
Para penyidik kepolisian dan petugas paramedis datang ke gedung 'Residence' , tempat pertemuan Masto dan Samsudin yang berubah menjadi lokasi berdarah dengan saling bunuh.
Mayat Mardi dan ke enam anak buahnya di bawa petugas paramedis ke ambulance, begitu juga dengan mayatnya Edo, di bawa ke dalam ambulance.
Masto terlihat terduduk lemas di lantai gedung, dia masih menangis, meratapi kematian Edo yang merelakan nyawanya demi menyelamatkan dirinya.
Andre yang juga hadir di lokasi itu mendekati Masto yang menangis terduduk di lantai, Andre berjongkok disamping Masto, dia lalu menepuk pelan bahu Masto.
"Sudah, relakan Edo pergi." ujar Andre, berusaha menenangkan diri yang menangis meratapi kematian Edo.
"Mengapa dia harus mati? Saya gak memintanya untuk datang ke sini, mengapa Edo nekat dan malah datang juga?" ujar Masto, dengan terisak sedih.
"Edo tau, apa yang kamu lakukan hal yang berbahaya, dan sebagai rekannya, dia tentu gak akan bisa berdiam diri dan membiarkan kamu dalam bahaya, walau kamu melarangnya, Edo pasti akan datang membantumu." ucap Andre.
"Dia bukan hanya partner, tapi dia sudah menjadi saudara saya." ungkap Masto lirih dan getir.
"Ya, kita semua satu keluarga di divisi kita." tegas Andre.
"Sudahlah, tenangkan dirimu, nanti kita bicara di kantor." ujar Andre, menenangkan diri Masto.
Masto mengangguk, dia lantas menghapus air matanya, lalu, dia menarik nafasnya dalam dalam, berusaha menenangkan dirinya. Lalu, perlahan, dia pun berdiri.
Masto lantas berjalan gontai dan keluar dari ruang lantai paling atas gedung tersebut, para petugas medis sudah pergi, hanya tinggal petugas penyidik kepolisian saja.
---
Samsudin mendengarkan berita di televisi yang mengabarkan tentang terjadinya baku tembak di gedung 'Residence' yang mengakibatkan kematian seorang petugas kepolisian bernama Edward diansyah atau yang di kenal dengan nama panggilan Edo. Selain itu, penyiar juga menyatakan bahwa ada 7 orang yang juga tewas dalam baku tembak tersebut, dan kasus itu jadi perhatian pihak kepolisian, yang bertekat mengusut hingga ke akarnya.
"Siaaaalll !! Mardi bodoh !! Bukannya membunuh malah mati di bunuh !! Gobloook!!" teriak Samsudin marah dalam ruang kerjanya.
"Masto selamat, dan aku yakin, dia pasti ngoceh dan membocorkan tentang pertemuan aku dan dia waktu itu, ini gak bisa di biarkan, aku harus cari cara untuk menghindari jerat hukum kepolisian yang pasti mengincarku!" tegas Samsudin , bicara dengan dirinya sendiri.
Samsudin lantas mematikan televisi, lalu, dia beranjak dan jalan menuju meja kerjanya, lalu, dia menghempaskan tubuhnya di kursi kerjanya, wajahnya tampak tegang dan serius, terlihat dia tengah memikirkan sesuatu hal yang sangat serius sekali saat ini.
---
Di ruang kerja Andre, Masto tengah bertemu dengan Andre, untuk membahas tentang kejadian yang membuat Edo menjadi korban pembunuhan kemaren lalu.
"Coba kamu jelaskan pada saya dari awal hingga akhir, agar saya mengerti dan bisa memahaminya serta mengambil kesimpulan dalam masalahmu ini." ujar Andre, menatap lekat wajah Masto yang duduk dikursi depan meja Andre.
"Saya juga gak tau, mengapa ini terjadi pada saya, Pak." ucap Masto, menatap Andre yang duduk di kursi kerjanya.
"Maksud kamu?" tanya Andre, heran dan tak mengerti.
"Begini Pak. Awalnya, saya di hubungi Mardi, Asistennya pak Samsudin, Menkopolkam, beliau meminta saya untuk bertemu dengannya, karena ada suatu hal penting yang mau dibicarakannya pada saya." ujar Masto, mulai menjelaskan pada Andre.
"Awalnya saya bingung, ada apa Menkopolkam panggil saya? Setelah saya pikir pikir, gak ada salahnya saya datang menemuinya, agar saya tau, apa yang akan di sampaikannya pada saya." lanjut Masto menjelaskan.
