
Wijaya mendobrak paksa pintu ruang kerja Bramantio, Petugas Keamanan yang mengejarnya tak berani menghalangi Wijaya.
Sebab, ditangan Wijaya ada pistol, dengan wajah penuh amarah, Wijaya masuk ke dalam ruang kerja Bramantio.
Bramantio dan Ronald kaget melihat Wijaya masuk membawa pistol dengan wajah memerah penuh amarah.
"Biadaaaab kamu Braaam !!" Ujar Wijaya mendekati Bramantio.
Wijaya menodongkan pistolnya tepat menempel di kening Bramantio.
Bramantio terhenyak kaget melihat Wijaya yang marah sambil menodongkan pistol di kepalanya.
Ronald tampak santai, dia duduk di sofa sambil membersihkan pisau lipat dengan kain di tangannya.
Dia cuek melihat kemarahan Wijaya.
Tak ada rasa takut sedikitpun di dalam diri Ronald, melihat Wijaya membawa pistol dan ingin menembak Bramantio.
"Apa apaan ini Wijaya?!" Tanya Bramantio dengan wajah ketakutan.
Bramantio terlihat takut, sebab, pistol Wijaya menempel di keningnya.
"Keparat kamu Bram !! Anakmu telah membunuh anakku !!" Bentak Wijaya berteriak penuh amarah.
"Apa maksudmu? Dari mana kamu dapat info itu?" Tanya Bramantio.
Bramantio berusaha tenang, walau pun dadanya berdebar debar, dia takut, Wijaya menembakkan pistolnya.
"Ada orang yang bilang padaku ! Kalo Mike yang membunuh Linda! Mike sengaja buat kecelakaan, agar kejahatannya gak dapat diketahui Polisi !!" Teriak Wijaya penuh amarah.
Bramantio pun akhirnya mengerti, Wijaya marah karena dia sudah mendapat kabar tentang kematian anaknya, dan Wijaya sudah tahu, bahwa anaknya bukan mati karena kecelakaan, tapi di bunuh Mike.
"Mana anakmu Bram !! Cepat suruh dia kesini !! Aku akan menghabisi anakmu !!" Teriak Wijaya kalap.
Tiba tiba pisau melesat dari tangan Ronald dan mengenai telapak tangan Wijaya.
Ronald melemparkan pisau yang dia pegang, pistol pun terlepas dari genggaman tangannya.
Wijaya meringis kesakitan memegangi tangannya yang terluka terkena pisau Ronald.
"Bodoh, tolol !! Dungu !! Kalian sedang di adu domba oleh orang itu !!" Bentak Ronald.
Ronald pun berdiri dan mendekati Bramantio serta Wijaya.
Ronald menatap tajam wajah Bramantio dan Wijaya yang saling berhadapan itu.
"Apa maksudmu? Siapa kamu?" Bentak Wijaya geram sambil memegangi tangannya yang terluka dan mengeluarkan sedikit darah.
"Dia ini Ronald, adiknya Samsul, dia baru saja keluar dari penjara." Ujar Bramantio memberitahu Wijaya.
"Aku gak kenal kamu, dan aku gak ada urusannya denganmu !!" Bentak Wijaya pada Ronald.
"Bedebaaah sialan !! Berani beraninya kamu membentakku !!" Ujar Ronald marah.
Ronald mencekik kuat leher Wijaya, dia menyeringai buas dan geram menatap tajam wajah Wijaya yang kesakitan dan susah bernafas karena lehernya dicekik.
"Lepaskan Nald ! Lepaskan !! Jangan bunuh dia !!" Ujar Bramantio pada Ronald.
Dengan kesal dan marah Ronald pun melepaskan cengkraman tangannya di leher Wijaya.
Wijaya memegangi lehernya yang sakit di cengkram kuat tangan Ronald, dia mengambil nafas dalam dalam. Berusaha mengembalikan nafasnya yang tersengal sengal.
