VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Apa Malik Benar Tewas ?


__ADS_3

Sehabis menelpon Andre, Gavlin terlihat duduk tercenung dan berfikir keras di ruang tengah rumahnya, televisi menyala. Dia teringat dengan perkataan Andre yang bilang kalau Dia mendapat kabar bahwa pihak kepolisian negara Prancis telah menemukan satu mayat lagi yang wajahnya hancur dan belum teridentifikasi.


"Apa mayat yang baru saja ditemukan itu benar benar Malik?!" Bathin Gavlin.


"Ah, tidak. Aku harus memastikan kebenarannya terlebih dulu, dan menunggu hasil kepolisian yang sedang mengidentifikasi mayat tersebut." Gumam bathin Gavlin lagi.


Gavlin diam tercenung dan berfikir, Dia tahu dari televisi kemaren, yang menyiarkan berita penemuan satu mayat korban pesawat yang meledak, dengan kondisi wajah yang hancur, tak bisa dikenali, dan pihak kepolisian sedang mengidentifikasi mayat tersebut.


Tiba tiba, di televisi ada siaran langsung berita dari kepolisian yang menggelar jumpa pers saat ini. Gavlin lantas melihat ke televisi dan diam mendengarkan.


Beberapa saat kemudian, Wajah Gavlin terkesiap kaget dan syock, saat pihak kepolisian negara Prancis di depan awak media dan ditayangkan secara langsung menyatakan, bahwa mayat yang baru saja ditemukan sudah teridentifikasi sosoknya. Dan atas pernyataan pihak kepolisian, bahwa mayat tersebut di kenal dengan nama "Gavlin" , mereka mengetahui jati diri mayat yang ditemukan dari kartu pengenal yang mereka temukan dan sedikit terbakar akibat terkena ledakan dari pesawat.


Gavlin tercengang mendengarkan berita di televisi itu yang menyebut namanya, Dia seakan tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.


Gavlin lantas tersadar, cepat dia mengambil dompetnya dari kantong celananya, lalu, dia membuka dompet dan mencari kartu pengenal dirinya, namun, kartu pengenal tak ada di dalam dompetnya.


"Hilang. Kartu pengenalku gak ada di dompet. Apa memang Malik sengaja mengambil kartu tanda pengenal milikku, untuk menyamarkan kematian dirinya, dan agar, semua orang mengira bahwa mayat itu adalah aku? Karena ditemukan kartu tanda pengenalku pada mayat itu?!" Gumam Gavlin, bicara sendiri.


"Kalo memang benar Malik sengaja mengambilnya dari dompetku, itu artinya...artinya yang tewas itu...Maliiik?!!" Ujar Gavlin terhenyak.


Gavlin syock, dia terduduk lemas di sofa, mengetahui bahwa yang mati adalah Malik dengan sengaja menyimpan kartu tanda pengenal dirinya.


Gavlin terdiam, Dia tak menyangka, Malik benar benar melakukan bom bunuh diri, mempertaruhkan nyawanya demi melindungi dirinya dan mencegah Dia bunuh diri.


"Mengapa kamu melakukannya, Lik?" Ujar Gavlin, dengan lirih dan getir.


---


Beberapa hari kemudian, Masto masuk ke dalam ruang kerja Andre dan langsung menghampirinya. Andre yang sedang duduk di kursi meja kerjanya sambil mempelajari berkas kasus kejahatan yang ditanganinya menoleh pada Masto yang berdiri disampingnya.


"Ada apa?" Tanya Andre, menatap tajam wajah Masto.


"Saya mau melaporkan Pak. Bahwa, Baru saja saya mendapatkan kabar dari pihak kepolisian negara Prancis, mereka katakan, sudah mengetahui jati diri mayat yang terakhir mereka temukan." ujar Masto, menjelaskan pada Andre, dengan raut wajahnya yang serius.


"Oh, ya? Siapa mayat itu?" tanya Andre.


