
Masto datang menghadap Andre di ruang kerjanya, dia berdiri didepan Andre yang masih duduk di kursi kerjanya.
"Gavlin baru saja telpon Saya dari negara Prancis. Katanya, saat ini dia tengah menjebak dan akan menangkap Binsar, dan Gavlin meminta agar kita segera mendatangkan pesawat untuk menjemput dia dan Binsar pulang." ujar Andre, memberi penjelasan.
"Bagaimana cara Bapak menghubungi Gavlin nanti, jika pesawat sudah diberangkatkan ke sana?" tanya Masto, menatap wajah Andre yang duduk di kursinya.
"Gavlin sudah memberikan nomor telepon pribadinya tadi, hanya saya yang bisa menghubungi nomornya." jelas Andre, menatap wajah Masto yang berdiri dihadapannya.
"Nanti, setelah Binsar sudah berada ditangan Gavlin, dia akan menghubungi saya lagi, untuk memberi tahu dimana pesawat menjemputnya." ungkap Andre, menjelaskan dengan serius pada Masto.
"Terus, tugas saya apa, Pak?" tanya Masto.
Andre lantas berdiri dari duduknya di kursi, dia berdiri menatap lekat wajah Masto.
"Kamu ikut saya, kita ke kantornya Samuel, untuk menyiapkan pesawat yang akan di gunakan menjemput Gavlin dan Binsar." Ujar Andre.
"Baik, Pak." Angguk Masto.
"Ayo, kita pergi sekarang." ujar Andre.
"Ya, Pak." Jawab Masto.
Lantas, mereka berdua pun segera berjalan keluar dari dalam ruang kerja Andre untuk bertemu Samuel dikantornya, dan membahas tentang penjemputan Gavlin nantinya.
---
Sementara itu, Binsar sudah tiba di lokasi pertemuan dengan Aamauri, dia berada di sebuah restoran jepang.
Binsar duduk sendiri di dalam ruangan yang bernuansa khas jepang, dia duduk dilantai beralaskan bantal dengan kaki bersila, didepannya meja pendek lebar dan panjang.
Aamauri belum datang, Binsar sambil menunggu kedatangan Aamauri mengecek ponselnya. Dari ponselnya dia bisa melihat tiap tiap ruangan yang ada di dalam restoran jepang.
Ternyata, Binsar menyuruh Acheel untuk memasang kamera cctv di tiap tiap sudut ruangan dalam restoran tersebut. itu sebabnya, sebelumnya Binsar bertanya pada Acheel apakah semua sudah terpasang, dan Acheel menjelaskan bahwa semua sudah terpasang dan Binsar bisa melihat dari ponselnya. Dan ternyata itu adalah kamera cctv yang dipasang di tiap tiap sudut ruangan restoran jepang tersebut.
Karena pemilik restoran berteman baik dengan Binsar, mereka mudah memasang cctv di restoran jepang tersebut.
Binsar mengamati layar cctv dari ponselnya, wajahnya tampak tersenyum sinis, saat dia melihat, anggota anggota gank mafia Aamauri menyelinap dan bersembunyi di tiap tiap sudut ruangan restoran.
"Hmmm...benar saja dugaanku. Aamauri memang gak bisa dipercaya." Gumam Binsar, tersenyum sinis menatap layar ponselnya.
__ADS_1
"Aamauriii...Aamauri, kamu kira mudah menjebakku?" ujar Binsar tersenyum sinis.
Dia memperhatikan para anak buah Aamauri yang bersembunyi di tiap sudut ruangan, Binsar kemudian menekan angka satu di ponselnya, panggilan darurat pada Acheel yang sudah di atur sebelumnya, agar Binsar bisa menghubungi Aacheel dengan panggilan darurat ke nomornya.
Binsar lantas mengeluarkan pistol yang sudah dia persiapkan dan bawa, dia meletakkannya di bawah kaki, di kolong meja, pistol itu disiapkannya untuk melindungi dirinya, jika Aamauri nanti menyerangnya didalam ruangan yang sekarang dia berada.
Acheel melihat ponselnya yang berbunyi seperti nada alarm tanda bahaya, dia tahu, panggilan darurat itu dari Binsar.
Acheel lantas bergegas menyuruh anak buahnya untuk bersiap siap menghadang anak buah Aamauri dan menyerang mereka secara tiba tiba, para anak buah Acheel bergegas pergi, untuk menjalankan perintah Acheel.
---
Suara pintu ruangan di ketuk, tak lama, Aamauri masuk ke dalam ruangan, dia melihat Binsar sudah ada didalam ruangan, duduk menunggunya.
"Waah, apa kabar pak Binsar, sepertinya saya terlambat datang." ujar Aamauri, sambil bersalaman dengan Binsar yang tetap duduk dan tak beranjak dari tempatnya.
"Gak apa, santai saja, saya belum lama juga datangnya." ujar Binsar, dengan sikap tenang dan santainya.
Aamauri tersenyum , lalu dia duduk di hadapan Binsar, mereka berdua duduk di lantai dengan beralas bantal sebagai tempat duduknya, seperti berada di lesehan.
"Sebaiknya langsung saja ke intinya, makan bisa nanti, setelah selesai membahas bisnis kita." ujar Aamauri, tersenyum penuh arti pada Binsar.
"Baiklah kalo begitu." ujar Binsar mengangguk angguk.
Binsar tak tahu, jika di ruangan sebelah, tepat menempel dengan ruangan mereka berada, Gavlin sedang bersembunyi dan bersiap siap menyergap Binsar.
Binsar melihat kembali ke layar ponselnya, dia mengetik pesan, dan mengirimkannya pada Acheel.
"Habisi semua anak buahnya."