"Sekali lagi kamu berani teriak didepanku, aku cincang cincang tubuhmu jadi seratus bagian !!" Bentak Ronald melotot menatap Wijaya.
"Dia ini pembunuh berantai yang suka memutilasi korbannya." Ujar Bramantio berbisik di telinga Wijaya.
Wijaya terdiam, dia pun langsung takut dengan Ronald setelah mendengar penjelasan Bramantio.
"Anakku juga Mati dibunuh." Ujar Bramantio.
"Apa maksudmu?!" Ujar Wijaya kaget.
"Ya, Mike di bunuh, aku yakin, pembunuhnya orang yang sama dengan yang membunuh Samsul dan anggota ganknya, juga Pak Jauhari, Kepala Desa Rawas." Ujar Bramantio.
"Jadi, kamu udah tau, kalo Samsul mati dibunuh?" Ujar Wijaya.
"Iya, aku tau. Aku melihatnya di tv, Kepala Samsul di kirimkan padamu." Ujar Bramantio.
"Ya, aku menerima potongan kepala Samsul." Ujar Wijaya.
"Aku juga di kirimin potongan tangan Jauhari sama pembunuh itu." Ujar Bramantio.
"Apa ? Jadi ? Ini semua ulah pembunuh itu? Apa maksudnya mengirim potongan kepala Samsul dan tangan Jauhari padaku dan ke kamu?!" Ujar Wijaya marah.
"Karena dia sedang meneror kalian berdua ! Dia menebarkan ancaman pada kalian, membuktikan, jika dia bersungguh sungguh memburu kalian!" Ujar Ronald sinis.
Wijaya dan Bramantio pun terdiam mendengar perkataan Ronald.
"Dia sedang memanfaatkanmu ! Agar kamu terpengaruh, dan dia berhasil mengadu domba kalian berdua, agar kalian saling membunuh!" Ujar Ronald lagi.
"Jadi, maksudmu? Mike bukan pembunuh Linda? Tapi orang yang membunuh Samsul lah pembunuh Linda yang sebenarnya, begitu?" Tanya Wijaya pada Ronald.
"Maybe yes, maybe no." Jawab Ronald cuek.
Ronald lantas duduk kembali di sofa dengan sikap cuek dan santainya.
"Kamu dibohongi orang itu Wijaya, dia sengaja bilang kalo Mike yang membunuh Linda, itu akal akalannya aja, agar kamu menyerangku, dia sedang memanfaatkan kamu untuk membalaskan dendam dia padaku." Ujar Bramantio.
"Kalo Mike pembunuhnya, Polisi pasti lebih dulu tau darinya Wijaya." Ujar Bramantio.
Wijaya terdiam, dia tampak percaya dengan perkataan Bramantio.
__ADS_1
Bramantio berusaha memainkan pikiran Wijaya, agar Wijaya terpengaruh olehnya, dan percaya dengan ucapannya, sehingga, Wijaya tidak lagi menuduh Mike yang membunuh Linda, anaknya Wijaya.
Walaupun memang Mike yang membunuh Linda, namun Bramantio ingin Wijaya tidak berfikir jika Mike pelakunya, melainkan Wijaya menuduh orang yang menyampaikan berita padanya lah yang membunuh Linda.
"Keparaaat, jadi orang itu sengaja membodohiku?" Bentak Wijaya penuh amarah.
"Ya, begitulah." Ujar Bramantio.
Bramantio ingin memanfaatkan Wijaya. Sebab, dia berfikir, dengan bergabungnya Wijaya dengan dirinya, maka kekuatannya akan bertambah.
Dan mereka bisa bersama sama melawan dan menghadapi musuh mereka bersama.
"Kita harus bekerjasama melawan orang itu Wijaya." Ujar Bramantio.
Dia menatap tajam wajah Wijaya yang diam dan tampak sedang berfikir.
Bramantio berharap, Wijaya menerima ajakannya untuk bergabung dan bekerja sama dengannya.
"Kita akan membalas dendam, kita akan di bantu Ronald." Ujar Bramantio.