Andre berdiri dihadapan Masto dan menatap tajam wajah Masto yang terlihat serius itu.


"Pihak kepolisian negara Prancis menemukan kartu tanda pengenal dari dalam kantong celana korban, kartu itu ikut terbakar karena ledakan pesawat." ujar Masto, menjelaskan.


"Langsung saja ke intinya, gak usah bertele tele!" Tegas Andre kesal, karena Masto menjelaskannya panjang lebar.


"Maaf, baik Pak." ujar Masto.

__ADS_1


"Cepat, katakan , siapa namanya?!" tegas Andre.


"Dari kartu pengenal yang ditemukan, mayat itu bernama Gavlin, Pak." ungkap Masto, menatap serius wajah Andre.


"Gavliiin?!!" Andre terhenyak syock.


"Ya, Pak." Angguk Masto.


"Okay, trima kasih kabarnya, kamu boleh pergi sekarang." ujar Andre, menatap tajam wajah Masto.


"Baik, Pak." Ujar Masto, mengangguk hormat pada Andre.


Lalu, Masto segera berbalik badan dan pergi keluar dari dalam ruang kerja meninggalkan Andre sendirian .


Andre diam, Dia seakan tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar dari Masto.


"Gavlin baru bicara denganku di telepon. Bagaimana bisa kartu pengenalnya ada pada mayat itu?" Gumam Andre berfikir.


"Apa mayat itu sahabatnya Gavlin? Siapa namanya? Ah, Aku lupa, padahal Gavlin menyebutnya, menurut Gavlin, sahabatnya itu tewas bersama Binsar karena menggantikan Gavlin, melakukan bom bunuh diri dalam pesawat." Gumam Andre, masih berfikir.


"Jika memang itu sahabatnya Gavlin, berarti, sahabatnya itu sudah merencanakan jauh sebelumnya untuk menggantikan posisi Gavlin melakukan bom bunuh diri dan membunuh Binsar di dalam pesawat yang sedang terbang." Lanjut Andre mengambil kesimpulan.


"Dan sahabatnya sengaja mengambil kartu pengenal Gavlin, untuk menyamarkan kematian dirinya, agar saat ditemukan mayatnya, semua mengira bahwa mayat itu adalah Gavlin." Tandas Andre.


"Dengan dinyatakan bahwa mayat itu bernama Gavlin, artinya, Aku gak harus memanipulasi kematian Gavlin untuk menghapus dia dari daftar buronan." Ujar Andre.


"Karena mayat bernama Gavlin sudah ditemukan, otomatis, Gavlin dihapus dari daftar buronan pihak kepolisian dan kejaksaan, ini memudahkan usahaku memenuhi permintaan Gavlin." tegasnya.


"Ah, tapi, Aku harus bilang ke Pak Wicak dan Chandra, biar bagaimana pun, mereka harus tau kebenarannya tentang Gavlin, agar mereka tak menduga duga terus." ujarnya lagi.


Andre menghela nafasnya, lalu, dia mengambil kunci mobilnya dari dalam laci meja kerjanya. Kemudian, Dia bergegas jalan keluar dari dalam ruang kerjanya.


---


Andre berjalan cepat keluar dari dalam kantor kepolisian menuju ke halaman parkir, Saat dia berjalan menuju mobilnya, dia berpapasan dengan Wicaksono dan Chandra yang baru saja keluar dari dalam mobil dan hendak berjalan ke kantor untuk menemui Andre.



Andre melihat mereka berdua kaget, Karena Dia yang mau ke rumah Wicaksono malah bertemu di halaman gedung kantor kepolisian.


"Pak Wicak, Chandra. Aku baru saja mau ketempat kalian." ujar Andre, menatap serius wajah Wicaksono dan Chandra yang berdiri dihadapannya.


"Kami datang ke sini juga karena ingin bertemu kamu." ujar Chandra, menatap serius wajah Andre.

