
Pak Sarono mengajak Gavlin ke ruang keluarga rumahnya, Gavlin bersama Indri mengikutinya.
"Mari Duduk sini, Vlin." ujar Pak Sarono, tersenyum ramah pada Gavlin.
"Ya, Pak. Terima kasih." ujar Gavlin, mengangguk pada pak Sarono.
Gavlin lantas duduk di sofa yang ada didalam ruang keluarga rumah pak Sarono, Indri ikut duduk disamping Gavlin, begitu juga dengan pak Sarono, dia duduk di sofa yang berada dihadapan Gavlin.
"Vlin. Mengapa kamu dan Indri bisa bertemu di negara ini?" tanya Pak Sarono, menatap wajah Gavlin yang duduk di hadapannya.
"Saya datang ke negara ini untuk menyelesaikan balas dendam saya, Pak. Musuh besar saya melarikan diri ke negara ini, jadi saya mengejarnya." ujar Gavlin, menjelaskan pada pak Sarono.
"Oh, begitu. Bapak kira, Kamu tau kalo Bapak dan Indri ada di negara Prancis ini, jadi kamu sengaja datang mencari kami." ujar Pak Sarono tersenyum.
"Saya tau kok, Kalo Bapak dan Indri ada di negara ini. Sebelum datang ke Prancis, saya sempat berkunjung ke rumah Bapak. Tapi, rumah tertutup rapat dan kosong." ujar Gavlin, menjelaskan.
"Saya masuk ke dalam rumah Bapak, untuk numpang istirahat dan bersembunyi dari kejaran pihak kepolisian, dan saya menemukan surat Indri yang menyatakan bahwa Bapak dan Indri pindah ke negara Prancis untuk memulai kehidupan baru di sini." ungkap Gavlin, menjelaskan pada pak Sarono.
"Oh, begitu rupanya." ujar Pak Sarono, mengangguk mengerti dan paham.
"Indri sengaja meninggalkan surat buat Gavlin, Pak. Karena Indri yakin Gavlin masih hidup dan akan kembali datang ke rumah kita." ucap Indri pada Bapaknya.
"Dan Indri gak mau Gavlin kecewa kalo datang kerumah tapi kita gak ada, makanya Indri tulis surat, agar Gavlin tau, kalo kita pindah ke negara Prancis ini." ujar Indri, memberi penjelasan pada Bapaknya.
"Oh, seperti itu." ujar Pak Sarono mengangguk.
"Lantas, apa kamu sudah berhasil menemukan musuhmu itu?" ujar pak Sarono bertanya karena ingin tahu.
"Sudah, Pak. Tapi, musuh saya itu tewas dalam kecelakaan pesawat saat akan membawanya pulang." ungkap Gavlin.
"Oh, ya. Bapak liat beritanya di televisi soal meledaknya pesawat non komersil itu." ujar Pak Sarono.
"Ya, Pak." Angguk Gavlin.
"Lalu, bagaimana kamu bisa ketemu dengan Indri?" tanya Pak Sarono lagi pada Gavlin.
"Awal kami bertemu di Hotel, Pak. Saya dan Indri tak sengaja sama sama menginap di Hotel yang sama." ujar Gavlin, memberi tahu pak Sarono.
"Ya, Pak. Gavlin yang lebih dulu melihatku, tapi Gavlin sempat salah paham, mengira kalo Rifai pacar atau suamiku, Dia sempat patah hati, Pak." ujar Indri, tersenyum manja melirik Gavlin.
Gavlin tersenyum kecut dan tertunduk malu di sindir Indri, Pak Sarono tersenyum menatap wajah Gavlin yang tertunduk itu.
"Itu tandanya, Nak Gavlin benar benar mencintai kamu, In. Nak Gavlin cemburu buta, makanya langsung patah hati liat kamu sama Rifai, langsung galau tanpa bertanya dan mencari tau kebenarannya dulu, itu biasa dilakukan sama pria yang cemburu buta." ujar Pak Sarono, tersenyum lembut menatap Gavlin.
"Ya, Pak. Tapi kesalah pahamannya udah selesai, dan Gavlin sudah tau siapa Rifai. Makanya sekarang, Indri ajak Gavlin ke rumah kita, biar ketemu Bapak." ungkap Indri, tersenyum senang melihat Gavlin dan Bapaknya.
"Ya, Bapak senang bisa melihatmu lagi nak Gavlin." ujar Pak Sarono, tersenyum senang menatap wajah Gavlin.
"Ya, Pak. Saya juga sangat senang bisa bertemu Bapak lagi dan juga Indri." ucap Gavlin, tersenyum juga menatap wajah Pak Sarono.
"Terus, apa kamu akan menetap dinegara ini atau kembali pulang?" tanya pak Sarono, menatap serius wajah Gavlin.