Andre diam, dia menyimak dan mendengarkan dengan serius semua penjelasan dari Masto.
"Akhirnya, saya pun datang menemui beliau di kantor kementriannya langsung Pak." jelas Masto.
"Terus?" tanya Andre, menatap serius wajah Masto.
"Singkatnya, Pak Samsudin menawarkan saya kerjasama, dengan menjanjikan saya untuk diberikan jabatan sebagai Inspektur Jendral kepolisian nantinya. Karena sebagai Menkopolkam katanya dia punya hak menunjuk orang pilihannya untuk duduk di satu posisi jabatan kepolisian." tegas Masto.
"Oh ya?" Andre terkesiap kaget mendengar penjelasan Masto.
__ADS_1
"Ya, Pak." ucap Masto.
"Hanya, Beliau memberi syarat pada saya, saya harus memberikan informasi tentang semua hasil yang didapat dari investigasi dan penyelidikan kita pada kasus organisasi Inside, alasannya, sebagai Menkopolkam dia ingin tau perkembangan kasus itu, agar dia bisa mengambil sikap kedepannya." ujar Masto, menjelaskan dengan serius.
"Saya curiga dengan syarat yang diberikannya, karena saya tau, pak Samsudin juga salah satu anggota Inside yang sedang kita selidiki keterlibatannya dalam kejahatan Inside." jelas Masto.
"Saya akhirnya beralasan, meminta waktu untuk berfikir dengan tawarannya itu, dan dia pun setuju, Beliau memberikan saya waktu untuk memikirkan tawarannya." tegas Masto.
"Setelah saya pikir pikir, saya berat menerimanya, hati nurani saya menentang, saya gak bisa berkhianat dengan kepolisian, saya sudah di sumpah untuk jujur dan adil sebagai polisi yang melindungi rakyat." tegas Masto.
"Lalu, saya hubungi Mardi, dan mengatakan, saya menolak tawaran pak Samsudin, saya katakan, saya lebih nyaman dengan posisi saya sekarang sebagai penyidik kepolisian." jelas Masto.
"Oh, begitu rupanya, saya paham. Samsudin berusaha mendapatkan informasi dengan cara menyuap kamu agar mau berkhianat dan menjadi mata mata dia, licik sekali." ujar Andre, tersenyum sinis.
"Ya, begitulah, Pak." ujar Masto.
"Dan saya yakin, pak Samsudin pasti tersinggung dan marah karena saya berani menolak tawarannya, karena selama ini, gak ada yang berani menolaknya." jelas Masto.
"Tiba tiba saja Mardi menghubungi saya, katanya pak Samsudin mau ketemu saya di gedung 'Residence' , saya pun bersedia datang." jelas Masto.
"Dan Edo tau semuanya, Pak. Dia juga tau lokasi pertemuan saya di gedung itu." ujar Masto.
"Edo memaksa untuk ikut dengan saya, agar dia bisa melindungi saya, sebab, saya tau, pastilah pak Samsudin ingin berniat jahat pada saya, karena memilih lokasi yang sepi dan belum terpakai." jelas Masto.
"Saya melarang Edo untuk ikut, saya cuma pesan sama Edo, jika terjadi apa apa dengan saya, segera ambil tindakan, dan Edo menuruti perkataan saya waktu itu." lanjut Masto menjelaskan.
"Saya gak nyangka, tiba tiba saja Edo ada di gedung itu dan menembaki anak buah Mardi, dia datang diam diam menolong saya." ungkap Masto, menahan sedihnya.
"Jika Edo gak ada, mungkin saya yang mati di bunuh Mardi dan anak buahnya, karena saya sudah di kepung dan terikat." jelas Masto.
"Demi menyelamatkan saya, Edo rela mengorbankan nyawanya." ujar Masto, dengan wajah sedihnya.
"Samsudin memerintahkan Mardi untuk membunuh kamu, lalu, Mardi dengan membawa anak buahnya datang menemui kamu, mereka lalu mengikatmu." tegas Andre.
"Ya, Pak. Begitulah." ucap Masto getir.
"Lalu, saat Mardi mau membunuh kamu, tiba tiba datang Edo menembaki anak buah Mardi hingga mati, dan terjadi baku tembak." jelas Andre.