Begitu pesan yang di ketik dan di kirim Binsar ke ponsel Acheel. Aamauri tampak santai dan tenang duduk ditempatnya.
Acheel mengambil ponselnya yang berbunyi, dia membaca pesan dari Binsar yang di kirimkan ke ponselnya.
"Sudah waktunya, habisi mereka semua, seraaang sekarang!!" Perintah Acheel pada anak buahnya.
Para anak buahnya mengangguk, menuruti perintah Acheel, mereka cepat bergerak lari untuk menyerang anak buah Aamauri yang tengah bersembunyi di tiap sudut ruangan.
Para anak buah Aamauri yang tengah bersembunyi di sudut sudut ruangan restoran kaget, termasuk Malik, karena mendapat serangan mendadak dari anak buah Acheel.
__ADS_1
Akhirnya, perkelahian antar anggota gank mafia pun terjadi, tak ada pilihan lain bagi Malik dan anggota gank nya, mereka memilih untuk memberi perlawanan pada anggota gank mafia Acheel.
Perkelahian yang sangat seimbang dari keduanya, Acheel lantas mendatangi Malik, mereka saling berhadapan, Malik menatap geram wajah Acheel, dia pun melawan Acheel.
Pertarungan antara Malik dan Acheel terjadi, duel yang seimbang antara keduanya, jual beli pukulan di perlihatkan Malik dan Acheel. Keduanya saling mengeluarkan jurus jurus ilmu bela dirinya, berusaha untuk menjatuhkan dan mengalahkan lawannya.
Dan para anggota gank mafia masih juga terlibat perkelahian yang hebat. Perkelahian yang sangat seru antara dua gank mafia di dalam restoran jepang.
Suasana dalam restoran itu sepi, karena memang Binsar memboking seluruh tempat, dan meminta agar mengosongkan restoran tersebut, itu sebabnya, tak ada pengunjung lainnya yang datang, hanya Binsar dan anggota gank mafia Acheel serta Aamauri dan anak buahnya saja yang datang dan berada didalam restoran tersebut.
Perkelahian sengit masih terjadi antara acheel dan Malik, di satu kesempatan, Malik berhasil menghajar wajah Acheel, lalu, dengan sekuat tenaganya, dia menerjang dan menendang tubuh Acheel, hingga terjajar ke belakang dan tubuhnya menghantam dinding ruangan tempat Binsar dan Aamauri berada. Malik terus menyerang Acheel yang terjatuh dia memukul dan menendang Acheel, Acheel berusaha bertahan dan mencoba bangkita dan kembali melawan Malik.
Di dalam ganknya, Malik adalah tangan kanan Aamauri, dia juga dipersiapkan oleh Aamauri sebagai penggantinya kelak, menjadi ketua dan memimpin paea anggota gank mafia "Seira Costa'.
Karena itulah, perkelahian antara Acheel dan Malik seimbang, bahkan terlihat Acheel kerepotan melawan dan menghadapi Malik yang ternyata cukup tangguh dan mahir dalam ilmu bela diri.
Dari dalam ruangan, Binsar dan Aamauri mendengar suara suara perkelahian di luar, Aamauri tampak waspada, dia tahu, bahwa anak buahnya di serang oleh anak buah Binsar saat ini. Diam diam, dia mengambil pisau dari dalam kaos kakinya dan menggenggam erat pisau tersebut.
Aamauri bersiap siap , dan benar saja, Binsar dengan cepat mengeluarkan pistolnya dari bawah meja, dan menodongkannya ke wajah Aamauri.
"Bedebah kamu Aamauri, kamu bertemu denganku bukan untuk bicara bisnis, tapi kamu mau menjebak dan menangkapku!!" bentak Binsar, penuh amarah menatap tajam wajah Aamauri.
Aamauri tetap tenang, dia tersenyum sinis menatap wajah Binsar, dia tak takut, walau pun kepalanya di todong pistol Binsar.
"Kamu kira mudah menjebakku? Aku tau gelagat anehmu Aamauri, karena itu aku sengaja memasang cctv cctv diseluruh ruangan restoran ini, kamu gak tau kan? Kalo pemiliknya teman baikku? Kamu salah membuat janji temu kita di sini!!" ungkap Binsar, tersenyum sinis menatap wajah Aamauri yang tetap tenang itu.
"Sekarang, sebelum aku menembakmu, katakan ! Siapa yang menyuruhmu menjebakku dan menangkapku?!!" Bentak Binsar menatap wajah Aamauri penuh amarah.
Dari sebelah ruangan , Gavlin mendengar perkataan Binsar, dia terlihat gelisah, karena rencana mereka gagal, sebab ternyata Binsar mengetahuinya. Gavlin lantas bersiap siap untuk menyerang Binsar.
"Kamu tenang dulu, jangan bertindak apapun juga." ujar Aamauri menatap tajam wajah Binsar.
Binsar geram mendengar perkataan Aamauri itu, dia tak tahu, Aamauri sengaja bicara dengan menatapnya, padahal, kata kata yang dia ucapkan itu bukan untuk Binsar, melainkan buat Gavlin yang bersembunyi di samping ruangan mereka.
Aamauri tahu, Gavlin pasti mau bertindak, karena telah mendengar perkataan Binsar yang mengetahui rencana mereka untuk menjebaknya.
Di dalam ruangannya, Gavlin terdiam mendengar perkataan Aamauri, dia tahu, kata kata yang di ucapkan Aamauri itu di tujukan kepada dirinya.
Akhirnya, Gavlin pun diam menunggu, dia mengurungkan niatnya untuk keluar dari ruangan tempatnya bersembunyi, dan menunjukkan dirinya di hadapan Binsar lalu menyerang Binsar.
__ADS_1