berdiri didepan berjaga jaga sambil memegang senjata dan tongkat pemukul.
Sipir Penjara lantas menyuruh para Narapidana berjalan, mereka berjalan menuju lokasi pemandian umum yang ada di dalam rumah tahanan tersebut.
Para Narapidana masuk ke dalam ruang pemandian, diantara mereka ada juga Chandra, dia juga masuk ke dalam ruangan itu untuk mandi.
Tidak jauh darinya, Wicaksono bersama Gentong dan Pijar juga ada didalam ruang pemandian, dan sedang mandi.
Chandra dengan santai dan tenangnya mandi, dia membiarkan tubuhnya di guyur air yang mengalir deras ketubuhnya.
Beberapa saat kemudian, semua narapidana selesai mandi, Chandra sedang melap tubuhnya dengan handuk, lalu, Chandra pun memakai handuk, dilingkarkannya handuk kepinggangnya, menutup bagian tubuhnya yang telanjang.
Saat Chandra berjalan hendak keluar dari dalam ruang pemandian, tiba tiba saja, seorang narapidana yang bertubuh kekar berjalan mendekatinya.
Wicaksono yang sudah selesai mandi sempat melihat orang yang bertubuh kekar mendekati Chandra dengan menggenggam pisau ditangannya.
__ADS_1
Chandra tak tahu, jika dia sedang di incar dan akan di bunuh, saat dia hendak keluar, orang bertubuh kekar langsung menyerang Chandra.
Namun, tiba tiba saja, tangan orang bertubuh kekar yang memegang pisau itu dipegang Wicaksono, yang sudah berdiri disampingnya.
Wicaksono lantas memelintir tangan orang bertubuh kekar dan langsung menghajarnya. Chandra kaget , dia berbalik dan melihat, Wicaksono tengah menghajar pria bertubuh kekar yang hendak menyerang Chandra.
Tanpa ampun lagi, Wicaksono menghajar pria kekar itu, Wicaksono bukanlah tandingan pria bertubuh kekar, dengan mudah Wicaksono mengalahkannya.
Seluruh wajah pria bertubuh kekar berdarah darah dihajar Wicaksono yang seorang Jawara dan pemimpin genk mafia dulunya dengan sebutan 'Wicak'.
Dulu, saat orang orang mendengar nama 'Wicak' saja, sudah ketakutan, apalagi bertemu dengan orangnya.
Dan Pria bertubuh kekar apes, dia yang ingin membunuh Chandra malah bertemu dan berhadapan dengan Wicaksono, yang menolong Chandra.
Dengan wajah beringas dan sadis Wicaksono mencengkram leher pria bertubuh kekar dengan lengan tangannya, dengan penuh amarah dia menekan kuat cengkraman tangannya dileher pria bertubuh kekar hingga susah bernafas.
"Coba coba kamu mau membuat kerusuhan di dalam tahanan ini! Aku habisi kamu!!" bentak Wicaksono penuh amarah.
"Hentikan ! Jangan bunuh dia!!" teriak Chandra.
Chandra melihat Wicaksono akan membunuh pria bertubuh kekar yang berada dalam cengkraman tangannya saat ini, Chandra cepat mendekati Wicaksono.
"Dia mau membunuhmu ! Kenapa kamu malah melarangku membunuhnya?!" tanya Wicaksono, menatap tajam wajah Chandra.
"Tunggu dulu, aku mau tau, dia mau membunuhku atas suruhan siapa, Binsar atau Samsudin, setelah itu, terserah, mau Bapak apakan dia!" jelas Chandra, dengan wajah serius menatap wajah Wicaksono yang sangat marah itu.
"Baiklah." ucap Wicaksono, menuruti perkataan Chandra.
Chandra lantas berjongkok di depan pria bertubuh kekar yang dicengkram lehernya oleh Wicaksono, Chandra memperhatikan wajah pria bertubuh kekar yang tersengal sengal susah bernafas karena lehernya tercekik akibat di cengkram kuat tangan Wicaksono yang juga besar dan kekar itu.
"Kenapa kamu mau membunuhku? Siapa yang membayarmu?!" tanya Chandra, menatap tajam wajah Pria bertubuh kekar.
Pria bertubuh kekar diam tak menjawab pertanyaan Chandra, melihat reaksi pria bertubuh kekar hanya diam saja ditanya, Wicaksono semakin marah.
Dia menekan kuat lengan tangannya dileher pria bertubuh kekar.
"Cepat katakan, siapa yang menyuruhmu!!" bentak Wicaksono penuh amarah.
Para Narapidana yang masih ada di dalam ruang pemandian itu kaget melihat Wicaksono sedang mencengkram leher pria bertubuh kekar .
Tak ada yang berani menghentikan perbuatan Wicaksono, karena mereka tahu siapa Wicaksono, dan di dalam rumah tahanan, Wicaksono orang nomor satu, penguasa rumah tahanan, tak ada narapidana yang berani menghadapinya.
"A...aku...di suruh pak Samsudin. Menkopolkam." ujar Pria bertubuh kekar, dengan suara terbata bata memberitahu.
"Ternyata benar dugaanku, Samsudin yang memberi perintah dan membayar narapidana ini untuk membunuhku." ujar Chandra, sambil berdiri dari jongkoknya.
"Pengecut kamu Samsudin, mau membalas dendam padaku, tapi menggunakan tangan orang lain!" ujar Chandra geram.
"Aku serahkan orang itu pada Bapak." ujar Chandra menatap wajah Wicaksono.
Wicaksono tersenyum sinis dan menyeringai bengis mendengar perkataan Chandra yang menyerahkan pria bertubuh kekar padanya.
Lalu, dengan gerakan cepat, Wicaksono lantas mematahkan leher pria bertubuh kekar hingga mati, lalu, dia membiarkan tubuhnya terjatuh di lantai.
Wicaksono yang sudah di vonis seumur hidup dan sudah berada didalam tahanan selama 20 tahun tak perduli jika masa penahanannya ditambah karena membunuh lagi dalam tahanan.
Wicaksono lantas pergi meninggalkan mayat pria bertubuh kekar, dia menyusul Chandra yang sudah lebih dulu keluar dari dalam ruang pemandian.
Gentong dan Pijar yang masih ada didalam ruang pemandian dan melihat perkelahian Wicaksono dan pria bertubuh kekar langsung berlari keluar dari dalam ruang pemandian, mereka mengejar Wicaksono yang sudah pergi meninggalkan mereka berdua.
Suasana di dalam ruang pemandian hening, hanya ada tubuh pria bertubuh kekar tergeletak tak bernyawa dilantai, dengan kondisi leher yang patah.
__ADS_1