
Gavlin keluar dari dalam kamar ruang ICU, dia menghampiri Teguh yang masih berdiri menunggu, Maya pun berdiri dan mendekati Gavlin.
"Kamu di suruh masuk, bang Bro." ujar Gavlin pada Teguh.
"Ya." Angguk Teguh.
Teguh lantas segera masuk ke dalam kamar ruang ICU, untuk menemui Gatot.
"Ayah bilang apa aja sama kamu, Vlin?" tanya Maya, dengan wajah ingin tahu.
"Banyak, May. Salah satunya, Ayahmu udah lama tau, kalo aku saudara tiri dengan Bang Teguh, dia menutupinya selama ini." Jelas Gavlin.
"Masa sih?!" Ujar Maya, kaget.
"Aku juga gak nyangka, Om gatot bisa nemukan bukti tentang hubunganku dengan bang Teguh." ungkap Gavlin.
"Apa, Ayahku tau, waktu dia juga tau, kalo kamu adalah Yanto?" Tanya Maya.
"Iya, dia tau, saat mencari berkas berkas adopsi aku dulu." ungkap Gavlin.
Maya terdiam, dia mengangguk mengerti dan paham.
"May, aku pergi dulu, ya. Ada urusan penting." ujar Gavlin.
"Ya, Vlin." Jawab Maya.
Maya tak mencegah Gavlin pergi, dia tahu, ada sesuatu hal yang sedang di pikirkan Gavlin dan mau dia urus, itu tergambar jelas dari wajah Gavlin, yang menyiratkan kesedihan dan duka serta amarah mendalam.
Maya tak tahu, apa lagi yang Gavlin bahas bersama Ayahnya selain tentang hubungan dia dan Teguh. Dan Maya tak mau mengganggu pikiran Gavlin.
"Tolong bilang Bang Teguh, Aku ada urusan, suruh dia hubungi aku nanti." Ujar Gavlin.
"Ya, Vlin." Jawab Maya tersenyum.
Gavlin pun lantas pergi meninggalkan Maya, Maya berdiri memandangi kepergian Gavlin. Maya menghela nafasnya, lantas, dia duduk di bangku tunggu.
---
Sutoyo menghentikan mobilnya di pinggir jalan, lalu dia menoleh pada Bramantio, yang duduk di jok depan, di sampingnya.
"Kamu turun di sini, Bram. Aku mau ke arah kiri, ke kantorku." ujar Sutoyo.
"Aku harus kemana ?!" tanya Bramantio, dengan wajah bingungnya.
"Ya, ke hotel. Cari hotel yang nyaman buat persembunyianmu! Atau, beli apartemen sekalian buat tempat tinggalmu yang baru!" tegas Sutoyo kesal.
"Bram! Kamu gak bisa ikuti aku terus, kalo kamu terus bersamaku!! Kita akan ketauan, kamu tau kan, anak buahku, Gatot dan Teguh mencurigaiku!!" Tegas Sutoyo.
"Ya." Jawab Bramantio dengan sikap dingin.
Tanpa basa basi, Bramantio pun lantas melepaskan sabuk pengaman, dia kemudian membuka pintu mobil, lalu keluar dari dalam mobil, Bramantio lantas menutup pintu mobil.
Sutoyo pun lantas segera menjalankan mobilnya, dia pergi meninggalkan Bramantio sendirian, berdiri di atas trotoar, pinggir jalan.
Bramantio menghentikan sebuah taksi, dia bergegas masuk ke dalam taksi, lalu, taksi pun segera pergi, berlalu dari tempat tersebut.
Teguh keluar dari dalam kamar ruang ICU, dia mendekati Maya yang duduk di bangku tunggu.
"Gavlin mana, May?" tanya Teguh.
Dia heran, karena Gavlin tak ada, dan tidak menunggunya.
"Dia pergi, Mas." Jelas Maya.
