VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Malik Melaporkan Rencana Gavlin pada Aamauri


__ADS_3

Binsar akhirnya di bawa ke markas besar gank mafia 'Seira Costa' pimpinan Aamauri.


Dia di masukkan ke dalam kerangkeng yang biasa digunakan buat mengurung seekor anjing.


Terlihat didalam kerangkeng Binsar terduduk diam merenungi nasibnya.


Gavlin menatapnya dengan wajah geram penuh amarah, Malik yang berdiri di sampingnya merangkul Gavlin.


"Sekarang, apa yang akan kamu lakukan, Vlin?" tanya Malik, menatap wajah Gavlin yang geram dan menahan amarahnya karena dendamnya pada Binsar.


"Aku akan menghubungi temanku yang polisi di negaraku, agar dia segera mendatangkan pesawat untuk membawa aku dan Binsar." ujar Gavlin, sambil menatap tajam wajah Binsar yang terduduk di lantai kerangkeng.


"Aku juga akan persiapkan rencanaku selanjutnya, jadi, saat aku membawa Binsar, semuanya sudah beres dan tinggal aku gunakan saja." tegas Gavlin, dengan sikap dinginnya menjelaskan pada Malik.


"Maksudmu, mempersiapkan bom bunuh dirimu?" tanya Malik, sambil melepaskan tangannya yang merangkul bahu Gavlin dan menatap tajam wajah Gavlin.


"Ya." Angguk Gavlin mantap.


"Vlin. Apa gak sebaiknya kamu mengurungkan niatmu untuk melakukan hal itu?" tanya Malik, berharap Gavlin mau membatalkan niatnya menggunakan bom bunuh diri untuknya.


Gavlin diam saja tak menjawab perkataan Malik, Gavlin malah pergi meninggalkan Malik begitu saja. Melihat reaksi dingin dan sikap acuh Gavlin yang mengabaikan perkataannya, Malik hanya bisa menghela nafas dengan berat. Dia tak bisa juga mencegah Gavlin mengurungkan niatnya.


Malik lantas juga pergi meninggalkan Binsar sendirian yang terkurung di dalam kerangkeng binatang itu.


---


Di ruang kerjanya, Aamauri tampak sedang duduk santai menikmati rokok cerutu dan secangkir kopinya. Tak lama kemudian, Malik datang menemuinya.


"Ada apa, Lik?" tanya Aamauri, meletakkan rokok cerutu yang di hisapnya ke atas asbak, lalu menatap wajah Malik yang berdiri di depan meja kerja, dihadapannya.


"Saya mau melaporkan tentang rencana Gavlin, Bos." ujar Malik, dengan wajah seriusnya menatap wajah Aamauri yang duduk santai di kursi kerjanya.


"Kenapa Gavlin?" tanya Aamauri, menatap heran wajah Malik yang terlihat serius itu.


"Gavlin akan membawa Binsar pergi kembali ke negaranya setelah pesawat yang menjemputnya tiba, tapi, ada satu hal yang membuat saya berat membiarkan Gavlin pergi, Bos." ujar Malik, memberi penjelasan pada Aamauri.


"Apa itu?" tanya Aamauri lagi, menatap heran wajah serius Malik.


"Gavlin akan melakukan bom diri, Bos. Saat di dalam pesawat dan terbang, Dia rencananya akan meledakkan dirinya bersama Binsar dengan menggunakan bom bunuh diri." ungkap Malik, melaporkan pada Malik.


"Apaa?!!" Aamauri tersentak kaget mendengar perkataan Malik.

__ADS_1


Aamauri cepat berdiri dari kursi kerjanya, dia menatap tajam wajah Malik yang terlihat serius menjelaskan tentang Gavlin kepadanya.


"Yang benar kamu, Lik!" ujar Aamauri, menatap tajam wajah Malik.


"Ini benar, Bos. Gavlin sudah merakit bom bunuh dirinya, tinggal Dia gunakan saja nantinya." jelas Malik serius.


"Hmm...Pantas Gavlin meminta untuk di sediakan bahan bahan peledak, ternyata untuk dirakitnya menjadi bom bunuh diri." ujar Aamauri, berfikir.


"Iya, Bos." Jawab Malik, mengangguk.


