
Herman datang bersama Peter karena Jack Hutabarat menghubungi dan menyuruh mereka datang ke kantornya di kejaksaan agung.
Herman dan Peter sama sama terhenyak kaget dan syock melihat mayat Prawira kaku dan menjadi patung lilin.
"Biaaaadddaaab anak Sanusssiii!! Ini gak bisa di biarkan!!" ujar Herman, penuh amarah.
"Kalo kita gak cepat bertindak, Gavlin itu akan membantai kita satu persatu, kita harus bergerak cepat! Kita harus lebih dulu membantai Gavlin!!" tegas Herman, penuh amarah dalam dirinya.
"Ok, akan ku kerahkan banyak anak buahku untuk segera mencari lokasi tempat persembunyian si Gavlin ! Aku yakin, dia masih ada di kota ini!!" tegas Peter geram dan marah.
"Bila perlu tangkap Gatot dan anaknya, jadikan sandera untuk memancing si Gavlin datang menemui kita!!" tegas Herman memberi ide jahatnya.
"Tapi Herman dan anaknya juga menghilang kan? Mereka sudah gak tinggal dirumahnya lagi!!" ujar Peter .
"Dia pasti sama si Gavlin, Gavlin pasti menyembunyikan mereka!" tegas Jack Hutabarat.
"Gavlin menantangku, dia juga sudah berani mengancamku, katanya, setelah dia berhasil membunuh Prawira, dia akan membunuhku!!" tegas Jack dengan wajah tegang dan khawatirnya.
"Kamu tenang aja, Jack ! Akan ku tugaskan sebagian anak buahku untuk berjaga jaga di sekitar rumah dan tempat kerjamu!" ujar Peter.
"Akan ku suruh juga anak buahku melindungi kamu nanti!" jelas Peter serius.
"Ok, aku setuju!" ujar Jack senang.
"Sekarang, kita harus menyingkirkan dan menguburkan mayat Prawira, jangan sampai orang lain melihat mayatnya, bisa runyam urusannya nanti!" tegas Herman.
"Bagaimana dengan keluarganya? Kalo istri dan anak Prawira gak tau kematian Prawira, mereka pasti mencarinya! Kita harus mengabarkan kematian Prawira pada keluarganya!!" tegas Jack Hutabarat.
"Biar itu jadi urusanku, aku yang akan bilang nanti sama istrinya, kalian pikirkan saja cara untuk memburu si Gavlin dan membunuhnya!" tegas Herman, dengan wajah serius.
"Baiklah!" ujar Jack Hutabarat.
Mereka bertiga terlihat sudah semakin panik, sebab, dua teman mereka sudah mati di bunuh Gavlin, satu persatu komplotan Herman di bantai Gavlin. Itu sebabnya, Herman, Peter dan Jack bersiap siap untuk menangkap Gavlin lebih dulu, agar nyawa mereka selamat.
"Aku akan suruh orang kepercayaanku untuk menyingkirkan mayat Prawira dan menguburkannya." ujar Jack Hutabarat.
Herman dan Peter mengangguk setuju dengan rencana Jack Hutabarat.
Karena semakin panik, mereka pun bergerak cepat untuk memburu Gavlin.
---
Richard sedang bersiap siap untuk menggeledah rumah Herman, saat itu, datang Mulyono, sang Mensesneg, dia masuk ke dalam ruang kerja Richard dikantor kepolisian.
Melihat kedatangan Mulyono masuk ke dalam ruangannya begitu saja tanpa seizin dirinya membuat Richard marah. Dia tak suka dengan kedatangan Mulyono.
Saat Mulyono datang ke kantor kepolisian lalu masuk ke dalam ruang kerja Richard, tak ada seorang pun yang berani melarang dan mencegah Mulyono masuk ke dalam ruang kerja Richard.
__ADS_1
Karena para petugas kepolisian mengenal Mulyono sebagai Mentri Sekretaris Negara, dan orang paling dekat dengan Presiden.
Mulyono masuk dan berjalan mendekati Richard yang berdiri sambil bertolak pinggang, Mulyono berdiri di depan Richard.
"Mau apa kamu kesini!! Aku kan sudah bilang, kita sudah gak ada hubungan apapun lagi!!" tegas Richard, penuh amarah dan kebencian pada Mulyono.
