VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Meyakinkan


__ADS_3

Tim Penyidik Kepolisian datang dengan di pimpin Andre langsung, mereka langsung mengevakuasi para korban yang terluka parah dan tewas tertembak, Diantara para petugas penyidik kepolisian, ada juga tim paramedis yang datang untuk membawa para korban yang terluka dan yang mati.


Andre menghampiri Samuel yang ada diruang kantornya, wajahnya terlihat tegang, dia berdiri berhadapan dengan Samuel.


"Ini benar benar gila, Gavlin mulai lagi bertindak nekat! Dulu kantor kepolisian pusat dihancurinnya, sekarang kantor kejaksaan!!" ujar Andre, dengan wajahnya yang serius.


"Mungkin dia sudah marah besar, karena belum bisa juga menangkap Jack. Makanya dia nekat datangi Jack ke sini. " ujar Samuel.


"Cuma yang aku sesali, mau menangkap Jack, kenapa harus membantai banyak orang yang gak bersalah?!" ujar Samuel, dengan wajah marah.


"Ya, mungkin karena mereka mencoba menghalangi, makanya Gavlin membunuh mereka." jelas Andre.


"Iya, sepertinya begitu." ujar Samuel, mengangguk, setuju dengan pendapat Andre.


"Baiklah, aku akan mengusut keberadaan Jack yang di bawa Gavlin! Dan aku juga akan menangkap Gavlin, dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya merusak kantor kejaksaan dan membunuh banyak orang di sini." ujar Andre, dengan wajah serius.


"Ya.Sebaiknya, secepatnya kamu menangkap Gavlin, jika dia tertangkap, kamu bisa mencegah perbuatan nekatnya yang lain." tegas Samuel.


"Dan aku yakin, setelah ini, dia pasti mendatangi Herman atau Peter di kantor mereka, jika mereka gak ada dirumahnya masing masing!" jelas Samuel, dengan wajahnya yang serius.


"Baik, kalo gitu, aku pergi dulu." ujar Andre pamit.


"Ya." Angguk Samuel.


Lalu Andre bergegas pergi meninggalkan Samuel yang lantas duduk di kursi kerjanya.


Sementara , para korban terluka akibat kena tembakan sudah dibawa petugas medis , begitu juga korban korban yang tewas, para medis membawanya dengan menggunakan mobil ambulance.


---


Ditempat lain, saat ini Edo sedang bertemu janji dengan Chandra, teman baiknya yang sudah memberikannya berkas berkas bukti kejahatan komplotannya Herman.


Edo dan Chandra bertemu di sebuah bar dan karaoke, dan mereka ada di ruangan yang tertutup.


Edo sengaja mengajak bertemu Chandra di Bar dan Karaoke agar pertemuan mereka santai, walau akan membahas yang serius, selain itu, agar tak ada yang mendengarkan pembicaraan mereka berdua, sebab, diruang tertutup itu, hanya ada mereka berdua saja.


"Mengapa kamu mendadak ngajak aku ketemuan di tempat ini, Do?" tanya Chandra, dengan wajah heran.


"Ada yang mau aku bicarakan sama kamu, dan sangat penting." ujar Edo, dengan santai dan tenang.


"Oh, ya? Hal penting apa?" tanya Chandra, heran.


"Mengenai berkas bukti yang kamu temukan dan kamu kasih ke aku." jelas Edo, dengan wajahnya yang serius.


"Maksud kamu?!" tanya Chandra, tak mengerti perkataan Edo.


"Jadi begini, Chand. Aku sudah menyerahkan berkas itu pada pimpinanku, dan pimpinanku, pak Andre namanya, langsung bertemu dengan Jaksa Penuntut, yang nantinya akan bertugas mendakwa Herman dan komplotannya di persidangan atas kejahatan mereka." ujar Edo, menjelaskan.


"Kamu dan pimpinanmu percaya sama Jaksa Penuntut itu?" tanya Chandra, dengan wajah penuh curiga.


"Pimpinanku berteman baik dengan Jaksa itu, Chan, Jaksa itu namanya Samuel, orangnya tegas dan jujur." ungkap Edo.


"Aku ragu Do. Aku gak bisa percaya begitu saja, karena, bagiku, semua pejabat yang ada di dalam departemen kepolisian, kejaksaan, kehakiman dan sebagainya itu sama saja, mereka bagian dari konspirasi besar yang sudah berjalan selama ini!!" ujar Chandra, serius.