Wijaya melirik Ronald yang duduk cuek di sofanya.
Wijaya lantas menarik nafasnya dalam dalam, lalu dia pun menatap wajah Bramantio.
"Baik, aku setuju, mari kita sama sama melawan orang itu !" Ujar Wijaya geram.
"Terima kasih Wijaya !" Ujar Bramantio tersenyum senang.
Bramantio lantas menyodorkan tangannya, Wijaya menyambut uluran tangan Bramantio, mereka pun saling berjabatan tangan.
---
Di ruangan kamar yang sempit, Yanto mengamuk melihat layar monitor cctv.
"Bedebaaaahhh, manusia manusia busuuuukkk !! Siaalaaaan !!! Kaliaaaan akan membusuk di kerak nerakaaaa !!" Teriak Yanto kalap dan mengamuk.
Dia melemparkan monitor dan benda benda lainnya yang ada diatas meja.
Yanto marah, melihat di layar monitor cctv, Wijaya bukannya membunuh Bramantio, tapi malah berdamai dengan Bramantio.
Yanto sangat marah, karena dia merasa dirinya gagal pengaruhi Wijaya dan mengadu domba Wijaya dan Bramantio.
"Tolooolll !! Kamu Tooollloooolll Wijaya !! Kamu mau aja dibodohi Bramantio !! Anakmu benar di bunuh Mike, anaknya si Bramantio itu !! Mengapa kamu lebih percaya manusia tengik itu dari pada aku Wijayaaaa !! Keparaaaat kaliaaan semuaaa !!" Teriak Yanto sekeras kerasnya.
Yanto meluapkan amarahnya yang sudah menggelegar di dalam dirinya.
Emosinya memuncak, dia sudah tak bisa lagi menahan kemarahannya, matanya memerah, wajahnya geram, dia menyeringai bengis.
"Siapa manusia setan yang bersama si Bramantio itu?!" Ujar Yanto masih marah.
Dia ingin tahu, siapa Ronald, dan mengapa dia ada diruang kerja Bramantio, dan Yanto berfikir, apa maksud perkataan Bramantio yang dia dengar dari audio yang di sembunyikannya di ruang kerja Bramantio.
Yanto pun semakin geram dan marah, dia semakin bertekat untuk menghabisi Bramantio dan Wijaya juga Ronald.
Ya, Yanto akan menghabisi Ronald, jika dia ikut campur dan menghalangi aksi balas dendamnya nanti kepada Bramantio dan Wijaya.
---
Malam harinya, Gavlin tampak keluar dari dalam rumahnya lalu berjalan menyusuri trotoar jalanan.
Gatot yang bersembunyi di balik gardu listrik, mengikuti Gavlin.
Gatot sengaja mengintai dan mengawasi pergerakan Gavlin, karena dia curiga pada Gavlin, dan dia yakin, Gavlin akan beraksi untuk membalas dendam.
Dan seperti dugaan Gatot, malam ini, Gavlin pun pergi dari rumahnya.
Dengan wajah memendam amarah, Gavlin berjalan cepat menyusuri trotoar jalanan.
Gatot berusaha terus mengikuti Gavlin yang berjalan cepat tersebut.
Saat di belokkan sebuah gang, Gatot kehilangan Gavlin, dia mencari cari, namun, dia tak menemukan Gavlin.
Di sebuah gang, Gavlin bersembunyi, dia tahu sejak dari rumahnya, Gatot mengikutinya, sebab itu, Gavlin pun bersembunyi, menghindari Gatot.
Gavlin berjalan ke arah lain, sementara Gatot melanjutkan jalannya untuk mencari Gavlin, dia berbelok ke gang yang berbeda dengan Gavlin.
Gavlin berlari cepat, dia berlari menuju apartemen milik Yanto.
Sesampainya di halaman gedung apartemen, dengan cepat Gavlin masuk ke dalam gedung apartemen tersebut.