"Saya gak menyadari hal itu, saya kira, bahan bahan peledak itu akan digunakan Gavlin untuk menghancurkan markas gank Acheel, tempat persembunyian Binsar." Tegas Aamauri, dengan wajahnya yang serius.


"Tidak, Bos. Dia akan menggunakan untuk dirinya sendiri. Dan Gavlin gak bisa di cegah, Dia bersikeras akan melakukan hal itu." ujar Malik, menjelaskan pada Aamauri.


"Kenapa Gavlin nekat melakukan hal itu?" tanya Aamauri, menatap serius wajah Malik.


Dia ingin tahu, mengapa Gavlin merencanakan untuk melakukan bom bunuh diri nantinya sepulang dia membawa Binsar dengan pesawat terbang.


"Sejak dia patah hati, dan seperti orang yang putus asa, Bos." ungkap Malik.


"Maksudmu?!" Tanya Aamauri, heran dan tak mengerti dengan ucapan Malik.


"Beberapa waktu yang lalu, saat Gavlin masih menginap di hotel, dia bertemu dengan kekasihnya yang udah lama berpisah. Tapi , pertemuan mereka tak seperti yang diharapkan Gavlin, Bos." ujar Malik, berusaha menjelaskan pada Aamauri.


"Ternyata, Kekasihnya sudah punya Pria lain sebagai pengganti Gavlin, dan Pria itu di liat Gavlin selalu menemani kekasihnya, kemana pun dia pergi dan berada." ungkap Malik, menjelaskan dengan serius.


Mendengar perkataan Malik, Aamauri terdiam, dia terlihat sedang memikirkan sesuatu hal, lalu, Aamauri menghela nafasnya dan menatap tajam wajah Malik yang masih berdiri dihadapannya.


"Gavlin yang terkenal sadis dan kejam, menjadi lembek hanya karena seorang wanita." ujar Aamauri, tersenyum kecut menatap wajah Malik yang berdiri dihadapannya.


"Ya, begitulah, Bos."Ujar Malik, menatap serius wajah Aamauri.


"Kamu harus mencari cara untuk mencegah Gavlin berbuat nekat, Lik!" Tegas Aamauri pada Malik.


"Ya, Bos. Saya saat ini memang sedang memikirkan caranya, bagaimana saya bisa menghentikan niat Gavlin itu." ucap Malik serius, menjelaskan pada Aamauri.


"Seķarang, apa kamu tau, dimana Kekasih Gavlin itu tinggal?" Tanya Aamauri, menatap tajam wajah Malik.


"Ya, Saya tau, Bos. Dia masih menginap di hotel yang sama dengan tempat Gavlin menginap waktu itu." ujar Malik, memberi tahu Aamauri.


"Okay. Kalo begitu, kamu temui Kekasihnya di hotel itu, beri tau Dia tentang rencana Gavlin. Jika Kekasihnya masih mencintai Gavlin, dia akan berusaha menemui Gavlin dan mencegahnya melakukan bom bunuh diri." ujar Aamauri, dengan wajahnya yang serius menjelaskan pada Malik.

__ADS_1


"Baik, Bos. Akan saya temui Dia." ujar Malik, nengangguk hormat pada Aamauri.


"Dan kamu harus bisa menghentikan Gavlin melakukan hal nekat itu , Bagaimana pun caranya kamu melakukannya saya gak mau tau, yang penting Gavlin bisa di hentikan!" Ujar Aamauri, menegaskan pada Malik.


"Siap , Bos!" Ujar Malik, mengangguk dan memberi hormat kepada Aamauri yang berdiri dihadapannya itu.


"Saya pamit, Bos." ujar Malik.


"Ya." Angguk Aamauri pada Malik.


Lalu, Malik segera berbalik badan dan pergi meninggalkan Aamauri sendirian di dalam ruang kerjanya. Aamauri lantas menghempaskan tubuhnya ke kursi kerjanya, Dia terduduk lemas, raut wajahnya sedikit kecewa, karena Gavlin berniat melakukan bunuh diri.


"Gavliiin...Aku tau, kamu psikopat sejati, dan gak ada orang yang tau, kalo kamu punya kepribadian lainnya. Tapi, Aku gak menyangka, kamu lemah dalam urusan wanita." Gumam Aamauri prihatin pada diri Gavlin, yang katanya sedang oatah hati itu.