"Ya, aku tau itu, tapi aku datang untuk memohon padamu." ujar Mulyono dengan wajah memelasnya.
"Buat apa? Aku gak mau bicara denganmu! Sebaiknya kamu keluar dan pergi dari sini Mul!!" bentak Richard, penuh emosi marah.
"Chard ! Anakku ternyata mati!! Dia dan istrinya di bunuh Herman dan komplotannya!!" tegas Mulyono, memberi tahu Richard.
Richard terkesiap kaget mendengar perkataan Mulyono, ditatapnya tajam wajah Mulyono yang tampak sedih dan menahan tangisnya.
"Herman mengingkari janjinya, aku kira, dia benar benar sudah melepaskan anakku serta istrinya!" ujar Mulyono dengan wajah sedih dan menahan geramnya.
"Aku percaya sama Herman, karena saat itu, aku telpon anakku, dan anakku bilang, dia dan istrinya sudah di bebaskan Herman dan komplotannya, anakku bilang, mereka lagi di jalan untuk pulang kerumahnya!" lanjut Mulyono menjelaskan.
"Aku tunggu tunggu anakku, tapi dia dan istrinya gak juga datang ke rumahku, sampai besoknya, aku kerumahnya, tapi, Anakku juga gak ada dirumahnya!" tegas Mulyono.
"Sore harinya, Petugas Polisi memberi kabar, mereka menemukan mayat anakku dan istrinya di dalam mobil, yang berhenti di pinggir jalanan sepi!" jelas Mulyono, dengan menahan sedihnya.
"Aku datang, dan aku pun memastikan , bahwa mayat itu benar anakku dan istrinya." ujar Mulyono lirih dan getir.
Richard terdiam mendengar penjelasan Mulyono, dia pun terenyuh mengetahui anak kesayangan dan semata wayang Mulyono mati di bunuh Herman dan komplotannya.
"Entahlah! Mungkin dia gak percaya padaku, sebab, dia mendengar, kalo aku sempat menyarankan kamu, untuk menangkap Herman dan komplotannya dengan membuka kasus lainnya di luar kasus 18 tahun lalu!" jelas Mulyono.
"Dan Herman sempat marah padaku, tapi setelah aku berusaha menjelaskan dan meyakinkannya, dia pun lantas gak marah, Herman lalu pergi begitu saja dari rumahku!" lanjut Mulyono bercerita dengan wajah sedihnya.
"Keparaaat Herman!!" Ujar Richard geram dan marah.
"Kamu benar benar di peralat Herman ! Kamu udah di manfaatkan si Herman, dan dia lantas mengingkari janjinya sama kamu!!" ujar Richard.
"Iya, Chard ! Karena itu, aku ke sini, aku tau kamu pasti bergerak untuk mencari data asli dari kasus 18 tahun lalu setelah aku mengaku bahwa Herman memalsukan datanya." ujar Mulyono.
"Aku mau ikut denganmu menangkap Mulyono !! Aku ingin membalas perbuatan Herman yang sudah membunuh anakku dan istrinya!!" Ucap Mulyono, dengan menahan emosi amarahnya.
"Herman harus mendapat balasan yang setimpal dariku!!" tegas Mulyono, geram dan menahan amarahnya.
"Baiklah. Demi anakmu dan istrinya, aku izinkan kamu ikut denganku!" ujar Richard.
"Tapi ingat!! Kamu gak boleh berbuat macam macam, dan jangan gegabah, apalagi sampai emosi pada Herman! Kamu harus diam dan tenang!!" ujar Richard, memberi peringatan pada Mulyono.
"Biarkan aku dan Gatot yang bertindak, serahkan Herman pada kami! Kamu bisa menyaksikan, bagaimana kami menyeret Herman untuk di tahan nanti!" tegas Richard, dengan wajahnya yang serius.
"Ya, Aku ngerti dan paham." ujar Mulyono.
__ADS_1
"Ikut Aku sekarang!" ujar Richard.
Lantas, Richard pun pergi keluar dari dalam ruang kerjanya, Mulyono pun bergegas mengikutinya, dia juga segera keluar dari dalam ruang kerja Richard.