Sementara, Gatot masih terus mencari cari keberadaan Gavlin, wajahnya tampak kesal, sebab dia kehilangan Gavlin.
"Sial ! Apa anak itu tau, kalo aku mengikutinya?!" Bathin Gatot.
Wajah Gatot tampak geram, karena dia merasa sudah di perdaya Gavlin.
Dia marah, karena sebagai Polisi, dengan mudahnya Gavlin menipu dirinya, dia yakin, Gavlin tahu kalau dia mengikutinya.
Oleh sebab itu Gavlin bersembunyi dan menghindar darinya.
Gatot pun melanjutkan pencariannya.
Di persimpangan jalan ruko ruko, Gatot berjalan sambil matanya terus mencari cari Gavlin.
Muncul Yanto dari sebuah gang di samping ruko toko pakaian, Yanto berpapasan dengan Gatot.
Gatot yang serius mencari Gavlin, tak menyadari keberadaan Yanto, apalagi saat itu Yanto memakai topi hitam , berkumis dan berjenggot serta memakai jaket kulit.
Gatot tidak mengenal Yanto, Saat berpapasan dengan Gatot, mulut Yanto tersungging sinis.
Dia berhasil memperdaya Gatot untuk kedua kalinya. Gavlin sengaja merubah dirinya menjadi sosok Yanto, agar Gatot tidak dapat mengenali dirinya.
__ADS_1
Sebab dia tahu, Gatot hanya curiga pada sosok Gavlin, sementara dengan sosok Yanto, Gatot sama sekali tidak tahu.
Ya, Gatot tidak tahu dan tidak menyadari, jika Yanto dan Gavlin itu orang yang sama.
Yanto pun berjalan dengan santainya, dia berjalan sambil bersiul siul senang.
Sementara Gatot tampak pusing dan kesal, sebab, dia sudah mencari kemana mana, tapi Gavlin tidak juga dia temukan.
Dengan rasa jengkel dan kesal, Gatot pun kembali ke mobilnya yang sengaja dia parkir di halaman Mini Market.
Gatot masuk ke dalam mobilnya, lalu dia pun pergi meninggalkan tempat parkirnya dihalaman Mini Market.
---
Yanto berdiri dalam kegelapan di balik tembok pojokan rumah Surya, Asisten Manager Bramantio.
Yanto sengaja menunggu, matanya tajam mengintai seluruh pekarangan rumah Surya yang berbentuk minimalis tersebut.
Sesaat kemudian, pintu gerbang terbuka secara otomatis, lalu, mobil Surya masuk ke halaman rumahnya.
Yanto dipojokan tembok pembatas rumah Surya tetap berdiri diam dan mengintai.
Matanya terus mengawasi mobil Surya yang melaju masuk ke dalam garasi mobil.
Dengan cepat, Yanto pun bergerak, seketika Yanto sudah melesat ke arah garasi mobil.
Surya mematikan mesin mobilnya, dia lantas melepaskan sabuk pengamannya, lalu, dia mengambil tas kerjanya yang tergeletak di jok belakang mobilnya.
Surya pun lalu keluar dari dalam mobilnya, dia menutup pintu mobil kembali.
Surya tak menyadari sama sekali, jika Yanto sedang mengintainya.
Tiba tiba saja, seutas tali tambang panjang menjerat lehernya. Dengan cepat, Yanto melesat mendekati Surya.
Yanto lantas mengencangkan belitan tali tambang di leher Surya. Surya tampak meronta, dia kesulitan untuk bernafas, sebab, tali tambang menjerat lehernya.
Dengan dinginnya, Yanto menarik tali tersebut, dia melemparkan tali ke atas kayu balok yang ada di atap garasi mobil Surya.
Lalu Yanto menarik tali tambang tersebut sekuat tenaga.
Tubuh Surya pun mulai terangkat perlahan lahan, Surya memegangi tali yang menjerat lehernya, dia semakin susah bernafas.
Wajah Surya memerah karena tak bisa bernafas normal, Yanto tak perduli dengan keadaan Surya yang megap megap itu.