__ADS_1


"Tidak semuanya jahat seperti yang kamu tuduhkan Chan, ada diantara mereka yang baik dan jujur, serta benar benar menjunjung tinggi keadilan." ujar Edo, mencoba meyakinkan Chandra.


"Tetap, aku gak bisa percaya begitu saja, karena, Papahku terbunuh juga karena pengkhianatan seorang Jaksa, Jack dan Prawira namanya!" tegas Chandra, penuh dendam.


"Prawira sudah mati terbunuh, sedang Jack, menghilang saat ini Chan, kabarnya dia di culik Gavlin, buronan kepolisian yang mau membalas dendam sama Herman dan komplotannya." tegas Edo, menjelaskan.


"Baguslah kalo Prawira mati, mudah mudahan Si Jack menyusulnya!" ucap Chandra sinis.


"Tapi, siapa Gavlin itu? Mengapa dia mau membalas dendam?!" tanya Chandra ,heran.


"Gavlin itu nama kecilnya dulu Yanto, dia anaknya Sanusi, yang dituduh sebagai pembunuh dan pemerkosa , kasusnya sudah lama, sekitar 18 tahunan lebih yang lalu." ujar Edo.


"Ya, aku tau kasus itu ! Papahku sempat membahasnya denganku dulu, Sanusi dikabarkan mati bunuh diri di penjara kan?" ujar Chandra.


"Ya, kamu benar." ucap Edo.


"Papahku gak percaya, Do. Dia bilang, Sanusi di bunuh, bukan bunuh diri, dia punya bukti percakapan beberapa hari sebelum kematian Sanusi, bukti rencana pembunuhan Sanusi!" tegas Chandra.


"Papahku mendatangi Wijaya, dia mengancam akan menyebarkan bukti tersebut, tapi naas, 5 hari setelah itu, Papahku di kabarkan kena serangan jantung dan meninggal ditempat, aku gak percaya, karena Papahku gak punya penyakit jantung!" jelas Chandra, dengan wajah geram dan seriusnya.


"Oh, Jadi, Papahmu tau kasus Sanusi, bapaknya Gavlin sang buronan itu?" tanya Edo, dengan wajah seriusnya.


"Ya, karena Papah dan Sanusi kenal baik, Do. Mereka sama sama satu partai, dan satu kantor di perusahaannya Bramantio dulu!" tegas Chandra.


"Ohya?!!" ujar Edo, terperanjat kaget.


"Ya, Kenapa kamu seperti kaget mendengarnya?" tanya Chandra, heran.


"Ya, aku gak nyangka aja, ternyata almarhum Papahmu kenal dengan Bapaknya Gavlin, pak Sanusi itu." ujar Edo, serius.


"Dan, mereka berdua, sama sama terbunuh." ujar Edo.


"Ya, aku punya semua buktinya, Bukti yang aku dapat dari Papahku dan Pak Sanusi, serta bukti yang aku cari sendiri." ungkap Chandra.


"Begini, Ndra. Jadi, maksud aku mengajak kamu ketemuan di sini, karena aku mau menyampaikan pesan pimpinanku buatmu." ujar Edo, serius.


"Pesan apa?!" tanya Chandra, heran.


"Pak Andre, pimpinanku dan Pak Samuel, Jaksa Penuntut ingin bertemu kamu." ujar Edo.


"Mau apa mereka minta ketemuan sama aku?!" tanya Chandra, curiga.


"Mereka mau bicara lebih banyak lagi sama kamu, mau bertanya tentang bukti bukti yang kamu temukan itu, mereka intinya mau dengar langsung dari kamu!" jelas Edo.


"Aku gak mau ketemu mereka, maaf Do!" ujar Chandra.


"Aku kan sudah bilang sama kamu, aku gak percaya semua orang, apalagi yang namanya polisi dan jaksa ! Mereka semua bagian konspirasi !" tegas Chandra marah.


"Kita akhiri obrolan kita sampai di sini saja ,Do." ujar Chandra, dengan wajah sedikit kesal sama Edo.


Chandra berdiri dan hendak pergi keluar dari dalam ruangan, Edo cepat berdiri dan mencegah Chandra pergi.


"Tunggu dulu, Ndra, dengar dulu penjelasanku!" ujar Edo.

__ADS_1


"Aku rasa udah jelas yang aku bilang, aku gak bakalan bicara dengan siapapun juga. Aku mau bicara dan memberikan bukti itu hanya padamu, karena kita teman baik , dan aku percaya padamu!" tegas Chandra, dengan wajah seriusnya menjelaskan pada Edo.