"Saya sudah memutuskan untuk tetap di negara ini, Pak, dan selamanya gak akan kembali lagi." ungkap Gavlin, serius menatap wajah Gavlin.
Pak Sarono diam mengangguk angguk mengerti. Indri tersenyum senang melirik wajah Gavlin yang duduk disampingnya.
"Kalo kamu mau tinggal selamanya di negara ini, apa rencanamu ke depannya?" tanya pak Sarono lagi pada Gavlin.
__ADS_1
"Belum tau, Pak. Saya belum memikirkan hal itu." ujar Gavlin.
"Oh. Ya , Gak apa, sambil berjalan saja kamu pikirkan." ujar pak Sarono tersenyum menatap wajah Gavlin.
"Maaf, Pak. Saya pamit pulang dulu, ya. Ada satu hal yang mau saya urus." ujar Gavlin, menatap serius wajah pak Sarono.
"Loh, baru sebentar kita bertemu, kok udah mau pulang? Gak nginap aja di sini nak Gavlin? Rumah ini ada kamar kosong buat tamu kok." ujar pak Sarono tersenyum ramah menatap wajah Gavlin.
"Setelah urusan saya selesai, saya pasti akan datang ke sini lagi menemui Bapak dan juga Indri." ujar Gavlin, memberi penjelasan pada Pak Sarono.
"Ya, Baiklah. Bapak gak akan memaksamu untuk menginap di sini." ujar pak Sarono, tersenyum senang menatap wajah Gavlin yang duduk dihadapannya itu.
"In. Aku pulang, ya. Nanti Aku pasti datang ke sini lagi." ujar Gavlin menatap wajah Indri yang duduk disampingnya.
"Ya, Vlin." Ujar Indri, mengangguk dan tersenyum lembut menatap wajah Gavlin.
"Sebentar, Aku minta tolong Rifai, buat ngantar kamu pulang ke rumahmu, Vlin." ujar Indri.
Indri lantas berdiri dari duduknya di sofa dan hendak pergi, namun, Gavlin buru buru memegang tangannya untuk mencegahnya.
"Jangan, In. Biar Aku pulang naik taksi saja." ujar Gavlin, menatap serius wajah Indri.
"Gak apa apa, Vlin." ujar Indri.
"In. Aku gak mau merepotkan Rifai. Biar aku pulang sendiri aja. " ujar Gavlin, menatap serius wajah Indri.
Akhirnya, Indri pun mengalah pada Gavlin, dia tak jadi meminta tolong pada Rifai untuk mengantarkan Gavlin pulang ke rumahnya.
"Ya udah, kalo itu mau kamu." ujar Indri, tersenyum.
"Ya, In." Angguk Gavlin.
"Saya pulang ya Pak." ujar Gavlin.
"Ya, Hati hati di jalan." ucap pak Sarono, tersenyum menatap wajah Gavlin yang berdiri dihadapannya.
"Ya, Pak." ujar Gavlin, tersenyum ramah menatap wajah pak Sarono.
"In, Aku pamit ya." ujar Gavlin, menatap wajah Indri.
"Ya, Vlin. Kamu janji ya, akan datang ke sini lagi?" ujar Indri, menatap tajam wajah Gavlin.
"Iya, Aku janji, In." ujar Gavlin, tersenyum lembut pada Indri.
Lantas, Gavlin berjalan keluar dari dalam ruang keluarga, Indri mengikutinya, dia mengantarkan Gavlin keluar dari dalam rumahnya, Pak Sarono tersenyum senang memandangi kepergian Gavlin, Dia tak ikut mengantar, agar tak mengganggu Gavlin dan Indri yang pastinya masih melepas rindu bersama.
"Bapak senang melihat kamu dalam keadaan sehat dan baik baik saja , Vlin. Jujur, Bapak khawatir kamu terluka parah kayak dulu lagi, tapi, setelah melihatmu, Bapak lega, senang dan bahagia." Gumam bathin pak Sarono.
Rumah Pak Sarono terletak di pinggir jalan raya, sehingga Gavlin tidak harus menunggu lama taksi.
Gavlin masuk ke dalam taksi, sementara Indri berdiri di pinggir jalan depan rumahnya, melihat mobil taksi pergi membawa Gavlin.
Indri tersenyum senang memandangi kepergian Gavlin, Dia terlihat bahagia karena sudah bertemu dengan Gavlin, sang pujaan hatinya yang selama ini sangat di rindukannya akan kehadirannya.
Indri lalu berbalik badan, dan berjalan masuk kembali ke dalam rumahnya.
__ADS_1
Keesokan harinya, seperti biasanya, Andre sedang berada di ruang kerjanya dengan membaca berkas berkas laporan kasus yang ditanganinya. Tiba tiba saja, telepon yang ada di atas meja kerjanya berbunyi.
Andre menghentikan membaca laporan berkas kasus diatas meja, Dia lalu mengambil telepon.
"Ya, Hallo." Ujar Andre, bicara di telepon.