"Dia menyuruh Mas Teguh nelponnya." ungkap Maya.
"Ya." Jawab Teguh.
Teguh pun lantas mengambil ponsel dari dalam kantong celananya. Dia pun mau menelpon Gavlin.
Di dalam kamar, tempat penyimpanan senjata senjatanya, tampak Gavlin mengambil sebuah senapan mesin dari dalam lemari besar. Dia juga mengambil beberapa kotak peluru.
Gavlin lantas menyelempangkan senjata mesin ke bahunya. Dia lantas menutup lemari tersebut, wajah Gavlin tampak sangat geram dan marah.
Ponsel Gavlin berdering, Gavlin pun lantas mengambil ponsel dari dalam kantong celananya. Dia melihat, Teguh yang menelpon.
"Ya, Bang Bro." ujar Gavlin, di telepon.
__ADS_1
"Kamu dimana?" Tanya Teguh, dari seberang telepon.
"Di rumahku, kenapa?!" tanya Gavlin, di telepon.
"Kita ketemu, ada yang mau aku bilang sama kamu." Jelas Teguh, dari seberang telepon.
"Soal, Om Gatot tau, kalo kita saudara tiri? Kalo itu, aku udah tau bang Bro." Tegas Gavlin, ditelepon.
"Bukan, ada yang lain lagi, yang harus aku sampaikan." Jelas Teguh, menegaskan dari seberang telepon.
Gavlin terdiam, untuk sesaat dia berfikir, dia bertanya tanya, apa yang mau di sampaikan Teguh kepadanya.
"Ok, Bang Bro. Kita ketemu di depan kantormu, aku ke sana sekarang!" tegas Gavlin, di telepon.
"Ok. Aku tunggu." Ujar Teguh, dari seberang telepon.
Lalu, terdengar suara telepon terputus, Gavlin pun lantas menyimpan ponselnya di kantong celananya.
Dia kemudian pergi keluar dari dalam kamar, tempat penyimpanan senjata senjatanya.
---
Teguh tampak berdiri di tangga halaman kantor kepolisian, di tangannya ada sebuah Map yang berisi berkas kasus. Dia tengah menunggu Gavlin datang.
Telepon Teguh berbunyi, Teguh pun lantas mengambil teleponnya, dia melihat, Gavlin yang menghubunginya.
"Kamu udah dimana?!" Tanya Teguh, di teleponnya.
"Di depan kantormu, di pinggir jalan." jelas Gavlin, dari seberang telepon.
"Ok, aku kesana, tunggu ya." Ujar Teguh, di telepon.
Dia lalu menutup dan menyimpan ponsel ke dalam celananya, dia lantas bergegas jalan keluar halaman kantornya, untuk menemui Gavlin.
Gavlin menunggu Teguh, dia duduk diatas motornya, dengan memakai helm, di bahunya, terselempang senapan mesin.
Teguh menghampiri Gavlin dengan membawa Map di tangannya, dia memberikan Map tersebut pada Gavlin.
"Ambillah, dan lihat." Ujar Teguh.
Gavlin lantas mengambil map dari tangan Teguh, wajahnya terlihat heran menatap wajah Teguh yang serius.
"Pak Gatot menyuruhku, memberikan berkas kasus kematian Bapakmu dulu. Berkas itu ada diruangan khusus untuk kasus beku." ungkap Teguh, menjelaskan.
Mendengar perkataan Teguh, Gavlin pun lantas membuka map tersebut, dia lalu membaca isi laporan dalam berkas.
Dia tampak geram dan menahan amarahnya, saat membaca keterangan dalam berkas, yang menyatakan tentang kematian Bapaknya yang mati di racun, dari bukti yang ditemukan Gatot dulu.
"Pak Gatot memberikan berkas itu, agar kamu tau kebenarannya, semua pernyataan Pak Gatot ada di dalam berkas itu, tapi, semua di bantah Sutoyo, Kepala Kepolisian yang sekarang, dulu, Sutoyo atasan pak Gatot!" Tegas Teguh menjelaskan.