"Ya, makanya, tolong percaya aku, Chan!" tegas Edo.


"Pimpinanku dan pak Samuel berbeda dengan komplotan penjabat pejabat itu!" tegas Edo.


"Apa bedanya?!" tanya Chandra, menatap tajam wajah Edo.


"Pimpinanku, aku, dan tim kami serta pak Samuel sudah lama menyelidiki kasus kejahatan Herman dan komplotannya, dan kami belum menemukan bukti kuat lainnya, sehingga belum bisa menangkap mereka !" jelas Edo, dengan wajah seriusnya.


"Setelah aku serahkan bukti kejahatan komplotan Herman yang aku dapat dari kamu, pimpinanku bersemangat! Karena mereka mendapatkan bukti baru lainnya!!" lanjut Edo menjelaskan dengan seriusnya.


"Untuk itu, Pimpinanku dan pak Samuel mau ketemu kamu sebagai saksi kunci mereka, dan mereka mau melindungimu, Chan!" ungkap Edo, serius.


Chandra diam, dia menatap tajam wajah Edo yang terlihat serius dan bersungguh sungguh menjelaskan semuanya kepada dirinya.


"Jika kamu mau bertemu pak Andre dan pak Samuel, kalian bisa ketemu di rumah aman, kamu kesana bersamaku nanti!" ujar Edo, dengan wajah serius menatap wajah Chandra masih terdiam berfikir.


"Bagaimana , Chan? Kamu mau kan ketemu pak Andre dan Pak Samuel?!" tanya Edo.


Chandra masih diam dan tak menjawab pertanyaan Edo, Edo tak menyerah, dia berusaha meyakinkan Chandra lagi.


"Kamu gak yakin dan gak percaya aku, Chan? Aku serius , dan ini bukan jebakan buatmu!" ungkap Edo.


"Kami hanya benar benar hampir buntu, karena sulit menemukan bukti kejahatan Herman dan komplotannya, tapi, setelah mendapat bukti baru dari kamu, kami jadi semangat lagi dan yakin, kami bisa menjebloskan semua komplotan penjahat itu nantinya!" tegas Edo, mencoba meyakinkan Chandra.


"Kamu gak ragu memberikan berkas berkas bukti kejahatan para pejabat yang berkonspirasi itu, mengapa kamu ragu hanya karena aku memintamu bertemu dengan pimpinanku?" tanya Edo, ďengan wajah seriusnya.


"Aku gak pernah ragu padamu, aku percaya sepenuhnya sama kamu, Do. Tapi, untuk orang lain, aku gak kan bisa percaya begitu saja." ungkap Chandra.


"Jika kamu percaya aku, kamu harusnya mau bertemu dengan pimpinanku dan pak Samuel, karena, aku yang memintamu langsung, dan gak mungkin aku mengkhianatimu!!" tegas Edo.


"Jika aku berkhianat padamu, setelah kamu serahkan bukti kejahatan kelompok Herman, kamu pasti sudah di tangkap !" jelas Edo, dengan wajahnya yang serius.


"Ya, Do, Aku percaya sama kamu!" tegas Chandra.


Chandra lantas diam sesaat, wajahnya tampak sedang memikirkan sesuatu, Edo yang berdiri di hadapannya, diam menunggu jawaban Chandra.


"Bagaimana, Chan?!" tanya Edo, dengan wajah penasarannya.


Chandra menarik nafasnya dalam dalam, dia lantas menatap lekat wajah Edo yang menatapnya penuh harap dan rasa penasaran.


"Baiklah, karena kamu, aku mau bertemu merek berdua." ujar Chandra.


"Terima kasih, Chan! Aku lega jadinya!" tegas Edo, dengan wajahnya yang sangat senang, karena Chandra akhirnya mau bertemu dengan Andre dan Samuel.


"Kalo gitu, besok kita ketemu sama pimpinanku dan pak Samuel, di rumah aman jam 5 sore." ujar Edo serius.


"Aku akan menjemputmu, kita sama sama kesana!" lanjut Edo.


"Baik, aku tunggu." ujar Chandra.


"Ya. Terima kasih, Chan!" ujar Edo.

__ADS_1


Edo menyalami Chandra, dia terlihat sangat senang, karena akhirnya, dia bisa meyakinkan Chandra yang keras hati, dia lega karena Chandra bersedia bertemu dengan Andre dan Samuel.


__ADS_2