"Apa kabar Andre?" Ujar Gavlin, dari seberang telepon.
Mendengar suara Gavlin, langsung Andre terkesiap kaget, saat mengetahui bahwa yang menelponnya adalah Gavlin.
"Gavliin?! Kamu masih hidup? Aku kira kamu tewas dalam pesawat itu!" Ujar Andre, bicara serius di teleponnya.
"Binsar yang tewas, Ndre. Dia tewas bersama sahabat baikku." ujar Gavlin, dari seberang telepon.
"Maksudmu?" tanya Andre, di teleponnya.
"Awalnya, rencananya aku akan melakukan bom bunuh diri di dalam pesawat, agar Binsar mati di dalam pesawat bersamaku, Aku mau melakukan hal itu karena gak percaya dengan hukum di negara kita." ujar Gavlin, menjelaskan dari seberang telepon.
"Tapi, Rencanaku digagalkan sahabatku, Dia tak ingin aku melakukan bom bunuh diri, lalu, membuatku pingsan dan mengikatku, kemudian, Malik, sahabatku itu menggantikanku, Dia membawa Binsar ke pesawat, lalu, saat pesawat terbang, Dia meledakkan dirinya , sehingga pesawat meledak dan hancur, serta menewaskan pilot dan juga Binsar." ujar Gavlin, menjelaskan pada Andre, dari seberang telepon.
"Oh, begitu. Berarti, satu orang yang mayatnya baru diketemukan itu adalah sahabatmu?" ujar Andre, diteleponnya.
"Ya." Jawab Gavlin, dari seberang telepon.
"Syukurlah, bukan kamu yang tewas." ujar Andre, di teleponnya.
Terlihat raut wajah Andre lega, dia senang karena Gavlin ternyata masih hidup, dan prasangkanya kemarin kemarin salah dengan mengira Gavlin tewas dalam pesawat yang meledak itu.
"Ndre, Aku mau minta tolong padamu." ujar Gavlin, dari seberang telepon.
"Dalam hal apa?" tanya Andre, di teleponnya.
"Aku sengaja menelponmu dari negara Prancis dengan panggilan international untuk meminta bantuanmu yang terakhir kalinya." ucap Gavlin, serius, dari seberang telepon.
"Ya, katakan saja." Ujar Andre, serius, ditelepon.
"Ndre, tolong buat pernyataan, bahwa Aku tewas dalam pesawat yang meledak itu, dan hapus semua kejahatanku, Aku gak akan kembali ke negara kita lagi selamanya, hilangkan Aku sebagai daftar buronan kalian, karena aku sudah tewas." ujar Gavlin, bicara serius, dari seberang telepon.
"Kamu serius, Vlin? Kamu gak akan kembali ke negara kita lagi? Pak Wicak dan Chandra menunggumu." ujar Andre, bicara serius di teleponnya.
"Aku serius, Ndre. Selama beberaoa tahun ini Aku lelah menjadi buronan kepolisian, dan lagi pula, balas dendamku telah usai, Aku hanya ingin menjalani kehidupanku yang baru ke depannya." ujar Gavlin, dari seberang telepon.
"Dan jangan sampai pihak kejaksaan atau kepolisian tau, kalo aku masih hidup dan berada di negara Prancis sekarang." jelas Gavlin, dari seberang telepon.
Andre diam sesaat dan tak menjawab perkataan Gavlin, Dia masih memegangi gagang teleponnya yang menempel ditelinga dan mulutnya, Andre sedang berfikir keras.
"Hallo, Ndre? Apa kamu mendengarku?" tanya Gavlin, dari seberang telepon.
"Oh, iya, Aku dengar, Vlin." ujar Andre, tersadar dari lamunannya.
"Bagaimana, Ndre, apa kamu bersedia memenuhi permintaan terakhirku ini?" tanya Gavlin, dari seberang telepon.
"Baiklah, Vlin. Akan aku turuti permintaanmu itu. Lagi pula, Aku juga sudah mendapat kabar, bahwa, satu orang yang menghilang sudah ditemukan mayatnya, walau wajahnya tak bisa dikenali karena rusak dan hancur, tapi, aku bisa membuat pernyataan bahwa mayat yang ditemukan itu adalah kamu nantinya. Agar kamu dihapuskan dari daftar buronan kami." ungkap Andre, memberi penjelasan pada Gavlin, diteleponnya.
"Ya, Terima kasih, Ndre. Aku sudahi obrolan kita ini." ujar Gavlin, dari seberang telepon.
Belum sempat Andre menjawab, Gavlin sudah memutuskan panggilan teleponnya, Andre lantas meletakkan gagang telepon ditempatnya semula, Lalu dia menghela nafasnya.
__ADS_1
"Selamat menjalankan kehidupan barumu, Vlin. Aku senang, kamu masih hidup." Gumam bathin Andre.