---
Di sebuah lokasi perjudian yang remang remang, tampak beberapa orang sedang bermain kartu, diantara mereka, ada seorang Pria yang berkumis tebal dan rambutnya yang gimbal. Di lehernya terselip sebuah kalung berliontin emas, dia juga memakai jam tangan yang berharga tatusan juta.
Orang tersebut adalah Jafar, selama ini, Jafar tak bisa di buru dan tak ada yang mengenali dirinya sebagai buronan, karena dia menyamar dan terus merubah ubah penampilannya hampir setiap hari.
Dan kali ini, diapun menyamar, namun, kebiasaannya mabuk mabukan dan berjudi, tidak bisa di hilangkan, biar dia menyamar menjadi sosok orang lain, tetap saja kegemarannya pada judi dan minuman keras serta main perempuan tak bisa di hilangkan.
Saat ini, tampak Jafar kesal, karena dia kalah judi, uangnya sudah habis, bahkan jam tangannya yang berharga ratusan juta serta kalung berliontin emas sudah di jadikan taruhan judinya.
Jafar berharap, dengan jam tangan dan kalung berliontin emasnya dia bisa menang, dan uangnya yang sudah lenyap karena kalah banyak ratusan juta bisa balik lagi ke kantongnya.
Namun, apa yang diharapkan dan di inginkan Jafar berbeda, saat membuka kartunya, dia syock, karena kartu yang di milikinya tidak seperti apa yang di bayangkannya.
Dan Jafar pun kembali kalah, jam tangan ratusan juta serta kalung berliontin emas pun melayang, berpindah tangan kepada orang yang tampil sebagai pemenang dalam permainan judi.
"Siaaal !!" ujar Jafar marah.
Lantas, dia pun berdiri dan meninggalkan meja perjudian, orang orang yang menjadi lawan mainnya hanya tersenyum sinis melihat kepergian Jafar.
Jafar berjalan terhuyung huyung keluar dari dalam ruang perjudian, dia tampak tengah mabuk. Setiap dia berjalan, dia selalu menyenggol orang orang yang ada di sekitarnya.
Jafar lantas keluar dari dalam ruang perjudian, dia berjalan menuju mobilnya yang parkir di halaman gedung perjudian.
Hanya yang tersisa miliknya cuma mobilnya saja, dan mobil itu pun hasil pemberian Masayu, kekasihnya itulah yang membelikannya mobil secara diam diam tanpa sepengetahuan Bramantio tentunya.
Jafar masuk ke dalam mobilnya, sesaat kemudian, dia pun menjalankan mobilnya, lalu pergi meninggalkan lokasi perjudian.
Dalam keadaan mabuk, Jafar menyetir mobilnya, mobil melaju dijalanan dengan zig zag, karena Jafar mengendarai mobil dalam keadaan mabuk.
Saat mobilnya melintas di jalanan, dia tak melihat lampu berubah merah, seorang wanita setengah baya berjalan di penyebrangan jalan, sebab, giliran pejalan kaki yang menyebrangi jalanan.
Mobil Jafar terus melaju, karena dia dalam kondisi mabuk, dia tak melihat wanita yang sedang jalan di penyeberangan jalan.
Dengan cepat, mobilnya pun menghantam tubuh wanita yang berjalan di garis penyebrangan jalan, tubuh wanita itu terpental jatuh ke aspal jalanan.
Mobil Jafar terus melaju, bukan menghentikan mobilnya, dia terus menjalankan mobilnya, hingga akhirnya, mobilnya pun menginjak tubuh wanita yang terbaring di aspal dengan luka kepala.
Wanita itu pun di lindas mobil Jafar, dengan nafas tersengal sengal dan merasakan sakitnya karena di tabrak dan di lindas mobil, matanya melihat mobil Jafar yang melaju menjauh meninggalkannya.
Jafar melarikan diri, dia membiarkan wanita itu terkapar di jalanan, masih dalam kondisi mabuk, Jafar pun menambah kecepatan mobilnya.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, meninggalkan lokasi tabrakan, orang orang berhamburan dan mengkerumuni wanita yang terkapar di aspal jalanan.
__ADS_1
Diantara orang orang yang berkerumun, ada salah seorang yang menghubungi Polisi dan Mobil ambulance, memberi tahu, bahwa terjadi tabrak lari di lokasinya saat ini.