"Ya, aku tau soal Sutoyo, Om Gatot yang mengatakannya, dia membisikkan nama Sutoyo padaku dirumah sakit." ungkap Gavlin, dengan wajah geram dan marah.
"Ini photo siapa bang Bro?!" tanya Gavlin heran.
Gavlin memegang sebuah photo dan menunjukkan pada Teguh.
"Dia Joko Sambodo, Kepala Sipir penjara, kamu pasti udah tau dari Pak Gatot, beliau menjelaskan semuanya padaku, kalo kamu udah dikasih taunya tentang kematian Bapakmu yang di racun." tegas Teguh menjelaskan.
Gavlin diam dan tak menjawab, wajahnya tampak semakin marah menatap tajam wajah Joko Sambodo di dalam photo yang dia pegang saat ini.
"Kamu mau kemana membawa senapan mesin?" tanya Teguh heran.
"Nemui musuhku! Aku mau membantainya!" Ujar Gavlin geram dan marah.
"Siapa?" tanya Teguh.
"Wijaya !" Tegas Gavlin, penuh amarah.
Teguh pun diam, dia tak menghalangi niat Gavlin membunuh Wijaya. Gavlin memberikan map berisi berkas pada Teguh, tapi dia menyimpan photo Joko Sambodo di kantong celananya.
"Simpan saja berkas ini bang Bro, aku gak butuh, yang ku butuhkan hanya photo Joko, agar aku tau wajahnya." jelas Gavlin, geram dan marah.
"Ya." Jawab Teguh.
Teguh lantas mengambil map berisi berkas kasus kematian bapak Gavlin, dari tangan Gavlin.
"Aku pergi, bang Bro." ujar Gavlin.
__ADS_1
Teguh mengangguk, mengiyakan, Gavlin lantas menutup kaca helm penutup wajahnya. Lalu, dia menyalakan mesin motornya. Kemudian, Gavlin pun pergi.
Teguh melihat kepergian Gavlin, lantas, dia pun berbalik badan, lalu kembali ke dalam kantornya.
---
Di dalam ruang rapat, tampak Wijaya dengan serius sedang memimpin rapat perusahaan bersama para rekan rekan bisnis dan investornya.
Di luar kantor Wijaya, Gavlin tampak berjalan sambil memegang senapan mesin di tangannya. Wajahnya tampak memerah karena marah, tatapan matanya tajam, sangat mengerikan.
2 Petugas Keamanan yang berdiri di depan pintu masuk kantor kaget melihat Gavlin berjalan mendekati mereka dengan memegang senapan mesin.
"Mau apa kamu?!" Bentak Seorang petugas keamanan.
Tanpa basa basi, dan tanpa bicara, Gavlin langsung menembak ke dua petugas keamanan dengan senapan mesinnya.
Kedua satpam pun mati terkapar di lantai, bersimbah darah. Gavlin dengan wajah bengisnya lalu dengan cepat masuk ke dalam kantor Wijaya.
Di dalam kantor, Gavlin pun mengamuk, dia melepaskan tembakan dari senapan mesinnya, para karyawan yang ada diruangan itu kaget dan takut, mereka berhamburan lari, untuk menyelamatkan diri masing masing.
Gavlin terus menembaki senapan mesinnya, dia melampiaskan amarahnya, mengamuk membabi buta, dia tak perduli, kalau perbuatannya akan membunuh banyak orang.
Bagi Gavlin, siapapun yang menghalangi langkahnya akan dia bantai, tak perduli wanita maupun pria.
Gavlin terus berjalan, dia menghampiri meja sekretaris, terlihat seorang wanita, sekretaris Wijaya tampak berjongkok, bersembunyi di samping meja kerjanya, dengan wajah ketakutan.
Gavlin mendekatinya, dia lantas berdiri di hadapan sekretaris yang ketakutan tersebut.