Dengan cepat, Yanto menarik tali tambang, Surya pun tergantung di atas atap garasi mobilnya, dengan leher terjerat tali tambang.
Yanto lalu mengikatkan tali tambang ke tiang besi listrik rumah Surya, yang ada disamping garasi mobil.
Dengan kencang, Yanto mengikat tali tambang di tiang listrik tersebut. Agar Surya tetap tergantung dan tidak terjatuh.
Diatas atap, dengan tubuh yang tergantung, Surya meronta ronta gelagapan susah bernafas, kakinya bergerak ke sana kemari, tangannya memegangi tali tambang, berusaha untuk melepaskan lehernya dari jeratan tali.
Namun, Surya tak berhasil melepaskan dirinya, Surya semakin kehabisan nafasnya.
Yanto berdiri tepat di depan Surya yang tergantung. Yanto tersenyum sinis, lalu dia menyeringai buas menatap wajah Surya yang tergantung.
Dari atas, Surya melihat sosok Yanto berdiri di hadapannya sedang melihat dirinya.
Surya berusaha untuk bicara, namun dia tak bisa mengeluarkan suaranya.
Tali tambang sangat kencang melingkar di lehernya.
Yanto tersenyum sinis menatap wajah Surya yang kesusahan untuk bernafas.
"Bye bye... Maaf aku membunuhmu, aku bermaksud menyampaikan pesan pada Bram, agar dia berhati hati dan tak meremehkanku." Ujar Yanto dengan sikap cuek dan santainya.
Mata Surya mendelik dan melotot, dia takut dibunuh, dia menggerak gerakan tubuhnya, dengan gerakan kaki dan seluruh tubuhnya, Surya memohon pengampunan Yanto.
Namun, Yanto tak perduli dengan Surya yang meronta ronta minta dilepaskan itu.
Yanto tertawa tawa senang melihat Surya tersiksa. Yanto pun mengabadikan moment Surya tergantung itu dengan kamera ponselnya.
Dengan wajah dingin dan tatapan mata yang menyeramkan, Yanto merekam Surya yang tergantung diatas atap garasi mobilnya.
Yanto terus merekam, mengambil gambar, hingga akhirnya, Surya pun terkulai lemah dan tak berdaya.
Surya benar benar telah kehabisan nafas, Surya pun meregang nyawa dengan posisi tergantung seperti orang bunuh diri.
Yanto menyeringai bengis, dia tertawa puas melihat kematian Surya.
Wajah Yanto terlihat sangat puas, karena dia sudah menyiksa Surya dengan keji hingga mati.
"Mampus kamu !!" Ujar Yanto jijik.
Lalu, Yanto pun bergegas pergi, dengan cepat, Yanto sudah menghilang di kegelapan malam.
Dia membiarkan tubuh Surya terikat dan tergantung di atap garasi mobilnya.
Tubuh Surya terus tergantung diatas atap, sampai seseorang nanti menemukan mayatnya yang tergantung itu.
Satu persatu, dengan caranya yang tak dapat di tebak, Yanto, atau dikenal juga dengan nama Gavlin menjalani aksi balas dendamnya.
Siapa saja orang yang dekat dengan Bramantio atau Wijaya akan dia bunuh, siapa saja yang melindungi Bramantio dan Wijaya, dia tak akan segan segan membantai dan membunuhnya.
Dia tidak hanya menargetkan para pelaku yang terlibat dalam kematian Bapak dan ibunya, serta pembakaran rumahnya dulu.
Tapi dia sekarang akan membunuh siapa saja yang berteman dan membantu Bramantio dan Wijaya.
Siapapun orangnya, Yanto atau Gavlin tak perduli, jika dia merasa, aksinya dihalangi, dia akan membantai orang orang tersebut.
Karena dendam kesumatnya bertahun tahun, Yanto pun benar benar menjadi monster pembunuh berdarah dingin yang kejam dan sadis.
__ADS_1