__ADS_1


"Apa kamu mau bicara soal Gavlin?" tanya Wicaksono, menatap tajam wajah Andre yang berdiri dihadapannya.


"Ya, Pak. Saya baru saja mendapat kabar dari rekan polisi negara Prancis." ungkap Andre, menjelaskan pada Wicaksono.


"Soal kartu pengenal yang ditemukan milik Gavlin?" ujar Wicaksono, menatap lekat wajah Andre.


"Ya, benar, Pak." Jawab Andre.


"Walau pun kartu pengenal itu milik Gavlin, tapi, mayat yang ditemukan bukan Gavlin. Kamu harus tau itu." ujar Wicaksono menjelaskan.


"Dari mana Bapak tau , kalo mayat itu bukan Gavlin?!" tanya Andre kaget menatap serius wajah Wicaksono.


Wicaksono tersenyum menatap lekat wajah Andre yang heran dengan perkataannya itu.


"Bagaimana mungkin, sosok mayat bisa bicara langsung dengan aku dan juga Chandra?!" ujar Wicaksono tersenyum penuh arti pada Andre.


"Maksud Bapak?!" tanya Andre, masih heran dan tak mengerti dengan perkataan Wicaksono.


"Dua hari yang lalu, Gavlin menghubungi Aku dan pak Wicaksono, Dia masih hidup, dan bilang, jika yang melakukan bom bunuh diri dalam pesawat yang meledak itu adalah sahabat baiknya di prancis, salah seorang anggota gank mafia di sana." ungkap Chandra , memberi penjelasan pada Andre.


"Jadi, Gavlin juga menghubungi kalian berdua?!" tanya Andre, menatap serius wajah Wicaksono dan Chandra bergantian.


"Ya. Begitulah. Gavlin juga bilang, Dia gak akan kembali ke negara ini dan akan menghilang selamanya." ujar Chandra menjelaskan.


"Ya, itu keputusan final bagi Gavlin, dan Kami dapat memahaminya, mudah mudahan , Gavlin bisa menjalani kehidupannya dengan baik dimana pun dia berada kini." ucap Wicaksono, menatap serius wajah Andre.


"Saya juga di hubungi Gavlin kemaren , Pak." ujar Andre, menatap serius wajah Wicaksono.


"Oh, ya? Kami kira, kamu belum tau, makanya kami datang ke sini untuk memberi tahu, sekalian mau menyampaikan pesan dari Gavlin buatmu." ungkap Chandra.


"Soal menghapus nama dia dari daftar buronan kepolisian dan kejaksaan karena dinyatakan tewas dalam pesawat yang meledak itu?!" Ujar Andre, menatap serius wajah Chandra.


"Ya, benar. Kamu tau. Apa Gavlin juga bilang begitu padamu?!" tanya Chandra.


"Ya, Gavlin bilang padaku, Dia memintaku untuk menyatakan kematian dirinya dan menghapus dia dari daftar buronan, dan dia akan menghilang selamanya, gak akan kembali ke negara ini lagi." jelas Andre, menjelaskan dengan wajahnya yang serius.


"Dia bilang, itu permintaan terakhirnya padaku, Dan Aku memenuhi permintaannya itu." ujar Andre menjelaskan.


"Tapi, dengan dinyatakan bahwa mayat yang terakhir kali ditemukan adalah Gavlin, otomatis, Gavlin terhapus dari daftar kepolisian, dan kasusnya ditutup untuk selamanya." ungkap Andre, memberi penjelasan dengan serius pada Wicaksono dan Chandra.


"Syukurlah kalo begitu, artinya, Gavlin bisa hidup tenang ke depannya." ujar Wicaksono, tersenyum senang menatap wajah Andre.


"Ya, Pak." Angguk Andre, lalu menatap lekat wajah Chandra dan juga Wicaksono yang berdiri di hadapannya itu.

__ADS_1


__ADS_2