"Dimana Wijaya?!" Bentak Gavlin, dengan wajah penuh amarah.
"Di...di ruang rapat." Ujar Sekretaris, dengan ketakutan.
"Berdiri kamu!! Antar aku ke ruang rapatnya!!" Hardik Gavlin, sambil mengarahkan senapan mesin ketubuh Sekretaris.
Dengan cepat, sekretaris pun berdiri, dia tampak gemetar ketakutan menatap wajah Gavlin yang sangat mengerikan itu.
"Sa...saya akan mengantar...Anda...tapi, jangan...bunuh saya." ujar Sekretaris ketakutan.
"Jangan banyak bacot !! Cepat jalan!!" Bentak Gavlin marah.
Sekretaris pun lantas segera pergi untuk mengantarkan Gavlin menemui Wijaya di ruang rapatnya. Gavlin pun berjalan mengikuti Sekretaris.
Saat Gavlin berjalan mengikuti Sekretaris, tampak beberapa petugas keamanan berlari ke arahnya, mereka hendak menghadang langkah Gavlin.
Dengan cepat, Gavlin pun menembak para petugas keamanan tersebut, Sekretaris ketakutan dan menjerit, dia menutup kedua telinganya, dia berdiri gemetar ketakutan.
Gavlin terus menembaki para petugas keamanan, para petugas keamanan pun terkapar, mati di lantai. Kemudian, dengan ujung senapan mesinnya, dia mencolek bahu Sekretaris.
"Ayo jalan!" Bentak Gavlin marah.
Sekretaris pun lantas segera berjalan kembali menuju ruang rapat Wijaya, Gavlin mengikutinya dari belakang, sambil tetap memegang senapan mesinnya.
Di dalam ruang rapat, tampak Wijaya dan para rekan rekan bisnis serta Investor terdiam, mereka kaget, karena mendengar, seperti ada suara tembakan yang cukup keras di luar ruang rapat tersebut.
Belum hilang rasa kaget mereka, termasuk Wijaya, tiba tiba, pintu terbuka lebar, karena di tendang paksa Gavlin.
Wijaya terhenyak kaget melihat Gavlin berdiri di luar, depan pintu masuk ruang rapat.
"Gavlin?!!" Gumam Wijaya, terhenyak kaget.
Wijaya melihat, Gavlin berdiri dengan wajah penuh amarah, dia juga melihat, di tangan Gavlin, ada senapan mesin.
Sekretaris yang ketakutan, segera lari menyelamatkan diri, dia berlari ketakutan.
"Wijaaaaayaaaaa!!!! Ku buuuunuuuh kamuuu!!" Teriak Gavlin, meluapkan amarahnya.
"Heeeeiii !!! Jangan teriak teriak!!" Bentak seorang Investor marah pada Gavlin.
Gavlin dengan marah, menatap Investor yang membentaknya, tanpa mengeluarkan sepatah katapun, Gavlin langsung menembak Investor tersebut.
Bukan hanya Investor tersebut saja yang ditembaknya, tapi seluruh orang yang ada dalam ruang rapat itu, di tembak Gavlin.
Wijaya tampak pucat pasi, dia ketakutan, melihat semua orang mati terkapar dengan luka tembak diseluruh tubuhnya.
Gavlin berdiri diam di depan pintu masuk ruang rapat, dia menatap tajam wajah Wijaya, yang tampak sangat ketakutan.
Gavlin tersenyum menyeringai jahat, Wijaya semakin takut, karena dia melihat, saat ini, wajah Gavlin sangat mengerikan.
__ADS_1
Wijaya juga heran, mengapa Gavlin tiba tiba menemuinya dengan mengamuk membabi buta, membunuhi semua orang.
Wijaya pun semakin takut, dia mulai tersadar, jika Gavlin datang menemuinya, dengan satu tujuan, akan membalas dendam pada dirinya.