"Edo melepaskan ikatan kamu, lalu, kalian berdua saling tembak menembak dengan Mardi dan anak buahnya, hingga akhirnya, mardi dan anak buahnya kalah dan mati." ujar Andre.
"Namun, Mardi yang belum mati tiba tiba menembak dan mau membunuh kamu, Edo refleks dan cepat menghalangi, dia menjadi tameng bagi dirimu dan tertembak." lanjut Andre menjelaskan.
"Ya, Pak." Angguk Masto lemah.
"Lalu, kamu kalap dan menembaki Mardi hingga dia benar benar mati." tegas Andre, menatap serius wajah Masto.
"Ya, Pak." Jawab Masto.
"Baiklah, kita akan mengusut kasus ini, kita akan datangi Samsudin, membawanya ke kantor untuk di interogasi, lalu, dia akan kita jadikan tersangka dalam kasus kematian Edo ini." jelas Andre serius.
"Bagaimana dengan kasus Samsudin yang lainnya Pak?" tanya Masto.
"Itu nanti saja, tunggu Pak Samuel bergerak, baru kita juga ikut bergerak menangkap Samsudin. Saat ini, cukup kita jerat Samsudin dengan kasus kematian Edo." tegas Andre serius.
"Baiklah, Pak." ujar Masto , mengangguk setuju.
"Ya sudah, saya akan menyiapkan berkas berkas perkaranya, setelah itu, saya akan meminta surat perintah pemanggilan Samsudin ke kantor , jika dia menolak, kita akan seret paksa dia." tegas Andre, dengan wajah serius.
__ADS_1
"Baik, Pak. kalo gitu, saya permisi." ujar Masto.
"Ya, silahkan." ujar Andre.
Lalu, Masto pun berdiri dari duduknya di kursi, dia lantas berjalan keluar dari ruang kerja Andre.
---
Seorang kurir ekspedisi datang ke markas organisasi Inside, dia menurunkan sebuah koper berukuran besar, seorang penjaga keamanan langsung cepat menghampirinya.
"Maaf, ada apa ini?" tanya Petugas Keamanan.
"Saya mau mengantarkan paket ini, yang ditujukan pada Bapak Binsar." ujar Kurir Ekspedisi.
Sang Kurir menunjukkan secarik kertas berisi alamat markas Indside, dan Binsar sebagai penerimanya.
Petugas keamanan mengambil kertas dari tangan kurir dan membacanya, dia membaca nama Binsar tertera pada kertas itu.
Petugas keamanan mendekati koper besar itu yang juga ditempeli alamat markas inside dengan penerima ditujukan pada Binsar.
"Kira kira, apa isi paket ini?" tanya Petugas keamanan.
"Saya gak tau, Pak. Tugas saya hanya mengantarkan paket ke lokasi tujuan saja." jelas Kurir Ekspedisi.
"Siapa pengirimnya?" tanya Petugas Keamanan.
"Yanto nama pengirimnya." ujar Kurir Ekspedisi.
"Ok. Baiklah, mari ikut saya." ujar Petugas Keamanan.
Lalu, Kurir pun mendorong koper besar dan mengikuti Petugas keamanan yang masuk ke dalam markas Inside.
Di dalam kantornya, Binsar tampak duduk di kursi kerjanya, dan dia sedang melihat laptopnya. Pintu di ketuk.
"Ya, masuk." ujar Binsar.
Petugas Keamanan membuka pintu, lalu, dia masuk bersama kurir ekspedisi yang membawa koper besar berisi paket untuk Binsar.
"Maaf, Pak. Ini ada paket buat Bapak." ujar Petugas keamanan.
"Paket buat saya? Dari siapa?" tanya Binsar heran.
"Nama pengirimnya Yanto, Pak." jelas Petugas Keamanan.
"Yanto?" Binsar kaget dan heran.
Binsar diam sesaat, dia tampak berfikir sesaat, lalu, dia pun kemudian menatap wajah kurir.
"Baiklah, letakkan saja di situ." ujar Binsar.
"Baik, Pak." ujar Kurir, meletakkan koper di lantai.
"Saya permisi." ujar Kurir Ekspedisi.
"Ya." jawab Binsar.
Kurir pun bergegas pergi keluar dari ruang kerja Binsar, saat Petugas Keamanan hendak pergi, Binsar mencegahnya.
__ADS_1
"Tolong kamu buka dan liat isinya." ujar Binsar.
"Baik, Pak." ujar Petugas Keamanan.