"Aku tau, Vlin. Memang, ada diantara beberapa psikopat yang bisa merasakan cinta dan juga patah hati seperti dirimu, tapi, Aku berharap, kamu seorang Pria dan psikopat yang kuat dan gak lemah dalam hal apapun juga." Lanjut Aamauri, bicara dengan dirinya sendiri.


Aamauri lantas menghela nafasnya dengan berat, dia memikirkan diri Gavlin yang bersikeras akan mengakhiri hidupnya dengan cara jalan bunuh diri menggunakan bom yang di rakitnya sendiri. Dia berharap, Gavlin tidak melakukan hal sebodoh itu nantinya.


---


Pesawat yang disediakan Andre dan Samuel berangkat menuju ke negara Prancis untuk menjemput Gavlin dan Binsar.


Sebelumnya, Gavlin sudah menghubungi Andre, dan memberi tahu, bahwa Dia sudah berhasil menangkap Binsar dan meminta Andre agar segera mendatangkan pesawat terbang untuk menjemputnya di negara Prancis.


"Dimana nanti Pesawat itu menunggu Gavlin?" Tanya Samuel, menatap wajah Andre yang berdiri disampingnya, memandangi kepergian pesawat yang sudah terbang di angkasa.


"Di desa Piana, Desa yang ada di suatu perbukitan di sekitar kota Paris, Prancis. Itu yang di bilang Gavlin saat menghubungiku." ujar Andre, menatap serius wajah Samuel.


"Oh, begitu. Kalo gitu, kita harus bersiap siap menyambut kedatangan Gavlin dan Binsar. Jangan lupa, kamu bawa juga tim kepolisian dan aku akan membawa mobil tahanan kejaksaan. Begitu mereka tiba dan turun dari pesawat, kita tangkap Binsar dan Gavlin." ujar Samuel, menjelaskan pada Andre dengan serius.


"Apa Gavlin harus kita tangkap juga?!" tanya Andre, menatap tajam wajah Samuel yang berdiri disampingnya itu.


Terlihat raut wajah Andre sangat berat untuk menangkap Gavlin, karena, biar bagaimana pun, Gavlin telah membantu dirinya menangkap Binsar, dan Gavlin telah berhasil melakukan tugasnya dengan baik.


"Ya, Ndre. Kita harus menangkap Gavlin, karena selama ini, bukankah Dia juga buronan utama kepolisian dan kejaksaan, karena aksi aksi brutalnya yang membantai dan membunuhi anak buah Binsar selama ini?!" ujar Samuel, menjelaskan dengan serius pada Andre.


"Tapi, Gavlin melakukan hal itu untuk membalas dendam, karena mereka yang dibunuh Gavlin telah menjebak dan membunuh Bapaknya, juga membunuh Bapaknya Chandra!" ungkap Andre, mencoba menjelaskan pada Samuel.


"Apapun alasannya, tindakannya di mata hukum tetap salah dan gak bisa di benarkan, Ndre. Gavlin harus di tangkap, dan mempertanggung jawabkan semua perbuatannya itu ." Tegas Samuel, menatap tajam wajah Andre yang berdiri disampingnya.


Mendengar perkataan Samuel, Andre memilih diam, dia tak mau berdebat dengan Samuel, karena, bagaimana pun usahanya mencari alasan agar membebaskan Gavlin dari segala macam tuduhan kejahatannya, Samuel tetap akan bersikeras untuk menangkap dan memberi hukuman pada Gavlin, dengan menjebloskannya ke dalam penjara, mempertanggung jawabkan atas segala macam perbuatannya yang selama ini telah membantai seluruh warga di perkampungan Rawas, tempat tinggalnya di masa kecil, dan juga membunuh para anggota anggota organisasi Inside, yang menjadi kaki tangan dan anak buah Binsar dalam menjalankan aksi kejahatannya selama puluhan tahun ini.

__ADS_1


Andre lantas menghela nafasnya, dia terus memandang ke atas langit, Pesawat yang terbang, semakin membumbung tinggi membelah awan lalu menghilang dari pandangan kedua mata Andre.


Samuel lantas pergi meninggalkan Andre yang ditemani Masto, Samuel kembali ke kantornya, sementara Andre masih berdiri diam di tempatnya.


__ADS_2